Papuanewsonline.com
Berita Terbaru
Lihat semua
TPNPB Klaim Tanggung Jawab Penembakan 8 Aparat di Intan Jaya
Papuanewsonline.com, Intan Jaya – Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim bertanggung jawab atas aksi penembakan terhadap delapan aparat militer Indonesia di Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, pada Sabtu (27/6/2026). Klaim tersebut disampaikan melalui Siaran Pers Ke-II yang diterbitkan organisasi tersebut.Dalam siaran pers itu, Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom, menyebut Mayor Aibon Kogoya bersama pasukannya terlibat dalam insiden tersebut. "Praka Batu Oktara tewas di Kampung Taosiga akibat luka tembak di bahu kanan. Tiga lainnya luka di Kampung Danggoa," tulis siaran pers.TPNPB juga merinci identitas tiga aparat yang disebut mengalami luka. Dalam keterangannya disebutkan Pratu Stefanus Milikor Mali mengalami luka di paha kiri, Pratu Bayu mengalami luka di bagian dada, dan Praka Burhan mengalami luka di paha kanan. Seluruh korban disebut berasal dari Satgas Rajawali IV/Yonif 744/SYB dan telah dievakuasi ke Timika.Selain mengklaim adanya korban dari pihak aparat, TPNPB juga menyebut terjadi operasi balasan setelah insiden penembakan. Dalam siaran pers tersebut, kelompok itu mengklaim aparat menggunakan helikopter, drone, bom, dan RPG dalam operasi di Distrik Agisiga."Rumah-rumah, pemukiman warga dan gereja-gereja terbakar," tulis siaran pers. TPNPB juga mengklaim warga di wilayah tersebut mengungsi ke Distrik Sugapa akibat situasi yang berkembang pascainsiden.Melalui siaran pers yang sama, Komando Nasional TPNPB mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memberikan mandat investigasi terhadap situasi di Papua. Organisasi tersebut juga meminta pemerintah menghentikan pemasangan ranjau di wilayah yang disebut sebagai daerah konflik.Redaksi menegaskan bahwa seluruh informasi dalam pemberitaan ini merupakan klaim yang disampaikan TPNPB melalui siaran pers dan belum dapat diverifikasi secara independen. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI maupun instansi terkait mengenai klaim tersebut. Apabila telah diperoleh tanggapan resmi, berita ini akan diperbarui sesuai prinsip keberimbangan dan hak jawab.Penulis: Hendrik Editor: GF
29 Jun 2026, 21:47 WIT
TPNPB Klaim Dua Anak Ditembak Aparat Saat Bangun Gereja di Intan Jaya
Papuanewsonline.com, Intan Jaya – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim dua orang pemuda berusia di bawah 18 tahun menjadi korban penembakan oleh aparat militer Indonesia di Kampung Titigi, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, pada Senin (29/6/2026).Klaim tersebut disampaikan melalui Siaran Pers Ke-III yang diterbitkan Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom. Dalam keterangannya, TPNPB menyebut kedua korban bernama Daud Hagismijau dan Kiko Hagismijau yang disebut mengalami luka tembak ketika berada di lokasi pembangunan gereja."Keduanya mengalami luka tembak di kaki dan paha belakang saat bersama warga sipil membangun Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius Titigi," tulis siaran pers.Selain menyampaikan informasi mengenai korban, TPNPB juga mengklaim aparat keamanan menguasai jalur utama yang menghubungkan Kota Sugapa menuju Kampung Titigi hingga wilayah Puncak. Dalam siaran pers tersebut disebutkan bahwa penghadangan dilakukan terhadap warga yang mengungsi dari Distrik Agisiga, Hitadipa, dan Sugapa selama periode 26 hingga 29 Juni 2026.TPNPB turut mengklaim operasi darat dan penggunaan drone dalam operasi keamanan berdampak pada rusaknya sejumlah fasilitas. Dalam keterangannya disebutkan gereja, rumah warga, serta fasilitas umum mengalami kerusakan dan kebakaran akibat operasi tersebut."Pengungsian besar-besaran terjadi di tiga distrik tersebut," tulis siaran pers.Melalui pernyataannya, TPNPB mengutuk insiden yang mereka klaim terjadi dan menyebut peristiwa tersebut sebagai "kejahatan terhadap kemanusiaan". Organisasi itu juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk melakukan investigasi terhadap situasi di Papua.Redaksi menegaskan bahwa seluruh informasi dalam pemberitaan ini berasal dari klaim yang disampaikan TPNPB melalui siaran pers dan belum dapat diverifikasi secara independen. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI maupun Pemerintah Kabupaten Intan Jaya terkait klaim tersebut. Apabila telah diperoleh tanggapan resmi dari pihak terkait, berita ini akan diperbarui sesuai dengan prinsip keberimbangan dan hak jawab.Penulis: Hendrik Editor: GF
29 Jun 2026, 21:36 WIT
Bekal Pulang Kampung: Warga Binaan Lapas Timika Dibekali Ilmu Hukum
Papuanewsonline.com, Mimika – Law Firm Golda bekerja sama dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Timika menggelar penyuluhan hukum bagi warga binaan sebagai bagian dari upaya mempersiapkan mereka kembali ke lingkungan masyarakat. Kegiatan tahap pertama tersebut berlangsung pada Jumat, 27 Juni 2026, di lantai II Lapas Kelas IIB Timika.Kegiatan dibuka oleh Kepala Lapas Timika, Hernowo. Penyuluhan menghadirkan Direktur Law Firm Golda, Hendra Jamlaay, S.H., sebagai pemateri bersama Kepala Bidang Advokasi Law Firm Golda, Lukman Chakim, S.H. Pendiri Law Firm Golda, Edoardus Rahawadan, turut mendampingi jalannya kegiatan, sementara doa pembuka dipimpin Kepala Urusan Umum Lapas, Frans Tangboboan.Sebanyak 76 tahanan dan narapidana mengikuti penyuluhan hukum tahap pertama tersebut. Materi yang diberikan mencakup pemahaman mengenai hak-hak warga binaan sejak proses penyidikan, penuntutan, persidangan, hingga selama menjalani pembinaan di dalam lapas. Sebagai bahan pembelajaran, setiap peserta juga menerima buku saku hukum.Kepala Lapas Timika, Hernowo, berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi warga binaan saat kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat. "Kegiatan ini bisa memberikan pemahaman hukum sekaligus merubah cara hidup kelak jika telah bebas dan kembali ke masyarakat," ujarnya.Hal senada disampaikan Pendiri Law Firm Golda, Edoardus Rahawadan. Menurutnya, program penyuluhan hukum bertujuan agar warga binaan memahami hak dan kewajiban mereka selama menjalani proses hukum maupun saat menjalani masa pembinaan di lembaga pemasyarakatan.Direktur Law Firm Golda, Hendra Jamlaay, mengatakan program tersebut tidak berhenti pada tahap pertama. "Tahap II direncanakan Juli 2026. Keterbatasan ruangan membuat kami bagi bertahap, tapi komitmennya semua warga binaan dapat akses," katanya.Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, sejumlah warga binaan menyampaikan keluhan mengenai dokumen eksekusi putusan yang telah berkekuatan hukum tetap atau inkrah. Mereka mengaku belum menerima dokumen tersebut meski telah menunggu selama sekitar lima bulan.Menanggapi hal itu, pihak Lapas Timika menjelaskan telah mengirimkan surat kepada Kejaksaan Negeri Timika untuk meminta tindak lanjut, namun hingga kini belum menerima konfirmasi. Menyikapi persoalan tersebut, Hendra Jamlaay meminta agar dilakukan evaluasi terhadap proses administrasi yang berkaitan dengan hak para terpidana. "Jangan tahan dokumen eksekusi lama-lama. Itu merampas hak terpidana," tegasnya.Hingga berita ini dipublikasikan, redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak Kejaksaan Negeri Timika terkait keterlambatan penyerahan dokumen eksekusi putusan. Apabila telah diperoleh tanggapan resmi, berita ini akan diperbarui sesuai prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.Penulis: Hendrik Editor: GF
29 Jun 2026, 21:21 WIT
"Kabupaten Lumpuh Total": Warga Nduga Ungkap Lampu Mati dan Birokrasi Macet
Papuanewsonline.com, Nduga – Seorang warga Kabupaten Nduga bernama Itan Kwijangge menyampaikan berbagai keluhan mengenai kondisi daerahnya melalui rekaman pesan suara yang dikirim kepada media Papuanewsonline.com. Dalam rekaman tersebut, ia menggambarkan situasi Kabupaten Nduga sebagai daerah yang mengalami berbagai persoalan, mulai dari layanan listrik hingga birokrasi pemerintahan.Salah satu persoalan yang menjadi sorotan ialah kondisi penerangan dan pasokan listrik yang disebut belum stabil. Menurut Itan, lampu jalan di sejumlah wilayah sudah lama tidak berfungsi sehingga masyarakat harus menghadapi keterbatasan penerangan dalam waktu yang cukup lama."Kadang sampai 1 bulan, 2 bulan lampu tidak menyala sama sekali," ujar Itan dalam rekaman suara via WhatsApp ke media Papuanewsonline.com. Ia juga menyebut pasokan listrik hanya menyala secara bergilir pada pukul 18.00 hingga 24.00 WIT.Selain persoalan listrik, Itan menilai aktivitas pemerintahan di Kabupaten Nduga belum berjalan sebagaimana mestinya. Ia mengaku melihat sejumlah kantor pemerintahan dalam kondisi kurang terawat dan belum menunjukkan aktivitas pelayanan yang maksimal."Kantor sana... rumput naik. Macam kayak tidak ada orang, orang kasih tinggal rumah kosong," ungkap Itan. Ia juga mengaku sejak tahun 2017 belum melihat adanya perubahan yang signifikan di daerah tersebut.Dalam rekamannya, Itan turut menyoroti belum adanya kejelasan mengenai peserta tes PGWI dan K2 tahun 2024. Menurutnya, hingga kini belum ada informasi lanjutan, sementara di sejumlah kabupaten lain proses penempatan kerja sudah mulai berjalan. Ia juga menyebut pelantikan kepala desa di Kabupaten Nduga belum terlaksana.Dengan nada penuh kekecewaan, Itan menggambarkan kondisi daerahnya menggunakan perumpamaan. "Macam kayak orang kencing di pasir. Macam kayak angin masuk tapi asap keluarnya tidak ada," ujarnya. Ia menilai dana daerah tetap mengalir, namun hasil pembangunan belum dirasakan masyarakat.Itan juga meminta para pejabat daerah lebih sering turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi masyarakat. "Orang sekolah gelarnya luar biasa, sungguh mati. Tapi mana turun di lapangnya tidak ada perkembangan ini," kata Itan. Menurutnya, masyarakat masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari jaringan komunikasi, listrik, hingga kondisi rumah yang belum memadai.Di akhir rekaman, Itan berharap keluhan yang disampaikannya dapat menjadi perhatian pemerintah daerah. "Macam kayak saya rasa itu tidak ada orang tua tinggal kayak anak-anak saja di rumah begitu," katanya. Ia kemudian menutup pesannya dengan harapan agar pemerintah "sadar diri". "Kami yang tinggal di kabupaten juga itu macam kayak tidak ada orang sekolah begitu," tutupnya.Penulis: Hendrik Editor: GF
29 Jun 2026, 18:51 WIT
"Janji Habis, Bukti Nol": Warga Kecewa Kinerja Bupati Yoas Beon, Soroti Janji Kampanye
Papuanewsonline.com, Nduga – Seorang warga Kabupaten Nduga bernama Itan Kwijangge menyampaikan kekecewaannya terhadap kinerja Bupati Yoas Beon. Kritik tersebut disampaikan melalui rekaman pesan suara yang beredar melalui aplikasi WhatsApp dan berisi sejumlah sorotan terhadap pelaksanaan pemerintahan daerah.Dalam keterangannya, Itan menilai berbagai janji yang disampaikan saat masa kampanye belum terlihat realisasinya setelah kepala daerah menjabat. Ia mengaku telah memberikan kepercayaan pada saat Pilkada, namun hingga kini belum melihat perubahan yang dirasakan masyarakat."Janji-janji sampai dia pemasas sudah habis. Jadi percuma juga bupati sekarang ini," kata Itan, Minggu (28/6/2026). Ia menilai harapan masyarakat terhadap kepemimpinan saat ini belum terjawab melalui program maupun pembangunan yang nyata.Selain menyinggung realisasi janji kampanye, Itan juga menyoroti kondisi keamanan di wilayah Nduga. Menurutnya, situasi yang berkembang membuat sebagian masyarakat merasa khawatir saat beraktivitas sehingga pemerintah daerah dinilai perlu mengambil langkah yang lebih nyata."TNI Polri ini mereka berkeliaran di hutan-hutan. Jadi masyarakat takut segala macam," ujarnya. Ia berpendapat kepala daerah seharusnya turut berperan dalam mengendalikan situasi agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan rasa aman.Keluhan lainnya berkaitan dengan fasilitas penerangan jalan yang disebut belum mendapat perhatian. Itan mengatakan lampu jalan yang tidak berfungsi telah menjadi keluhan masyarakat dan bahkan memunculkan rencana aksi penyampaian aspirasi di kawasan Pelan."Bapak ini lampu tidak bisa. Jadi bapak harus tanggung jawab lampu ini," kata Itan. Ia juga mengkritik arah kebijakan pemerintah daerah yang menurutnya justru mengembalikan tanggung jawab penyelesaian persoalan kepada masyarakat."Bupati bilang kita perintah untuk bupati amankan ini. Bupati kembali suruh masyarakat. Masyarakat yang jalan," ujarnya. Di akhir rekaman, Itan berharap suaranya dapat diketahui publik secara luas. "Tolong berita sampaikan ke dunia supaya dia harus sadar dan dia harus tahu diri," katanya.Redaksi mencatat seluruh pernyataan tersebut sebagai bentuk kritik yang disampaikan oleh warga. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Bupati Yoas Beon maupun Pemerintah Kabupaten Nduga terkait persoalan yang disampaikan. Asas praduga tidak bersalah, keberimbangan, dan hak jawab tetap dijunjung dalam pemberitaan ini. Redaksi juga telah berupaya meminta konfirmasi kepada pemerintah daerah dan akan memperbarui berita apabila telah menerima keterangan resmi.Penulis: Hendrik Editor: GF
29 Jun 2026, 16:21 WIT
Rekomendasi Destinasi Wisata di Timika, Cocok untuk Liburan Panjang
Papuanewsonline.com, Mimika –
Menjelang masa liburan panjang, warga Timika dan sekitarnya kini memiliki
beragam pilihan tempat rekreasi yang keindahannya tak kalah menarik
dibandingkan daerah lain. Sebagai ibu kota Kabupaten Mimika, Timika memang
dikenal sebagai kawasan industri dan jasa dengan kehadiran PT Freeport
Indonesia, namun di balik itu tersimpan sejumlah daya tarik wisata alam,
sejarah, budaya, hingga edukasi yang sayang untuk dilewatkan. Bagi pencinta sejarah, Pantai
Keakwa menjadi destinasi wajib. Situs ini menyimpan jejak Perang Dunia II
dengan peninggalan seperti tank, pesawat tempur, meriam, dan mortar bekas
tentara Amerika dan Jepang yang masih terawat baik. Selain nilai sejarahnya,
pantai ini juga dikenal memiliki hasil laut yang melimpah. Sementara itu, Pantai Ipaya yang
merupakan gabungan kawasan Ipiri, Paripi, dan Yaraya menawarkan hamparan pasir
putih luas, serta kesempatan berkeliling laut atau memancing menggunakan perahu
sewaan. Untuk rekreasi keluarga, tersedia
sejumlah tempat seperti Waterboom SP 3 Park, Hokky Swimming Pool, dan Pemandian
Pelangi Kilo 8 yang dilengkapi wahana air, fasilitas istirahat, serta tempat
makan. Pilihan lain adalah Kali Kyura,
yang dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dari kota, cocok untuk
bersantai di tengah suasana alami. Tak kalah istimewa, Taman
Nasional Lorentz yang diakui UNESCO sebagai warisan dunia menjadi taman
nasional terbesar di Asia Tenggara dengan kekayaan flora, fauna, dan budaya
yang masih alami. Bagi yang ingin menikmati
pemandangan, Pantai Kampus Biru menawarkan air laut berwarna kebiruan dan ombak
tenang, sangat pas untuk menyaksikan matahari terbenam. Sementara itu, kawasan
Tambang Grasberg dan Kuala Kencana juga menjadi daya tarik tersendiri. Perlu diketahui, kedua lokasi ini
dikelola secara ketat oleh PT Freeport Indonesia, sehingga kunjungan hanya
dapat dilakukan dengan izin resmi dan pemeriksaan keamanan yang berlaku. Dengan beragam pilihan ini,
liburan panjang di Timika tidak perlu pergi jauh. Setiap tempat memiliki
keunikan tersendiri, mulai dari pesona alam, nilai sejarah, hingga pemandangan
yang menenangkan. Pastikan untuk mematuhi aturan
dan persyaratan kunjungan di setiap lokasi agar perjalanan tetap aman, nyaman,
dan menyenangkan bagi seluruh keluarga. Penulis: Jid
Editor: GF
28 Jun 2026, 16:27 WIT
Pilihan Redaksi
TPNPB Klaim Tanggung Jawab Penembakan 8 Aparat di Intan Jaya
Papuanewsonline.com, Intan Jaya – Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim bertanggung jawab atas aksi penembakan terhadap delapan aparat militer Indonesia di Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, pada Sabtu (27/6/2026). Klaim tersebut disampaikan melalui Siaran Pers Ke-II yang diterbitkan organisasi tersebut.Dalam siaran pers itu, Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom, menyebut Mayor Aibon Kogoya bersama pasukannya terlibat dalam insiden tersebut. "Praka Batu Oktara tewas di Kampung Taosiga akibat luka tembak di bahu kanan. Tiga lainnya luka di Kampung Danggoa," tulis siaran pers.TPNPB juga merinci identitas tiga aparat yang disebut mengalami luka. Dalam keterangannya disebutkan Pratu Stefanus Milikor Mali mengalami luka di paha kiri, Pratu Bayu mengalami luka di bagian dada, dan Praka Burhan mengalami luka di paha kanan. Seluruh korban disebut berasal dari Satgas Rajawali IV/Yonif 744/SYB dan telah dievakuasi ke Timika.Selain mengklaim adanya korban dari pihak aparat, TPNPB juga menyebut terjadi operasi balasan setelah insiden penembakan. Dalam siaran pers tersebut, kelompok itu mengklaim aparat menggunakan helikopter, drone, bom, dan RPG dalam operasi di Distrik Agisiga."Rumah-rumah, pemukiman warga dan gereja-gereja terbakar," tulis siaran pers. TPNPB juga mengklaim warga di wilayah tersebut mengungsi ke Distrik Sugapa akibat situasi yang berkembang pascainsiden.Melalui siaran pers yang sama, Komando Nasional TPNPB mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memberikan mandat investigasi terhadap situasi di Papua. Organisasi tersebut juga meminta pemerintah menghentikan pemasangan ranjau di wilayah yang disebut sebagai daerah konflik.Redaksi menegaskan bahwa seluruh informasi dalam pemberitaan ini merupakan klaim yang disampaikan TPNPB melalui siaran pers dan belum dapat diverifikasi secara independen. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI maupun instansi terkait mengenai klaim tersebut. Apabila telah diperoleh tanggapan resmi, berita ini akan diperbarui sesuai prinsip keberimbangan dan hak jawab.Penulis: Hendrik Editor: GF
29 Jun 2026, 21:47 WIT
TPNPB Klaim Dua Anak Ditembak Aparat Saat Bangun Gereja di Intan Jaya
Papuanewsonline.com, Intan Jaya – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim dua orang pemuda berusia di bawah 18 tahun menjadi korban penembakan oleh aparat militer Indonesia di Kampung Titigi, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, pada Senin (29/6/2026).Klaim tersebut disampaikan melalui Siaran Pers Ke-III yang diterbitkan Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom. Dalam keterangannya, TPNPB menyebut kedua korban bernama Daud Hagismijau dan Kiko Hagismijau yang disebut mengalami luka tembak ketika berada di lokasi pembangunan gereja."Keduanya mengalami luka tembak di kaki dan paha belakang saat bersama warga sipil membangun Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius Titigi," tulis siaran pers.Selain menyampaikan informasi mengenai korban, TPNPB juga mengklaim aparat keamanan menguasai jalur utama yang menghubungkan Kota Sugapa menuju Kampung Titigi hingga wilayah Puncak. Dalam siaran pers tersebut disebutkan bahwa penghadangan dilakukan terhadap warga yang mengungsi dari Distrik Agisiga, Hitadipa, dan Sugapa selama periode 26 hingga 29 Juni 2026.TPNPB turut mengklaim operasi darat dan penggunaan drone dalam operasi keamanan berdampak pada rusaknya sejumlah fasilitas. Dalam keterangannya disebutkan gereja, rumah warga, serta fasilitas umum mengalami kerusakan dan kebakaran akibat operasi tersebut."Pengungsian besar-besaran terjadi di tiga distrik tersebut," tulis siaran pers.Melalui pernyataannya, TPNPB mengutuk insiden yang mereka klaim terjadi dan menyebut peristiwa tersebut sebagai "kejahatan terhadap kemanusiaan". Organisasi itu juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk melakukan investigasi terhadap situasi di Papua.Redaksi menegaskan bahwa seluruh informasi dalam pemberitaan ini berasal dari klaim yang disampaikan TPNPB melalui siaran pers dan belum dapat diverifikasi secara independen. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI maupun Pemerintah Kabupaten Intan Jaya terkait klaim tersebut. Apabila telah diperoleh tanggapan resmi dari pihak terkait, berita ini akan diperbarui sesuai dengan prinsip keberimbangan dan hak jawab.Penulis: Hendrik Editor: GF
29 Jun 2026, 21:36 WIT
Bekal Pulang Kampung: Warga Binaan Lapas Timika Dibekali Ilmu Hukum
Papuanewsonline.com, Mimika – Law Firm Golda bekerja sama dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Timika menggelar penyuluhan hukum bagi warga binaan sebagai bagian dari upaya mempersiapkan mereka kembali ke lingkungan masyarakat. Kegiatan tahap pertama tersebut berlangsung pada Jumat, 27 Juni 2026, di lantai II Lapas Kelas IIB Timika.Kegiatan dibuka oleh Kepala Lapas Timika, Hernowo. Penyuluhan menghadirkan Direktur Law Firm Golda, Hendra Jamlaay, S.H., sebagai pemateri bersama Kepala Bidang Advokasi Law Firm Golda, Lukman Chakim, S.H. Pendiri Law Firm Golda, Edoardus Rahawadan, turut mendampingi jalannya kegiatan, sementara doa pembuka dipimpin Kepala Urusan Umum Lapas, Frans Tangboboan.Sebanyak 76 tahanan dan narapidana mengikuti penyuluhan hukum tahap pertama tersebut. Materi yang diberikan mencakup pemahaman mengenai hak-hak warga binaan sejak proses penyidikan, penuntutan, persidangan, hingga selama menjalani pembinaan di dalam lapas. Sebagai bahan pembelajaran, setiap peserta juga menerima buku saku hukum.Kepala Lapas Timika, Hernowo, berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi warga binaan saat kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat. "Kegiatan ini bisa memberikan pemahaman hukum sekaligus merubah cara hidup kelak jika telah bebas dan kembali ke masyarakat," ujarnya.Hal senada disampaikan Pendiri Law Firm Golda, Edoardus Rahawadan. Menurutnya, program penyuluhan hukum bertujuan agar warga binaan memahami hak dan kewajiban mereka selama menjalani proses hukum maupun saat menjalani masa pembinaan di lembaga pemasyarakatan.Direktur Law Firm Golda, Hendra Jamlaay, mengatakan program tersebut tidak berhenti pada tahap pertama. "Tahap II direncanakan Juli 2026. Keterbatasan ruangan membuat kami bagi bertahap, tapi komitmennya semua warga binaan dapat akses," katanya.Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, sejumlah warga binaan menyampaikan keluhan mengenai dokumen eksekusi putusan yang telah berkekuatan hukum tetap atau inkrah. Mereka mengaku belum menerima dokumen tersebut meski telah menunggu selama sekitar lima bulan.Menanggapi hal itu, pihak Lapas Timika menjelaskan telah mengirimkan surat kepada Kejaksaan Negeri Timika untuk meminta tindak lanjut, namun hingga kini belum menerima konfirmasi. Menyikapi persoalan tersebut, Hendra Jamlaay meminta agar dilakukan evaluasi terhadap proses administrasi yang berkaitan dengan hak para terpidana. "Jangan tahan dokumen eksekusi lama-lama. Itu merampas hak terpidana," tegasnya.Hingga berita ini dipublikasikan, redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak Kejaksaan Negeri Timika terkait keterlambatan penyerahan dokumen eksekusi putusan. Apabila telah diperoleh tanggapan resmi, berita ini akan diperbarui sesuai prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.Penulis: Hendrik Editor: GF
29 Jun 2026, 21:21 WIT
"Kabupaten Lumpuh Total": Warga Nduga Ungkap Lampu Mati dan Birokrasi Macet
Papuanewsonline.com, Nduga – Seorang warga Kabupaten Nduga bernama Itan Kwijangge menyampaikan berbagai keluhan mengenai kondisi daerahnya melalui rekaman pesan suara yang dikirim kepada media Papuanewsonline.com. Dalam rekaman tersebut, ia menggambarkan situasi Kabupaten Nduga sebagai daerah yang mengalami berbagai persoalan, mulai dari layanan listrik hingga birokrasi pemerintahan.Salah satu persoalan yang menjadi sorotan ialah kondisi penerangan dan pasokan listrik yang disebut belum stabil. Menurut Itan, lampu jalan di sejumlah wilayah sudah lama tidak berfungsi sehingga masyarakat harus menghadapi keterbatasan penerangan dalam waktu yang cukup lama."Kadang sampai 1 bulan, 2 bulan lampu tidak menyala sama sekali," ujar Itan dalam rekaman suara via WhatsApp ke media Papuanewsonline.com. Ia juga menyebut pasokan listrik hanya menyala secara bergilir pada pukul 18.00 hingga 24.00 WIT.Selain persoalan listrik, Itan menilai aktivitas pemerintahan di Kabupaten Nduga belum berjalan sebagaimana mestinya. Ia mengaku melihat sejumlah kantor pemerintahan dalam kondisi kurang terawat dan belum menunjukkan aktivitas pelayanan yang maksimal."Kantor sana... rumput naik. Macam kayak tidak ada orang, orang kasih tinggal rumah kosong," ungkap Itan. Ia juga mengaku sejak tahun 2017 belum melihat adanya perubahan yang signifikan di daerah tersebut.Dalam rekamannya, Itan turut menyoroti belum adanya kejelasan mengenai peserta tes PGWI dan K2 tahun 2024. Menurutnya, hingga kini belum ada informasi lanjutan, sementara di sejumlah kabupaten lain proses penempatan kerja sudah mulai berjalan. Ia juga menyebut pelantikan kepala desa di Kabupaten Nduga belum terlaksana.Dengan nada penuh kekecewaan, Itan menggambarkan kondisi daerahnya menggunakan perumpamaan. "Macam kayak orang kencing di pasir. Macam kayak angin masuk tapi asap keluarnya tidak ada," ujarnya. Ia menilai dana daerah tetap mengalir, namun hasil pembangunan belum dirasakan masyarakat.Itan juga meminta para pejabat daerah lebih sering turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi masyarakat. "Orang sekolah gelarnya luar biasa, sungguh mati. Tapi mana turun di lapangnya tidak ada perkembangan ini," kata Itan. Menurutnya, masyarakat masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari jaringan komunikasi, listrik, hingga kondisi rumah yang belum memadai.Di akhir rekaman, Itan berharap keluhan yang disampaikannya dapat menjadi perhatian pemerintah daerah. "Macam kayak saya rasa itu tidak ada orang tua tinggal kayak anak-anak saja di rumah begitu," katanya. Ia kemudian menutup pesannya dengan harapan agar pemerintah "sadar diri". "Kami yang tinggal di kabupaten juga itu macam kayak tidak ada orang sekolah begitu," tutupnya.Penulis: Hendrik Editor: GF
29 Jun 2026, 18:51 WIT
"Janji Habis, Bukti Nol": Warga Kecewa Kinerja Bupati Yoas Beon, Soroti Janji Kampanye
Papuanewsonline.com, Nduga – Seorang warga Kabupaten Nduga bernama Itan Kwijangge menyampaikan kekecewaannya terhadap kinerja Bupati Yoas Beon. Kritik tersebut disampaikan melalui rekaman pesan suara yang beredar melalui aplikasi WhatsApp dan berisi sejumlah sorotan terhadap pelaksanaan pemerintahan daerah.Dalam keterangannya, Itan menilai berbagai janji yang disampaikan saat masa kampanye belum terlihat realisasinya setelah kepala daerah menjabat. Ia mengaku telah memberikan kepercayaan pada saat Pilkada, namun hingga kini belum melihat perubahan yang dirasakan masyarakat."Janji-janji sampai dia pemasas sudah habis. Jadi percuma juga bupati sekarang ini," kata Itan, Minggu (28/6/2026). Ia menilai harapan masyarakat terhadap kepemimpinan saat ini belum terjawab melalui program maupun pembangunan yang nyata.Selain menyinggung realisasi janji kampanye, Itan juga menyoroti kondisi keamanan di wilayah Nduga. Menurutnya, situasi yang berkembang membuat sebagian masyarakat merasa khawatir saat beraktivitas sehingga pemerintah daerah dinilai perlu mengambil langkah yang lebih nyata."TNI Polri ini mereka berkeliaran di hutan-hutan. Jadi masyarakat takut segala macam," ujarnya. Ia berpendapat kepala daerah seharusnya turut berperan dalam mengendalikan situasi agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan rasa aman.Keluhan lainnya berkaitan dengan fasilitas penerangan jalan yang disebut belum mendapat perhatian. Itan mengatakan lampu jalan yang tidak berfungsi telah menjadi keluhan masyarakat dan bahkan memunculkan rencana aksi penyampaian aspirasi di kawasan Pelan."Bapak ini lampu tidak bisa. Jadi bapak harus tanggung jawab lampu ini," kata Itan. Ia juga mengkritik arah kebijakan pemerintah daerah yang menurutnya justru mengembalikan tanggung jawab penyelesaian persoalan kepada masyarakat."Bupati bilang kita perintah untuk bupati amankan ini. Bupati kembali suruh masyarakat. Masyarakat yang jalan," ujarnya. Di akhir rekaman, Itan berharap suaranya dapat diketahui publik secara luas. "Tolong berita sampaikan ke dunia supaya dia harus sadar dan dia harus tahu diri," katanya.Redaksi mencatat seluruh pernyataan tersebut sebagai bentuk kritik yang disampaikan oleh warga. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Bupati Yoas Beon maupun Pemerintah Kabupaten Nduga terkait persoalan yang disampaikan. Asas praduga tidak bersalah, keberimbangan, dan hak jawab tetap dijunjung dalam pemberitaan ini. Redaksi juga telah berupaya meminta konfirmasi kepada pemerintah daerah dan akan memperbarui berita apabila telah menerima keterangan resmi.Penulis: Hendrik Editor: GF
29 Jun 2026, 16:21 WIT
Rekomendasi Destinasi Wisata di Timika, Cocok untuk Liburan Panjang
Papuanewsonline.com, Mimika –
Menjelang masa liburan panjang, warga Timika dan sekitarnya kini memiliki
beragam pilihan tempat rekreasi yang keindahannya tak kalah menarik
dibandingkan daerah lain. Sebagai ibu kota Kabupaten Mimika, Timika memang
dikenal sebagai kawasan industri dan jasa dengan kehadiran PT Freeport
Indonesia, namun di balik itu tersimpan sejumlah daya tarik wisata alam,
sejarah, budaya, hingga edukasi yang sayang untuk dilewatkan. Bagi pencinta sejarah, Pantai
Keakwa menjadi destinasi wajib. Situs ini menyimpan jejak Perang Dunia II
dengan peninggalan seperti tank, pesawat tempur, meriam, dan mortar bekas
tentara Amerika dan Jepang yang masih terawat baik. Selain nilai sejarahnya,
pantai ini juga dikenal memiliki hasil laut yang melimpah. Sementara itu, Pantai Ipaya yang
merupakan gabungan kawasan Ipiri, Paripi, dan Yaraya menawarkan hamparan pasir
putih luas, serta kesempatan berkeliling laut atau memancing menggunakan perahu
sewaan. Untuk rekreasi keluarga, tersedia
sejumlah tempat seperti Waterboom SP 3 Park, Hokky Swimming Pool, dan Pemandian
Pelangi Kilo 8 yang dilengkapi wahana air, fasilitas istirahat, serta tempat
makan. Pilihan lain adalah Kali Kyura,
yang dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dari kota, cocok untuk
bersantai di tengah suasana alami. Tak kalah istimewa, Taman
Nasional Lorentz yang diakui UNESCO sebagai warisan dunia menjadi taman
nasional terbesar di Asia Tenggara dengan kekayaan flora, fauna, dan budaya
yang masih alami. Bagi yang ingin menikmati
pemandangan, Pantai Kampus Biru menawarkan air laut berwarna kebiruan dan ombak
tenang, sangat pas untuk menyaksikan matahari terbenam. Sementara itu, kawasan
Tambang Grasberg dan Kuala Kencana juga menjadi daya tarik tersendiri. Perlu diketahui, kedua lokasi ini
dikelola secara ketat oleh PT Freeport Indonesia, sehingga kunjungan hanya
dapat dilakukan dengan izin resmi dan pemeriksaan keamanan yang berlaku. Dengan beragam pilihan ini,
liburan panjang di Timika tidak perlu pergi jauh. Setiap tempat memiliki
keunikan tersendiri, mulai dari pesona alam, nilai sejarah, hingga pemandangan
yang menenangkan. Pastikan untuk mematuhi aturan
dan persyaratan kunjungan di setiap lokasi agar perjalanan tetap aman, nyaman,
dan menyenangkan bagi seluruh keluarga. Penulis: Jid
Editor: GF
28 Jun 2026, 16:27 WIT
Berita utama
Hukum & Kriminal
Politik & Pemerintahan
Berita Populer
Tag Berita
Pendidikan & Kesehatan
Lihat semua
BNPB Tingkatkan Kesiapsiagaan, BMKG Sebut Risiko Cuaca Ekstrem di Mimika Masih Rendah
Papuanewsonline.com, Mimika –
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menaikkan status
kesiapsiagaan di 26 provinsi, termasuk Papua Tengah, mengantisipasi potensi
hujan lebat dan angin kencang. Meski demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi,
dan Geofisika (BMKG) Stasiun Mozes Kilangin Timika memastikan risiko cuaca
ekstrem di Kabupaten Mimika masih tergolong kecil. Forecaster BMKG, William
Titahena, menjelaskan bahwa berdasarkan prakiraan Dasarian I, sebagian besar
wilayah Mimika hanya akan diguyur hujan dengan intensitas ringan. Peluang
terjadinya curah hujan di atas 100 milimeter hanya berkisar 10 hingga 20 persen,
terutama di daerah pesisir dan dataran rendah. Wilayah dari Mimika Barat Jauh
hingga Timur Jauh serta Distrik Jita juga memiliki kemungkinan yang sama, belum
masuk kategori ekstrem. Ia menambahkan bahwa potensi
hujan lebih tinggi justru terdeteksi di kawasan pegunungan Papua, seperti
wilayah Kabupaten Puncak. Kondisi geografis dan kelembapan udara yang tinggi
membuat daerah dataran tinggi lebih rentan mengalami curah hujan lebih deras
dibandingkan wilayah perkotaan. Suhu di Mimika tetap stabil
antara 23 hingga 30 derajat Celsius, hanya terasa lebih dingin pada malam dan
dini hari. Meskipun risikonya kecil, BMKG
tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi mereka yang
beraktivitas di daerah pegunungan dan lokasi rawan perubahan cuaca. Warga di wilayah perkotaan tidak
perlu panik, namun disarankan untuk terus memantau informasi resmi agar segera
mengambil langkah antisipasi jika terjadi perubahan kondisi. Penulis: Jid
Editor: GF
28 Jun 2026, 10:33 WIT
Lewat Reses, Ardi S.T. Bawa Bantuan Pendidikan dan Pesan Pentingnya Keluarga Harmonis
Papuanewsonline.com, Mimika -
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua Tengah, Ardi, S.T., M.IST.,
melaksanakan kegiatan Reses II Tahun 2026 yang digabungkan dengan penyerahan
bantuan Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) Tahap I Tahun 2026, serta
menggelar sesi diskusi dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional. Kegiatan yang mengusung tema
“Keharmonisan Keluarga Turut Membentuk Karakter Anak Penerus Bangsa” ini
berlangsung di Hotel Serayu Timika pada Sabtu (27/6/2026), dan dihadiri oleh
jajaran pengurus Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Mimika, warga konstituen,
orang tua siswa, serta para pelajar penerima manfaat. Dalam kesempatan itu, Ardi
menyalurkan beasiswa PIP kepada sekitar 60 siswa dari total kuota 63 orang yang
direkomendasikan Fraksi PKS bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan. Ia
menjelaskan seluruh proses administrasi dan aktivasi rekening di Bank BRI telah
selesai dilakukan. “Penerima cukup membawa sertifikat beasiswa
dan Kartu Keluarga ke bank untuk mencairkan dana,” ujarnya. Bantuan ini diharapkan
meringankan biaya sekolah, seperti pembelian seragam, perlengkapan belajar, dan
kebutuhan pendidikan lainnya, mengingat tahun ajaran baru segera dimulai.
Penyaluran serupa juga diagendakan kembali pada Desember mendatang. Selain pendidikan, Ardi
menyampaikan komitmen mendukung akses kesehatan. Ia mengungkapkan tahun
sebelumnya telah membantu warga kurang mampu mengaktifkan dan membayar iuran
BPJS Kesehatan. Untuk tahun ini, pihaknya masih
menunggu kebijakan pusat, namun tetap berupaya agar warga berhak mendapatkan
layanan kesehatan secara cuma-cuma. Ia juga mengimbau masyarakat
rutin memeriksa status kepesertaan agar tidak terhambat saat membutuhkan
pelayanan medis. Talk show Harganas menekankan
peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak. Ardi menegaskan
keberhasilan generasi muda tidak hanya bergantung pada sekolah, melainkan juga
pada pola asuh, keteladanan, dan keharmonisan di rumah.
“Anak belajar dari apa yang dilihat dan
dirasakan setiap hari, sehingga lingkungan keluarga yang baik menjadi kunci
menciptakan pribadi yang tangguh dan berakhlak mulia,” tegasnya. Penulis: Jid Editor: GF
28 Jun 2026, 10:07 WIT
Perahu Nelayan Hilang Kontak di Perairan Atuka, Tim SAR Lakukan Pencarian
Papuanewsonline.com, Mimika – Sebuah perahu nelayan yang
membawa empat orang dilaporkan hilang kontak di wilayah perairan Atuka,
Kabupaten Mimika. Laporan disampaikan oleh pihak keluarga bernama Selfi ke
Kantor SAR Timika setelah rombongan tidak kembali sesuai jadwal yang telah ditentukan.Keempat nelayan tersebut berangkat melaut mencari ikan sejak
Selasa, 23 Juni 2026, dan direncanakan pulang pada Kamis, 25 Juni.Masih ada komunikasi terakhir pada Rabu, 24 Juni, namun
setelah itu nomor telepon mereka tidak dapat dihubungi lagi. Pencarian mandiri
yang dilakukan keluarga dan warga sejak Kamis belum membuahkan hasil.Merespons laporan tersebut, Tim SAR gabungan berangkat ke
lokasi pada Sabtu pagi menggunakan kapal penyelamat berkecepatan tinggi. Penyisiran dilakukan di radius sekitar 8 mil laut, serta
meminta keterangan kepada kapal lain yang melintas di sekitar perairan Atuka
untuk melacak keberadaan mereka.Hingga sore hari, upaya pencarian hari pertama belum
menemukan tanda-tanda keberadaan perahu maupun penumpangnya. Tim kemudian kembali ke darat pada pukul 17.35 WIT dan
merencanakan melanjutkan operasi pada Minggu pagi dengan memperluas area
pencarian, disesuaikan dengan kondisi arus dan pasang surut air laut. Penulis: Jid
Editor: GF
28 Jun 2026, 09:53 WIT
Konfercab KE-III DPC GMNI Timika, Tegaskan Pentingnya Persatuan dalam Regenerasi Kepemimpinan
Papuanewsonline.com, Mimika — Gerakan Mahasiswa Nasional
Indonesia (GMNI) Cabang Timika menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) III
dengan mengusung tema "Melanjutkan Tongkat Estafet Kepemimpinan yang
Progresif dan Revolusioner, Merawat Solidaritas, Membumikan Pancasila, dan
Memenangkan Marhaen" di Mimika, Sabtu (27/6/2026).Ketua DPC GMNI Timika, Kristoforus Toffy, dalam sambutannya
menegaskan bahwa sejak awal berdiri, GMNI merupakan organisasi kaderisasi yang
berkomitmen mencetak kader-kader berkualitas."Sejak awal berdiri, GMNI adalah organisasi kaderisasi.
Karena itu, di tengah berbagai tantangan zaman, kami tetap berkomitmen
menjalankan proses pengkaderan agar lahir kader-kader yang memiliki semangat
nasionalisme, intelektualitas, dan keberpihakan kepada rakyat," ujarnya.Ia mengatakan, Konferensi Cabang III merupakan momentum
penting untuk melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi. Menurutnya, berbagai
dinamika yang muncul dalam persidangan maupun proses pemilihan ketua cabang
yang baru harus disikapi secara dewasa."Kita melaksanakan Musyawarah Cabang III. Apa pun
dinamika yang akan terjadi dalam persidangan maupun proses pemilihan ketua yang
baru, saya berharap kita tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Berbeda pendapat
adalah hal yang wajar dalam organisasi. Kita boleh beradu gagasan dan
argumentasi, tetapi jangan sampai perbedaan itu memecah persaudaraan kita
sebagai keluarga besar GMNI," katanya.Kristoforus menegaskan bahwa persatuan menjadi modal utama
bagi organisasi untuk terus berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat."Kita harus ingat bahwa ketika kita terpecah, kita akan
menjadi lemah. Sebaliknya, ketika kita bersatu, kita akan semakin kuat dalam
memperjuangkan cita-cita organisasi dan memberikan kontribusi terbaik bagi
pembangunan Kabupaten Mimika," Tutupnya. Penulis: Bim
Editor: GF
28 Jun 2026, 09:25 WIT
Tukang Pangkas Rambut Ditemukan Meninggal di Kamar Kos, Diduga Karena Sakit
Papuanewsonline.com, Timika – Seorang pria paruh baya bernama
Bambang (55) ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam kamar kosnya di kawasan
Pasar Minggu, SP 1, pada Kamis sore (25/6/2026). Kejadian ini dibenarkan oleh
Kapolsek Mimika Baru, AKP Mattinetta, saat dikonfirmasi pada malam harinya.Menurut keterangan yang diperoleh, peristiwa bermula ketika saksi
bernama HFE mendatangi kamar korban sekitar pukul 17.30 WIT untuk mengajaknya
menghadiri pengajian yasinan. Karena tidak ada jawaban, saksi pun meminta bantuan dua tetangga.
Setelah mengintip lewat lubang ventilasi, mereka melihat korban terbaring tanpa
sadar, lalu segera mendobrak pintu dan mendapati korban sudah meninggal.Bambang dikenal sebagai tukang pangkas rambut yang bekerja di
wilayah SP 1. Ia tinggal sendiri di Timika, sementara istri dan anaknya menetap
di Kabupaten Tumanggung. Terakhir kali ia terlihat bekerja adalah pada Rabu (24/6) sekitar
pukul 12.00 WIT. Saksi lain menyebutkan bahwa pada sore harinya, korban sempat
terlihat berbaring di Mushollah Al-Amin sambil mengeluhkan demam dan menggigil.Ia bahkan disarankan untuk segera berobat, namun belum sempat
melakukannya sebelum ditemukan meninggal keesokan harinya. Berdasarkan pemeriksaan di tempat kejadian oleh tim Inafis, tidak
ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Dugaan sementara, Bambang meninggal dunia akibat sakit yang
dideritanya. Penulis: Jid
Editor: GF
27 Jun 2026, 03:39 WIT
BRIDA Mimika Dorong Ekosistem Riset Terbuka dan Berbasis Data
Papuanewsonline.com, Mimika – Kepala Badan Riset dan Inovasi
Daerah (BRIDA) Kabupaten Mimika, Slamet Sutejo, menekankan pentingnya membangun
ekosistem riset yang terbuka, kolaboratif, dan mampu memberikan manfaat nyata
bagi masyarakat. Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan penguatan
kapasitas riset dan advokasi yang melibatkan berbagai unsur masyarakat sipil,
akademisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan lokal di Timika.Slamet mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai
sejalan dengan kebutuhan daerah dalam memperkuat budaya riset, inovasi, dan
advokasi yang didasarkan pada data serta fakta lapangan.Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan
(artificial intelligence/AI) telah membuka banyak peluang dalam pengelolaan
informasi dan pengetahuan. Namun demikian, pemanfaatan teknologi harus tetap
diimbangi dengan verifikasi langsung di lapangan agar hasil kajian yang
dihasilkan tetap akurat.Ia mengingatkan bahwa aktor-aktor lokal perlu mampu beradaptasi
dengan kemajuan teknologi tanpa kehilangan kemampuan membaca realitas sosial
yang berkembang di masyarakat.“Penggunaan AI dan teknologi informasi harus tetap didukung data
nyata dari lapangan agar tidak menghasilkan kesimpulan yang meleset, bias, atau
keliru,” kata Slamet dalam Workshop Penguatan Riset, Advokasi, dan Pengembangan
Jejaring Aktor Lokal dalam Perlindungan Warga Sipil Papua yang diselenggarakan
oleh Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Hotel Horison Diana Timika,
Kamis (25/6/2026).Slamet menjelaskan, BRIDA Kabupaten Mimika saat ini tengah
mendorong keterbukaan akses terhadap berbagai hasil penelitian, inovasi, dan
kajian daerah agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat, mahasiswa,
akademisi, organisasi lokal, maupun pemangku kepentingan lainnya.Menurut dia, selama ini berbagai hasil kajian yang dihasilkan
pemerintah masih tersebar di sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD),
sehingga belum seluruhnya mudah diakses oleh publik. Karena itu, diperlukan
sistem pengelolaan data riset yang lebih terintegrasi dan terbuka.Ia menilai keterbukaan informasi riset akan memperkuat kualitas
pengambilan keputusan sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi yang lebih luas
antara pemerintah dan masyarakat.Selain itu, Slamet mengajak perguruan tinggi, mahasiswa,
organisasi masyarakat, hingga komunitas lokal untuk berperan aktif dalam
membangun ekosistem riset daerah melalui berbagai hasil penelitian, skripsi,
kajian organisasi, maupun riset berbasis komunitas.Menurutnya, hasil-hasil penelitian lokal memiliki nilai strategis
sebagai sumber referensi yang dapat memperkaya pengetahuan dan memperkuat dasar
penyusunan kebijakan pembangunan.“Hasil riset lokal dapat menjadi rujukan bersama, bukan untuk
disalin, tetapi untuk memperkaya referensi dan memperkuat dasar penyusunan
kebijakan,” katanya.Ia juga menegaskan bahwa kegiatan riset tidak selalu membutuhkan
anggaran besar. Yang terpenting adalah kemampuan memahami persoalan yang
dihadapi masyarakat, mendengar aspirasi warga, mengolah data yang tersedia,
serta menyesuaikannya dengan kondisi aktual di lapangan.Slamet menilai pembangunan budaya riset harus menjadi tanggung
jawab bersama dan tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah ataupun OPD
semata.Karena itu, BRIDA Mimika membuka ruang kolaborasi bagi seluruh
pihak yang memiliki hasil kajian atau penelitian agar dapat dikoordinasikan dan
dikelola secara lebih baik.Ia mengajak para peneliti, akademisi, mahasiswa, serta organisasi
masyarakat yang memiliki hasil riset untuk berkoordinasi dengan BRIDA sehingga
hasil kajian tersebut dapat terdokumentasi, diakses publik, dan dimanfaatkan
sebagai sumber pengetahuan bersama.Lebih lanjut, Slamet menekankan bahwa riset dan inovasi daerah
harus mampu menghasilkan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat dan tidak
berhenti sebagai dokumen administratif semata.Menurutnya, keberhasilan pembangunan riset daerah diukur dari
sejauh mana hasil penelitian dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan
masyarakat serta mendukung perumusan kebijakan yang lebih tepat sasaran.Di akhir penyampaiannya, ia berharap ekosistem riset yang sedang
dibangun di Kabupaten Mimika dapat berkembang menjadi model kolaborasi yang
bermanfaat tidak hanya bagi daerah tersebut, tetapi juga dapat menjadi contoh
bagi wilayah lain di Tanah Papua.“Ekosistem riset di Mimika diharapkan dapat memberi manfaat bukan
hanya bagi Kabupaten Mimika, tetapi juga dapat direplikasi oleh daerah lain di
Papua,” pungkasnya. Penulis: Jid
Editor: GF
27 Jun 2026, 03:31 WIT
Seni & Budaya
Lihat semua
Rekomendasi Destinasi Wisata di Timika, Cocok untuk Liburan Panjang
Papuanewsonline.com, Mimika –
Menjelang masa liburan panjang, warga Timika dan sekitarnya kini memiliki
beragam pilihan tempat rekreasi yang keindahannya tak kalah menarik
dibandingkan daerah lain. Sebagai ibu kota Kabupaten Mimika, Timika memang
dikenal sebagai kawasan industri dan jasa dengan kehadiran PT Freeport
Indonesia, namun di balik itu tersimpan sejumlah daya tarik wisata alam,
sejarah, budaya, hingga edukasi yang sayang untuk dilewatkan. Bagi pencinta sejarah, Pantai
Keakwa menjadi destinasi wajib. Situs ini menyimpan jejak Perang Dunia II
dengan peninggalan seperti tank, pesawat tempur, meriam, dan mortar bekas
tentara Amerika dan Jepang yang masih terawat baik. Selain nilai sejarahnya,
pantai ini juga dikenal memiliki hasil laut yang melimpah. Sementara itu, Pantai Ipaya yang
merupakan gabungan kawasan Ipiri, Paripi, dan Yaraya menawarkan hamparan pasir
putih luas, serta kesempatan berkeliling laut atau memancing menggunakan perahu
sewaan. Untuk rekreasi keluarga, tersedia
sejumlah tempat seperti Waterboom SP 3 Park, Hokky Swimming Pool, dan Pemandian
Pelangi Kilo 8 yang dilengkapi wahana air, fasilitas istirahat, serta tempat
makan. Pilihan lain adalah Kali Kyura,
yang dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dari kota, cocok untuk
bersantai di tengah suasana alami. Tak kalah istimewa, Taman
Nasional Lorentz yang diakui UNESCO sebagai warisan dunia menjadi taman
nasional terbesar di Asia Tenggara dengan kekayaan flora, fauna, dan budaya
yang masih alami. Bagi yang ingin menikmati
pemandangan, Pantai Kampus Biru menawarkan air laut berwarna kebiruan dan ombak
tenang, sangat pas untuk menyaksikan matahari terbenam. Sementara itu, kawasan
Tambang Grasberg dan Kuala Kencana juga menjadi daya tarik tersendiri. Perlu diketahui, kedua lokasi ini
dikelola secara ketat oleh PT Freeport Indonesia, sehingga kunjungan hanya
dapat dilakukan dengan izin resmi dan pemeriksaan keamanan yang berlaku. Dengan beragam pilihan ini,
liburan panjang di Timika tidak perlu pergi jauh. Setiap tempat memiliki
keunikan tersendiri, mulai dari pesona alam, nilai sejarah, hingga pemandangan
yang menenangkan. Pastikan untuk mematuhi aturan
dan persyaratan kunjungan di setiap lokasi agar perjalanan tetap aman, nyaman,
dan menyenangkan bagi seluruh keluarga. Penulis: Jid
Editor: GF
28 Jun 2026, 16:27 WIT
Kepala Suku Dani Tingginambut Sosialisasikan PSN & Salurkan Sembako
Papuanewsonline.com, Puncak Jaya – Kepala Suku Dani Distrik
Tingginambut, Derinus Tabuni, menggelar sosialisasi penguatan Proyek Strategis
Nasional (PSN) yang dirangkai bakti sosial pembagian paket sembako kepada
warga. Kegiatan berlangsung di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya,
Jumat (25/6/2026).Kegiatan dihadiri tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda,
aparatur distrik, serta ratusan warga dari berbagai kampung di Distrik
Tingginambut. Derinus Tabuni bertindak sebagai pemateri sekaligus menyerahkan
bantuan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.Pesan Utama: PSN Dorong Pemerataan & Kesejahteraan
Papua Dalam sambutannya, Derinus Tabuni menyampaikan PSN adalah
instrumen pemerintah untuk pemerataan pembangunan. "Proyek Strategis
Nasional mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat serta membuka akses
ekonomi dan pelayanan publik yang lebih baik bagi masyarakat Papua,"
ujarnya.Ia menekankan keberhasilan PSN tidak hanya di tangan
pemerintah. "Keberhasilan pelaksanaan PSN tidak hanya bergantung pada
pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan dan partisipasi aktif seluruh
elemen masyarakat," kata Derinus.Ajak Warga Paham Manfaat & Jaga Keamanan Menurut Derinus, pemahaman manfaat pembangunan penting agar
warga berperan aktif. "Diperlukan pemahaman yang baik mengenai manfaat
pembangunan agar masyarakat dapat berperan dalam menjaga stabilitas keamanan
dan mendukung berbagai program pembangunan di Papua Tengah," tegasnya.Sebagai bentuk kepedulian sosial, kegiatan dirangkai
pembagian paket sembako. "Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan
beban masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara tokoh adat dan masyarakat
di Distrik Tingginambut," katanya.Respon Warga: Sambut Baik & Harap Dampak Nyata Masyarakat yang hadir menyambut baik kegiatan tersebut.
Warga berharap program pembangunan pemerintah berdampak nyata pada
infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat di Kabupaten
Puncak Jaya.Kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh kekeluargaan.
Tidak ada insiden selama acara berlangsung. Aparat distrik turut hadir memantau
jalannya kegiatan.Momentum Sinergi: Pemerintah-Tokoh Adat-Masyarakat Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat sinergi. "Ini
momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat
dalam mendukung pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan di wilayah Papua
Tengah," tutup Derinus Tabuni. Penulis: Hendrik
Editor: GF
25 Jun 2026, 19:16 WIT
Jamaah Haji Kloter Pertama Asal Mimika Tiba dengan Selamat
Papuanewsonline.com, Mimika – Sebanyak 11 orang jamaah haji
asal Kabupaten Mimika yang tergabung dalam Kloter 29 UPG-TIM tiba di Bandara
Mozes Kilangin Timika, Rabu (24/6/2026) pagi. Rombongan ini merupakan kelompok
pertama yang kembali setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci,
terbang dari Makassar menggunakan pesawat Sriwijaya Air dan mendarat tepat
pukul 07.05 WIT.Sebelumnya, proses penyambutan tahap awal telah digelar di
Aula Arafah Asrama Haji Sudiang Makassar pada Selasa (23/6), menyambut total
392 jamaah dalam kloter yang sama. Setibanya di Timika, kedatangan mereka disambut secara resmi
oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Daerah Mimika, dihadiri juga oleh
keluarga, kerabat, serta tokoh agama seperti Habib Helmi Khalid Al Kaff dan
Ustadz H. Abdul Karim.Mewakili panitia, dr. M. Bustaman menyampaikan bahwa proses
penyambutan berjalan lancar dan tertib sesuai arahan Kantor Kementerian Agama
Bidang Haji dan Umrah Mimika. Ia menjelaskan adanya kebijakan baru tahun ini, di mana
peran panitia lebih difokuskan pada penerimaan di daerah asal, sementara jumlah
petugas yang diberangkatkan ke tempat pemberangkatan dibatasi mengingat sistem
transit yang diterapkan.Panitia juga mengapresiasi kesadaran keluarga penjemput yang
tetap menjaga ketertiban dan mengikuti petunjuk di lingkungan bandara. Kepulangan rombongan ini menandai dimulainya tahap
pemulangan seluruh jamaah haji asal Mimika tahun 2026. Penulis: Jid
Editor: GF
24 Jun 2026, 18:17 WIT
Tokoh Agama Hindu Mimika Apresiasi Pendekatan Humanis Satgas Damai Cartenz
Papuanewsonline.com, Timika – Tokoh Agama Hindu Kabupaten
Mimika, Pinandita I Made Kembardana, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap
kinerja Satgas Operasi Damai Cartenz. Hal ini disampaikannya di Pura SP 4,
Mimika, pada Minggu (21/6/2026), setelah mengamati langsung maupun melalui
pemberitaan mengenai cara bertugas aparat di lapangan.“Kami menilai pendekatan yang dijalankan sudah sangat baik,
karena mengutamakan dialog, sikap persuasif, dan aspek kemanusiaan. Langkah ini
tepat guna membangun kepercayaan serta menjalin hubungan harmonis dengan
warga,” ujarnya. Ia juga menyatakan dukungan penuh terhadap setiap tindakan
yang dilakukan secara profesional, terukur, dan sesuai peraturan hukum yang
berlaku.Sebagai tokoh agama, ia berharap setiap permasalahan di
Papua dapat diselesaikan melalui jalur damai. “Penyelesaian dengan kekerasan tidak akan memberi solusi
jangka panjang, justru berpotensi memunculkan masalah baru. Oleh sebab itu,
pendekatan kemanusiaan harus terus dipertahankan dan dikembangkan,” tegasnya.Pinandita juga mengajak seluruh warga untuk tetap menjaga
persatuan dan berhati-hati terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya. “Perbedaan latar belakang bukan pemisah, melainkan kekayaan.
Kita semua saudara sebangsa dan setanah air yang harus saling menghormati demi
menjaga kerukunan,” tambahnya. Penulis: Jid
Editor: GF
23 Jun 2026, 03:05 WIT
Johannes Rettob Terima Gelar Kehormatan KRA dari Keraton Surakarta
Papuanewsonline.com, Solo – Prosesi penganugerahan gelar
kehormatan berlangsung khidmat di Sasana Narendra, Keraton Kasunanan Surakarta
Hadiningrat, pada Senin malam (15/6/2026). Dalam acara tersebut, Bupati Mimika
Johannes Rettob resmi dikukuhkan dengan gelar Kanjeng Raden Aryo, sedangkan
istrinya Suzy Susana Herawati Rettob menerima gelar Kanjeng Mas Ayu.Johannes menyampaikan rasa syukur dan kehormatan yang
mendalam. Ia mengapresiasi sikap inklusif pihak keraton yang tidak membatasi
apresiasi hanya bagi tokoh di Pulau Jawa atau pusat pemerintahan, melainkan
juga membuka kesempatan bagi pemimpin dari wilayah Indonesia Timur. “Ini bukti pengakuan yang objektif dan menyatukan seluruh
elemen bangsa,” ujarnya.Menurut Pengageng Sasana Wilapa PB XIV, GKRP Timoer Rumbay
Kusuma Dewayani, penganugerahan ini diberikan kepada tokoh yang memiliki
kepedulian nyata terhadap pelestarian budaya dan mendukung eksistensi keraton. Johannes dinilai sangat layak menerima penghargaan berkat
komitmen dan dukungan aktif yang telah diberikan selama ini.Penghargaan ini sekaligus diharapkan menjadi pintu awal
kerja sama strategis ke depan. Pihak keraton berharap dapat menjalin kolaborasi, baik dalam
program bersama maupun pertukaran nilai budaya antara tradisi Jawa dan kekayaan
warisan budaya yang ada di wilayah Mimika dan Papua. Penulis: Jid
Editor: GF
16 Jun 2026, 14:40 WIT
MTQ Ke-XIII Mimika Resmi Ditutup, Distrik Wania Sabet Juara Umum
Papuanewsonline.com, Timika – Wakil Bupati Mimika, Emanuel
Kemong, secara resmi menutup kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XIII
tingkat Kabupaten Mimika. Penutupan berlangsung di Masjid Baiturrahman,
Kelurahan Wonosari Jaya, Distrik Wania, pada Minggu (14/6/2026). Pada ajang
kali ini, tuan rumah Distrik Wania berhasil keluar sebagai juara umum sekaligus
mencatatkan sejarah baru dalam penyelenggaraan MTQ di daerah tersebut.Dalam sambutannya, Emanuel Kemong menyampaikan apresiasi
setinggi-tingginya kepada LPTQ, Kementerian Agama, panitia, dewan hakim,
seluruh peserta, dan pihak pendukung lainnya. Ia menegaskan bahwa MTQ bukan sekadar lomba, melainkan
sarana dakwah, pembinaan generasi Qurani, dan penguat kecintaan umat terhadap
Al-Qur’an. “Bagi yang menang, jadikan prestasi bekal untuk tingkat
lebih tinggi; bagi yang belum, teruslah berlatih dan tetap istiqamah,”
pesannya.Ia juga menilai kegiatan ini membuktikan bahwa keberagaman
yang ada di Mimika justru menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan dan
kerukunan. Pemerintah daerah berkomitmen terus mendukung kegiatan
keagamaan guna membentuk masyarakat yang berilmu, berkarakter, dan berakhlak
mulia. Semangat yang tumbuh diharapkan dapat diwujudkan dalam
kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, lingkungan kerja, maupun
bermasyarakat.Ketua Umum Panitia, Firdaus Amir, menyampaikan hasil
perolehan juara secara lengkap: juara kelima Mimika Timur, keempat Iwaka,
ketiga Kuala Kencana, kedua Mimika Baru, dan juara utama diraih Distrik Wania. Para peserta terbaik akan segera dipersiapkan mengikuti MTQ
tingkat Provinsi Papua Tengah yang digelar sekitar 26 hari ke depan, yang
menjadi yang pertama sejak provinsi ini terbentuk. Penulis: Jid
Editor: GF
15 Jun 2026, 15:46 WIT