“Biar Saya Dibenci!”, Pengakuan Johannes Rettob Bongkar Strategi Sunyi di Balik Pelantikan
Demonstrasi bermunculan, kritik membanjir, dan satu unggahan pastor di media sosial menyulut api yang lebih besar, hingga disebut “tidak bijaksana, bahkan cenderung bodoh.”
Papuanewsonline.com - 18 Mar 2026, 11:15 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Mimika – Gelombang kemarahan publik pecah usai pelantikan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mimika, 11 Maret 2026. Demonstrasi bermunculan, kritik membanjir, dan satu unggahan pastor di media sosial menyulut api yang lebih besar, hingga disebut “tidak bijaksana, bahkan cenderung bodoh.”
Namun di balik riuh emosi itu, muncul satu pengakuan yang justru membalik arah perdebatan.
Adalah Pastor Amandus Rahadat yang pertama kali membuka tabir tersebut. Dalam khotbahnya di Gereja Katolik Tiga Raja Mimika, seperti dikutip Papuanewsonline.com dari akun TikTok, Rabu 18 Maret 2026, Rahadat mengaku sempat ikut terseret arus kemarahan.
“Empat puluh tiga tahun saya mengabdi di tanah ini. Tapi
melihat hasil pelantikan itu, saya bertanya—inikah hasilnya?” ujarnya, getir.
Kekecewaan itu bukan tanpa alasan. Minimnya keterwakilan
Orang Asli Papua (OAP), khususnya Amungme dan Kamoro, dalam struktur jabatan
baru memantik luka lama: rasa tersisih di tanah sendiri.
Namun alih-alih larut dalam asumsi, Pastor Amandus memilih
jalan berbeda mengkonfrontasi langsung pengambil keputusan.
Ia menghubungi Bupati Mimika, Johannes Rettob. Pertemuan pun
terjadi. Selama satu setengah jam, enam pertanyaan “tajam” dilontarkan—mulai
dari dugaan dominasi suku tertentu, potensi praktik transaksional dalam promosi
jabatan, hingga peran Wakil Bupati Emanuel Kemong.
Yang muncul kemudian bukan sekadar klarifikasi—melainkan
pengakuan strategi yang berisiko secara politik.
“Kalau saya mau cari simpati, saya bisa angkat saja orang
Kamoro atau Amungme meski belum memenuhi syarat. Tapi itu berarti saya tidak
sayang mereka,” kata Johannes Rettob, dikutip Pastor Amandus. Pernyataan
berikutnya lebih tajam—bahkan terdengar seperti tantangan:
“Demi masa depan mereka, saya rela nama saya jelek. Biar
saya dibenci.”
Pernyataan ini menjadi titik balik. Bupati mengklaim sedang
memainkan “strategi sunyi”: tidak populis hari ini, tapi membangun fondasi
jangka panjang agar OAP benar-benar siap, bukan sekadar simbol. Namun di
sinilah kontroversi justru menguat.
Apakah ini bentuk kepemimpinan visioner—atau justru
pembenaran atas ketimpangan yang terjadi hari ini? Pastor Amandus sendiri
mengakui perubahan sikapnya.
“Mata saya terbuka. Kita terlalu cepat marah, tanpa memahami
aturan,” katanya. Ia bahkan mengkritik publik secara keras: “Banyak yang
buta—buta pikiran, buta hati. Termasuk saya.”
Meski begitu, ia tidak menutup kritik. Ia justru melempar
pertanyaan yang lebih mendasar: jika orang Papua mampu mengerjakan pekerjaan
tertentu, mengapa masih didominasi pendatang?
Di titik ini, polemik Mimika tidak lagi sekadar soal
pelantikan jabatan. Ini adalah pertarungan antara dua realitas:
Keadilan instan yang dituntut publik
Proses panjang berbasis regulasi yang diklaim pemerintah
Di tengah tarik-menarik itu, satu hal menjadi jelas:
keputusan Johannes Rettob bukan hanya administratif—tetapi politis, bahkan
ideologis. Dan seperti semua keputusan besar, ia datang dengan harga:
kepercayaan publik. Kini pertanyaannya bukan lagi siapa yang
benar atau salah. Melainkan—apakah Mimika siap menunggu sebuah janji masa
depan, sementara rasa ketidakadilan masih terasa hari ini?
Penulis: Nerius Rahabav