logo-website
Rabu, 24 Jun 2026,  WIT
BERITA TAG Ekonomi Homepage
Perekonomian Mimika Turun Drastis, Berpotensi Pengaruhi Daya Beli Masyarakat Papuanewsonline.com, Timika – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika mencatat pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun 2026 mengalami penurunan sebesar 11,33 persen. Angka ini menjadi salah satu yang terendah secara nasional, dipicu oleh menyusutnya produksi PT Freeport Indonesia (PTFI) yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah dengan kontribusi lebih dari 80 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto.Kepala BPS Mimika, Dian Sudarmanto, menjelaskan bahwa besarnya dominasi sektor pertambangan membuat setiap perubahan kinerja PTFI berdampak langsung dan signifikan bagi kondisi ekonomi daerah. “Ketika ada penurunan atau perubahan pada tingkat produksi, dampaknya akan terasa menyeluruh di seluruh lini perekonomian Mimika,” ujarnya.Data menunjukkan penurunan produksi emas yang sangat tajam. Pada triwulan I 2025, produksi mencapai 284 ribu ton, namun pada periode yang sama tahun 2026 turun drastis menjadi hanya sekitar 92 ribu ton. Penurunan inilah yang menjadi faktor utama kontraksi ekonomi yang tercatat dalam laporan BPS.Dampaknya tidak hanya terbatas pada sektor pertambangan, melainkan merambah ke sektor lain seperti konstruksi, perdagangan, hingga daya beli masyarakat. Menurunnya pendapatan perusahaan memengaruhi besaran upah dan tunjangan karyawan, yang pada akhirnya mengurangi tingkat konsumsi serta pendapatan usaha di sektor jasa dan perdagangan. Bahkan, kondisi ini berpotensi memengaruhi penentuan besaran Upah Minimum Kabupaten ke depannya. Penulis: Jid Editor: GF 23 Jun 2026, 19:44 WIT
Belajar dari Papua Barat, APPOAP Desak Mimika Hadirkan Keberpihakan Nyata bagi Pengusaha OAP Papuanewsonline.com, Mimika – Aliansi Peduli Pengusaha Orang Asli Papua (APPOAP) mendorong Pemerintah Kabupaten Mimika agar segera mengambil langkah konkret dalam memperkuat peran pengusaha Orang Asli Papua (OAP) dalam pembangunan daerah. Desakan tersebut disampaikan melalui siaran pers resmi APPOAP yang diterbitkan di Timika, Senin (22/6/2026).Dalam pernyataannya, APPOAP memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat yang dinilai berhasil menunjukkan komitmen nyata terhadap pemberdayaan pengusaha asli Papua melalui pelibatan ratusan kontraktor OAP dalam berbagai program pembangunan infrastruktur daerah.Berdasarkan data yang disampaikan APPOAP, Pemerintah Provinsi Papua Barat telah melakukan verifikasi terhadap 1.807 kontraktor Orang Asli Papua. Dari jumlah tersebut, sebanyak 856 kontraktor telah mulai dilibatkan dalam paket-paket pekerjaan pembangunan daerah. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk keberpihakan yang terukur sekaligus menjadi contoh bagi daerah lain di Tanah Papua.APPOAP menilai Kabupaten Mimika memiliki potensi yang jauh lebih besar untuk melahirkan pengusaha OAP yang tangguh dan berdaya saing. Terlebih, Mimika merupakan daerah dengan kapasitas fiskal terbesar di Tanah Papua yang didukung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bernilai triliunan rupiah setiap tahunnya.Di tengah dinamika politik pasca-Pilkada, APPOAP berpandangan bahwa kepemimpinan Bupati Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong memiliki peluang besar untuk meninggalkan warisan pembangunan yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga membangun fondasi ekonomi masyarakat asli Papua melalui penguatan sektor usaha lokal.Menurut APPOAP, data Badan Pengadaan Barang dan Jasa Kabupaten Mimika menunjukkan bahwa hingga tahun anggaran 2026 terdapat sekitar 9.205 paket kegiatan yang telah masuk dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) dengan nilai mencapai sekitar Rp2,3 triliun. Namun hingga pertengahan tahun, baru sebagian kecil paket yang memasuki tahapan pengadaan.Kondisi tersebut dinilai membuka ruang yang sangat besar bagi pemerintah daerah untuk menerapkan kebijakan afirmatif yang berpihak kepada pengusaha Orang Asli Papua. APPOAP menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya dipahami sebagai pembangunan gedung, jalan, maupun infrastruktur fisik semata, tetapi harus mampu menciptakan pelaku ekonomi lokal yang menjadi tuan rumah di atas tanahnya sendiri.Lebih lanjut, APPOAP mengingatkan bahwa semangat Otonomi Khusus Papua lahir untuk menghadirkan perlindungan, keberpihakan, dan pemberdayaan bagi Orang Asli Papua dalam seluruh sektor pembangunan, termasuk sektor pengadaan barang dan jasa pemerintah yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah.Sebagai langkah konkret, APPOAP mengusulkan enam program strategis kepada Pemerintah Kabupaten Mimika. Di antaranya melakukan pendataan dan verifikasi menyeluruh terhadap pengusaha OAP, menetapkan kebijakan afirmasi dalam pengadaan proyek pemerintah, membentuk program penguatan pengusaha OAP, mengalokasikan sebagian paket pekerjaan kepada kontraktor OAP sesuai ketentuan, mewajibkan kemitraan antara perusahaan besar dengan pengusaha OAP, serta menyusun regulasi daerah yang memberikan perlindungan dan pemberdayaan bagi pelaku usaha asli Papua.APPOAP meyakini bahwa dengan dukungan APBD yang besar, Mimika memiliki kemampuan untuk melahirkan ribuan pengusaha Orang Asli Papua yang mandiri dan kompetitif. Organisasi tersebut mengajak pemerintah daerah, DPRK Mimika, lembaga adat, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun sistem ekonomi yang memberikan ruang dan kesempatan yang adil bagi masyarakat asli Papua. Menutup pernyataannya, APPOAP menegaskan pentingnya perubahan paradigma pembangunan di Tanah Papua. Organisasi tersebut menyampaikan bahwa, "Sudah saatnya Orang Asli Papua tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi menjadi pelaku utama pembangunan di atas tanahnya sendiri." (GF) 23 Jun 2026, 17:31 WIT
Kerja Sama Freeport-Pemda Mimika Diragukan Ketua Pemuda Kei: "Jangan Jadikan OAP Topeng" Papuanewsonline.com, Timika – Rencana kerja sama PT Freeport Indonesia dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika melalui Nota Kesepakatan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Amungme, Kamoro, dan Orang Asli Papua (OAP) menuai kritik. Ketua Komunitas Pemuda Kei Mimika, Edoardus Rahawadan, meminta perusahaan mempertimbangkan ulang, bahkan membatalkan skema kerja sama lewat Pemda.Dalam rilis tertulis ke Papuanewsonline.com, Kamis (19/6/2026), Edoardus mengapresiasi niat mulia Freeport. Namun ia meragukan pelaksanaan jika melalui jalur birokrasi pemerintah daerah."Kami melihat niat Freeport sangat mulia dan patut didukung. Tapi pengalaman membuktikan, melibatkan Pemda Mimika tidak menjamin program benar-benar terbangun dan dinikmati masyarakat sasaran," tegas Edoardus.Keraguan itu berakar dari catatan panjang realisasi APBD Mimika. Menurutnya, dana APBD yang jelas asal-usul dan diawasi ketat lembaga audit tetap menunjukkan ketidakkonsistenan penggunaan."Dana APBD jelas diawasi, tapi kenyataannya tetap tidak konsisten. Janji membangun infrastruktur dasar di kampung-kampung sampai sekarang realisasinya bisa dibilang nol persen. Masyarakat menunggu tapi tidak terwujud," ujarnya.Desak Kerja Sama Langsung dengan YPMAK & Tokoh AdatSebagai solusi, Edoardus menyarankan Freeport mengubah pola kerja sama. Daripada lewat Pemda, perusahaan diminta bermitra langsung dengan lembaga representasi masyarakat asli."Karena tujuannya menyejahterakan, jalan terbaiknya Freeport berhubungan langsung dengan YPMAK, kepala suku, dan elemen masyarakat sendiri. Sudah ada wadahnya, sudah ada pemimpinnya. Tidak perlu berbelit-belit," katanya. Ia juga menegaskan: "Stop penggunaan nama masyarakat Orang Asli Papua hanya sebagai topeng untuk meraup keuntungan kelompok tertentu."Pembangunan Harus Berbasis Kearifan LokalEdoardus menekankan, pembangunan untuk OAP tidak bisa disamaratakan. Program harus disusun berlandaskan identitas, budaya, dan kearifan lokal suku Amungme-Kamoro."Sudah ada YPMAK, sudah ada kepala-kepala suku yang mengenal betul kebutuhan dan budaya masyarakat OAP. Mari bangun kami berdasarkan jati diri kami sendiri, bukan proyek yang hanya berhenti di atas kertas," pungkasnya.Selain itu, Edoardus menyoroti sejumlah proyek lain yang menurutnya gagal, seperti pembangunan Jembatan Waa Banti dan program air bersih di pesisir. Ia meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas proyek mangkrak tersebut.Upaya Konfirmasi: Hingga berita tayang, redaksi berupaya mengonfirmasi tanggapan ini kepada PT Freeport Indonesia, Pemerintah Kabupaten Mimika, dan YPMAK. Penulis: Hendrik Editor: GF 19 Jun 2026, 18:58 WIT
Serapan APBD Mimika Disebut Masih Rendah, Pengusaha OAP Dorong Audiensi dengan Pemda & DPRK Papuanewsonline.com, Timika – Kondisi keuangan Pemerintah Kabupaten Mimika menjadi sorotan kalangan pengusaha Orang Papua Asli (OPA). Meski memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2026 yang mencapai sekitar Rp5,6 triliun hingga Rp5,7 triliun, realisasi penyerapannya hingga pertengahan Mei 2026 disebut baru mencapai 11,38 persen.Dalam pernyataan yang beredar di kalangan pengusaha OPA, rendahnya serapan anggaran tersebut dinilai telah menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian daerah. Hingga pertengahan Juni 2026, serapan anggaran bahkan disebut masih berada di bawah 50 persen.Pemerintah Daerah sebelumnya beralasan bahwa keterlambatan penyerapan anggaran dipengaruhi oleh kenaikan harga barang secara nasional yang berdampak pada perubahan harga satuan material, sehingga memerlukan proses peninjauan ulang atau review harga.Namun, kalangan pengusaha mempertanyakan lambatnya proses administrasi tersebut yang dinilai justru menghambat pelaksanaan pembangunan. Mereka menilai penyesuaian anggaran seharusnya dapat dilakukan melalui mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P), tanpa harus menunda dimulainya proyek-proyek fisik yang dibutuhkan masyarakat.Selain itu, pengusaha juga menyinggung mekanisme Contract Change Order (CCO) yang sebelumnya diakui oleh pemerintah daerah. Menurut mereka, mekanisme tersebut belum berjalan maksimal untuk menyelamatkan berbagai paket pekerjaan yang hingga kini belum dapat dilaksanakan.Data yang disampaikan dalam pernyataan tersebut juga menyebutkan bahwa dari 9.205 kegiatan yang direncanakan pada tahun anggaran 2026, baru 11 paket pekerjaan yang siap dilelang di Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ). Sementara lebih dari 200 paket lainnya masih tertahan di masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD).Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap masyarakat. Perputaran uang di daerah menjadi tersendat, pelaku UMKM dan mama-mama Papua mengalami penurunan daya beli, serta kontraktor lokal kehilangan kesempatan memperoleh pekerjaan dari proyek-proyek pemerintah.Para pengusaha juga mengingatkan bahwa keterlambatan pelaksanaan proyek berpotensi menyebabkan penumpukan pekerjaan di akhir tahun anggaran yang dapat berpengaruh terhadap kualitas pembangunan karena dikerjakan secara terburu-buru.Atas kondisi tersebut, kalangan pengusaha OPA mengajak seluruh pelaku usaha untuk melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Mimika dan DPRK Mimika. Mereka meminta adanya keterbukaan mengenai hambatan yang terjadi di setiap OPD, percepatan proses tender, serta kepastian hukum dan ekonomi bagi pengusaha dan tenaga kerja lokal."Mimika butuh aksi nyata, bukan sekadar janji dan retorika birokrasi yang terlena. Apakah kita sepakat untuk bergerak?" (GF) 16 Jun 2026, 17:39 WIT
Peneliti MPSI: PSN Wanam Menjadi Penggerak Kemajuan Papua Selatan dan Ketahanan Pangan Nasional Papuanewsonline.com, Bogor - Peneliti Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Fathan Putra Mardela, menilai Proyek Strategis Nasional (PSN) Wanam di Merauke, Papua Selatan, merupakan peluang besar untuk mempercepat pembangunan kawasan timur Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di masa depan.Pernyataan tersebut disampaikan Fathan dalam Diskusi Publik “Dampak Sosial Film Pesta Babi terhadap Perlindungan dan Hak Masyarakat” yang diselenggarakan PD KAMMI Bogor di Camp Survivor, Kota Bogor, Senin (8/6/2026).Menurut Fathan, selama beberapa dekade pembangunan nasional masih menghadapi tantangan ketimpangan antarwilayah. Karena itu, kehadiran PSN di Papua Selatan harus dipandang sebagai upaya negara menghadirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa sekaligus membuka akses pembangunan yang lebih merata.“Papua Selatan memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu lumbung pangan baru Indonesia. Jika dikelola dengan baik, proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, mempercepat pembangunan infrastruktur, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal,” ujarnya.Fathan menilai pembangunan yang hadir melalui PSN juga berpotensi meningkatkan konektivitas wilayah yang selama ini menjadi tantangan utama di sejumlah daerah Papua. Kehadiran jalan, transportasi, jaringan logistik, hingga layanan dasar dinilai akan memberikan dampak berantai terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.“Pembangunan harus dilihat sebagai instrumen untuk membuka akses. Ketika akses terbuka, maka pendidikan menjadi lebih mudah dijangkau, layanan kesehatan meningkat, distribusi barang menjadi lebih lancar, dan peluang ekonomi masyarakat ikut berkembang,” katanya.Meski demikian, Fathan menegaskan bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus memastikan masyarakat adat menjadi bagian utama dari proses dan manfaat pembangunan tersebut.Menurutnya, pelibatan masyarakat lokal, penghormatan terhadap hak ulayat, serta komunikasi publik yang terbuka akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap program-program pembangunan pemerintah.“Pembangunan yang kuat adalah pembangunan yang mampu menyatukan kepentingan nasional dengan aspirasi masyarakat lokal. Ketika manfaat pembangunan dirasakan secara nyata oleh masyarakat, maka dukungan sosial akan tumbuh dengan sendirinya,” ujarnya.Fathan juga mengajak publik untuk melihat berbagai dinamika yang berkembang di Papua secara lebih objektif dan proporsional. Menurutnya, pembangunan selalu menghadirkan tantangan yang harus dikelola, namun hal tersebut tidak boleh mengaburkan tujuan besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.“Kita harus optimistis bahwa Papua memiliki masa depan yang cerah. Yang diperlukan adalah penguatan tata kelola, komunikasi yang baik, dan komitmen bersama agar pembangunan benar-benar menjadi sarana menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan kemajuan bagi masyarakat Papua,” pungkasnya.  Penulis: Jid Editor: GF 11 Jun 2026, 05:42 WIT
Tiket Timika-Keneyam Tembus Rp2,9 Juta, Ketua Pemuda Kei Mimika: “Mencekik Leher” Papuanewsonline.com, Timika – Harga tiket pesawat Timika-Keneyam, Kabupaten Nduga, melambung hingga Rp2,9 juta untuk penerbangan 45 menit. Ketua Pemuda Kei Kabupaten Mimika, Edoardus Rahawadan, menyebut tarif itu “mencekik leher” dan mendesak Bupati Mimika serta DPRD Mimika segera memanggil seluruh operator penerbangan.“Penerbangan 45 menit sampai satu jam apakah wajar diberi harga Rp2,5 juta sampai Rp2,9 juta? Ini tidak masuk akal,” tegas Edoardus, dalam rilis tertulisnya ke media papuanewsonline,com. Senin 10/6/2026. Menurut dia, kenaikan terjadi sepihak tanpa pemberitahuan jelas dan melanda hampir semua rute Timika ke wilayah Papua Pegunungan.Desak RDP, Buka Struktur Biaya  Edoardus meminta Bupati dan DPRD Mimika menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan maskapai. “Pihak penerbangan wajib terbuka. Harus kedepankan asas transparansi dan jelaskan rincian biaya yang jadi dasar penyesuaian tarif,” ujarnya.Ia menegaskan, transportasi udara adalah urat nadi warga pegunungan karena akses darat sangat terbatas. Lonjakan harga langsung menghantam mobilitas warga, distribusi logistik, hingga layanan kesehatan dan pendidikan.Langgar Aturan, Ancam Konsumen  Edoardus mengingatkan, UU No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan mewajibkan tarif adil, transparan, dan tidak merugikan publik. Pemerintah berwenang menetapkan batas atas tarif, terutama rute vital ke daerah terpencil.Selain itu, Peraturan Menteri Perhubungan membatasi kenaikan tarif ekonomi maksimal 9%–13% dari tarif dasar. Fuel surcharge memang boleh naik hingga 38%, tapi dengan pengawasan ketat. “Maskapai wajib publikasi struktur biaya. Jangan main-main. UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen melarang harga sepihak yang merugikan,” kata Edoardus.Ia menambahkan, Ditjen Perhubungan Udara berwenang meninjau dan menurunkan harga jika terbukti melanggar. Edoardus berharap pertemuan pemda dan operator melahirkan solusi: tiket terjangkau tanpa korbankan keselamatan penerbangan. Penulis: Hendrik Editor: GF 11 Jun 2026, 05:39 WIT
Tinggalkan Eksploitasi SDA, Mimika Kembangkan Ekonomi Berbasis Pengetahuan Papuanewsonline.com, Timika – Pemerintah Kabupaten Mimika, Papua Tengah, resmi mengubah arah pembangunan. Pola lama yang mengandalkan pengambilan sumber daya alam kini ditinggalkan, digantikan dengan sistem ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi. Perubahan strategis ini ditandai dengan peluncuran Mimika Innovation Week (MIW) 2026 oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah di Graha Eme Neme Yauware, Selasa (9/6/2026). Kegiatan tahun ketiga ini bertransformasi menjadi ajang kompetisi terbuka guna membangun ekosistem riset yang inklusif dan berkelanjutan.Pembangunan masa depan kini didasarkan pada data dan kajian mendalam, bukan sekadar dugaan.“Kekayaan alam bisa menjadi bumerang jika tidak dikelola secara cerdas. Setiap kebijakan harus berlandaskan riset yang kuat,” tegas Bupati Johannes Rettob. Untuk mengatasi masalah tumpang tindih kajian, BRIDA meluncurkan sistem terpadu bernama Sirida Kami. Hasilnya sangat signifikan: jumlah penelitian meningkat drastis dari satu kajian pada 2015 menjadi 36 kajian lengkap pada 2025.Keterbukaan menjadi kunci utama; MIW melibatkan seluruh elemen mulai dari instansi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga kelompok masyarakat. Setiap dinas wajib melahirkan dua terobosan, dan 10 karya terbaik akan diikutsertakan dalam penghargaan tingkat nasional. Peningkatan kualitas inovasi Mimika pun terlihat jelas, melonjak dari peringkat 300 tahun lalu masuk jajaran 200 besar nasional serta menempati posisi kedua terbaik se-Papua.Berbagai langkah strategis terus diperkuat, termasuk penandatanganan kerja sama dengan BRIN dan universitas ternama yang membuka akses ke ribuan peneliti ahli. BRIN memberikan apresiasi sekaligus mengingatkan agar inovasi tidak bersifat sesaat, melainkan berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045. Akademisi juga ditantang untuk tidak hanya bersuara, tetapi menghadirkan solusi nyata bagi kemajuan daerah.  Penulis: Jid Editor: GF 10 Jun 2026, 04:02 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT