logo-website
Rabu, 24 Jun 2026,  WIT
BERITA TAG Kesehatan Homepage
Bidang P2 Dinkes Mimika Gelar Screening Terpadu, Deteksi Dini Berbagai Jenis Penyakit Papuanewsonline.com, Timika – Dinas kesehatan kabupaten Mimika terus berupaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada warga, Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit bersama tim BLUD Puskesmas Mapurujaya melaksanakan kegiatan pemeriksaan kesehatan terpadu di wilayah Distrik Mimika Timur. Kegiatan yang berlangsung mulai 11 Juni hingga 22 Juni 2026 ini menyasar warga di Pelabuhan Pomako, Kampung Kaugapu, Kampung Hiripau, hingga lingkungan Kompi A.Kepala Bidang P2 Dinkes Mimika, Linus Dumatubun, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mendeteksi secara dini berbagai penyakit menular maupun tidak menular, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. (22/6/26) Pemeriksaan meliputi HIV, sifilis, TBC, malaria, frambusia, kusta, hepatitis, serta pemeriksaan faktor risiko penyakit tidak menular.Pada hari terakhir pelaksanaan, sebanyak 286 warga diperiksa untuk kasus malaria, ditemukan 13 kasus tropika, 4 kasus campuran, dan 3 kasus tersiana. Dari 226 orang yang diperiksa HIV dan sifilis, tercatat tiga kasus sifilis positif tanpa ditemukan kasus HIV. Selain itu, dua orang menunjukkan gejala TBC dan akan diperiksa lebih lanjut guna memastikan diagnosis.Pemeriksaan penyakit tidak menular juga dilakukan kepada 61 orang untuk deteksi risiko awal, serta 60 orang lainnya diperiksa kadar asam urat dan kolesterol. Kegiatan ini menjadi bagian strategi dinas kesehatan untuk memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Penulis: Jid Editor: GF 23 Jun 2026, 04:28 WIT
Papua Tengah Kekurangan 391 Tenaga Kesehatan, Dinkes Mimika Susun Peta Kebutuhan SDM Medis Papuanewsonline.com, Mimika — Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika melaksanakan kegiatan pendampingan perhitungan rencana pemenuhan tenaga kesehatan pada 17–18 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menyusun perencanaan kebutuhan sumber daya manusia kesehatan yang tepat dan berbasis data guna meningkatkan pemerataan pelayanan kesehatan hingga wilayah terpencil.Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Kristianus Tebai, menyampaikan bahwa kondisi geografis Papua Tengah yang terdiri dari wilayah pesisir, pegunungan, hingga daerah yang sulit dijangkau menjadi tantangan dalam pemerataan tenaga kesehatan.Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil pemetaan, Papua Tengah masih mengalami kekurangan sebanyak 391 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, bidan, tenaga gizi, tenaga teknis kefarmasian, dokter gigi, tenaga kesehatan gigi, tenaga promosi kesehatan, tenaga farmasi, tenaga sanitasi lingkungan, hingga Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM).Khusus di Kabupaten Mimika, kata Kristianus, masih terdapat kekurangan beberapa jenis tenaga kesehatan seperti tenaga gizi, dokter gigi, tenaga kesehatan gigi, dan tenaga farmasi. Melalui kegiatan pendampingan tersebut, diharapkan dapat dilakukan penghitungan serta pemetaan kebutuhan sembilan jenis tenaga kesehatan yang masih kurang di sejumlah puskesmas sebagai dasar pengambilan kebijakan pemenuhan tenaga kesehatan.Selain itu, Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga tengah menjalankan program perekrutan dan pembiayaan pendidikan dokter spesialis sebagai bagian dari visi dan misi Gubernur Papua Tengah dalam mewujudkan pemerataan dokter spesialis di 15 rumah sakit yang ada di wilayah tersebut.Dari hasil pendataan di Kabupaten Mimika, terdapat dua dokter yang menyatakan minat untuk melanjutkan pendidikan dokter spesialis. Informasi terkait program tersebut telah disampaikan kepada rumah sakit, puskesmas, serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.Kristianus memberikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika karena pelaksanaan kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, seperti Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Inspektorat, serta unsur kesehatan lainnya dalam menyusun perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan.Menurutnya, model perhitungan kebutuhan tenaga kesehatan yang dilakukan Mimika dapat menjadi contoh bagi kabupaten lain di Papua Tengah. Sebab, hingga kini masih terjadi ketimpangan tenaga kesehatan, di mana sejumlah daerah memiliki jumlah perawat yang cukup banyak, namun masih mengalami kekurangan tenaga teknis elektromedik, tenaga laboratorium, dan tenaga kesehatan lainnya.Ia juga menyoroti tantangan penempatan tenaga kesehatan di wilayah konflik seperti Intan Jaya dan Puncak Jaya yang membutuhkan perhatian khusus dari sisi keamanan dan ketersediaan fasilitas pendukung.Karena itu, pemerintah mendorong putra-putri asli daerah untuk menempuh pendidikan di bidang kesehatan dan kembali mengabdi di daerah asal sehingga pemerataan pelayanan kesehatan di seluruh Papua Tengah dapat terwujud.Sementara itu, Bupati Mimika yang diwakili Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Mimika, Herry Onawame, menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, khususnya Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan, yang terus memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah dalam memperkuat pembangunan sektor kesehatan.Menurutnya, keberhasilan pelayanan kesehatan sangat bergantung pada ketersediaan tenaga kesehatan yang mencukupi, baik dari sisi jumlah, kompetensi, pemerataan, maupun kualitas pelayanan.Ia menegaskan bahwa Kabupaten Mimika memiliki tantangan geografis yang kompleks, mulai dari wilayah perkotaan, pesisir, pegunungan hingga daerah terpencil. Oleh sebab itu, perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan harus dilakukan secara tepat, terukur, dan berdasarkan data yang akurat.“Hasil perhitungan kebutuhan tenaga kesehatan nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, pengadaan, pemerataan distribusi, hingga pengembangan kompetensi tenaga kesehatan di Kabupaten Mimika,” ujarnya.Herry berharap kegiatan pendampingan tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan administratif, tetapi mampu menghasilkan data kebutuhan tenaga kesehatan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai dasar perencanaan pembangunan kesehatan daerah.Ia juga mengajak seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan secara serius serta memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, rumah sakit, puskesmas, dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan.Pemerintah Kabupaten Mimika, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan melalui penguatan sumber daya manusia kesehatan yang profesional, merata, dan berkualitas. Penulis: Bim Editor: GF 17 Jun 2026, 15:43 WIT
Gempa M 6,7 Guncang Sulawesi Tengah, Warga Panik dan BPBD Masih Data Kerusakan Papuanewsonline.com, Jakarta – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026) pukul 10.27 WIB atau 11.27 WITA. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di sejumlah wilayah terdampak langsung bergerak melakukan pemantauan dan pendataan terhadap dampak yang ditimbulkan.Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berpusat di darat pada koordinat 1,03 Lintang Selatan dan 120,24 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer. Episenter gempa berada sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, 54 kilometer timur laut Kabupaten Sigi, 70 kilometer barat laut Kabupaten Poso, dan 81 kilometer tenggara Kabupaten Donggala.Guncangan paling kuat dirasakan di Kota Palu selama sekitar empat hingga enam detik. Warga yang merasakan getaran langsung berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. BPBD Kota Palu segera melakukan pemantauan dan asesmen cepat di sejumlah lokasi.Di Kabupaten Poso, gempa juga dirasakan cukup kuat selama kurang lebih enam detik. Kepanikan warga sempat terjadi, sementara tim BPBD masih melakukan pendataan terhadap dampak yang ditimbulkan di lapangan.Sementara itu, di Kabupaten Sigi, getaran dirasakan sekitar lima detik. Masyarakat memilih keluar dari rumah dan menjauhi bangunan guna mengantisipasi kemungkinan gempa susulan. BPBD setempat masih melakukan asesmen terhadap kondisi wilayah terdampak.Di Kabupaten Donggala, gempa dirasakan dengan intensitas sedang selama sekitar dua detik. Meski berlangsung singkat, warga sempat panik dan petugas BPBD langsung melakukan monitoring di sejumlah titik.Getaran gempa juga dirasakan di Kabupaten Parigi Moutong. Banyak warga, baik di dalam maupun di luar rumah, merasakan guncangan yang membuat jendela dan pintu berderik serta dinding bangunan mengeluarkan suara.Laporan sementara mencatat adanya kerusakan pada sejumlah bangunan di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong. Namun hingga siaran pers ini diterbitkan, rincian jumlah dan tingkat kerusakan masih dalam proses pendataan oleh tim BPBD di masing-masing daerah.Selain kerusakan bangunan, pendataan terhadap kemungkinan adanya korban jiwa maupun warga yang mengungsi juga masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.BMKG melaporkan, hingga pukul 12.17 WITA telah terjadi sebanyak 13 kali gempa susulan atau aftershock dengan magnitudo yang bervariasi di sekitar lokasi gempa utama. Kondisi ini membuat masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi guncangan lanjutan.BPBD Provinsi Sulawesi Tengah bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Kabupaten Sigi serta Kabupaten Parigi Moutong terus berkoordinasi guna memperoleh gambaran menyeluruh terkait dampak bencana tersebut.Hingga saat ini, BNPB menyebut belum ada laporan mengenai kebutuhan mendesak dari wilayah terdampak. Meski demikian, proses pemantauan dan asesmen masih terus dilakukan secara intensif.BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti arahan dari pemerintah daerah, BPBD, dan BMKG.Warga juga diminta memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali masuk ke dalam rumah dan segera menjauhi bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan hingga dinyatakan aman oleh petugas berwenang.BNPB memastikan akan terus memantau perkembangan situasi dan menyampaikan informasi terbaru secara berkala seiring proses pendataan yang masih berlangsung di wilayah terdampak gempa. (GF) 17 Jun 2026, 13:32 WIT
Dinkes Mimika Gencarkan Edukasi HIV-AIDS, Lebih dari Separuh Kasus Baru Menimpa Usia Muda Papuanewsonline.com, Timika – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS dengan menyasar kelompok remaja dan pemuda. Langkah ini diambil menyusul data yang menunjukkan tingginya kasus baru pada usia produktif. Berdasarkan catatan hingga 13 Juni 2026, sepanjang tahun 2025 ditemukan 489 kasus baru, terdiri dari 227 kasus HIV dan 262 kasus AIDS. Sebanyak 268 kasus atau 54,81 persen di antaranya terjadi pada rentang usia 15 hingga 29 tahun. Secara akumulatif sejak 1996, total kasus yang tercatat mencapai 8.410 orang.Data tersebut disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Mimika, Linus Dumatubun, dalam Workshop Penanggulangan HIV pada Remaja dan Pemuda yang berlangsung Sabtu (13/6/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 40 peserta dari unsur organisasi keagamaan, kepemudaan, dan kampus, serta berpedoman pada peraturan perundangan kesehatan yang berlaku. Workshop bertujuan meningkatkan pemahaman, mengurangi stigma, serta membentuk kader pendidik sebaya untuk menyebarkan informasi yang benar.Linus menjelaskan tingginya angka pada kelompok muda disebabkan oleh minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan masih banyaknya perilaku berisiko. “Remaja adalah aset masa depan daerah. Jika dibiarkan, penyakit ini dapat menurunkan produktivitas dan menghambat kemajuan Mimika,” ujarnya. Oleh sebab itu, intervensi diperluas tidak hanya pada kelompok tertentu, tetapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat.Sementara itu, Plt Kepala Dinkes Mimika Godfield Maturbongs menegaskan penanganan HIV-AIDS tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab satu sektor.Ia mengajak semua elemen untuk terlibat aktif, mulai dari memberikan edukasi, membangun jejaring kerja sama, hingga menghapus pandangan negatif terhadap Orang Dengan HIV. Stigma yang ada justru sering menghalangi akses pemeriksaan dan pengobatan yang seharusnya terbuka bagi siapa saja.  Penulis: Jid Editor: GF 16 Jun 2026, 16:56 WIT
Polemik Nakes Jalan Kaki 12 Jam, Antara Bupati Mimika Tukang Tipu Atau Nakes Tipu Publik Papuanewsonline,com. TIMIKA,  – Polemik Tenaga Kesehatan (Nakes) harus berjalan kali hingga 12 Jam untuk menyelamatkan pasien Malaria di Kampung Aroanop di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, terus menjadi perhatian serius banyak kalangan.Bupati Mimika Johanes Rettob Tukang Tipu, atau Nakes Yang Tipu Publik?Publik pun dibuat bingung Pasalnya pascah firalnya Video Nakes berjalan kaki menempuh hutan dan banjir selama 12 jam untuk menyelamatkan pasien Malaria langsung dibantah Bupati Mimika Johanes Rettob.Melalui berbagai unggahan Media, Bupati Mimika Johanes Rettob membantah bahkan mengancam akan mengefaluasi dan memecat Nakes tersebut." Tidak benar, karena tidak ada malaria di pegunungan, kami akan efaluasi dan pecat," ujarnya.Selain itu, Bupati JR mempertanyakan informasi mengenai adanya tenaga kesehatan yang terserang malaria sehingga harus dievakuasi keluar dari wilayah tersebut.Bupati mengatakan wilayah pegunungan tempat para tenaga kesehatan bertugas bukan merupakan daerah yang umum ditemukan kasus malaria.“Dan alasannya ada malaria. Di atas pengunungan itu tidak ada malaria. Bohong besar itu. Ya, itu saya sampaikan. Itu peringatan untuk itu,” ungkap Bupati JR.Johanes Rettob secara tegas meminta agar seluruh aparatur sipil negara agar berhati-hati dalam menyampaikan informasi ke ruang publik, khususnya melalui media sosial.Sementara itu publik dibuat bingung karena beredar Video Nakes berjalan kaki melewati hutan belantara dan derasnya air sungai untuk menyelamatkan pasien Malaria selama 12 Jam, hal ini menjadi perbincangan hangat publik Mimika, namun disisi lain Bupati Johanes Rettob Mengaku hal tersebut tidak benar, Masyarakat bertanya atas peristiwa ini apakah " Bupati Mimika Tukang Tipu, atau Nakes Tipu Publik?Namun demikian atas ancaman pemecatan dari Bupati Mimika Johanes Rettob yang dialamatkan terhadap Nakes tersebut mendapat tanggapan serius dari Warga Mimika.Ketua Pemuda Kei Mimika, Edoardus Rahawadan, yang menyebut gaya spektakuler  Bupati JR memperlihatkan arogansi dan tidak pantas memimpin Kabupaten Mimika.“Bupati tidak layak jadi figur pemimpin Mimika. Jika hanya bisa emosional dan gemar mengancam, lebih baik mengundurkan diri saja,” ucap Bung Edward di Mimika, Minggu (14/5).Menurut Edoardus, ancaman itu bukti Bupati gagal paham kondisi riil pegunungan Mimika. “Urusan teknis nakes itu ranah Kepala Dinas Kesehatan. Bupati kok malah ngamuk di depan media,” katanya.Nakes Jalan Kaki Membuka Kotak Pandora Pesawat dan Helikopter Pemkab Mimika Yang Kini Jadi Besi Tua di Habggar Bandara Mozes Kilangin MimikaIa menduga luapan emosi Bupati dipicu karena  malu video nakes di pedalaman wilayaha pegunungan  terlanjur beredar.Selain itu kata Bung Edward,  Video Nakes berjalan kaki 12 jam, membuka kotak pandora Pesawat dan Helikopter Rp.85 Miliar Apbd Mimika yang kini membusuk di hanggar Lapangan Terbang Mozez Kilangin Mimika. “Reaksinya bukan solusi. Ini cuma luapan emosi pribadi yang justru menjatuhkan wibawa pemerintahan daerah yang dipimpinya, serta membuka kotak pandora Pesawat dan Helikopter yang telah mengiras Apbd Mimika, namun tidak ada asas manfaat bagi masyarakat"  tegas Bung Edward.Ketua Pemuda Kei itu menuntut Bupati bersikap dewasa dan objektif. “Jangan selesaikan masalah pakai ancaman. Turun ke lapangan, lihat sendiri medan nakes di wilayah Pegunungan, jangan pandai mengancam di depan camerah,” Jelasnya.Hingga berita ini dipublikasikan  Bupati Mimika Johanes Rettob belum dapat dikonfirmasi.Penulis: HendrikEditor   : Gf 15 Jun 2026, 03:59 WIT
Dinkes Mimika Kejar 2 Juta Tes Malaria Tahun Ini, Perlu Sinergi Semua Pihak Papuanewsonline.com, Timika – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika menetapkan target sebanyak 2 juta kali pemeriksaan kasus malaria sepanjang tahun 2026. Angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Pada 2025, Dinkes berhasil melampaui target dengan melakukan 1.299.815 kali tes, di mana ditemukan 190.597 kasus dan tingkat kepositifan mencapai 14,07 persen. Hingga Mei 2026, telah tercatat 450.193 kali pemeriksaan dengan 61.735 kasus terdeteksi atau tingkat kepositifan 13,7 persen.Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Mimika, Kamaludin, menjelaskan upaya percepatan dilakukan melalui peningkatan layanan di 10 puskesmas wilayah perkotaan. (12/6/26) Sebagai contoh, Puskesmas Timika menurunkan 50 tim setiap harinya dengan target 100 tes per tim, sehingga mampu memeriksa sekitar 5.000 orang per hari. Pemeriksaan berlangsung selama 7 hingga maksimal 14 hari dalam sebulan, dengan sasaran minimal 35 ribu tes setiap bulannya.Berbagai tantangan masih dihadapi, antara lain kondisi alam Mimika yang bercurah hujan tinggi dan dataran rendah, sehingga banyak terbentuk genangan air yang menjadi sarang nyamuk. Faktor perilaku masyarakat juga menjadi kendala, seperti sering beraktivitas malam hari dengan pakaian terbuka, kurang disiplin menghabiskan obat, dan belum membiasakan penggunaan kelambu saat tidur.Kamaludin menegaskan penanganan malaria membutuhkan kerja sama lintas sektor dan kesadaran bersama. “Upaya medis saja belum cukup jika lingkungan masih mendukung perkembangbiakan nyamuk." Ujarnya. Penulis: Jid Editor: GF 12 Jun 2026, 14:06 WIT
KKSS Mimika Gelar Kerja Bakti Jumat Bersih, Seru Tegakkan Perda Pengelolaan Sampah Papuanewsonline.com, Timika – Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Mimika melaksanakan aksi kerja bakti dalam rangka program Jumat Bersih di sepanjang Jalan Kartini, Kelurahan Otomona. Kegiatan ini merupakan wujud dukungan terhadap Gerakan Indonesia Asri, yang mengacu pada surat himbauan Bupati Mimika serta arahan resmi dari Kementerian Dalam Negeri dan Presiden Republik Indonesia.Ketua KKSS Mimika, H. Iwan Anwar, SH, MH, menyampaikan bahwa sekitar 30 anggota turut berpartisipasi membersihkan ruas jalan mulai dari persimpangan Jalan Budi Utomo hingga Jalan Yos Sudarso. (12/6/26) Ia menjelaskan kegiatan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman bagi seluruh warga kota.Selama pelaksanaan, peserta menemukan cukup banyak sampah rumah tangga yang dibuang secara sembarangan di pinggir jalan.Kondisi ini dinilai mencerminkan masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan. Iwan menegaskan bahwa kebersihan lingkungan tidak hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab setiap individu yang tinggal di wilayah tersebut.Ia juga mendesak Pemerintah Kabupaten Mimika untuk segera menegakkan Peraturan Daerah tentang pengelolaan sampah secara tegas dan konsisten. Menurutnya, penerapan aturan yang memberikan efek jera bagi pelanggar menjadi langkah strategis agar kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan dapat dihentikan dan tercipta ketertiban yang berkelanjutan.Melalui kegiatan ini, KKSS Mimika berharap dapat menjadi teladan bagi organisasi kemasyarakatan lain dan warga sekitar. Diharapkan semangat kebersamaan ini dapat menular, sehingga seluruh elemen masyarakat bergotong royong mewujudkan Kota Timika yang bersih, asri, sehat, dan layak huni bagi generasi sekarang maupun mendatang.  Penulis: Jid Editor: GF 12 Jun 2026, 13:58 WIT
BNPB: Gempa M 7,7 Di Laut Sulawesi, Lima Wilayah Berstatus Siaga Dan Waspada Tsunami Papuanewsonline.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, gempa bumi tektonik Magnitudo 7,7 terjadi di Laut Sulawesi pada Senin, (8/6/2026), pukul 06.37 WIB. Gempa berpusat di kedalaman 47 kilometer, barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara.Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menerbitkan pemutakhiran peringatan dini tsunami untuk wilayah pesisir Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kalimantan Timur.BNPB mengimbau masyarakat di lima wilayah pesisir itu untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta melakukan langkah antisipasi dengan menjauhi area pantai menuju titik kumpul aman sesuai tingkat ancaman di wilayahnya.Instruksi Status Siaga: Evakuasi ke Tempat Tinggi  Mengacu pemodelan dampak tsunami BMKG, pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota berstatus “Siaga” diinstruksikan mengarahkan warga melakukan evakuasi tertib ke tempat lebih tinggi.Wilayah berstatus Siaga terdiri atas:  1. Sulawesi Utara: Kepulauan Sangihe estimasi gelombang tiba pukul 06.51 WIB, Kota Manado 07.12 WIB, Minahasa Utara Bagian Utara 07.12 WIB, Minahasa Bagian Utara 07.14 WIB, Kepulauan Minahasa 07.16 WIB, Minahasa Selatan Bagian Utara 07.17 WIB, Bolaang Mongondow Bagian Utara 07.22 WIB, Minahasa Utara Bagian Selatan 07.33 WIB, dan Minahasa Bagian Selatan 07.34 WIB.  2. Gorontalo: Gorontalo Bagian Utara 07.26 WIB.  3. Sulawesi Tengah: Buol 07.27 WIB dan Toli-Toli 07.29 WIB.Instruksi Status Waspada: Jauhi Pantai dan Hentikan Aktivitas di Perairan  Untuk daerah berstatus “Waspada”, BNPB meminta pemerintah daerah dan masyarakat menjaga kesiapsiagaan dengan mengarahkan warga menjauhi pantai dan tepian sungai, serta menghentikan sementara aktivitas di perairan.Wilayah kategori Waspada meliputi:  1. Sulawesi Utara: Kepulauan Talaud 06.58 WIB, Kota Bitung 07.19 WIB, Minahasa Selatan Bagian Selatan 07.42 WIB.  2. Maluku Utara: Halmahera 07.29 WIB, Kota Ternate 07.43 WIB, Kota Tidore 07.46 WIB.  3. Sulawesi Tengah: Donggala Bagian Utara 07.42 WIB.  4. Kalimantan Timur: Kutai Timur 07.44 WIB, Bulungan 08.05 WIB, Nunukan 08.14 WIB.BNPB: Kondisi Lapangan Terkendali, Guncangan Lemah 2-3 Detik  BNPB mengonfirmasi situasi dan kondisi lapangan saat ini aman, tenang, dan terkendali. Laporan cepat Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Kepulauan Talaud serta BPBD Kota Manado menyebutkan guncangan gempa di kedua wilayah hanya dirasakan lemah selama kurang lebih 2 hingga 3 detik.Tim gabungan BPBD di masing-masing daerah terus melakukan monitoring ketat secara berkala di lapangan untuk memantau dampak pasca-gempa dan memastikan kondisi pesisir tetap aman.Koordinasi Satu Komando dan Imbauan Resmi  BNPB menyatakan terus memperkuat koordinasi sinergis dalam satu komando bersama tim gabungan lintas instansi di daerah, yaitu BPBD, TNI, Polri, Basarnas, lembaga kemanusiaan, dan relawan penanggulangan bencana. Tim tersebut bersiaga penuh untuk memandu dan mengamankan jalur pergerakan warga.Masyarakat diimbau tidak panik dan memprioritaskan keselamatan kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak. Warga diminta mematuhi instruksi resmi petugas lintas instansi di lapangan, tidak menyebarkan isu atau informasi yang belum jelas kebenarannya, serta merujuk pada pemutakhiran data berkala dari instansi terkait dan petugas di lapangan. Penulis: Hendrik Editor: GF 09 Jun 2026, 00:49 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT