logo-website
Sabtu, 09 Mei 2026,  WIT
BERITA TAG Kesehatan Homepage
Pickup Pengangkut Air Terguling Di Pertigaan Hasanuddin, Pengendara Baru Belajar Mengemudi Papuanewsonline.com, Timika – Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi di wilayah Timika, tepatnya di persimpangan Jalan Hasanuddin dengan Jalan WR Supratman, pada Sabtu pagi (9/5/2026). Sebuah mobil pickup yang berfungsi mengangkut pasokan air galon mengalami insiden tunggal hingga masuk ke parit dan terguling. Kejadian ini langsung menyita perhatian warga maupun pengendara yang sedang melintas di lokasi.Berdasarkan keterangan di lapangan, tidak ada korban jiwa maupun pihak yang terluka dalam peristiwa tersebut, pengemudi kendaraan dikabarkan selamat dan dalam keadaan sadar.Menurut keterangan Ilham, warga yang berada di lokasi, kendaraan tersebut bergerak dari arah Jalan WR Supratman dan hendak berbelok ke kanan menuju Jalan Hasanuddin Ujung. Namun, diduga pengemudi kehilangan kendali atas laju kendaraan, sehingga mobil meluncur masuk ke dalam parit dan akhirnya terguling miring ke samping. Kondisi lalu lintas pagi itu cukup padat, sehingga kejadian ini sempat menimbulkan keramaian sejenak.Setelah berbicara langsung dengan pengemudi, diketahui bahwa penyebab utama kejadian ini adalah keterbatasan kemampuan mengemudi.Lokasi kejadian yang merupakan pertigaan dan cukup ramai dilewati berbagai jenis kendaraan dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi pengemudi yang belum mahir dalam mengendalikan kendaraan.Kejadian ini menjadi peringatan bagi seluruh pengguna jalan. Warga berharap agar setiap pengendara benar-benar memastikan memiliki keahlian yang memadai sebelum berkendara di jalan raya, apalagi melintasi persimpangan yang padat. “Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga. Mari selalu berhati-hati, patuhi aturan lalu lintas, dan pastikan keselamatan diri serta orang lain selalu menjadi prioritas utama di jalan,” harap warga.  Penulis: Jid Editor: GF 09 Mei 2026, 19:56 WIT
Barantin Musnahkan Sapi Tanpa Dokumen, Upaya Jaga Kesehatan Ternak Dan Ketahanan Pangan Papuanewsonline.com, Timika – Badan Karantina Indonesia melalui perwakilan di Papua Tengah melakukan pemusnahan terhadap seekor sapi yang masuk ke wilayah Timika tanpa kelengkapan dokumen resmi yang dipersyaratkan. Tindakan ini diambil sebagai langkah pengamanan terakhir guna melindungi wilayah dari potensi masuknya berbagai jenis penyakit hewan berbahaya yang dapat menimbulkan kerugian luas, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi.Kepala Karantina Papua Tengah, Anton Panji Mahendra, menjelaskan bahwa hewan yang tidak disertai dokumen resmi tidak dapat dipastikan kondisi kesehatannya, sehingga berisiko membawa penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku serta Brucella.Penyakit-penyakit tersebut tidak hanya dapat menular dengan cepat ke ternak lain dan menyebabkan kematian, tetapi juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan daerah. Dari sisi ekonomi, wabah penyakit akan menimbulkan kerugian besar, mulai dari biaya penanganan, penurunan hasil produksi, hingga gangguan pasokan yang berujung pada kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.Kejadian ini bermula saat petugas melakukan pengawasan ketat lalu lintas hewan kurban di Pelabuhan Pomako pada 2 Mei 2026. Ditemukan seekor sapi yang diangkut menggunakan kapal kayu dan diketahui berasal dari Tual, Maluku, namun tidak memiliki dokumen karantina yang sah. Hewan tersebut kemudian ditahan sesuai prosedur yang berlaku selama tiga hari kerja untuk memberikan kesempatan kepada pemilik melengkapi persyaratan yang ada. Namun hingga batas waktu yang ditentukan, dokumen yang dibutuhkan tetap tidak dapat dipenuhi.Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019, pemasukan hewan tanpa kelengkapan dokumen merupakan pelanggaran yang dapat ditindak tegas. Akhirnya, hewan tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar dan dikubur sesuai standar yang berlaku, dengan proses yang disaksikan oleh perwakilan instansi terkait.“Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat dan pelaku usaha untuk selalu mematuhi peraturan yang ada. Kelengkapan dokumen adalah wujud tanggung jawab bersama demi menjaga keamanan kesehatan hewan dan kesejahteraan kita semua,” pesan Anton.  Penulis: Jid Editor: GF 06 Mei 2026, 13:52 WIT
Belum Ada Kejelasan, 11 SPPG Di Mimika Masih Berstatus Dihentikan Sementara Papuanewsoline.com, Timika – Wakil Bupati Mimika sekaligus Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG), Emanuel Kemong, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada kepastian atau perkembangan terbaru terkait nasib 11 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diberhentikan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN).Sebanyak delapan unit di antaranya terkendala masalah instalasi pengolahan air limbah, sedangkan tiga lainnya mengalami hambatan dari sisi administrasi. Kesebelasnya merupakan bagian dari total 18 SPPG yang beroperasi di wilayah ini.Menurut Emanuel Kemong, pihaknya terus melakukan koordinasi guna mencari solusi terbaik, namun keputusan akhir masih menunggu arahan resmi dari pihak yang berwenang. “Kami hanya membantu dalam pengawasan, koordinasi, dan evaluasi. Urusan teknis serta keputusan lebih lanjut sepenuhnya menjadi wewenang dan tanggung jawab BGN,” jelasnya (4/5/2026).Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua BGN Regional Papua Tengah, Nalen Situmorang, yang sebelumnya menyatakan bahwa hingga akhir April lalu belum ada petunjuk resmi yang diterima terkait tindak lanjut dari kasus ini. Semua pihak masih menunggu kebijakan yang akan ditetapkan guna memulihkan kembali layanan yang sangat dinantikan masyarakat.“Kami berharap proses penyelesaian ini dapat berjalan cepat dan lancar, agar layanan makanan bergizi bagi para siswa dapat segera berjalan kembali dengan baik. Semoga kendala yang ada segera terselesaikan demi manfaat pendidikan dan kesehatan anak-anak kita,” harap Emanuel Kemong.  Penulis: Jid Editor: GF 04 Mei 2026, 21:25 WIT
Ikan Sapu-Sapu Tembus Di Danau Sentani, Berada Sejak Dua Dekade Lalu Papuanewsonline.com, Jayapura – Penemuan ikan sapu-sapu atau pleco yang viral di media sosial membuka fakta bahwa spesies asal Sungai Amazon ini ternyata sudah hidup di Danau Sentani sejak lama, bukan baru saja muncul. Temuan ikan berukuran besar yang diperkirakan berusia 3–5 tahun ini bahkan diduga sedang dalam masa berkembang biak, mengingat bentuk perutnya yang tampak membesar. (03/05/26)Ikan ini mampu menghasilkan ribuan telur dengan siklus perkembangbiakan yang cepat, yaitu hanya membutuhkan waktu 1–2 tahun untuk dapat bereproduksi kembali. Berdasarkan penelitian yang dilakukan BRIN pada tahun 2020, sekitar 70 persen nelayan di wilayah Asei-Ifale menyebut ikan ini sudah mulai banyak terlihat sejak awal tahun 2000-an. Diduga ikan ini masuk ke perairan tersebut karena dilepaskan secara sengaja oleh pemilik akuarium, mengingat fungsinya yang umumnya hanya sebagai pembersih kaca akuarium. Keberadaannya juga menyoroti lemahnya pengawasan lalu lintas ikan, padahal peraturan yang ada melarang peredaran bebasnya dan mengancam pelaku dengan hukuman penjara hingga tiga tahun serta denda maksimal Rp3 miliar.Sebagai spesies invasif, ikan ini memiliki daya adaptasi yang tinggi dan berpotensi merusak keseimbangan alam. Ia dapat merusak dasar perairan serta bersaing memperebutkan sumber makanan dengan ikan asli daerah. Selain itu, ikan ini tidak aman untuk dikonsumsi karena berisiko mengandung logam berat berbahaya bagi tubuh manusia.Masyarakat diimbau untuk tidak melepaskan ikan peliharaan ke perairan umum dan segera menangkapnya jika ditemukan. Pemerintah daerah diharapkan mengambil langkah nyata seperti penangkapan massal, penyuluhan kepada warga, serta mengembangkan budidaya ikan lokal. Ikan yang berhasil ditangkap pun dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pembuatan pupuk cair atau campuran pakan ternak agar tetap memberikan manfaat.  Penulis: Jid Editor: GF 03 Mei 2026, 19:59 WIT
Kemarau Lumpuhkan Akses Air Bersih di Ayuka, Warga Mengaku “Setengah Mati” Bertahan Hidup Papuanewsonline.com, Mimika — Warga Kampung Ayuka, Distrik Mimika Tengah, kembali mengeluhkan krisis air bersih saat musim kemarau. Ketua Bumuskam Ayuka, Robertus Mitapo, menyebut kondisi itu membuat warga “setengah mati” mencari air untuk kebutuhan sehari-hari.“Di sini kalau pas musim kemarau, woi, paling setengah mati sekali. Susah air betul,” kata Robertus saat berbincang santai dengan media Papuanewsonline.com_, Jumat 30 April 2026.Menurutnya, warga hanya bisa mengandalkan depot air isi ulang atau tadah hujan. Namun kedua opsi itu tidak selalu tersedia. “Tunggu depot juga kadang masuk, kadang tidak. Kalau ditunggu hujan baru depot bisa masuk. Kalau tidak hujan, dia mau ambil dari mana?” ujarnya.Konsumsi Air Tak Layak  Robertus mengaku warga terpaksa menggunakan alternatif yang berisiko bagi kesehatan. “Kadang cuma pakai kapur untuk kasih segar rasanya. Kalau memang tidak ada sama sekali, pakai air pompa saja. Itu direbus untuk masak, tapi kita tidak tahu dampaknya ke tubuh seperti apa,” kata dia.Harap Perhatian Pemerintah  Ia berharap pemerintah daerah memberi perhatian serius kepada warga pesisir. “Jadi kami minta ke pemerintah, tolong kami di pesisir ini diperhatikan betul. Kami sangat membutuhkan air. Air itu untuk kehidupan, untuk kita manusia,” tegas Robertus.Hingga berita ini terbit, Papuanewsonline.com masih berupaya meminta konfirmasi dari Dinas PUPR Mimika dan Distrik Mimika Tengah terkait solusi jangka pendek dan jangka panjang krisis air bersih di Kampung Ayuka. Penulis: Hendrik Editor: GF 03 Mei 2026, 14:33 WIT
Pemerintah Pastikan Negara Hadir untuk Korban Insiden KA Bekasi Timur Papuanewsonline.com, Bekasi — Pemerintah memastikan komitmennya untuk memberikan penanganan maksimal terhadap korban insiden kecelakaan kereta api yang terjadi di wilayah Stasiun Bekasi Timur. Dukungan tidak hanya difokuskan pada proses evakuasi dan perawatan korban, tetapi juga pendampingan bagi keluarga yang terdampak.Hal tersebut disampaikan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi saat melakukan peninjauan kesiapan operasional Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026). Dalam kesempatan itu, Menhub menegaskan bahwa keselamatan dan penanganan korban menjadi prioritas utama pemerintah bersama seluruh pihak terkait.“Kami turut berduka cita kepada seluruh keluarga korban. Pemerintah memastikan tidak akan lepas tangan dalam penanganan ini, baik dari sisi perawatan di rumah sakit maupun dukungan melalui mekanisme asuransi,” ujar Menhub Dudy.Menurutnya, pemerintah terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan seluruh proses penanganan berjalan cepat dan tepat. Pendataan korban hingga penyaluran bantuan dilakukan sesuai prosedur yang berlaku.Menhub menjelaskan, PT Jasa Raharja sejak hari pertama telah dilibatkan dalam proses identifikasi dan pendataan korban kecelakaan. Seluruh mekanisme santunan akan diproses sesuai aturan yang berlaku agar keluarga korban dapat segera menerima haknya.“Sejak hari pertama, Jasa Raharja telah terlibat dalam proses identifikasi dan pendataan korban. Untuk mekanisme santunan, akan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.Usai melakukan peninjauan di Bekasi Timur, Menhub Dudy turut melakukan uji coba jalur menggunakan kereta rel listrik (KRL) menuju Stasiun Cikarang. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari pengecekan kesiapan operasional jalur yang sebelumnya terdampak insiden kecelakaan.Setibanya di Cikarang, Menhub melanjutkan agenda dengan mendatangi rumah salah satu korban meninggal dunia bernama Nurlaela. Dalam suasana penuh duka, Menhub menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga dan memastikan pemerintah hadir dalam proses pemulihan keluarga korban.Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin yang turut mendampingi dalam kunjungan tersebut juga menyampaikan rasa duka cita mendalam. PT KAI, kata Bobby, memberikan santunan serta dukungan pendidikan bagi anak korban sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap keluarga yang ditinggalkan.“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam. Sebagai bentuk kepedulian, kami juga memberikan santunan serta beasiswa kepada putra dari salah satu korban,” ujar Bobby. Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono bersama jajaran terkait lainnya. Pemerintah berharap seluruh proses penanganan korban dan pemulihan operasional transportasi dapat berjalan lancar sehingga pelayanan kepada masyarakat kembali normal. (GF) 30 Apr 2026, 15:13 WIT
Longsor Lumpuhkan Waa-Banti, Warga Desak Solusi Nyata dan Kehidupan Layak Papuanewsonline.com, Mimika — Bencana longsor yang melanda Kampung Waa-Banti, Kabupaten Mimika, mengakibatkan lumpuhnya seluruh aktivitas masyarakat setempat. Akses jalan utama yang selama ini menjadi jalur vital kini terputus total, sehingga warga kesulitan memperoleh kebutuhan dasar seperti makanan dan minuman.Menanggapi kondisi tersebut, Natalis Bugaleng menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus apresiasi terhadap langkah cepat yang telah dilakukan sejumlah pihak. “Kami sangat mengapresiasi tim kerja dari PTFI dan Pemerintah Daerah yang sudah langsung turun lapangan menyikapi situasi longsor yang terjadi di lembah Waa-Banti,” ujarnya.Meski demikian, ia menilai penanganan yang dilakukan harus lebih komprehensif dan berkelanjutan. “Kami berharap agar PTFI dan Pemerintah Daerah lebih serius melihat persoalan ini, untuk membenahi jalan, jembatan dan akses lainnya yang rusak,” tegasnya.Menurutnya, persoalan utama tidak hanya terletak pada longsor yang terjadi saat ini, tetapi juga pada kondisi geografis jalur utama yang dinilai tidak lagi layak. “Adapun jalan utama yang menjadi akses bagi masyarakat setempat adalah tempat yang sudah tidak layak untuk dibangun jalan utama, mengingat di tempat-tempat tersebut lereng jurang dan bekas aliran kali, sudah sering terjadi longsor dan jalan putus,” jelasnya.Ia pun mendorong adanya kajian teknis yang lebih mendalam sebelum pembangunan kembali dilakukan. “Di sarankan kepada tim kerja dan tim ahli PTFI agar mengkaji tempat-tempat tersebut layak untuk bangun jalan dan jembatan atau tidak,” tambahnya.Di luar persoalan infrastruktur, Natalis juga menyoroti kondisi lingkungan yang dinilai menjadi beban berat bagi masyarakat. “Terlepas dari situasi tersebut, persoalan besar yang sedang dialami oleh masyarakat setempat adalah mereka hidup dalam lingkungan yang penuh dengan limbah PTFI seperti rumah dibangun di pinggir kali limbah perusahaan, tempat berkebun, tempat dusun semuanya sudah kena limbah habis,” ungkapnya.Kondisi tersebut, lanjutnya, berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat yang semakin memprihatinkan. “Sehingga kehidupan masyarakat setempat sangat di prihatinkan, itu persoalan besar bagi PTFI dan pemerintah untuk memberikan kehidupan yang layak bagi warga masyarakat di kampung Waa-Banti,” katanya.Ia juga mempertanyakan komitmen perusahaan terhadap masyarakat lokal yang terdampak langsung aktivitas industri. “Pertanyaan besar bagi PTFI saat ini adalah, sudahkah PTFI memberikan yang terbaik untuk masyarakat Waa-Banti yang sudah menjadi korban permanen atas keberadaan PTFI di kampung Waa-Banti?” tegasnya.Sebagai bentuk harapan, Natalis menekankan pentingnya kesetaraan dalam pembangunan dan kesejahteraan. “Saran saya untuk PTFI bahwa kehidupan masyarakat Waa-Banti sudah seharusnya layak seperti keluarga besar karyawan PTFI dalam lingkungan area perusahaan,” ujarnya.Ia menutup dengan kritik tajam terhadap ketimpangan yang dirasakan masyarakat. “Masyarakatnya di abaikan dan alamnya di keruk habis-habisan itu sama dengan mengabaikan MoU awal (kehidupan yang setara),” pungkasnya.Situasi di Waa-Banti saat ini menjadi pengingat penting bahwa pembangunan tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut keselamatan, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial bagi masyarakat lokal yang terdampak langsung. Emas mereka, luka kami (GF) 29 Apr 2026, 19:04 WIT
Kampung Iwaka Terisolasi: Talut PUPR Sudah Jadi, Tapi Banjir Masih Mengancam Warga Papuanewsonline.com, Mimika — Jembatan di Kampung Iwaka yang dibangun Dinas PUPR Kabupaten Mimika tahun lalu kini sudah selesai. Namun warga masih terjebak dua persoalan besar: akses air bersih yang belum berfungsi dan banjir tahunan setiap Juni-Juli yang membuat kampung terisolasi.Jembatan PUPR Sudah Jadi, Warga Harap Akses Lancar  Jembatan dan Talut yang dibangun Dinas PUPR sejak tahun lalu kini telah berdiri di Kampung Iwaka. “Tahun kemarin dong buat,” kata warga saat diwawancarai (28/04/2026). Meski jembatan sudah jadi, warga berharap aksesnya bisa segera dimanfaatkan sepenuhnya untuk menghubungkan kampung dengan wilayah lain, terutama saat musim banjir.Air Bersih Mangkrak, Warga Masih Andalkan Air Hujan  Di sisi lain, proyek air bersih di samping sekolah yang dikerjakan pihak pusat belum bisa digunakan. Warga terpaksa tetap mengandalkan air hujan untuk kebutuhan minum sehari-hari, terutama saat musim kemarau. “Tapi air bersih belum jalan. Tidak berfungsi,” ujar warga.Banjir Juni-Juli Bikin Warga Tidur di Jalan  Keluhan paling berat datang dari banjir tahunan yang rutin terjadi setiap Juni-Juli. Air kali meluap hingga masuk ke rumah dan merendam hutan, membuat warga tidak bisa mencari sagu. Banjir berlangsung sekitar satu sampai dua minggu dan memaksa warga membuat tenda di jalan.  “Pada saat banjir kami mengungsi di jalan, bikin tenda di jalan, tidur juga di jalan,” kata warga kepada media papuanewsonline.com.Usulan Musrembang Belum Ditindaklanjuti  Warga mengaku sudah menyampaikan keluhan lewat Musrembang dari tingkat kampung ke distrik hingga kabupaten. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut nyata dari pemerintah. “Barang yang pernah kita kasih masuk itu tidak pernah terjawab,” keluh warga. Kepala kampung juga sudah menyampaikan laporan, tetapi belum ada peninjauan langsung dari Pemkab Mimika. Dinas Sosial hanya pernah memberikan bantuan plastik saat banjir. Anggota DPRD juga disebut belum pernah turun ke Iwaka. “Anggota DPRD tidak pernah datang muncul di Iwaka ini,” kata warga.Tanggul Banjir Tidak Efektif  Tanggul yang dibangun di pinggir labuan untuk menahan banjir dinilai belum efektif. Warga masih menunggu apakah banjir Juni 2026 akan masuk ke pemukiman atau tidak. “Ini kita sekarang masih nunggu Juni-Juli ini, bulan besok ini. Kalau Juni-Juli entah dia tidak masuk atau masuk, nanti baru kita lihat,” ujarnya.Harapan Warga  Dengan jembatan PUPR yang sudah jadi, warga berharap Pemkab Mimika bisa segera menuntaskan masalah air bersih dan menyiapkan langkah penanggulangan banjir sebelum puncak Juni tiba. Mereka juga meminta Dinas terkait dan DPRD turun langsung ke Iwaka untuk melihat kondisi di lapangan.Hingga berita inirilis, belum ada keterangan resmi dari Pemkab Mimika, Dinas PUPR, Dinas Sosial, maupun Inspektorat Kabupaten Mimika terkait kondisi di Kampung Iwaka. Penulis: Hendrik Editor: GF 28 Apr 2026, 19:53 WIT
Insiden Kereta di Bekasi Timur, Kemenhub Pastikan Evakuasi Cepat dan Investigasi Berjalan Papuanewsonline,com, Bekasi — Kementerian Perhubungan menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang melibatkan dua layanan kereta api di wilayah Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026). Peristiwa tersebut langsung mendapat perhatian serius dari pemerintah, mengingat dampaknya terhadap keselamatan penumpang dan operasional transportasi publik.Dalam pernyataan resminya tertanggal 28 April 2026, Kemenhub menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dalam penanganan insiden ini. Upaya evakuasi dilakukan secara cepat dengan melibatkan berbagai unsur terkait di lapangan.Kementerian memastikan bahwa seluruh korban terdampak menjadi fokus utama dalam proses penanganan. Tim gabungan terus bekerja untuk mengevakuasi penumpang serta memberikan pertolongan medis kepada korban yang membutuhkan.Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, diketahui langsung turun ke lokasi kejadian untuk memastikan proses evakuasi berjalan dengan baik. Kehadiran Menhub di lapangan menjadi bagian dari upaya pengawasan langsung terhadap penanganan situasi darurat tersebut.Selain proses evakuasi, pendataan jumlah korban hingga saat ini masih terus dilakukan. Kemenhub menegaskan bahwa informasi terkait korban akan disampaikan secara bertahap sesuai perkembangan di lapangan.Koordinasi lintas instansi juga terus diperkuat guna memastikan seluruh proses berjalan optimal. Kemenhub bekerja sama dengan berbagai pihak terkait untuk mempercepat penanganan serta meminimalisir dampak lanjutan dari insiden tersebut.Di sisi lain, Kementerian Perhubungan juga mendukung penuh langkah investigasi yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan pihak terkait lainnya. Penyelidikan ini bertujuan untuk mengungkap penyebab pasti insiden serta mencegah kejadian serupa di masa mendatang.Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan situasi hingga seluruh proses evakuasi dan penanganan selesai. Transparansi informasi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap sistem transportasi nasional.Insiden ini menjadi pengingat pentingnya peningkatan standar keselamatan dan pengawasan operasional di sektor perkeretaapian. Evaluasi menyeluruh dipastikan akan dilakukan sebagai langkah perbaikan ke depan. (GF) 28 Apr 2026, 19:35 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT