Papuanewsonline.com
Pickup Pengangkut Air Terguling Di Pertigaan Hasanuddin, Pengendara Baru Belajar Mengemudi
PTFI Setor Rp4,8 Triliun: Mimika Terima Bagian Terbesar, Total Kontribusi Capai Rp75 Triliun
Lapas Timika Gelar Ikrar Bersih Dari Hp Ilegal, Narkoba, Dan Penipuan
Lima Warga Diklaim Tewas di Kali Kabur, TPNPB Soroti Operasi Militer di Tembagapura
BADKO HMI dan Polda Papua Sepakati Sinergi, Fokus Tangani Tambang Ilegal hingga Hoaks Digital
Enam Warga Sipil Ditembak Di Tembagapura, Aktivis Deby Santoso Desak Proses Hukum Transparan
Direktur Law Firm Golda: Transaksi Perkara Di Timika Semakin Subur, Masyarakat Miskin Jadi Korban
BADKO HMI Papua Dukung Penertiban Tambang Ilegal oleh Gubernur Papua Tengah
DPR Papua Tengah, Mimika dan Puncak Bentuk Tim Khusus Tangani Konflik Kwamki Narama
Kejati Papua Mandul Tetapkan Yunus Wonda Jadi Tersangka, Mahasiswa Kembali Geruduk Kejagung
BERITA TAG Budaya
Homepage
Kapolda Maluku Sholat Jumat Berjamaah di Masjid Ar-Rahman, Maluku Tengah
Papuanewsonline.com, Ambon – Kepala Kepolisian Daerah Maluku, Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto, S.H, S.I.K, M.Si, bersama Wakapolda Maluku Brigjen Pol. Imam Thobroni, S.I.K., M.H melaksanakan Sholat Jumat Berjamaah dengan masyarakat di Masjid Ar-Rahman, Desa Soahuku, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Jumat (31/10).Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Karo Log, Direktur Binmas, dan Direktur Pamobvit Polda Maluku, Kapolres Maluku Tengah, Danyon B Pelopor Sat Brimob Polda Maluku, serta para jamaah sholat jumat.Usai sholat, Kapolda Maluku berkesempatan menyapa dan bersilaturahmi dengan masyarakat, sekaligus mengajak jamaah untuk memperkuat persaudaraan, menjaga keamanan, dan menjadikan hidup lebih bermakna melalui kebaikan.“Kita tidak bisa memilih lahir sebagai apa, suku apa, atau dari bangsa mana. Tetapi kita bisa memilih untuk berbuat kebaikan. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain,” ajak Kapolda.1Kapolda mengingatkan makna "Rahmatan lil alamin", yaitu mencakup manusia, alam, serta lingkungan hidup. Menurutnya, keberagaman suku, agama, dan bangsa di Indonesia, termasuk di Maluku, adalah anugerah yang harus dijaga.Menurutnya, keamanan adalah nikmat besar yang sering kali tidak terasa sampai hilang. Keamanan tidak datang begitu saja, melainkan hasil dari usaha, doa, serta tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Keamanan bukan hanya tugas TNI-Polri atau pemerintah daerah, tapi tanggungjawab semua elemen masyarakat.“Keamanan ini amanah kita bersama. Jangan mudah terprovokasi, terutama melalui media sosial. Hidup pasti ada masalah, tetapi mari kita selesaikan dengan introspeksi dan kebersamaan,” harap Kapolda.Polri, lanjut Kapolda, dalam menjalankan tugasnya tidak luput dari kekurangan. Olehnya itu Polri selalu terbuka terhadap kritik, saran, dan masukan dari masyarakat demi perbaikan ke depan.Kapolda meyakini Maluku akan semakin dikenal sebagai daerah yang indah, damai, dan penuh kedamaian bila masyarakat terus hidup berdampingan dengan prinsip saling menghargai.“Tugas dan tanggung jawab saya adalah amanah, yang suatu saat harus saya pertanggungjawabkan kepada Allah, bukan kepada manusia. Karena itu mari kita jadikan Maluku sebagai tanah yang damai, tempat di mana umat muslim maupun non-muslim, dari berbagai suku, bisa hidup berdampingan dengan rukun,” jelasnya. PNO-12
01 Nov 2025, 18:04 WIT
7 Wilayah Adat Bersatu Menyambut Gubernur Papua Baru: Momen Sakral Penuh Makna
Papuanewsonline.com, Jayapura — Tanah
Papua kembali menorehkan kisah kebersamaan yang sarat makna. Ribuan masyarakat
dari berbagai penjuru Papua tumpah ruah di Kota Jayapura untuk menyambut
kedatangan Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, dan Wakil Gubernur, Aryoko
Rumaropen, dalam Ibadah Syukur dan Pesta Rakyat, Jumat (31/10/2025).
Kehadiran keduanya disambut dengan prosesi adat dari tujuh wilayah adat di
Tanah Papua, menjadikan momentum ini bukan sekadar seremoni politik, tetapi
juga manifestasi nyata persatuan, penghormatan, dan harapan baru bagi masa
depan Papua. Penyambutan dimulai dari kediaman
pribadi Gubernur di Jayapura. Di sana, perwakilan masyarakat Awyu dan Inanwatan
mengawali rangkaian penjemputan secara adat, lengkap dengan tarian tradisional,
nyanyian pengiring, dan pengalungan noken sebagai simbol kasih dan
penghormatan. Rombongan kemudian bergerak
melintasi beberapa titik penting di kota, mulai dari Ruko Dok 2, eks Venue
Selam Kupang Dok II, hingga akhirnya tiba di halaman Kantor Gubernur Papua yang
telah dipenuhi ribuan masyarakat. Sorak-sorai, tabuhan tifa, dan
gemuruh nyanyian adat menyertai langkah Gubernur dan Wakil Gubernur baru
tersebut. Momen ini menggambarkan bagaimana keragaman budaya justru menjadi
kekuatan utama Papua dalam melangkah bersama menuju babak baru pemerintahan. “Penyambutan ini mencerminkan
semangat kebersamaan seluruh wilayah adat di Tanah Papua,” ujar Asisten I
Sekretariat Daerah Papua, Yohanes Walilo, yang turut mengatur jalannya prosesi
adat tersebut. Usai prosesi adat, kegiatan
dilanjutkan dengan Ibadah Syukur dan Pesta Rakyat yang terbuka untuk umum. Acara ini bukan sekadar pesta
kemenangan, melainkan perayaan spiritual dan budaya untuk mengawali masa
kepemimpinan baru yang diharapkan membawa kedamaian, kemajuan, dan
kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Papua. Suasana penuh kehangatan terasa
di sepanjang area perayaan. Sekitar 80 pelaku UMKM, termasuk mama-mama Papua,
turut meramaikan acara dengan menjajakan aneka kuliner khas seperti papeda,
ikan kuah kuning, dan sagu bakar. Tak hanya itu, panggung hiburan
rakyat turut dimeriahkan oleh penampilan artis ibu kota dan musisi lokal Papua,
menambah semarak pesta yang dipadati lebih dari 5.000 hingga 10.000 pengunjung. Penyambutan adat yang melibatkan
tujuh wilayah adat — dari Mamta, Meepago, La Pago, Anim Ha, Domberai, Bomberai
hingga Saireri — menjadi simbol nyata dari harmoni dan tekad bersama membangun
Papua yang damai dan sejahtera.
Setiap wilayah adat turut menampilkan simbol budayanya masing-masing, mulai
dari tarian penyambutan, nyanyian adat, hingga pengalungan manik-manik khas
daerah. Bagi masyarakat Papua,
penjemputan ini memiliki makna yang dalam: pemimpin tidak hanya dilantik secara
politik, tetapi juga diterima secara adat dan spiritual oleh seluruh anak
negeri. “Kita berharap dengan semangat
adat ini, Gubernur dan Wakil Gubernur dapat memimpin Papua dengan hati yang
tulus, menghormati nilai-nilai budaya, dan membawa kemajuan yang berpihak pada
rakyat kecil,” ujar salah satu tokoh adat dari wilayah La Pago. Dengan dilantiknya Matius Fakhiri
dan Aryoko Rumaropen, serta dukungan penuh dari masyarakat adat dan pemerintah
daerah, Papua menatap masa depan dengan optimisme baru.
Pemerintahan yang berpihak pada masyarakat, menghargai budaya lokal, dan
menumbuhkan kolaborasi lintas wilayah diharapkan menjadi tonggak pembangunan
yang lebih inklusif. “Momentum ini bukan hanya
perayaan, tetapi juga doa bersama agar Papua menjadi tanah yang diberkati,
aman, dan sejahtera,” tutur Walilo menutup rangkaian kegiatan. Penulis: Jid Editor: GF
01 Nov 2025, 15:22 WIT
Sambut HUT ke-63, SPN Polda Maluku Anjangsana ke Purnawirawan Polri
Papuanewsonline.com, Ambon - Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Sekolah Polisi Negara (SPN), jajaran SPN Polda Maluku melaksanakan kegiatan Anjangsana, mengunjungi para purnawirawan yang pernah mengabdi di SPN Polda Maluku, Jumat (31/10/2025).Kegiatan Anjangsana dengan mengunjungi kediaman rumah para pensiunan Polri ini di pimpin langsung oleh Kepala SPN Polda Maluku, Kombes Pol Romi Agusriansyah, S.I.K.Sejumlah rumah purnawirawan SPN Polda Maluku dikunjungi personel SPN untuk bersilaturahmi sekaligus menyerahkan bingkisan dan tali asih. Penyerahan tali asih dilakukan sebagai bentuk kepedulian serta penghargaan atas dedikasi dan pengabdian mereka selama bertugas di lembaga pendidikan Polri tersebut.Suasana haru dan kekeluargaan tampak dalam pertemuan tersebut. Para pensiunan menyambut hangat kehadiran rombongan SPN Polda Maluku dan menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan.“Kami merasa bangga dan terharu karena masih diingat dan dikunjungi oleh rekan-rekan di SPN. Semoga SPN Polda Maluku semakin maju dan tetap menjadi lembaga pembentuk insan Polri yang berintegritas,” ujar salah satu pensiunan AKP (Purn) Jacob Walalyo, dengan penuh rasa syukur.Sementara itu, Kepala SPN Polda Maluku dalam keterangannya menyampaikan, kegiatan anjangsana ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi wujud nyata dari nilai silaturahmi, rasa hormat, dan penghargaan terhadap para senior yang telah memberikan kontribusi besar bagi SPN Polda Maluku.“Kami ingin meneladani semangat, dedikasi, dan loyalitas para senior yang telah lebih dulu berjuang membangun SPN ini. Melalui momentum HUT ke-63, kami berkomitmen untuk terus melanjutkan pengabdian dengan penuh tanggung jawab,” ungkapnya.Selain menyerahkan bingkisan, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan antar generasi, serta menumbuhkan semangat kebersamaan dan rasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar SPN Polda Maluku. PNO-12
01 Nov 2025, 08:15 WIT
Kapolri Jalin Silaturahmi ke Ponpes An-Nur Malang
Papuanewsonline.com, Malang - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersilaturahmi ke Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nur II Al-Murtadlo Bululawang Malang, Jawa Timur (Jatim), Kamis, 30 Oktober 2025. Kegiatan ini sekaligus memperkuat sinergisitas antara Umara dan Ulama. "Jadi kalau Umara dan Ulama bersama-sama, tentu kita pastikan negara Indonesia ini akan menjadi maju dan sejahtera," kata Sigit mengawali sambutannya. Silaturahmi ini sendiri, kata Sigit juga sekaligus dalam rangka momen memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2025, lalu. Lebih dalam, Sigit menekankan, dengan semakin menguatnya sinergisitas antara Umara dan Ulama tentunya hal tersebut menjadi kunci untuk menghadapi segala bentuk tantangan zaman yang ada. "Bergotong-royong untuk bisa menyelesaikan apa yang menjadi tujuan besar mewujudkan tujuan nasional, mewujudkan Indonesia yang makmur, sejahtera dan mencapai cita-cita bersama menuju Indonesia yang kita harapkan Indonesia Emas 2045," ujar Sigit. Sigit menegaskan, modal utama untuk mencapai hal tersebut adalah menjaga dan merawat bingkai nilai persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. "Dan kita bersama mungkin ini yang harus selalu kita ingatkan, harus selalu kita jaga bahwa persatuan dan kesatuan tentunya menjadi modal yang penting," ucap Sigit. Menurut Sigit, persatuan dan kesatuan adalah kunci untuk menghadapi ancaman yang datang dari dalam maupun luar negeri. Di sisi lain, Sigit berharap dengan terjalinnya silaturahmi, para Ulama dan tokoh agama dapat memberikan masukan maupun doa kepada Polri maupun seluruh anggotannya agar dapat dilancarkan dalam melaksanakan tugasnya dimanapun. "Tentunya harapan kami dengan silaturahmi-silaturahmi dengan pertemuan-pertemuan yang ada ini tentunya kita bisa saling mengisi. Bisa saling mengingatkan dan kami juga tentunya butuh untuk diberikan masukan, nasihat. Sehingga kami semua jajaran institusi Polri terus bisa melaksanakan tugas pokok kami dengansebaik-baiknya," tutup Sigit. PNO-12
31 Okt 2025, 14:33 WIT
Peringati Hari Jadi ke-74, Humas Polri Gelar Sarasehan dan Dialog Kebangsaan
Papuanewsonline.com, Jakarta – Humas Polri memperingati Hari Jadi ke-74 dengan menggelar Sarasehan dan Dialog Kebangsaan bertajuk “Transformasi Polisi Humanis Guna Mendukung Harapan Masyarakat” di Auditorium STIK Lemdiklat Polri, Jakarta, Kamis (30/10/2025). Acara dimulai pukul 08.00 WIB dan dihadiri oleh Kadivhumas Polri Irjen Pol Sandi Nugroho, sejumlah pejabat utama Mabes Polri, pejabat Divhumas Polri, para Kabidhumas Polda Jajaran, para pemimpin redaksi media nasional, serta para Kadivhumas Polri pada masanya.Sejumlah mantan Kadivhumas yang turut hadir dalam acara ini yaitu Irjen Pol (Purn) Drs. Sidarto Danusubroto S.H., Komjen Pol (Purn) Drs. Togar M. Sianipar, Komjen Pol (Purn) Drs. Didi Widayadi, Irjen Pol (Purn) Drs. Sisno Adiwinoto, M.M., Komjen Pol (Purn) Drs. Nanan Soekarna, Irjen Pol (Purn) Drs. H. Iskandar Hasan, S.H., M.H., Komjen Pol (Purn) Drs. H. Saud Usman Nasution, S.H., M.H., M.M., Komjen Pol (Purn) Dr. Anang Iskandar, S.H., M.H., Irjen Pol (Purn) Dr. Ronny Franky Sompie, S.H., M.H., serta Komjen Pol (Purn) Drs. Setyo Wasisto, S.H.Acara juga dihadiri oleh Ibu Ruby M. Jasin, istri dari almarhum Komjen Pol M. Jasin, beserta keluarga. Kehadiran mereka menjadi momen penghargaan atas jasa-jasa pahlawan kepolisian yang telah meletakkan dasar kuat bagi pengabdian Polri kepada bangsa.Ketua Panitia, Kombes Pol Komang Suartana, menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi ke-74 Humas Polri bukan hanya seremoni, tetapi juga momentum refleksi.“Pelaksanaan Hari Jadi ke-74 Humas Polri ini sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan pengabdian dalam memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat, serta menguatkan peran Humas Polri sebagai jembatan komunikasi dua arah dalam membangun citra positif dan meningkatkan kepercayaan publik,” ujarnya.Ia menambahkan, tema yang diangkat tahun ini mencerminkan semangat transformasi Polri menuju institusi yang lebih profesional, akuntabel, dan humanis.“Melalui tema Polisi Humanis Harapan Masyarakat, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan nilai-nilai empati, kepedulian, serta pengabdian kepada masyarakat,” imbuhnya.Acara diawali dengan doa, tarian pembuka, dan laporan panitia, dilanjutkan sarasehan menghadirkan narasumber mantan Wakapolri Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna, penasihat ahli Kapolri bidang media sosial Rustika Herlambang, mantan anggota DPR RI Johan Budi, serta aktivis HAM Usman Hamid.Selanjutnya, dilakukan Dialog kebangsaan yang menghadirkan Komjen Pol (Purn) Didi Widayadi, sejarawan Lorenzo Yauwerissa, serta akademisi Dr. Devie Rahmawati turut memperkaya perspektif kebangsaan. penyerahan cinderamata kepada keluarga M. Jasin sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan kepada pahlawan nasional. Rangkaian kegiatan diakhiri dengan pemotongan tumpeng dan ditutup dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri sebagai bentuk rasa syukur serta simbol pengabdian Humas Polri kepada bangsa.Peringatan Hari Jadi ke-74 ini diharapkan semakin memperkuat citra positif Polri di mata masyarakat, serta meneguhkan peran Humas sebagai garda depan komunikasi publik yang humanis dan terpercaya. PNO-12
31 Okt 2025, 13:23 WIT
Polisi Inspiratif: IPTU Bastian Tuhuteru Menerima Hoegeng Corner Awards 2025
Papuanewsonline.com, Ambon – Sosok polisi inspiratif kembali hadir dari jajaran Kepolisian Daerah Maluku. IPTU Bastian Tuhuteru, S.Pd, Kapolsek Leklula Polres Buru Selatan, dinobatkan sebagai penerima Hoegeng Corner Awards 2025 untuk kategori Polisi Tapal Batas dan Pedalaman.Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya yang luar biasa dalam melayani masyarakat di wilayah terpencil dan minim akses pendidikan maupun infrastruktur.Selama bertugas di kawasan pedalaman Kabupaten Buru Selatan, IPTU Bastian dikenal luas sebagai sosok polisi yang tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga menjadi penggerak sosial, pendidik, dan penolong bagi masyarakat di daerah yang sulit dijangkau.“Bagi saya, menjadi polisi bukan hanya soal penegakan hukum, tapi juga soal kemanusiaan. Di mana ada kebutuhan masyarakat, di situ harus ada kehadiran Polri,” ujar IPTU Bastian dengan rendah hati.Selain menjalankan tugas sebagai Kapolsek, IPTU Bastian aktif menjadi polisi pengajar di sejumlah kampung yang tidak memiliki sekolah formal. Ia secara rutin mendatangi anak-anak di wilayah terpencil untuk memberikan pelajaran dasar, mengajarkan kedisiplinan, dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan.Dedikasinya di bidang pendidikan ini bahkan mengantarkan dirinya meraih penghargaan Polisi Teladan Tingkat Nasional (2019) serta Polisi Pengajar Terbaik di lingkungan Polda Maluku.Tidak hanya di bidang pendidikan, IPTU Bastian juga dikenal karena respon cepatnya dalam menangani konflik sosial dan isu-isu SARA di wilayah hukumnya. Pendekatan humanis dan komunikasi yang intens dengan tokoh adat serta masyarakat membuat situasi keamanan di daerah rawan konflik tetap kondusif.Salah satu kiprah heroiknya adalah menyelamatkan korban laka laut di Desa Bala, Kecamatan Kepala Madan, dengan terjun langsung ke lokasi menggunakan perahu kecil bersama warga setempat. Tindakan ini mendapat apresiasi luas dari pimpinan dan masyarakat.Dalam kesehariannya, IPTU Bastian juga aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Ia kerap mengisi Mimbar Kamtibmas di gereja setiap Minggu serta menjalankan program Jumat Keliling untuk memberikan pesan-pesan kamtibmas di berbagai desa.Atas dedikasi dan pengabdian tanpa pamrihnya, IPTU Bastian telah menerima berbagai penghargaan, di antaranya Satyalanacana Pengabdian 8 Tahun, Satyalanacana Dharma Nusa, serta penghargaan dari Kapolda Maluku dan Kapolres Buru Selatan atas kiprah nyata dalam pelayanan masyarakat.Sementara itu, Kapolda Maluku Irjen Prof. Dr. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K, M.Si., menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya atas penghargaan yang diterima oleh IPTU Bastian. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti bahwa pengabdian tulus anggota Polri di wilayah terpencil tetap menjadi perhatian dan inspirasi bagi seluruh jajaran.“Saya bangga dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada IPTU Bastian Tuhuteru. Ia adalah contoh nyata anggota Polri yang bekerja dengan hati, melayani tanpa pamrih, dan membawa nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap tugasnya,” ujar Kapolda Maluku.“Penghargaan Hoegeng Corner Awards ini bukan hanya milik IPTU Bastian semata, tetapi juga menjadi kebanggaan seluruh jajaran Polda Maluku. Semoga semangat pengabdian dan ketulusan beliau dapat menjadi teladan bagi seluruh anggota Polri dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, di manapun mereka bertugas,” tambahnya.Kisah pengabdian IPTU Bastian Tuhuteru menjadi cerminan semangat **Polri Presisi ; Profesional, Responsif, dan Humanis, yang hadir hingga pelosok negeri. Sosoknya membuktikan bahwa integritas dan kepedulian sosial adalah wajah sejati dari seorang polisi yang dicintai masyarakat.Melalui penghargaan Hoegeng Corner Awards 2025, dedikasi IPTU Bastian menjadi inspirasi bagi seluruh anggota Polri untuk terus bekerja dengan hati dan menjadikan pengabdian sebagai panggilan jiwa, bukan sekadar kewajiban. PNO-12
31 Okt 2025, 08:27 WIT
TIFA Creative Timika Bawa Pesona Papua ke Maluku Tenggara di Festival Meti Kei 2025
Papuanewsonline.com, Maluku
Tenggara — Langit sore Pantai Ngur Sarnadan, Ohoililir, menjadi saksi bagaimana
semangat budaya dan persaudaraan antar daerah hidup dalam gerak dan irama. Di
bawah gemuruh tepuk tangan penonton, TIFA Creative Timika tampil memukau di
panggung Festival Meti Kei 2025, Kamis (30/10/2025). Sepuluh penari muda dari
Kabupaten Mimika, Papua Tengah, sukses menghadirkan penampilan memikat yang
menggabungkan keindahan tarian adat Papua dan nuansa khas budaya Kei. Gerakan penuh semangat, diiringi
tabuhan tifa dan nyanyian etnik, menggambarkan kekuatan persatuan dan cinta
terhadap tanah air. Bukan sekadar pertunjukan seni, penampilan mereka menjadi
simbol kolaborasi budaya antara dua wilayah timur Indonesia yang kaya nilai dan
tradisi. “Kami sangat bangga bisa membawa
nama Timika ke Festival Meti Kei 2025. Ini bukan hanya tentang menari, tapi
tentang memperkenalkan jati diri dan semangat kebudayaan Papua kepada
saudara-saudara kami di Maluku Tenggara,” ujar Yosef, Ketua TIFA Creative
Timika, dengan wajah penuh haru dan bangga. Dalam penampilannya, TIFA
Creative Timika membawakan repertoar bertajuk “Irama Tifa di Bawah Matahari
Timur”, sebuah karya tari yang memadukan unsur gerak tradisional Papua dengan
gaya tarian Kei yang lembut namun energik. Tema tersebut menggambarkan
kehidupan masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan laut, serta
semangat gotong royong yang menjadi fondasi budaya di timur Nusantara. Penampilan ini tak hanya
menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga
nilai-nilai adat dan harmoni alam. Setiap hentakan kaki dan ayunan tangan para
penari membawa penonton larut dalam suasana sakral yang merefleksikan kekuatan
spiritual masyarakat Papua. “Kami ingin menunjukkan bahwa
budaya bukan hanya warisan masa lalu, tapi juga jembatan masa depan. Melalui
tarian ini, kami ingin menyatukan perbedaan lewat seni,” tambah Yosef. Festival Meti Kei merupakan acara
budaya tahunan yang merayakan fenomena alam “meti”—saat air laut surut dan
memperlihatkan hamparan pasir putih yang menghubungkan pulau-pulau di Kepulauan
Kei. Fenomena alam unik ini selalu menjadi momentum perayaan besar yang
diwarnai dengan pameran budaya, parade seni, dan pertunjukan musik tradisional. Tahun 2025, festival ini menjadi
lebih istimewa karena menghadirkan kolaborasi budaya lintas provinsi, termasuk
dari Papua Tengah. Pemerintah Daerah Maluku Tenggara juga mengapresiasi
partisipasi TIFA Creative Timika sebagai bentuk nyata dari semangat Bhinneka
Tunggal Ika. “Kolaborasi seperti ini penting
untuk memperkuat jalinan antar daerah di Indonesia Timur. Kehadiran Timika
memberikan warna baru dan semangat kebersamaan yang luar biasa,” ujar salah
satu panitia Festival Meti Kei 2025. Kehadiran TIFA Creative Timika di
ajang ini menjadi bukti bahwa generasi muda Papua memiliki semangat besar untuk
mengangkat dan melestarikan kebudayaan lokal. Melalui seni tari, mereka bukan
hanya memperkenalkan budaya Papua ke daerah lain, tetapi juga memperkuat
jalinan emosional antara masyarakat Papua dan Maluku Tenggara yang selama ini
memiliki akar sejarah dan budaya yang saling bersinggungan. “Kami ingin agar anak-anak muda
di seluruh Indonesia bisa saling mengenal budaya masing-masing. Dari sinilah
kita belajar menghargai perbedaan dan memperkuat persatuan,” pungkas Yosef. Penulis: Hendrik
Editor: GF
30 Okt 2025, 22:32 WIT
MRP Papua Selatan Desak Revisi PP 54/2004 untuk Perluas Kewenangan Demi Kadaulatan OAP
Papuanewsonline.com, Jayapura — Majelis
Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Selatan menegaskan komitmennya untuk
memperjuangkan revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 54 Tahun 2004 tentang
Majelis Rakyat Papua. Regulasi tersebut dinilai sudah tidak relevan dengan
dinamika sosial dan politik terkini, terutama setelah diberlakukannya Undang-Undang
Otonomi Khusus (Otsus) Papua perubahan kedua. Dalam Pertemuan Asosiasi MRP
se-Tanah Papua yang digelar di Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa
(28/10/2025), Ketua MRP Papua Selatan, Damianus Katayu, menyampaikan bahwa
revisi PP 54/2004 sangat mendesak dilakukan agar peran MRP sebagai lembaga
representatif kultural Orang Asli Papua (OAP) semakin kuat, tidak hanya
bersifat simbolik. “MRP perlu diberikan kewenangan
yang lebih luas. Tidak cukup hanya memberi pertimbangan dan rekomendasi
terhadap calon gubernur dan wakil gubernur OAP, tapi juga terhadap calon
bupati, wakil bupati, wali kota, dan wakil wali kota di seluruh Tanah Papua,”
tegas Katayu. Pertemuan lintas-MRP tersebut
menjadi ajang penting untuk menyatukan pandangan antarprovinsi, khususnya dalam
memperjuangkan afirmasi politik bagi OAP di tingkat nasional. Damianus Katayu
juga menyoroti perlunya keterwakilan OAP yang lebih besar di Dewan Perwakilan
Daerah (DPD), agar suara masyarakat adat Papua benar-benar terwakili di
parlemen pusat. “Kami menilai, selama ini ruang
politik bagi OAP masih sangat terbatas. Padahal, semangat Otsus adalah
memberikan ruang keadilan, perlindungan, dan pemberdayaan bagi orang Papua
dalam menentukan masa depan mereka sendiri,” ujarnya di hadapan para peserta
forum. Pertemuan tersebut juga dihadiri
oleh tenaga ahli dari Universitas Cenderawasih (Uncen) dan Universitas Papua
(Unipa) yang turut memaparkan hasil kajian akademik terkait urgensi perubahan
PP 54/2004. Kajian tersebut menyoroti adanya ketimpangan kewenangan antara MRP
dan lembaga legislatif maupun eksekutif daerah, sehingga peran MRP dalam
menjaga nilai-nilai adat dan budaya belum sepenuhnya efektif. Para akademisi menilai, dalam
konteks otonomi khusus, MRP seharusnya tidak hanya menjadi lembaga yang
memberikan rekomendasi formal, tetapi juga memiliki fungsi pengawasan dan
perlindungan substantif terhadap hak-hak politik, sosial, dan budaya OAP. “MRP harus dilibatkan secara
langsung dalam proses pengambilan keputusan strategis, termasuk dalam penentuan
kebijakan publik yang berdampak pada masyarakat adat Papua,” papar salah satu
tenaga ahli dari Uncen. Pertemuan Asosiasi MRP se-Tanah
Papua ini menghasilkan kesepakatan bersama untuk membentuk tim kerja advokasi
revisi PP 54/2004 yang akan menyusun draf usulan resmi kepada Pemerintah Pusat
melalui Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Hukum dan HAM. Langkah ini diharapkan dapat
memperkuat posisi MRP dalam sistem pemerintahan daerah, sekaligus memastikan
semangat Otsus tetap berpihak pada rakyat Papua. “Kami ingin agar Otsus tidak
sekadar menjadi program administratif, tetapi benar-benar menjadi jalan bagi
masyarakat Papua untuk berdiri tegak dalam martabatnya sendiri,” kata Katayu
menutup pertemuan dengan penuh semangat. Penulis: Hendrik Editor: GF
30 Okt 2025, 01:25 WIT
Murka! DAD Mimika Kecam Pembakaran Mahkota Cenderawasih: "Negara Bakar Harga Diri Kami!"
Papuanewsonline.com, Mimika —
Suasana memanas mewarnai Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Dewan Adat Papua
Daerah (DAD) Mimika dan anggota DPRK Mimika, Senin (28/10/2025). Pertemuan itu
digelar menyusul tindakan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA)
Papua yang membakar mahkota adat Cenderawasih, simbol kehormatan masyarakat
adat Papua. Aksi pembakaran yang terjadi pada
21 Oktober 2025 itu memicu gelombang kemarahan dari berbagai elemen adat. DAD
Mimika menilai tindakan tersebut bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga penghinaan
terhadap martabat dan jati diri orang Papua. “Mahkota itu bukan barang bukti,
bukan benda ilegal. Itu simbol spiritual dan warisan suci dari leluhur kami.
Ketika negara membakarnya, berarti negara telah membakar harga diri dan
kehormatan kami,” tegas Ketua Umum DAD Mimika, Vinsent Oniyoma, dalam
pernyataan resminya. Mahkota adat Cenderawasih, yang
kerap digunakan dalam upacara adat suku Amungme, Kamoro, dan Sempan, dipandang
bukan sekadar aksesori, melainkan penanda status, spiritualitas, dan ikatan
dengan alam. Menurut Vinsent, tindakan BBKSDA
Papua yang mengklaim pembakaran itu sebagai langkah penegakan hukum justru
menunjukkan ketidakpekaan terhadap nilai-nilai budaya lokal. “Ini bukan sekadar kesalahan
prosedural. Ini bentuk imperialisme budaya, di mana hukum negara menindas hukum
adat. Negara seharusnya melindungi adat, bukan menghancurkannya,” ujar Vinsent
dengan suara bergetar menahan emosi. DAD Mimika menilai insiden ini
memperlihatkan masih lemahnya pelaksanaan Otonomi Khusus (Otsus) yang
seharusnya menjadi jaminan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat Papua. Dalam RDP yang berlangsung di
ruang rapat DPRK Mimika itu, DAD Mimika membacakan lima poin tuntutan resmi
kepada pemerintah pusat dan daerah: Pertama, Permintaan maaf terbuka
dari Pemerintah RI dan Kementerian LHK kepada masyarakat adat Papua. Kedua, Pencopotan Kepala BBKSDA
Papua yang dianggap bertanggung jawab atas insiden pembakaran mahkota adat. Ketiga, Revisi terhadap Permen
LHK yang dinilai belum berpihak pada perlindungan benda adat dan budaya lokal. Keempat, Penguatan peran Majelis
Rakyat Papua (MRP) sebagai lembaga kultural yang menjaga kehormatan adat. Kelima, Ratifikasi Konvensi ILO
No. 169 tentang hak-hak masyarakat adat serta pengesahan Perda Perlindungan
Masyarakat Adat oleh DPRK Mimika. “Kalau negara sungguh menghormati
Papua, maka hormati pula adat dan simbol-simbol yang kami junjung. Jangan
biarkan hukum negara menindas hukum adat,” ujar salah satu anggota DAD dalam
forum. Di akhir RDP, Vinsent Oniyoma
kembali menegaskan posisi masyarakat adat Papua dalam bingkai kebangsaan. Ia
menyatakan bahwa orang Papua bukan anti-negara, melainkan bagian dari bangsa
yang menuntut pengakuan dan penghormatan yang sejati. “Kami bukan musuh negara, tapi
kami juga bukan budak dari hukum yang buta terhadap adat. Kami akan terus
berdiri tegak menjaga simbol-simbol suci warisan leluhur kami,” tegasnya
disambut tepuk tangan para tokoh adat dan masyarakat yang hadir. DAD Mimika berkomitmen untuk
mengawal proses ini hingga tuntas, dan siap membawa isu ini ke tingkat nasional
bila tidak ada respons konkret dari pemerintah pusat.
Penulis: Abim Editor: GF
28 Okt 2025, 21:58 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru