Papuanewsonline.com
BERITA TAG Budaya
Homepage
BBKSDA Papua Klarifikasi Soal Pemusnahan Cenderawasih: Bukan Tindakan Mendiskreditkan Budaya
Papuanewsonline.com, Jayapura — Balai
Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua akhirnya memberikan
klarifikasi resmi terkait peristiwa pemusnahan sejumlah opset dan mahkota
burung cenderawasih yang dilakukan pada 20 Oktober 2025 lalu. Tindakan tersebut
sempat menimbulkan beragam tanggapan di kalangan masyarakat, khususnya
masyarakat adat Papua yang menilai burung cenderawasih sebagai simbol budaya
dan kebanggaan Tanah Papua.
Dalam konferensi pers yang
digelar di Kantor BBKSDA Papua, Kepala BBKSDA Papua, Johny Santoso, menegaskan
bahwa langkah pemusnahan tersebut murni dilakukan dalam kerangka penegakan
hukum dan perlindungan satwa liar, bukan untuk menyinggung atau mengabaikan
nilai budaya masyarakat adat.
“Kami memahami betul bahwa
cenderawasih memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi bagi masyarakat
Papua. Karena itu, kami tegaskan bahwa tindakan ini bukan untuk mendiskreditkan
budaya masyarakat adat, melainkan untuk menjaga kelestarian dan kesakralan
cenderawasih sebagai simbol identitas Papua,” ujar Johny Santoso.
Lebih lanjut, Johny menjelaskan
bahwa pemusnahan barang bukti tersebut dilakukan sesuai dengan mandat
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya, serta berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Nomor P.26/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2017 mengenai penanganan barang bukti
tindak pidana lingkungan hidup dan kehutanan.
Barang bukti yang dimusnahkan
merupakan hasil penegakan hukum terhadap pelaku perdagangan ilegal satwa
dilindungi, termasuk bagian tubuh burung cenderawasih yang dijadikan opset dan
mahkota hias.
“Satwa yang dilindungi tidak
boleh diperdagangkan atau dimanfaatkan tanpa izin resmi. Pemusnahan adalah
bentuk akhir dari proses hukum agar barang bukti tersebut tidak kembali
diperjualbelikan atau disalahgunakan,” jelas Johny.
Ia juga menambahkan bahwa sebelum
pemusnahan dilakukan, pihak BBKSDA telah mempertimbangkan berbagai opsi,
termasuk kemungkinan menyerahkan barang bukti ke lembaga pendidikan atau
museum, namun keputusan akhir tetap mengacu pada ketentuan hukum yang berlaku.
Menanggapi peristiwa tersebut, Komunitas
Rumah Bakau Jayapura, melalui pendirinya Abdel Gamel Nasser, menyampaikan bahwa
kejadian ini sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai persoalan hukum, tetapi
juga sebagai momentum introspeksi bersama.
“Peristiwa ini menjadi cermin
bagi kita semua — pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat adat — untuk
bersama-sama menjaga simbol kebanggaan Papua. Cenderawasih bukan sekadar satwa,
tetapi lambang kehidupan dan keindahan Tanah Papua,” ujar Abdel.
Ia juga mengajak seluruh
masyarakat agar terus menumbuhkan kesadaran lingkungan, menghentikan praktik
perburuan, serta mendukung upaya pelestarian yang dilakukan pemerintah dan
lembaga swadaya masyarakat.
“Mari kita jadikan peristiwa ini
titik balik untuk memperkuat rasa memiliki terhadap kekayaan alam Papua.
Melestarikan cenderawasih berarti melestarikan jati diri kita sendiri,”
tambahnya.
Kepala BBKSDA Papua menegaskan
bahwa pihaknya akan terus menjalin komunikasi intensif dengan para tokoh adat,
akademisi, serta organisasi lingkungan agar setiap kebijakan yang diambil
memperhatikan nilai-nilai budaya lokal.
“Kami terbuka terhadap dialog. Ke
depan, kami ingin melibatkan lebih banyak pihak dalam merumuskan pendekatan
konservasi yang menghormati adat, budaya, dan kearifan lokal,” tutur Johny.
Menurutnya, keberhasilan
konservasi di Papua sangat bergantung pada kolaborasi antara masyarakat adat
dan pemerintah. Dengan demikian, langkah penegakan hukum dapat berjalan selaras
dengan upaya menjaga martabat dan identitas budaya masyarakat setempat.
Peristiwa ini membuka ruang
refleksi penting bagi semua pihak tentang bagaimana hukum konservasi diterapkan
tanpa mengabaikan akar budaya yang telah melekat di masyarakat Papua selama
berabad-abad.
Pemerhati lingkungan menilai,
perlu ada pendekatan baru yang lebih humanis dan edukatif dalam menegakkan
aturan konservasi di wilayah adat. Hal ini penting agar masyarakat tidak hanya
memahami sisi hukum, tetapi juga merasakan manfaat nyata dari upaya pelestarian
satwa endemik seperti burung cenderawasih.
BBKSDA Papua berjanji akan terus
memperkuat edukasi publik, memperluas kampanye anti-perburuan satwa dilindungi,
serta mengembangkan kemitraan konservasi bersama masyarakat lokal.
“Kami berharap langkah-langkah ke
depan bisa menjadi jembatan antara pelestarian alam dan pelestarian budaya
Papua,” tutup Johny Santoso.
Penulis: Hendrik
Editor: GF
22 Okt 2025, 20:30 WIT
Wakil Bupati Mimika Apresiasi Semangat Masyarakat Kamoro dalam Persiapan Musyawarah Adat
Papuanewsonline.com, Timika —
Pemerintah Kabupaten Mimika terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung
pelestarian budaya lokal dan memperkuat hubungan dengan masyarakat adat. Hal
ini terlihat dalam kegiatan Coffee Morning antara Pemerintah Kabupaten Mimika
dengan perwakilan tokoh adat Kamoro, yang dihadiri langsung oleh Bupati Mimika
Johanes Rettob dan Wakil Bupati Mimika Imanuel Kemong. Pertemuan yang berlangsung penuh
keakraban itu menjadi ajang silaturahmi dan dialog terbuka antara pemerintah
dan masyarakat adat Kamoro. Agenda utama dalam pertemuan ini adalah membangun
kesepahaman dan kebersamaan menuju penyelenggaraan Musyawarah Adat Kamoro (MAK)
yang rencananya akan digelar dalam waktu dekat. Dalam sambutannya, Wakil Bupati
Mimika Imanuel Kemong menyampaikan apresiasi tinggi atas semangat dan
partisipasi aktif masyarakat Kamoro dalam mempersiapkan kegiatan penting
tersebut. Ia menilai bahwa keterlibatan tokoh adat dan masyarakat menjadi kunci
sukses penyelenggaraan musyawarah yang bernuansa kekeluargaan dan kebersamaan. “Saya berterima kasih atas
semangat dan partisipasi masyarakat Kamoro melalui para tokoh adat yang hadir
hari ini. Inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat adat Kamoro
memiliki komitmen kuat untuk menjaga persatuan, sekaligus berperan aktif dalam
pembangunan daerah,” ujar Imanuel dalam sambutannya. Lebih lanjut, Imanuel berharap
agar proses persiapan hingga pelaksanaan Musyawarah Adat dapat berjalan lancar,
tertib, dan membawa manfaat nyata bagi seluruh masyarakat adat Kamoro. “Kami berharap musyawarah ini
bukan hanya menjadi wadah formal, tetapi juga momentum memperkuat identitas dan
solidaritas masyarakat adat Kamoro, sehingga dapat memberikan kontribusi
positif terhadap pembangunan di Kabupaten Mimika,” tambahnya. Bupati Mimika Johanes Rettob
dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa pemerintah daerah akan selalu
membuka ruang dialog dan kerja sama dengan seluruh elemen masyarakat adat.
Menurutnya, masyarakat adat Kamoro memiliki peran historis dan kultural yang
penting dalam perjalanan pembangunan Mimika. Ia menekankan bahwa keberhasilan
pembangunan daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan
menjaga harmoni sosial dan budaya lokal. “Mimika adalah rumah besar bagi
semua. Kita harus memastikan pembangunan berjalan seimbang antara kemajuan
fisik dan kelestarian nilai-nilai adat. Musyawarah Adat Kamoro ini menjadi
wujud nyata dari komitmen itu,” kata Johanes Rettob. Musyawarah Adat Kamoro yang akan
datang diharapkan menjadi ruang demokratis bagi masyarakat adat dalam membahas
berbagai isu strategis, seperti pelestarian budaya, pengelolaan sumber daya
alam, pendidikan adat, hingga penguatan lembaga-lembaga adat di tingkat
kampung. Kegiatan ini juga menjadi ajang
untuk menegaskan kembali nilai-nilai leluhur Kamoro, yang menjunjung tinggi
kebersamaan, musyawarah, dan gotong royong sebagai fondasi kehidupan sosial. Tokoh adat Kamoro yang turut
hadir dalam pertemuan itu menyampaikan harapannya agar Musyawarah Adat dapat
menjadi tonggak kebangkitan masyarakat adat dalam menghadapi tantangan
modernisasi dan arus globalisasi. Mereka menilai, dukungan pemerintah daerah menjadi
sinyal positif bahwa adat dan pembangunan dapat berjalan berdampingan tanpa
saling meniadakan. Pertemuan ini diakhiri dengan
dialog terbuka antara pemerintah dan tokoh masyarakat. Sejumlah usulan dan
masukan disampaikan, mulai dari dukungan logistik, pelibatan generasi muda adat
Kamoro, hingga upaya pelestarian seni dan tradisi lokal dalam kegiatan
pemerintahan dan pendidikan. Wakil Bupati Imanuel Kemong
menegaskan, pemerintah akan menindaklanjuti seluruh aspirasi yang muncul
melalui koordinasi lintas perangkat daerah. Ia juga mengajak masyarakat untuk
terus menjaga suasana kondusif dan saling mendukung demi kelancaran pelaksanaan
Musyawarah Adat Kamoro. “Musyawarah ini bukan hanya untuk
masyarakat Kamoro, tetapi untuk kita semua yang hidup di Tanah Mimika. Karena
pembangunan sejati hanya bisa terwujud jika kita bersatu,” pungkasnya. Dengan terselenggaranya kegiatan
ini, diharapkan hubungan harmonis antara Pemerintah Kabupaten Mimika dan
masyarakat adat Kamoro semakin kuat, serta menjadi contoh sinergi antara
pemerintah dan adat dalam membangun Mimika yang berkeadilan, berbudaya, dan
sejahtera. Penulis: Hendrik Editor: GF
22 Okt 2025, 20:23 WIT
Polda Maluku Terima Mushaf Al-Qur’an dari Kemenag Ambon, Perkuat Pembinaan Rohani Tahanan
Papuanewsonline.com, Ambon – Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dittahti) Polda Maluku menerima penyerahan 20 mushaf Al-Qur’an dari Kementerian Agama (Kemenag) Kota Ambon, Senin (20/10/2025). Penyerahan ini bertujuan mendukung kegiatan pembinaan kerohanian bagi para tahanan beragama Islam yang berada di Rumah Tahanan (Rutan) Dittahti Polda Maluku.Kegiatan berlangsung pukul 10.00 WIT di Rutan Dittahti Polda Maluku, dengan suasana penuh keakraban dan kekhidmatan. Hadir dalam kesempatan tersebut Plt. Dir Tahti Polda Maluku AKBP Yamy Reawaruw, S.E., bersama perwakilan Kemenag Kota Ambon, yakni Penyuluh Agama Islam H. La Hamid, Abd. Chalik Umamity, dan Hj. Amina Latuconsina, S.Ag.Turut mendampingi pula Ps. Pamin Urmintu Subagrenmin Ro SDM Polda Maluku Aipda Hamdan Umasugi, S.HI., Kasi Pam Barbuk Subdit Barbuk Iptu Djusli Ahmad, serta Kanit Siwattah Subdit Harwattah Iptu Norlensa Pattinama, S.H.Dalam kegiatan tersebut, penyerahan mushaf Al-Qur’an dilakukan secara simbolik oleh Abd. Chalik Umamity dari Kemenag Kota Ambon kepada AKBP Yamy Reawaruw. Selain mushaf Al-Qur’an, Dittahti Polda Maluku juga menyalurkan hibah 16 buku Yasin yang merupakan sumbangan dari personel internal Dittahti.Setelah prosesi penyerahan, kegiatan dilanjutkan dengan tausiah keagamaan bagi para tahanan beragama Islam yang berjumlah 25 orang. Tausiah ini menjadi ruang refleksi spiritual bagi para tahanan agar dapat memperbaiki diri dan memperkuat keimanan selama menjalani masa penahanan.AKBP Yamy Reawaruw dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Kemenag Kota Ambon atas kepedulian dan dukungan terhadap program pembinaan keagamaan di lingkungan Dittahti Polda Maluku.“Kami sangat berterima kasih atas perhatian Kementerian Agama. Bantuan ini sangat berarti untuk mendukung pembinaan rohani bagi para tahanan agar semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan memiliki semangat baru dalam memperbaiki diri,” ujarnya.Sementara itu, perwakilan Kemenag Kota Ambon, Abd. Chalik Umamity, menyampaikan bahwa penyerahan mushaf ini merupakan bagian dari sinergi antara Kemenag dan Polda Maluku dalam memperkuat pembinaan mental dan spiritual di lembaga kepolisian.“Kami berharap mushaf dan buku Yasin ini dapat digunakan sebaik-baiknya sebagai sarana ibadah dan pembinaan moral bagi para tahanan,” katanya.Kegiatan ini menghasilkan beberapa capaian penting, di antaranya peningkatan sarana penunjang pembinaan kerohanian, penguatan keimanan dan ketakwaan, serta pembentukan moral dan etika yang lebih baik bagi para tahanan.Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan penuh kekeluargaan, mencerminkan semangat sinergi antara aparat kepolisian dan instansi keagamaan dalam mewujudkan pembinaan yang humanis bagi warga binaan. PNO-12
20 Okt 2025, 18:29 WIT
Hadiri Sidang ke-39 Sinode GPM, Kapolda Maluku: Tebarkan Kebaikan dan Cinta Kasih di Tanah Maluku
Papuanewsonline.com, Ambon - Kepala Kepolisian Daerah Maluku, Irjen Pol Prof. Dr. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si, mengaku pelaksanaan Sidang ke-39 Sinode GPM merupakan kegiatan yang luar biasa. Sebab, dari forum ini akan lahir kebijakan dan keputusan penting guna menuntun umat Kristiani menuju kehidupan lebih baik. Yaitu membawa nilai-nilai kebaikan dan cinta kasih di Tanah Maluku tercinta.Hal ini disampaikan Kapolda secara langsung saat menghadiri pelaksanaan sidang Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) yang digelar di Gereja Maranatha, Kota Ambon, Minggu (19/10/2025).Orang nomor 1 Polda Maluku ini juga memberikan apresiasi dan menyampaikan ucapan selamat atas pelaksanaan Sidang ke-39 Sinode GPM Tahun 2025 tersebut.Mengusung tema “Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM (1 Petrus 5:10)”, sidang tersebut turut dihadiri Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, Dirjen Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI, Kapoksahli Pangdam XV/Pattimura, Aspidmil Kejati Maluku, Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia, Ketua dan Sekretaris MPH Sinode GPM, para kepala daerah se-Provinsi Maluku, anggota DPR RI, pimpinan DPRD, tokoh agama, pimpinan perguruan tinggi, serta seluruh peserta sidang dan tamu undangan.“Pertama-tama saya ingin menyampaikan selamat atas pelaksanaan sidang ke-39 Sinode Gereja Protestan Maluku Tahun 2025," ungkap Kapolda Maluku Prof. Dadang Hartanto. Sidang Sinode GPM, kata Kapolda, merupakan kegiatan luar biasa, karena dari forum ini akan lahir kebijakan dan keputusan penting yang dapat menuntun umat Kristiani menuju kehidupan yang lebih baik, "dengan membawa nilai-nilai kebaikan dan cinta kasih di Tanah Maluku yang kita cintai,” katanya.Kapolda juga menegaskan pentingnya peran Gereja dalam memperkuat semangat persaudaraan dan toleransi di Maluku yang dikenal dengan keragaman suku, ras, dan agama. “Kita ketahui bersama bahwa Maluku ini merupakan wilayah yang memiliki keberagaman luar biasa," ujarnya. Kekuatan dan peran Gereja, kata Kapolda, merupakan bagian penting dalam upaya mempersatukan masyarakat. "Kita berharap GPM dapat terus menumbuhkan semangat optimisme dan menjadi Gereja pemersatu bagi seluruh masyarakat Maluku,” harapnyaOrang nomor 1 Polda Maluku ini juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat sinergi dalam membangun daerah. “Kita semua harus bersatu padu untuk mewujudkan Maluku yang maju, aman, adil, dan makmur. Maluku tarus biking bae, basudara tarus biking bae, dan GPM tarus biking bae,” tutup Kapolda dengan penuh semangat. PNO-12
20 Okt 2025, 12:24 WIT
Diresmikan, Gereja Bethel Siporannu Berdiri Sebagai Jemaat Mandiri GPI di Papua
Papuanewsonline.com, Timika — Sukacita
dan rasa syukur memenuhi hati umat di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, saat Gereja
Protestan Indonesia (GPI) di Papua Jemaat Betel Siporannu resmi berdiri sebagai
jemaat mandiri pada Minggu, 19 Oktober 2025. Peresmian jemaat baru ini
dilakukan secara khidmat oleh Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten
Mimika, Abraham Kateyau, S.E., M.H., yang hadir mewakili Bupati Mimika,
Johannes Rettob, S.Sos., M.M. Acara berlangsung penuh hikmat dan sukacita di
tengah kehadiran ratusan jemaat dan tokoh masyarakat setempat. Dalam sambutan yang dibacakan
oleh Pj. Sekda Mimika, Bupati Johannes Rettob menyampaikan rasa syukur atas
penyertaan Tuhan dalam perjalanan panjang pelayanan GPI di Papua, khususnya
Jemaat Betel Siporannu yang kini telah berdiri sebagai jemaat mandiri. “Hari ini bukan hanya menjadi
momentum sukacita rohani, tetapi juga wujud nyata perjalanan panjang umat Tuhan
yang terus bertumbuh di tengah masyarakat Mimika,” ujar Bupati dalam sambutan
tertulisnya. Momentum ini disebut menjadi
bukti nyata bagaimana gereja di Mimika terus tumbuh dan berkontribusi positif
dalam membangun kehidupan beriman yang kuat, sekaligus memperkokoh rasa
kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk. Sementara itu, Abraham Kateyau
dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran Jemaat Betel Siporannu sebagai
jemaat mandiri bukan hanya menandai pertumbuhan organisasi gereja, melainkan
juga memiliki makna sosial yang mendalam. “Gereja bukan hanya tempat
ibadah, tetapi juga tempat pembinaan generasi muda, pelayanan sosial,
pendidikan iman, dan persekutuan yang mempererat hubungan antarumat,” tuturnya. Ia juga menekankan agar gereja
menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi masyarakat sekitar dalam menumbuhkan
nilai kasih, persaudaraan, dan kepedulian sosial. Dengan semangat kebersamaan,
gereja diharapkan dapat terus menjadi garam dan terang dunia, membawa dampak
nyata bagi lingkungan sekitar. Dalam kesempatan tersebut,
Abraham Kateyau juga menyampaikan harapan agar Jemaat Betel Siporannu terus
berkembang dan memperluas pelayanan, bukan hanya dalam aspek rohani tetapi juga
pemberdayaan sosial dan kemanusiaan. “Apa yang dicapai hari ini adalah
hasil dari ketekunan, doa bersama, dan kesatuan hati umat Tuhan. Kiranya Tuhan
Yesus Kristus memberkati setiap langkah pelayanan hari ini dan ke depan,”
tambahnya. Ia juga berpesan agar seluruh
pelayan gereja dan jemaat tetap rendah hati, menjaga semangat melayani, serta
menjadikan gereja sebagai rumah yang terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan
bimbingan dan kasih Tuhan. Acara peresmian berlangsung dalam
suasana hangat dan penuh sukacita. Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah
syukur, dilanjutkan dengan pemotongan pita sebagai tanda peresmian Jemaat Betel
Siporannu secara resmi sebagai jemaat mandiri GPI di Papua. Turut hadir dalam acara tersebut Ketua
Majelis Pekerja Klasis GPI di Papua Mimika beserta jajarannya, para pendeta,
pelayan jemaat, tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, serta seluruh
jemaat setempat. Momentum bersejarah ini juga
menjadi pengingat akan pentingnya sinergi antara pemerintah, gereja, dan
masyarakat dalam membangun kehidupan yang damai, harmonis, dan penuh kasih di
tanah Mimika. Penulis: Jid Editor: GF
20 Okt 2025, 01:11 WIT
Polda Maluku Apresiasi Festival Benteng Victoria: Tingkatkan Pariwisata dan Perekonomian Masyarakat
Papuanewsonline.com, Ambon - Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Rositah Umasugi S.I.K, memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan Festival Benteng Victoria oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI bersama Pemerintah Provinsi Maluku.Apresiasi tersebut disampaikan Kombes Rositah saat menghadiri kegiatan tersebut mewakili Kapolda Maluku di lapangan Merdeka, kota Ambon, Jumat (17/10/2025).Dengan mengusung tema "Toma Maju Berbudaya" kegiatan yang berlangsung meriah ini dibuka oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya Sugiarto. Turut hadir Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX Kementerian Kebudayaan RI, Gubernur Maluku, Wakil Gubernur Maluku, Sekda Provinsi Maluku, Walikota dan Wakil Walikota Ambon serta Forkopimda Provinsi dan Kota Ambon.Festival Benteng Victoria dilaksanakan dengan tujuan pelestarian dan pengembangan warisan budaya. Ini juga untuk mendorong kreativitas dan inovasi seni dan budaya, serta membangun identitas dan komunitas. "Kami menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan festival benteng Victoria," kata Kabid Humas Kombes Rositah Umasugi.Kegiatan yang dimeriahkan oleh ratusan peserta karnaval budaya nusantara ini, kata Kombes Rositah, dapat meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap budaya serta kerjasama antarbudaya dan Internasional."Semoga kegiatan ini dapat menjadi daya tarik pariwisata bagi wisatawan lokal, nasional maupun internasional sehingga bisa meningkatkan perekonomian di Maluku," harapnya.Polda Maluku, lanjut Kombes Rositah, siap menjamin keamanan dan mendorong peningkatan pariwisata di provinsi Maluku. "Saatnya Maluku bangkit dengan dunia pariwisatanya. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk dapat menjaga situasi kamtibmas yang kondusif," pintanya.Menurutnya, situasi kamtibmas yang kondusif di setiap lokasi wisata akan menumbuhkan rasa aman, nyaman bagi wisatawan yang datang."Semoga Maluku terus aman, agar dunia pariwisata dapat meningkat, yang tentunya berdampak pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," harapnya. PNO-12
18 Okt 2025, 13:12 WIT
Bupati Jayapura Gelar Lomba Pondok Natal 2025 yang Libatkan Juri dari Umat Muslim
Papuanewsonline.com, Jayapura — Menjelang
perayaan Natal tahun 2025, suasana di Kabupaten Jayapura mulai terasa hangat
dan penuh semangat. Pemerintah Kabupaten Jayapura resmi menggelar Lomba Pondok
Natal yang digelar serentak mulai dari Distrik Airu hingga Kaureh, melibatkan
partisipasi masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan budaya. Kegiatan tahunan ini bukan hanya
ajang mempercantik lingkungan dengan hiasan Natal yang meriah, tetapi juga
menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan kreativitas, mempererat
kebersamaan, dan meneguhkan nilai toleransi antarumat beragama yang telah lama
menjadi ciri khas kehidupan di Bumi Kenambai Umbai. Dalam keterangannya kepada awak
media, Bupati Jayapura menegaskan bahwa pelaksanaan lomba tahun ini mengandung
pesan mendalam tentang kebersamaan lintas iman. Menurutnya, panitia penilai
atau dewan juri bukan berasal dari umat Kristen, melainkan dari kalangan umat
Muslim yang turut berperan aktif dalam proses penilaian lomba pondok Natal. “Ini merupakan bentuk nyata dari
toleransi umat beragama di Papua, khususnya di Kabupaten Jayapura,” ujar Bupati
Jayapura dengan penuh semangat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat Jayapura bisa hidup berdampingan,
saling menghormati, dan bekerja sama tanpa melihat perbedaan keyakinan.” Kebijakan tersebut mendapat
apresiasi luas dari berbagai pihak karena dinilai mencerminkan semangat
keberagaman yang kuat di Papua. Lomba ini menjadi bukti bahwa semangat Natal
tidak hanya milik umat Kristen, tetapi juga menjadi momentum bersama untuk memperkuat
persaudaraan antarwarga. Selain menjadi ajang perayaan
rohani, lomba pondok Natal juga diharapkan dapat mendorong inovasi dan
kreativitas masyarakat. Setiap peserta ditantang untuk menampilkan konsep
pondok Natal yang tidak hanya indah dan menarik, tetapi juga memiliki pesan
moral, lingkungan, atau sosial yang kuat. “Melalui kegiatan ini, kami ingin
semua masyarakat Jayapura — tanpa memandang agama atau latar belakang — bisa
berpartisipasi dan menunjukkan semangat gotong royong dalam menyambut Natal,”
lanjut Bupati. Bupati Jayapura juga menekankan
bahwa panitia akan menilai kreativitas berdasarkan unsur artistik, kekompakan
tim, pesan sosial, serta kebersihan lingkungan. Dengan begitu, lomba ini tidak
hanya berfokus pada dekorasi, tetapi juga nilai kebersamaan yang terkandung di
dalamnya. Lomba pondok Natal 2025 ini akan
berlangsung selama beberapa hari di berbagai distrik. Puncak acara akan digelar
di Distrik Jayapura, tempat para pemenang diumumkan dan mendapatkan penghargaan
langsung dari pemerintah daerah. Kegiatan ini juga diharapkan
menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial menjelang pergantian tahun,
sekaligus menunjukkan wajah Jayapura sebagai daerah yang damai dan penuh
harmoni. “Semangat Natal tahun ini bukan
hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang menyalakan lilin kasih dan
toleransi di hati setiap warga Jayapura,” tutup Bupati dengan penuh harapan. Penulis: Hendrik
Editor: GF
16 Okt 2025, 15:54 WIT
Gandeng Tokoh Agama dan Eks JI, Densus 88 Bangun Gerakan Moderasi Beragama di Maluku
Papuanewsonline.com, Ambon – Upaya memperkuat ideologi moderat dan mencegah penyebaran paham ekstremisme terus dilakukan oleh Kepolisian Republik Indonesia melalui Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) AT Polri.Satgaswil Maluku Densus 88 menggelar kegiatan bertajuk “Transformasi Ideologi: Jalan Menuju Wasathiyah” di Hotel Manise, Kota Ambon, pada Selasa (14/10), sebagai bagian dari program edukatif untuk membangun kesadaran kolektif akan pentingnya ideologi sehat dan moderat di tengah masyarakat.Acara ini dihadiri oleh Ketua MUI Provinsi Maluku Prof. DR. KH. Abdullah Latuapo,M.Ag, perwakilan Densus 88 dari Jakarta, serta para mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI) yang kini aktif dalam gerakan rekonsiliasi dan moderasi melalui wadah Rumah Wasathiyah.Sinergi Membangun Narasi DamaiDalam sambutannya, Iptu Irawan Rumasoreng, perwakilan Satgaswil Maluku Densus 88, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tokoh agama dan masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan ini.Ia menekankan pentingnya membangun narasi bersama demi terciptanya Indonesia yang damai, inklusif, dan berideologi moderat.“Transformasi ideologi bukan hanya tentang meninggalkan paham radikal, tapi juga membangun kesadaran baru bahwa Islam rahmatan lil alamin adalah kekuatan utama bangsa ini. Pertemuan ini kami harapkan menjadi titik balik untuk membangun ruang dialog yang sehat antara negara dan umat,” ujar Iptu Irawan.Ia juga menambahkan bahwa inisiatif seperti Rumah Wasathiyah perlu mendapatkan dukungan lintas sektor mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama, hingga masyarakat sipil agar proses transformasi ideologi dapat berkelanjutan.Ketua MUI Maluku: Menjaga Keutuhan Bangsa Melalui Ideologi SehatSementara itu, Ketua MUI Provinsi Maluku KH. Abdullah Latuapo menegaskan bahwa menjaga keutuhan bangsa adalah tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.Menurutnya, transformasi ideologi harus menjadi gerakan bersama untuk menolak ekstremisme dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan.“Para pendiri bangsa kita telah berjuang untuk kemerdekaan. Tugas kita hari ini adalah merawatnya dengan menjaga persatuan dan menolak segala bentuk paham yang memecah belah,” tegas KH. Latuapo.Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih aktif menyuarakan Islam yang damai, toleran, dan menjunjung tinggi prinsip wasathiyah (moderat).Transformasi JI: Dari Radikalisme Menuju ModerasiMomen menarik dalam kegiatan ini adalah pemaparan dari Ustaz Wiji Joko Santoso, mantan tokoh sentral Jemaah Islamiyah (JI) yang kini menjadi penggerak Rumah Wasathiyah.Ia memaparkan proses panjang perubahan ideologis kelompoknya yang telah resmi dideklarasikan pada 30 Juni 2024.“Tahun 2025 adalah tahun kedua sejak kami mendeklarasikan transformasi JI. Kami tegaskan kembali komitmen kami untuk menutup lembaran lama dan membangun masa depan baru bersama negara,” ujar Ustaz Wiji.Ia menjelaskan bahwa Rumah Wasathiyah kini menjadi wadah integrasi sosial bagi mantan anggota JI dengan pendekatan damai dan intelektual.Lembaga ini didukung oleh sembilan dewan pakar lintas profesi mulai dari akademisi, tokoh agama, hingga perwakilan Polri.Film Dokumenter dan Refleksi Setahun TransformasiAcara ini juga menampilkan film dokumenter berjudul “Setahun Transformasi JI”, yang menggambarkan perjalanan, tantangan, serta harapan para mantan anggota JI dalam menempuh jalan kembali ke pangkuan NKRI.Film ini memperlihatkan sisi kemanusiaan, keberanian, dan tekad untuk berubah melalui dakwah damai serta kegiatan sosial kemasyarakatan.Kegiatan ini menjadi bukti nyata sinergi antara aparat keamanan, tokoh agama, dan eks anggota kelompok radikal dalam memperkuat program deradikalisasi dan moderasi beragama di Indonesia.Di akhir kegiatan, seluruh peserta bersepakat untuk terus memperkuat semangat wasathiyah sebagai pijakan bersama dalam menjaga persatuan, toleransi, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). PNO-12
15 Okt 2025, 19:46 WIT
“Merekam Jejak Mimika”: PFI Timika Hadirkan Pameran Foto Bernilai Sejarah
Papuanewsonline.com, Timika -
Suasana hangat dan penuh nostalgia terasa di lantai 2 Diana Mall, Timika,
ketika ratusan pengunjung memadati area pameran foto bertajuk “Mimika Photo
Exhibition 2025” yang diinisiasi oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) Timika.
Pameran bertema “Merekam Jejak Mimika” ini resmi dibuka pada Jumat
(10/10/2025), menampilkan ratusan foto yang menuturkan perjalanan panjang
Kabupaten Mimika — dari masa lalu hingga wajah modern hari ini. Ratusan foto hitam putih dan
berwarna menghiasi dinding pameran. Setiap karya bercerita — mulai dari foto
para kepala daerah pertama Mimika, momen penting pembangunan infrastruktur,
hingga ekspresi kehidupan masyarakat di pelosok pedalaman.
Ada pula dokumentasi perayaan hari besar, potret pelayanan kesehatan, hingga
kegiatan ekonomi rakyat yang merefleksikan denyut kehidupan di kabupaten kaya
sumber daya alam ini. Ketua Panitia Mimika Photo
Exhibition 2025, Joe Situmorang, menjelaskan bahwa pameran ini bukan sekadar
ajang unjuk karya, tetapi ruang untuk mengajak publik memahami perjalanan
sejarah Mimika dalam bingkai visual yang kuat. “Melalui pameran ini, kami ingin
mengajak masyarakat menengok kembali pertumbuhan Mimika — mengenang,
merenungkan, dan merayakan setiap fase pembangunan yang telah dilalui,” ujar
Joe.
“Fotografi adalah medium yang paling jujur. Ia merekam perubahan tanpa bisa
berbohong,” tambahnya dengan penuh semangat. Selain sebagai perayaan HUT ke-29
Kabupaten Mimika, kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi PFI untuk
memperkuat komunitas fotografer lokal. Joe menuturkan, pameran ini bertujuan mengapresiasi
karya pewarta foto, sekaligus mendorong generasi muda Mimika untuk terjun ke
dunia fotografi dan jurnalisme visual. “Foto bukan hanya karya seni,
tetapi juga alat pendidikan dan pembentuk kesadaran sosial. Kami ingin generasi
muda melihat Mimika bukan hanya dari kata, tapi dari gambar yang berbicara,”
jelasnya. Bupati Mimika Johannes Rettob
yang hadir membuka secara resmi pameran tersebut, menyampaikan apresiasi tinggi
kepada PFI Timika. Ia menilai kegiatan ini memiliki makna mendalam karena
berlangsung bertepatan dengan peringatan HUT ke-29 Kabupaten Mimika. “Foto lebih dari sekadar gambar;
ia adalah saksi sejarah dan alat edukasi yang menyampaikan pesan perjuangan,
kemajuan, dan semangat kebersamaan,” ujar Bupati Rettob dalam sambutannya. Dalam kesempatan itu, Rettob juga
menceritakan secara singkat sejarah Mimika, mulai dari masa kolonial Belanda,
masuknya gereja Katolik, pendudukan Jepang, hingga akhirnya menjadi bagian dari
Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Mimika telah melalui banyak fase
sejarah. Dari masa penuh tantangan hingga menjadi daerah maju seperti sekarang.
Sudah sepantasnya kita memiliki ruang permanen untuk mengenang semua itu,”
tuturnya. Dalam pidatonya, Bupati Rettob
mengungkapkan rencana untuk membangun sebuah museum daerah yang akan menampung
dokumentasi foto-foto bersejarah serta artefak peninggalan masa lalu Mimika.
Rencana ini, katanya, menjadi bentuk penghargaan terhadap para tokoh dan
masyarakat yang telah berkontribusi dalam membangun Mimika dari waktu ke waktu. “Foto-foto yang ditampilkan PFI
hari ini adalah aset sejarah. Kami ingin agar jejak seperti ini tidak hilang
dimakan waktu,” tegasnya. Pameran foto ini mendapat
dukungan dari berbagai pihak, di antaranya PT Freeport Indonesia, YPMAK, dan Diana
Mall Timika sebagai tuan rumah kegiatan. Dukungan ini memperlihatkan sinergi
positif antara pemerintah, pelaku industri, dan komunitas kreatif dalam
membangun ekosistem seni dan budaya di Mimika. Selama tiga hari penyelenggaraan
(10–12 Oktober 2025), pengunjung tampak antusias menikmati pameran, berfoto,
dan berdiskusi tentang karya yang ditampilkan. Beberapa sekolah dan komunitas
fotografi lokal juga menjadikan pameran ini sebagai kegiatan edukatif bagi
siswa dan anggota baru. Melalui “Mimika Photo Exhibition
2025”, PFI Timika tidak hanya menghadirkan karya visual, tetapi juga menyulam
kembali kenangan dan semangat kolektif masyarakat Mimika. Dari lensa para
pewarta foto, tergambar jelas bahwa setiap potret adalah potongan waktu — saksi
bisu dari perjuangan, perubahan, dan harapan yang terus tumbuh di Tanah Amungsa
ini. Penulis: Jid Editor: GF
12 Okt 2025, 13:20 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru