logo-website
Rabu, 25 Mar 2026,  WIT
BERITA TAG Budaya Homepage
TIFA Creative Timika Bawa Pesona Papua ke Maluku Tenggara di Festival Meti Kei 2025 Papuanewsonline.com, Maluku Tenggara — Langit sore Pantai Ngur Sarnadan, Ohoililir, menjadi saksi bagaimana semangat budaya dan persaudaraan antar daerah hidup dalam gerak dan irama. Di bawah gemuruh tepuk tangan penonton, TIFA Creative Timika tampil memukau di panggung Festival Meti Kei 2025, Kamis (30/10/2025). Sepuluh penari muda dari Kabupaten Mimika, Papua Tengah, sukses menghadirkan penampilan memikat yang menggabungkan keindahan tarian adat Papua dan nuansa khas budaya Kei. Gerakan penuh semangat, diiringi tabuhan tifa dan nyanyian etnik, menggambarkan kekuatan persatuan dan cinta terhadap tanah air. Bukan sekadar pertunjukan seni, penampilan mereka menjadi simbol kolaborasi budaya antara dua wilayah timur Indonesia yang kaya nilai dan tradisi. “Kami sangat bangga bisa membawa nama Timika ke Festival Meti Kei 2025. Ini bukan hanya tentang menari, tapi tentang memperkenalkan jati diri dan semangat kebudayaan Papua kepada saudara-saudara kami di Maluku Tenggara,” ujar Yosef, Ketua TIFA Creative Timika, dengan wajah penuh haru dan bangga. Dalam penampilannya, TIFA Creative Timika membawakan repertoar bertajuk “Irama Tifa di Bawah Matahari Timur”, sebuah karya tari yang memadukan unsur gerak tradisional Papua dengan gaya tarian Kei yang lembut namun energik. Tema tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan laut, serta semangat gotong royong yang menjadi fondasi budaya di timur Nusantara. Penampilan ini tak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai adat dan harmoni alam. Setiap hentakan kaki dan ayunan tangan para penari membawa penonton larut dalam suasana sakral yang merefleksikan kekuatan spiritual masyarakat Papua. “Kami ingin menunjukkan bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, tapi juga jembatan masa depan. Melalui tarian ini, kami ingin menyatukan perbedaan lewat seni,” tambah Yosef. Festival Meti Kei merupakan acara budaya tahunan yang merayakan fenomena alam “meti”—saat air laut surut dan memperlihatkan hamparan pasir putih yang menghubungkan pulau-pulau di Kepulauan Kei. Fenomena alam unik ini selalu menjadi momentum perayaan besar yang diwarnai dengan pameran budaya, parade seni, dan pertunjukan musik tradisional. Tahun 2025, festival ini menjadi lebih istimewa karena menghadirkan kolaborasi budaya lintas provinsi, termasuk dari Papua Tengah. Pemerintah Daerah Maluku Tenggara juga mengapresiasi partisipasi TIFA Creative Timika sebagai bentuk nyata dari semangat Bhinneka Tunggal Ika. “Kolaborasi seperti ini penting untuk memperkuat jalinan antar daerah di Indonesia Timur. Kehadiran Timika memberikan warna baru dan semangat kebersamaan yang luar biasa,” ujar salah satu panitia Festival Meti Kei 2025. Kehadiran TIFA Creative Timika di ajang ini menjadi bukti bahwa generasi muda Papua memiliki semangat besar untuk mengangkat dan melestarikan kebudayaan lokal. Melalui seni tari, mereka bukan hanya memperkenalkan budaya Papua ke daerah lain, tetapi juga memperkuat jalinan emosional antara masyarakat Papua dan Maluku Tenggara yang selama ini memiliki akar sejarah dan budaya yang saling bersinggungan. “Kami ingin agar anak-anak muda di seluruh Indonesia bisa saling mengenal budaya masing-masing. Dari sinilah kita belajar menghargai perbedaan dan memperkuat persatuan,” pungkas Yosef. Penulis: Hendrik Editor: GF 30 Okt 2025, 22:32 WIT
MRP Papua Selatan Desak Revisi PP 54/2004 untuk Perluas Kewenangan Demi Kadaulatan OAP Papuanewsonline.com, Jayapura — Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Selatan menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 54 Tahun 2004 tentang Majelis Rakyat Papua. Regulasi tersebut dinilai sudah tidak relevan dengan dinamika sosial dan politik terkini, terutama setelah diberlakukannya Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua perubahan kedua. Dalam Pertemuan Asosiasi MRP se-Tanah Papua yang digelar di Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (28/10/2025), Ketua MRP Papua Selatan, Damianus Katayu, menyampaikan bahwa revisi PP 54/2004 sangat mendesak dilakukan agar peran MRP sebagai lembaga representatif kultural Orang Asli Papua (OAP) semakin kuat, tidak hanya bersifat simbolik. “MRP perlu diberikan kewenangan yang lebih luas. Tidak cukup hanya memberi pertimbangan dan rekomendasi terhadap calon gubernur dan wakil gubernur OAP, tapi juga terhadap calon bupati, wakil bupati, wali kota, dan wakil wali kota di seluruh Tanah Papua,” tegas Katayu. Pertemuan lintas-MRP tersebut menjadi ajang penting untuk menyatukan pandangan antarprovinsi, khususnya dalam memperjuangkan afirmasi politik bagi OAP di tingkat nasional. Damianus Katayu juga menyoroti perlunya keterwakilan OAP yang lebih besar di Dewan Perwakilan Daerah (DPD), agar suara masyarakat adat Papua benar-benar terwakili di parlemen pusat. “Kami menilai, selama ini ruang politik bagi OAP masih sangat terbatas. Padahal, semangat Otsus adalah memberikan ruang keadilan, perlindungan, dan pemberdayaan bagi orang Papua dalam menentukan masa depan mereka sendiri,” ujarnya di hadapan para peserta forum. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh tenaga ahli dari Universitas Cenderawasih (Uncen) dan Universitas Papua (Unipa) yang turut memaparkan hasil kajian akademik terkait urgensi perubahan PP 54/2004. Kajian tersebut menyoroti adanya ketimpangan kewenangan antara MRP dan lembaga legislatif maupun eksekutif daerah, sehingga peran MRP dalam menjaga nilai-nilai adat dan budaya belum sepenuhnya efektif. Para akademisi menilai, dalam konteks otonomi khusus, MRP seharusnya tidak hanya menjadi lembaga yang memberikan rekomendasi formal, tetapi juga memiliki fungsi pengawasan dan perlindungan substantif terhadap hak-hak politik, sosial, dan budaya OAP. “MRP harus dilibatkan secara langsung dalam proses pengambilan keputusan strategis, termasuk dalam penentuan kebijakan publik yang berdampak pada masyarakat adat Papua,” papar salah satu tenaga ahli dari Uncen. Pertemuan Asosiasi MRP se-Tanah Papua ini menghasilkan kesepakatan bersama untuk membentuk tim kerja advokasi revisi PP 54/2004 yang akan menyusun draf usulan resmi kepada Pemerintah Pusat melalui Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Hukum dan HAM. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi MRP dalam sistem pemerintahan daerah, sekaligus memastikan semangat Otsus tetap berpihak pada rakyat Papua. “Kami ingin agar Otsus tidak sekadar menjadi program administratif, tetapi benar-benar menjadi jalan bagi masyarakat Papua untuk berdiri tegak dalam martabatnya sendiri,” kata Katayu menutup pertemuan dengan penuh semangat. Penulis: Hendrik Editor: GF   30 Okt 2025, 01:25 WIT
Murka! DAD Mimika Kecam Pembakaran Mahkota Cenderawasih: "Negara Bakar Harga Diri Kami!" Papuanewsonline.com, Mimika — Suasana memanas mewarnai Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Dewan Adat Papua Daerah (DAD) Mimika dan anggota DPRK Mimika, Senin (28/10/2025). Pertemuan itu digelar menyusul tindakan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua yang membakar mahkota adat Cenderawasih, simbol kehormatan masyarakat adat Papua. Aksi pembakaran yang terjadi pada 21 Oktober 2025 itu memicu gelombang kemarahan dari berbagai elemen adat. DAD Mimika menilai tindakan tersebut bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga penghinaan terhadap martabat dan jati diri orang Papua. “Mahkota itu bukan barang bukti, bukan benda ilegal. Itu simbol spiritual dan warisan suci dari leluhur kami. Ketika negara membakarnya, berarti negara telah membakar harga diri dan kehormatan kami,” tegas Ketua Umum DAD Mimika, Vinsent Oniyoma, dalam pernyataan resminya. Mahkota adat Cenderawasih, yang kerap digunakan dalam upacara adat suku Amungme, Kamoro, dan Sempan, dipandang bukan sekadar aksesori, melainkan penanda status, spiritualitas, dan ikatan dengan alam. Menurut Vinsent, tindakan BBKSDA Papua yang mengklaim pembakaran itu sebagai langkah penegakan hukum justru menunjukkan ketidakpekaan terhadap nilai-nilai budaya lokal. “Ini bukan sekadar kesalahan prosedural. Ini bentuk imperialisme budaya, di mana hukum negara menindas hukum adat. Negara seharusnya melindungi adat, bukan menghancurkannya,” ujar Vinsent dengan suara bergetar menahan emosi. DAD Mimika menilai insiden ini memperlihatkan masih lemahnya pelaksanaan Otonomi Khusus (Otsus) yang seharusnya menjadi jaminan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat Papua. Dalam RDP yang berlangsung di ruang rapat DPRK Mimika itu, DAD Mimika membacakan lima poin tuntutan resmi kepada pemerintah pusat dan daerah: Pertama, Permintaan maaf terbuka dari Pemerintah RI dan Kementerian LHK kepada masyarakat adat Papua. Kedua, Pencopotan Kepala BBKSDA Papua yang dianggap bertanggung jawab atas insiden pembakaran mahkota adat. Ketiga, Revisi terhadap Permen LHK yang dinilai belum berpihak pada perlindungan benda adat dan budaya lokal. Keempat, Penguatan peran Majelis Rakyat Papua (MRP) sebagai lembaga kultural yang menjaga kehormatan adat. Kelima, Ratifikasi Konvensi ILO No. 169 tentang hak-hak masyarakat adat serta pengesahan Perda Perlindungan Masyarakat Adat oleh DPRK Mimika. “Kalau negara sungguh menghormati Papua, maka hormati pula adat dan simbol-simbol yang kami junjung. Jangan biarkan hukum negara menindas hukum adat,” ujar salah satu anggota DAD dalam forum. Di akhir RDP, Vinsent Oniyoma kembali menegaskan posisi masyarakat adat Papua dalam bingkai kebangsaan. Ia menyatakan bahwa orang Papua bukan anti-negara, melainkan bagian dari bangsa yang menuntut pengakuan dan penghormatan yang sejati. “Kami bukan musuh negara, tapi kami juga bukan budak dari hukum yang buta terhadap adat. Kami akan terus berdiri tegak menjaga simbol-simbol suci warisan leluhur kami,” tegasnya disambut tepuk tangan para tokoh adat dan masyarakat yang hadir. DAD Mimika berkomitmen untuk mengawal proses ini hingga tuntas, dan siap membawa isu ini ke tingkat nasional bila tidak ada respons konkret dari pemerintah pusat. Penulis: Abim Editor: GF   28 Okt 2025, 21:58 WIT
Satgas Humas Ops Damai Cartenz Berbagi Bersama Warga dan Anak-Anak di Jayapura Papuanewsonline.com, Jayapura - Satgas Humas Operasi Damai Cartenz menggelar kegiatan sosial berbagi bersama warga dan anak-anak di Kelurahan Gurabesi serta Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Minggu (26/10). Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian Polri dalam mempererat hubungan dengan masyarakat sekaligus menciptakan kedamaian di Tanah Papua.Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H., mengatakan bahwa kegiatan sederhana ini memiliki makna besar dalam membangun suasana damai di Papua.“Terlihat memang ini hal yang kecil, tapi dampaknya bagi damainya Papua itu yang terpenting,” ujar Brigjen Pol. Faizal Ramadhani dalam keterangannya.Sementara itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol. Adarma Sinaga, S.I.K., M.Hum., menambahkan bahwa kegiatan sosial ini juga menjadi momen memperkuat kedekatan personel dengan masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, anggota Satgas Humas membagikan makanan ringan serta melakukan interaksi langsung dengan warga dan anak-anak setempat.Acara yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIT hingga selesai itu diisi dengan kegiatan berbagi, canda, dan kebersamaan. Suasana penuh keakraban terlihat antara personel Satgas Humas Ops Damai Cartenz dan warga, mencerminkan semangat damai yang diusung oleh Operasi Damai Cartenz.Kegiatan berbagi ini diharapkan menjadi langkah kecil namun berarti dalam memperkuat rasa persaudaraan dan kepercayaan masyarakat terhadap Polri di Papua. PNO-12 28 Okt 2025, 10:20 WIT
Wujud Peduli Sesama, Humas Polri Berikan Tali Asih Kepada 100 Anak Yatim Papuanewsonline.com, Jakarta - Divisi Humas Polri memberikan tali kasih kepada sejumlah anak yatim dalam rangka Hari Jadi ke-74. Kegiatan ini diselenggarakan usai khataman Al-Qur’an yang melibatkan 74 orang Tahfiz Quran dari sejumlah pesantren beserta personel anggota Divhumas Polri.Pendamping Yatim dari Yayasan BSC Al Futuwwah Cipete, Ust. Achmad Suluki, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini. Dia bersyukur peringatan hari jadi dirayakan dengan kegiatan positif.“Alhamdulillah hari jadi Divisi Humas Polri yang ke-74 ini dawali dengan kegiatan yakg sangat positif dengan diadakannya khotmul Qur’an serta santunan yatim sebanyak 100 anak,” ujarnya, Senin (27/10/25).Ia menilai, kegiatan ini menunjukan Divisi Humas Polri yang relegius serta humanis adalah bentuk nyata dari Divisi Humas Polri. Ucapan terima kasih pun disampaikan kepada Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Sandi Nugroho atas kepeduliannya kepada anak yatim dengan cara berbagi kebahagiaan.“Semoga ke depannya Divisi Humas yang dipimpin oleh bapak Irjen Pol. Sandi Nugroho lebih baik lagi dan semakin maju, sukses doa kami semoga dalam menjalankan tugasnya selalu dalam lindungan Allah SWT serta dalam bimbingan dan taufiq hidayahnya serta diberikan keselamatan,” ungkapnya.Diketahui, dalam kegiatan ini juga diisi ceramah oleh Ust. H. Taufiqurrahman S.Q. Ust. Taufiqurrahman pun mengucapkan selamat kepada Divisihumas Polri atas hari jadi yang ke-74.“Selamat Milad Humas Polri yang ke-74, sebagai ungkapan tanda bersyukurnya di hari ini mengundang 74 para hafidz dan hafidzah quran 30 juz dan menyantuni sampe 74 anak-anak Yatim.Ia bersyukur bahwa peringatan hari jadi ini diperingati dengan cara khatam Al-Qur’an. Diyakini dengan kegiatan ini, ke depan pasti akan menambah keberkahan, Istiqomah, dan mendatkan ridho Allah SWT. PNO-12 28 Okt 2025, 10:13 WIT
Jelang Hari Jadi ke-74, Divhumas Polri Gelar Khataman Al-Qur’an Papuanewsonline.com, Jakarta - Divisi Humas Polri menggelar khataman Al-Qur’an menjelang peringatan hari jadi ke-74. Khataman ini melibatkan 74 orang Tahfiz Quran dari sejumlah pesantren beserta personel anggota Divhumas Polri.Khataman ini dilaksanakan hingga menjelang waktu salat dzuhur dilanjutkan dengan Doa Khatmil Quran yang dipimpin oleh Ust. H. Ali Kholidin S.Q., M.Ag. Ia pun mengapresiasi kegiatan yang rutin diadakan jelang peringatan hari jadi Divhumas Polri ini.“Selamat hari jadi humas polri ke 74, terima kasih kepada Mabes Polri, terutama Kadivhumas Polri telah menyelenggarakan acara khotmil quran sebanyak 74 khataman,” ungkapnya, Senin (27/10/25).Menurutnya, kegiatan ini diharapkan menjadi berkah bagi jajaran Divhumas Polri. "Ini merupakan berkah tersendiri bagi Polri, melalui firman-firman Tuhan yang dibacakan pada hari jadi Humas ke-74, mudah-mudahan ayat-ayat yang dibacakan membawa keberkahan bagi Polri terutama personel Divhumas Polri," ujarnya.Dalam kegiatan ini juga diisi ceramah oleh Ust. H. Taufiqurrahman S.Q. Ust. Taufiqurrahman pun mengucapkan selamat kepada Divisihumas Polri atas hari jadi yang ke-74.“Selamat Milad Humas Polri yang ke-74, sebagai ungkapan tanda bersyukurnya di hari ini mengundang 74 para hafidz dan hafidzah quran 30 juz dan menyantuni sampe 74 anak-anak Yatim,Ia bersyukur bahwa peringatan hari jadi ini diperingati dengan cara khatam Al-Qur’an. Diyakini dengan kegiatan ini, ke depan pasti akan menambah keberkahan, Istiqomah, dan mendatkan ridho Allah SWT. PNO-12 28 Okt 2025, 09:29 WIT
Subuh Berjamaah di Masjid As-Syifa, Kapolda Maluku: Perkuat Hubungan Toleransi Beragama Papuanewsonline.com, Ambon - Selain menyampaikan pesan pentingnya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), Kepala Kepolisian Daerah Maluku, Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si, juga mengajak masyarakat untuk memperkuat hubungan toleransi antar umat beragama.Penekanan ini disampaikan Kapolda saat menjalankan ibadah sholat subuh berjamaah dengan masyarakat di Masjid As-Syifa, Lorong Silale, Air Kuning, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Minggu (26/10/2025).Sholat subuh keliling yang dilaksanakan Kapolda menjadi agenda rutin Polda Maluku yang bertujuan untuk memperkuat hubungan silaturahmi antara aparat kepolisian dengan masyarakat melalui pendekatan keagamaan, termasuk memperkokoh situasi kamtibmas agar selalu kondusif.Pada momen tersebut, Kapolda didampingi Dirpolairud, dan Dansat Brimob Polda Maluku, Kapolsek Sirimau beserta personel.Usai melaksanakan sholat subuh berjamaah, Kapolda Maluku menyempatkan diri berinteraksi langsung dengan para jamaah dengan suasana penuh kekeluargaan. Dalam kesempatan itu, Kapolda menyampaikan pesan-pesan kamtibmas. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan kerukunan antarumat beragama di Maluku.“Kegiatan seperti ini bukan hanya semata ibadah, tetapi juga sebagai sarana memperkuat silaturahmi antara Polri dan masyarakat. Kami ingin hadir di tengah-tengah masyarakat, mendengarkan langsung apa yang menjadi keluhan, harapan, dan aspirasi jamaah. Dengan demikian, Polri dapat memberikan pelayanan yang lebih dekat dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” katanya.Kapolda menegaskan pendekatan keagamaan merupakan salah satu langkah konkret yang terus dilakukan Polda Maluku dalam menjaga situasi kamtibmas di wilayah hukum Polda Maluku. Melalui kegiatan spiritual seperti ini, diharapkan muncul kesadaran kolektif bahwa menjaga keamanan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab bersama.Orang nomor 1 Polda Maluku ini juga mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan antarumat beragama di Maluku yang selama ini dikenal memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Masyarakat Maluku diminta untuk menjadi contoh bagi daerah lain dalam hal kerukunan dan kebersamaan.“Maluku ini diberkahi dengan keberagaman agama dan budaya. Keberagaman itu harus kita jaga, jangan sampai ternodai oleh hal-hal yang dapat memecah belah. Mari kita jaga kerukunan dan kedamaian dengan saling menghormati dan membantu sesama. Toleransi adalah kekuatan besar yang membuat Maluku tetap aman dan damai,” ungkapnya.Kapolda juga mengajak jamaah agar lebih bijak dalam menyikapi isu-isu yang berkembang, terutama di era digital saat ini. Ia menekankan, banyak persoalan sosial yang muncul karena penyebaran informasi yang tidak benar melalui media sosial.“Apabila ada persoalan atau isu yang menimbulkan keresahan, jangan cepat terprovokasi. Laporkan kepada pihak berwajib agar bisa ditindaklanjuti dengan cara yang benar. Hindari menyebarkan informasi yang belum tentu benar karena dapat menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat,” imbuhnya.Menjaga keamanan dan ketertiban, lanjut Kapolda, bukan hanya tugas aparat kepolisian semata, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh komponen masyarakat. Polri tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan dan partisipasi aktif masyarakat.“Kami mengajak seluruh jamaah dan masyarakat untuk terus berbuat baik, memperkuat kepedulian sosial, serta saling menjaga satu sama lain. Bila kita bersama-sama menjaga lingkungan dan saling menasehati dalam kebaikan, maka keamanan dan kedamaian akan tercipta dengan sendirinya,” pesan Kapolda.Kapolda juga mengingatkan kehidupan beragama yang kuat akan melahirkan masyarakat yang damai dan berkarakter. Dengan menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan sosial, masyarakat akan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman tanpa mudah terprovokasi atau terpecah belah. PNO-12 28 Okt 2025, 08:19 WIT
Kapolda Maluku Jalin Silaturahmi Bersama Jemaat GPM di Gereja Eden Kudamati Papuanewsonline.com, Ambon - Kepala Kepolisian Daerah Maluku, Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si, terus melaksanakan kegiatan silaturahmi dengan masyarakat yang dirangkai dengan penyampaian pesan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).Hari ini, Minggu (26/10/2025), Orang nomor 1 Polda Maluku tersebut menemui Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) di Gereja Eden Kudamati, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.Program rutin Polda Maluku ini bertujuan untuk mempererat hubungan antara Polri dengan masyarakat, khususnya tokoh-tokoh agama serta jemaat di berbagai tempat ibadah umat beragama.Saat bertemu dan menyapa para jemaat gereja Eden Kudamati, Klasis Pulau Ambon, ajang silaturahmi Kapolda berlangsung penuh kehangatan, kekeluargaan, dan disambut penuh antusias.Mengawali sambutannya, Kapolda Maluku mengajak seluruh jemaat untuk memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan kasih-Nya kegiatan silaturahmi dapat terlaksana dengan baik.Kapolda juga menyampaikan terima kasih atas kesempatan dan waktu yang diberikan oleh pihak gereja dan jemaat untuk dapat bersilaturahmi secara langsung."Kegiatan ini merupakan program rutin yang dilaksanakan oleh Polda Maluku, bukan hanya di gereja tetapi juga di seluruh tempat ibadah umat beragama lainnya. Selain itu, kami juga secara berkala mengunjungi tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan berbagai lapisan masyarakat. Seluruh elemen dari tingkat atas hingga bawah kami gerakkan untuk hadir di tengah masyarakat," ujar Kapolda.Kapolda menjelaskan, tujuan utama kegiatan ini adalah membangun hubungan yang baik antara Polri dan masyarakat. Sebab, hubungan yang harmonis merupakan kunci terciptanya situasi kamtibmas yang kondusif.“Hubungan yang baik akan melahirkan komunikasi yang baik pula. Dengan komunikasi yang terbuka, setiap permasalahan dan keluh kesah masyarakat dapat diselesaikan dengan cara yang baik, beradab, dan penuh kesejukan,” tegasnya.Pada kesempatan tersebut, Kapolda juga menyampaikan rasa syukurnya atas keberagaman budaya, suku, dan agama di Maluku yang menjadi kekayaan sekaligus kekuatan besar bagi daerah ini.“Sejak saya ditugaskan di Maluku, saya melihat betapa indahnya keberagaman yang ada. Maluku ini luar biasa, masyarakatnya hidup dengan semangat solidaritas, toleransi, dan gotong royong yang tinggi. Ini yang membuat Maluku dikenal dunia sebagai daerah yang damai dan berbudaya,” ungkapnya.Lebih lanjut Kapolda menekankan, situasi aman, damai, tertib, dan kondusif yang dinikmati masyarakat saat ini harus terus dijaga bersama. Ia mengibaratkan keamanan dan kedamaian seperti kesehatan, yang baru benar-benar dirasakan nilainya ketika sudah hilang.“Aman, damai, tertib, dan kondusif itu tidak datang dengan sendirinya. Diperlukan upaya dan kerja sama semua pihak TNI, Polri, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat untuk mewujudkannya. Maluku yang indah ini harus terus dijaga agar tidak terganggu oleh konflik atau kekerasan,” pintanya.Kapolda juga menyoroti salah satu tantangan besar yang dihadapi masyarakat Maluku saat ini adalah tingginya kasus kekerasan, baik yang terjadi di lingkungan rumah tangga maupun antarindividu yang terkadang berkembang menjadi konflik kelompok.“Dari laporan yang kami terima, banyak tindak pidana yang berakar pada kekerasan. Jika budaya kekerasan ini tidak diubah, maka sulit bagi kita untuk mewujudkan situasi yang aman dan damai. Untuk itu, kesadaran hukum perlu kita tingkatkan. Bila terjadi persoalan, selesaikan dengan cara yang baik, laporkan kepada pihak berwajib, jangan bertindak sendiri,” harapnya.Polri, khususnya Polda Maluku, kata Kapolda, siap melayani masyarakat kapan pun dibutuhkan. Pendekatan secara kekeluargaan dan dialogis menjadi kunci utama dalam mengatasi setiap persoalan sosial di masyarakat.Peran orang tua, ingat Kapolda, penting dilakukan untuk mengawasi anak-anak di era digital. Dunia maya, memiliki pengaruh besar terhadap perilaku generasi muda.“Fungsi kontrol dari orang tua terhadap penggunaan media sosial anak-anak sangat penting. Dunia maya itu luas, penuh informasi, tetapi juga banyak bahaya di dalamnya. Orang tua harus hadir dalam memberikan bimbingan dan pembelajaran di rumah. Pendidikan karakter anak dimulai dari keluarga,” pesan Kapolda.Selain itu, Kapolda juga menyoroti bahaya penyalahgunaan narkoba yang saat ini menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Ia mengajak seluruh jemaat untuk berani melapor bila mengetahui adanya penyalahgunaan atau peredaran narkoba di lingkungan sekitar.“Kekuatan kita ada pada keberanian untuk menolak dan melaporkan penyalahgunaan narkoba. Polri terus berkomitmen melakukan pemberantasan terhadap narkoba, namun dukungan masyarakat adalah kunci keberhasilan,” tegas Kapolda.Menutup arahannya, Kapolda menyampaikan pesan penuh semangat dengan gaya khas Maluku yang hangat dan bersahabat: “Maluku tarus biking bae, Basudara tarus biking bae, Gereja Eden Kudamati tarus biking bae. Syalom!Seluruh jemaat menyambut positif pesan-pesan kamtibmas yang disampaikan Kapolda Maluku, sebagai bentuk dukungan terhadap upaya Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban di tanah Maluku yang penuh keberagaman.Pada kegiatan tersebut, Kapolda hadir didampingi Kabid Hukum, dan Kepala SPKT Polda Maluku, Wakapolresta Pulau Ambon & P. P. Lease, Kapolsek Nusaniwe beserta personel. PNO-12 28 Okt 2025, 08:02 WIT
Yance Boyau: "Mimika We" Tak Representasi Adat Kamoro, Pemda Diminta Lebih Hati-Hati Papuanewsonline.com, Timika - Tokoh masyarakat Kamoro, Yance Boyau, menilai pembentukan lembaga masyarakat hukum adat "Mimika We" belum melalui verifikasi publik secara adat yang memadai. Ia berharap Pemerintah Daerah (Pemda) Kab. Mimika, Provinsi Papua Tengah, mengedepankan verifikasi adat dan merujuk pada cerita serta sejarah yang memiliki kebenaran publik dalam proses penyatuan dan rekonsiliasi masyarakat adat. Hal ini penting agar tidak menimbulkan multi tafsir bagi warga adat Amungme dan Kamoro selaku dua suku besar di Bumi Amungsa Mimika. Yance menjelaskan, Kamoro identik dengan manusia hidup, dengan cerita dasar pertemuan antara roh halus manusia dasar laut dengan seorang manusia hidup orang Kamoro saat memeluk patung yang diberi roh. Ia mempertanyakan asal nama Mimika yang menurutnya hanyalah sebutan dengan ungkapan awal "Mumuika" yang salah diterjemahkan. "Mimika merupakan nama ikatan keluarga besar yang dipakai ketika orang Kamoro keluar daerah, jadi Mimika We merupaka singkatan dan Mimika dikenal ketika agama masuk, dan Kamoro sudah lebih dahulu ada," ujarnya. (23/10/25) Menurut Yance, sebutan "Mimika" berasal dari penggalan kata yang disebut saat seseorang bertanya dan adanya kata "Mumuika". Ia menegaskan bahwa "Mimika We" secara historis belum dapat mengakomodir segenap warga Kamoro atau Amungme jika dilihat dari segi adat dan budaya suku Kamoro dan/atau amungme. "Mimika We ini segelintir orang yang dalam bahasa adat wakateme, sedangkan Kamoro sudah lebih dulu ada," ujar Yance penuh keyakinan. Ia mengharapkan peran dan etiket baik dari Pemda Mimika untuk dapat mengidentifikasi sumber sejarah dengan baik, sehingga tidak meninggalkan sejarah baru yang keliru bagi warga Kamoro dan Amungme beserta generasi penerusnya. "Sehingga mau rombak nama maka kita kumpulkan tetua adat dan duduk bicara dulu, Kamoro tidak bisa dirubah dengan Mimika We," tegas Yance. Ia juga mengingatkan bahwa Presiden Prabowo juga merupakan pendiri LEMASA dan LEMASKO. "Pa Presiden sekarang ini Pa Prabowo juga merupakan salah satu pendiri Lemasa dan Lemasko karena dia yang turut mendanai, saya saksi hidup yang dibawa dan jadi Kopassus saat itu beliau masi Danjen Kopassus," tutup Yance.   Penulis: Jid Editor: GF 27 Okt 2025, 00:29 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT