logo-website
Sabtu, 11 Apr 2026,  WIT
Berita Pilihan Redaksi Homepage
Dana Raksasa Mengendap di Kas Daerah, Yohanes Kemong Desak Audit Total APBD Mimika Papuanewsonline.com, Mimika — Polemik besar kembali mencuat di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, setelah muncul laporan adanya dana daerah dalam jumlah fantastis yang masih mengendap di kas pemerintah kabupaten. Anggota DPR Provinsi Papua Tengah, Yohanes Kemong, dengan tegas mempertanyakan kejelasan pengelolaan dana tersebut dan mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) serta Kejaksaan Republik Indonesia untuk segera turun tangan melakukan audit menyeluruh. Kontroversi ini berawal dari pernyataan Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang mengungkapkan bahwa terdapat dana sekitar Rp2,4 triliun yang tersimpan di kas daerah Kabupaten Mimika. Namun, Bupati Mimika kemudian mengklarifikasi bahwa jumlah yang sebenarnya adalah Rp1,1 triliun. Bagi Yohanes Kemong, angka tersebut tetaplah tidak masuk akal dan mencerminkan lemahnya tata kelola keuangan daerah. “Dana sebesar Rp1,1 triliun itu bukan angka kecil. Ini adalah uang rakyat Mimika yang seharusnya digunakan untuk membangun, bukan disimpan begitu saja di kas daerah,” tegas Yohanes dengan nada serius. Yohanes menyoroti bahwa sejak Januari hingga Oktober 2025, belum ada tanda-tanda pelaksanaan program pembangunan baru di Kabupaten Mimika. Padahal, visi dan misi Bupati Mimika yang menjanjikan pembangunan dari kampung ke kota belum terlihat terwujud. “Sudah hampir satu tahun berjalan, tapi masyarakat di kampung belum merasakan satu pun hasil pembangunan baru. Semua proyek yang ada hanyalah kelanjutan dari pemerintahan sebelumnya,” ujar Yohanes. Ia juga menyinggung program prioritas nasional dari Presiden Republik Indonesia yang seharusnya didukung pemerintah daerah, namun belum terealisasi. “Bagaimana mungkin pembangunan nasional bisa berjalan kalau dana sebesar itu hanya diam di rekening kas daerah?” imbuhnya dengan nada kecewa. Politisi asal Mimika itu mempertanyakan peruntukan dana yang sudah hampir setahun mengendap tanpa digunakan secara optimal. Menurutnya, kondisi ini sangat janggal mengingat perubahan APBD telah selesai dan masa tutup anggaran tinggal beberapa bulan lagi. “Pertanyaannya, dana sebesar ini disimpan untuk siapa? Diperuntukkan untuk apa? Dan bunga dari uang yang tersimpan selama hampir satu tahun itu—masuk ke rekening siapa?” ucapnya tajam. Yohanes menilai bahwa pemerintah daerah telah melakukan kelalaian besar dalam pengelolaan anggaran publik. Ia menegaskan, seharusnya uang sebesar itu sudah dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki infrastruktur jalan, jembatan, sekolah, serta layanan kesehatan di kampung-kampung. “Jangan sampai rakyat yang menjadi korban dari lemahnya manajemen keuangan pemerintah daerah,” tambahnya. Yohanes Kemong bahkan membandingkan kondisi ini dengan masa kepemimpinan bupati sebelumnya seperti Clementina dan Eltinus Omaleng, yang menurutnya tidak pernah membiarkan dana miliaran, apalagi triliunan rupiah, mengendap begitu lama tanpa realisasi. “Zaman dulu, uang daerah cepat digunakan untuk pembangunan. Sekarang, uangnya besar tapi hasilnya tidak ada. Ini sangat disayangkan,” ujarnya. Ia menilai fenomena ini menandakan buruknya manajemen fiskal dan lemahnya visi pembangunan daerah. Dengan jumlah anggaran yang begitu besar, seharusnya Kabupaten Mimika dapat menjadi contoh kemajuan bagi daerah lain di Papua Tengah. Melihat ketimpangan antara besarnya dana dan minimnya hasil pembangunan, Yohanes Kemong mendesak BPK untuk memblokir sementara dana kas daerah tersebut agar tidak disalahgunakan. Selain itu, ia juga meminta Kejaksaan Agung RI untuk melakukan penyelidikan mendalam terkait sumber, penggunaan, dan penempatan dana APBD Mimika tahun anggaran 2025. “Kami ingin tahu dengan jelas: dana sebesar ini untuk apa, dikelola oleh siapa, dan mengapa tidak ada realisasi pembangunan di lapangan. Jangan sampai uang rakyat ini diputar untuk kepentingan segelintir pihak,” tegasnya. Menurutnya, keterlibatan lembaga hukum sangat penting agar publik mendapatkan kepastian dan keadilan, sekaligus menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah. Yohanes juga menyoroti lemahnya transparansi dan komunikasi publik Pemerintah Kabupaten Mimika. Ia menilai bahwa laporan penggunaan APBD tidak pernah disampaikan secara terbuka kepada masyarakat maupun DPRD, padahal hal tersebut merupakan kewajiban konstitusional. “Ini sangat fatal dan mencoreng tata kelola pemerintahan yang baik. Uang rakyat harus dikelola secara terbuka, karena rakyat berhak tahu ke mana uang mereka dibelanjakan,” ujarnya dengan nada tegas. Ia mengingatkan bahwa pemerintah daerah seharusnya menjadi teladan dalam akuntabilitas, bukan justru menimbulkan kecurigaan. “Kalau pemerintah menutup-nutupi, rakyat akan kehilangan kepercayaan. Dan ketika kepercayaan itu hilang, pemerintahan tidak lagi punya legitimasi moral,” pungkasnya. Penulis: Jid Editor: GF   25 Okt 2025, 04:35 WIT
Lestarikan Budaya Lewat Musik! Pj Sekda Papua Apresiasi Lomba Akustik Pemuda Papuanewsonline.com, Jayapura — Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun 2025, Pemerintah Provinsi Papua menggelar Lomba Musik Akustik tingkat SMA/SMK yang berlangsung meriah di GOR Cenderawasih, Jayapura, pada Jumat (24/10/2025). Kegiatan yang diikuti oleh puluhan pelajar dari berbagai sekolah di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Keerom ini tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat musik, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya dan rasa cinta Tanah Air di kalangan generasi muda. Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Provinsi Papua, Suzana D. Wanggai, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas para pelajar yang menampilkan karya musik dengan semangat kebersamaan dan nasionalisme. “Kita sangat mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan ruang bagi anak-anak kita untuk mengekspresikan diri, menumbuhkan kreativitas, serta menanamkan nilai kerja sama dan kebersamaan. Dari sini mereka belajar menjadi pemimpin, sekaligus motivator bagi teman-temannya,” ujar Suzana. Dalam kesempatan tersebut, Suzana menekankan bahwa musik memiliki kekuatan untuk menyatukan perbedaan dan membangun karakter anak muda Papua. Menurutnya, kegiatan semacam ini bukan hanya hiburan, tetapi juga bentuk pembelajaran sosial yang membangun nilai gotong royong, komunikasi, dan tanggung jawab bersama dalam satu tim. “Musik akustik mengajarkan anak-anak kita bagaimana membangun satu tim yang solid. Dalam bermusik, mereka belajar mendengarkan satu sama lain agar tercipta harmoni. Itu adalah pelajaran berharga bagi kehidupan mereka ke depan,” jelasnya. Suzana menilai lomba ini juga menjadi simbol dari semangat Sumpah Pemuda 1928, di mana generasi muda berkomitmen bersatu dalam keberagaman demi Indonesia yang lebih baik. Ia berharap kegiatan semacam ini terus dilaksanakan setiap tahun dengan melibatkan lebih banyak sekolah dan komunitas pemuda di berbagai daerah Papua. Sementara itu, Plt Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi Papua, Sonya Monim, menyebutkan bahwa lomba musik akustik ini diikuti oleh 15 tim pelajar SMA/SMK. Setiap tim diwajibkan membawakan lagu nasional “Bangun Pemuda/Pemudi” serta satu lagu daerah pilihan. Sonya menjelaskan bahwa konsep akustik dipilih karena genre ini digemari kalangan muda Papua dan relatif mudah dipadukan dengan unsur musik daerah. “Kami memilih musik akustik karena anak-anak Papua sangat kreatif dan banyak yang punya bakat di bidang musik. Dari lomba ini, kami ingin menggali dan mengembangkan potensi mereka agar bisa terus berkarya,” ungkapnya. Ia menambahkan, lomba musik akustik ini juga memiliki misi penting, yaitu melestarikan bahasa ibu dan budaya lokal di tengah arus modernisasi yang begitu cepat. “Sekarang banyak anak muda yang lebih mengenal istilah asing daripada bahasa daerahnya sendiri. Kami ingin lewat lomba ini mereka kembali mengenal dan bangga akan bahasa serta budaya Papua,” tegas Sonya. Kegiatan ini bukan sekadar lomba hiburan, melainkan gerakan kebudayaan untuk menjaga eksistensi bahasa dan musik daerah di tengah perkembangan zaman. Sonya menegaskan bahwa pemerintah daerah ingin menanamkan kesadaran kepada generasi muda bahwa budaya adalah jati diri bangsa. “Musik daerah dan bahasa ibu adalah warisan yang harus dijaga. Anak-anak boleh modern, boleh berinovasi, tapi jangan sampai lupa akar budaya mereka,” katanya. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat menumbuhkan semangat nasionalisme sekaligus memperkuat rasa bangga terhadap identitas ke-Papua-an di kalangan remaja. Pemerintah Provinsi Papua juga berencana untuk menjadikan kegiatan ini sebagai agenda tahunan dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda. Menutup sambutannya, Pj Sekda Suzana D. Wanggai berpesan agar generasi muda Papua tidak hanya menjadi penonton dalam kemajuan bangsa, tetapi juga menjadi pelaku perubahan yang kreatif, berbudaya, dan berkarakter. “Kita ingin pemuda Papua menjadi generasi yang bangga akan budayanya, cinta tanah air, dan punya semangat untuk berkontribusi bagi kemajuan daerah,” ucapnya dengan penuh semangat. Ia juga menyampaikan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus terus dijaga dalam setiap karya dan tindakan nyata anak-anak Papua. “Lewat musik, kita bisa menyatukan hati dan mengobarkan semangat kebangsaan,” tambahnya. Penulis: Jid Editor: GF   25 Okt 2025, 04:33 WIT
Trans-Papua Dikebut! Gubernur Papua Tegaskan Konektivitas Jadi Kunci Utama Pertumbuhan Ekonomi Papuanewsonline.com, Jakarta — Pembangunan infrastruktur di Tanah Papua kembali menjadi sorotan utama dalam pertemuan strategis antara Gubernur Papua Matius Fakhiri dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dalam pertemuan yang berlangsung di Jakarta, Kamis (23/10/2025), Gubernur Fakhiri menegaskan bahwa konektivitas antarwilayah adalah fondasi utama bagi percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan di Papua. Menurut Fakhiri, pemerintah daerah dan pusat harus bekerja sinergis untuk memastikan proyek-proyek strategis, seperti Jalan Trans-Papua dan pengembangan jaringan transportasi multimoda, dapat diselesaikan sesuai target. “Pembangunan Papua tidak bisa dilepaskan dari upaya memperkuat konektivitas. Jalan Trans Jayapura–Wamena, misalnya, harus benar-benar tembus dan memiliki kualitas yang baik,” ujar Fakhiri usai pertemuan. Fakhiri menegaskan bahwa pembangunan Trans-Papua bukan sekadar proyek jalan, melainkan simbol integrasi dan pemerataan ekonomi di Tanah Papua. Dengan jalur darat yang tembus dari pesisir hingga pegunungan, Papua akan memiliki fondasi kuat untuk menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru yang selama ini sulit diakses karena keterbatasan transportasi. “Ketika transportasi darat, laut, dan udara terhubung dengan baik, maka distribusi logistik akan lebih cepat, biaya turun, dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa pembangunan konektivitas akan memangkas biaya pengiriman barang, memperlancar akses pendidikan dan kesehatan, serta membuka peluang investasi di berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata. Menurutnya, hal ini akan menjadi langkah nyata dalam mengurangi kesenjangan antarwilayah di Papua. Dalam arah kebijakannya, Gubernur Fakhiri menekankan pentingnya pemerataan pembangunan agar tidak hanya berfokus pada kota besar atau wilayah pesisir. “Kita ingin Papua tumbuh merata. Jangan hanya pesisir dan kota yang maju, tapi daerah pegunungan juga harus bisa menikmati akses dan harga kebutuhan pokok yang terjangkau,” tegasnya. Ia mengungkapkan bahwa banyak daerah pegunungan di Papua masih menghadapi kesulitan akses transportasi, yang berdampak pada tingginya harga kebutuhan pokok. Dengan rampungnya proyek-proyek konektivitas seperti Trans Jayapura–Wamena dan jalur lintas selatan Papua, pemerintah berharap harga barang di wilayah pegunungan dapat menurun secara signifikan dan roda ekonomi lokal bisa berputar lebih cepat. Selain pembangunan jalan, Fakhiri juga menyampaikan bahwa Pemprov Papua bersama pemerintah pusat sedang menyiapkan langkah-langkah untuk memperkuat transportasi laut dan udara antarwilayah. Khususnya, peningkatan armada laut di wilayah pesisir utara seperti Sarmi, Yapen, dan Waropen, yang berperan penting dalam menghubungkan distribusi barang ke daerah-daerah terpencil. “Kami juga fokus pada penguatan logistik laut. Karena tidak semua wilayah bisa dijangkau jalan darat, maka kapal dan pelabuhan harus siap mendukung pergerakan ekonomi antarwilayah,” jelasnya. Menurutnya, langkah ini akan memperkuat rantai pasok dan menumbuhkan potensi perdagangan lokal antarwilayah di Papua, yang selama ini masih bergantung pada distribusi dari luar daerah. Fakhiri menyambut positif komitmen pemerintah pusat dalam mempercepat pembangunan Papua melalui program strategis nasional. Ia menegaskan bahwa pembangunan di Papua harus dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dan berkeadilan, tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pemberdayaan sumber daya manusia. “Papua punya potensi besar, baik sumber daya alam maupun manusia. Tugas kita adalah memastikan pembangunan berjalan adil dan menyentuh semua lapisan masyarakat,” katanya. “Kalau masyarakat sejahtera, Papua akan damai,” sambungnya dengan optimis. Gubernur Fakhiri menilai bahwa keberhasilan pembangunan di Papua akan sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, swasta, dan masyarakat lokal. Oleh karena itu, ia mendorong agar setiap proyek pembangunan disertai dengan pelibatan masyarakat, agar hasilnya dapat dirasakan langsung oleh warga. Dengan berjalannya proyek-proyek strategis seperti Trans-Papua, peningkatan bandara perintis, dan modernisasi pelabuhan, Fakhiri yakin Papua akan segera memasuki era baru konektivitas dan kemajuan ekonomi. Ia menegaskan bahwa setiap kilometer jalan yang dibangun bukan hanya membuka akses fisik, tetapi juga membuka harapan baru bagi masyarakat di pelosok Papua. “Kita ingin Papua yang maju, terkoneksi, dan sejahtera. Semua ini akan terwujud jika kita terus bekerja bersama dengan komitmen dan integritas,” tutupnya. Penulis: Jidan Editor: GF   25 Okt 2025, 04:28 WIT
TPP ASN Papua Tetap Aman! Pemprov Pastikan Pegawai Tak Terdampak Pemangkasan Transfer Pusat Papuanewsonline.com, Jayapura — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua memastikan bahwa pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat tidak akan mempengaruhi Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Kepastian ini disampaikan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Papua, Jimmy Alberto Thesia, dalam keterangannya di Jayapura, Jumat (24/10/2025). Langkah ini menjadi sinyal positif bagi ribuan ASN di lingkungan Pemprov Papua yang sempat khawatir dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran nasional. Pemerintah Provinsi menegaskan bahwa kesejahteraan ASN tetap menjadi prioritas utama, meskipun sejumlah sumber dana mengalami penyesuaian. Dalam penjelasannya, Jimmy Alberto Thesia mengungkapkan bahwa Dana Alokasi Umum (DAU) untuk Papua justru mengalami kenaikan signifikan di tengah isu pengurangan transfer ke daerah. “DAU kita justru mengalami kenaikan sebesar Rp99 miliar. Jadi, sebenarnya tidak semua dana transfer berkurang,” terang Jimmy. Ia menjelaskan, peningkatan DAU tersebut mencerminkan kepercayaan pemerintah pusat terhadap kemampuan Pemprov Papua dalam mengelola keuangan daerah dengan baik dan transparan. Namun, di sisi lain, beberapa sumber pendapatan lain seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Otsus tambahan memang mengalami penurunan yang cukup terasa. Saat ini, Pemprov Papua memiliki sekitar 8.000 ASN aktif yang tersebar di berbagai instansi. Meski jumlah pegawai tetap besar, Jimmy memastikan bahwa pemberian TPP tidak akan terganggu, karena sudah diantisipasi dalam perencanaan fiskal daerah. “Beban pegawai kita memang tetap sama, namun Pemprov Papua tetap berkomitmen menjaga TPP sebagai bentuk kesejahteraan dan motivasi kerja bagi ASN,” ujar Jimmy dengan tegas. Ia menambahkan bahwa pemerintah terus berupaya melakukan efisiensi dalam pos belanja non-prioritas agar anggaran belanja pegawai tetap aman. Menurutnya, strategi ini dilakukan tanpa mengorbankan kualitas layanan publik dan tetap mengedepankan kepentingan masyarakat. Jimmy mengakui bahwa penurunan sebagian dana transfer berdampak pada penyelenggaraan program pembangunan dan pelayanan pemerintahan, terutama pada kegiatan yang bersifat non-urgent. Namun, kondisi ini dijadikan momentum bagi Pemprov Papua untuk lebih fokus pada program strategis dan visi-misi gubernur menjelang tahun 2026. “Dampak pengurangan dana transfer lebih terasa pada penyelenggaraan pemerintahan, bukan pada kesejahteraan ASN. Karena itu, kami akan menyesuaikan program sesuai prioritas gubernur dan kebutuhan paling mendesak di lapangan,” jelasnya. Jimmy juga memastikan bahwa pihaknya telah menyiapkan skema penyesuaian anggaran yang realistis, agar seluruh program prioritas tetap berjalan, termasuk peningkatan layanan publik di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di tengah dinamika fiskal yang dihadapi seluruh daerah di Indonesia, Jimmy menegaskan bahwa Pemprov Papua tidak akan panik menghadapi perubahan kebijakan transfer ke daerah. Sebaliknya, ia menilai bahwa situasi ini menjadi ujian bagi daerah untuk menunjukkan kemampuan adaptasi dan inovasi dalam pengelolaan anggaran. “Saya yakin dengan kepemimpinan gubernur yang sekarang, ada skema yang sudah disiapkan. Dampak terhadap kekurangan dana transfer bisa kita tutupi dengan efisiensi dan pengelolaan anggaran yang lebih tepat sasaran,” tutur Jimmy optimis. Ia juga mengajak seluruh ASN untuk tetap fokus bekerja, meningkatkan produktivitas, dan menjaga semangat pengabdian di tengah tantangan fiskal yang ada. “Tugas kita adalah melayani masyarakat sebaik mungkin, bukan mengeluh karena situasi anggaran,” tambahnya. Pemprov Papua menegaskan bahwa TPP tidak hanya sekadar tunjangan tambahan, melainkan bentuk apresiasi pemerintah terhadap dedikasi ASN dalam melayani masyarakat dan menjalankan roda pemerintahan. Dengan pengelolaan fiskal yang disiplin dan terarah, pemerintah optimis mampu menjaga keseimbangan antara belanja pegawai dan belanja publik. “TPP adalah komitmen kami terhadap kesejahteraan ASN. Selama manajemen fiskal kita kuat dan tertib, hak pegawai akan tetap terjamin,” tutup Jimmy. Penulis: Jid Editor: GF   25 Okt 2025, 04:25 WIT
Rp4,8 Triliun Masuk Kas Daerah, Bapenda Mimika Optimis Lampaui Target Pendapatan Papuanewsonline.com, Mimika — Kinerja keuangan Pemerintah Kabupaten Mimika menunjukkan tren yang sangat positif menjelang akhir tahun 2025. Berdasarkan data dari Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Mimika, hingga pertengahan Oktober 2025, realisasi pendapatan daerah telah mencapai Rp4,8 triliun, atau sekitar 78 persen dari target tahunan sebesar Rp6,1 triliun. Capaian ini menandakan bahwa mesin ekonomi daerah bergerak dengan baik dan potensi pendapatan asli daerah (PAD) maupun dana transfer dari pusat masih menunjukkan tren yang stabil. Dengan sisa waktu dua bulan menuju penutupan tahun anggaran, Bapenda optimis dapat melampaui target yang telah ditetapkan. Kepala Bapenda Mimika, Dwi Cholifah, menyampaikan bahwa performa Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi salah satu penopang utama realisasi pendapatan tahun ini. Menurutnya, PAD telah melampaui ekspektasi awal, menjadi indikator keberhasilan strategi intensifikasi dan ekstensifikasi pajak daerah yang dilakukan selama 2025. “PAD tercatat sebesar Rp369 miliar lebih, melampaui target awal yang sebesar Rp349 miliar lebih. Ini bukti bahwa kesadaran wajib pajak di Mimika meningkat, didukung dengan sistem pelayanan pajak yang semakin mudah dan transparan,” jelas Dwi Cholifah saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (22/10/2025). Dwi menjelaskan, keberhasilan ini juga tidak terlepas dari upaya digitalisasi pelayanan pajak dan retribusi yang telah diterapkan Bapenda. Dengan sistem berbasis elektronik, masyarakat kini bisa melakukan pembayaran secara online, sehingga mempercepat arus penerimaan daerah dan mengurangi potensi kebocoran pendapatan. Selain dari PAD, Dana Bagi Hasil (DBH) juga menjadi salah satu sumber pendapatan utama Mimika. Hingga Oktober, DBH yang telah diterima mencapai Rp1,6 triliun dari target Rp2,3 triliun, masih menyisakan kekurangan sekitar Rp785 miliar yang diharapkan akan masuk pada triwulan keempat. “Biasanya, DBH untuk triwulan IV akan kami terima pada bulan November atau awal Desember. Komponen DBH ini meliputi royalti, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor pertambangan, serta Pajak Penghasilan (PPh),” ungkap Dwi. Ia menambahkan bahwa sektor pertambangan, khususnya dari perusahaan tambang besar di wilayah Mimika, menjadi penyumbang terbesar dalam penerimaan DBH. Namun, Bapenda juga terus berupaya menjaga keseimbangan dengan memperkuat sektor ekonomi lokal seperti perdagangan, pariwisata, dan jasa agar tidak bergantung sepenuhnya pada pendapatan berbasis sumber daya alam. Meski masih terdapat selisih sekitar Rp1,3 triliun untuk mencapai target akhir tahun, Dwi Cholifah menyatakan optimisme penuh bahwa angka tersebut dapat tercapai bahkan berpotensi melampaui target pendapatan 2025. “Kami optimis realisasi pendapatan akan menembus target yang telah ditetapkan. Dengan dukungan seluruh OPD dan masyarakat, kami yakin Mimika bisa terus tumbuh secara fiskal dan berkelanjutan,” tegasnya. Optimisme tersebut juga didukung dengan kebijakan Pemkab Mimika yang terus memperkuat tata kelola keuangan daerah, memperluas basis pajak, dan memperbaiki sistem pengawasan agar pendapatan daerah benar-benar digunakan secara efektif untuk pembangunan masyarakat. Dengan realisasi pendapatan yang terus meningkat, Pemerintah Kabupaten Mimika berharap dapat mempertahankan momentum pembangunan di berbagai sektor, mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Peningkatan pendapatan daerah bukan hanya soal angka, tetapi tentang bagaimana setiap rupiah digunakan untuk kesejahteraan masyarakat Mimika,” ujar Dwi. Ia menambahkan bahwa sinergi antar instansi dan kedisiplinan fiskal menjadi kunci utama agar pembangunan Mimika dapat berjalan berkesinambungan. Penulis: Jid Editor: GF   25 Okt 2025, 04:21 WIT
WVI Dorong Kepala Kampung di Papua Tengah Fokus pada Anggaran Pencegahan Stunting Papuanewsonline.com, Timika — Wahana Visi Indonesia (WVI) kembali menegaskan pentingnya peran kepala kampung dalam memerangi masalah stunting yang masih menjadi ancaman serius bagi generasi muda di Papua Tengah. Hal tersebut disampaikan dalam Workshop “Fokus Anggaran dalam Mendukung Program Penurunan dan Pencegahan Stunting di Kabupaten Mimika” yang digelar di Hotel Swiss-Belinn Timika, pada Kamis (23/10/2025). Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan kepala kampung, perangkat distrik, serta perwakilan dari dinas terkait ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kesadaran pemangku kebijakan di tingkat kampung agar mampu mengarahkan Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Kampung (ADK) ke sektor yang benar-benar berdampak bagi kesehatan masyarakat — khususnya anak-anak. Dalam paparannya, Manajer Advokasi dan Pelibatan Eksternal WVI, Junito Trias, menyampaikan bahwa sebagian besar anak yang mengalami risiko stunting di Papua Tengah berasal dari wilayah kampung. Oleh karena itu, intervensi di tingkat akar rumput menjadi langkah paling efektif untuk mencegah terjadinya kasus baru. “Masa depan anak-anak Papua Tengah sesungguhnya berada di tangan kepala kampung. Dari kebijakan dan perencanaan merekalah, kesehatan anak-anak ditentukan,” tegas Junito. Ia menjelaskan bahwa banyak kampung selama ini masih memprioritaskan penggunaan dana untuk proyek infrastruktur seperti pembangunan rumah adat, fasilitas umum, atau kegiatan seremonial. Padahal, menurutnya, isu gizi dan kesehatan anak seharusnya menjadi prioritas utama dalam penganggaran. Junito menyoroti bahwa alokasi anggaran untuk penanganan stunting masih sangat minim di sejumlah kampung. Padahal, pemerintah pusat telah memberikan ruang bagi desa untuk menggunakan dana desa secara fleksibel demi kepentingan masyarakat. “Sering kali dana dari pemerintah digunakan untuk proyek yang secara sosial penting, tetapi tidak langsung berdampak pada masalah utama, yaitu stunting. Kepala kampung perlu menerjemahkan anggaran menjadi program nyata dan bermanfaat,” katanya. WVI mendorong agar sebagian dana desa dapat dialokasikan untuk kegiatan seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita, pengadaan alat timbang dan ukur di Posyandu, serta insentif kader kesehatan yang menjadi ujung tombak pelayanan gizi di tingkat kampung. Selain sesi pemaparan, workshop ini juga menghadirkan sesi diskusi interaktif antara peserta dan fasilitator. Para kepala kampung diberi ruang untuk menceritakan tantangan yang dihadapi di lapangan, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, kurangnya pemahaman tentang perencanaan anggaran berbasis kebutuhan gizi, hingga minimnya koordinasi antar lembaga. Junito menegaskan bahwa keberhasilan program pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada bantuan dari pemerintah atau lembaga sosial, tetapi juga pada komitmen dan kepemimpinan kepala kampung. “Ketika kepala kampung benar-benar memahami pentingnya kesehatan anak, maka setiap rupiah dari anggaran desa akan bermakna bagi kehidupan generasi berikutnya,” ujarnya. Sebagai lembaga kemanusiaan yang telah lama bekerja di Papua, Wahana Visi Indonesia (WVI) terus berkomitmen mendukung pemerintah daerah dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan keluarga serta menurunkan angka stunting. WVI juga berperan aktif dalam memberikan pendampingan teknis dan edukasi gizi di berbagai distrik di Kabupaten Mimika dan wilayah Papua Tengah lainnya. Melalui kegiatan seperti workshop ini, WVI berharap muncul kesadaran kolektif bahwa pembangunan manusia dimulai dari kesehatan anak-anak. “Pembangunan fisik boleh penting, tetapi membangun manusia jauh lebih bernilai. Anak yang sehat dan cerdas adalah investasi terbaik untuk masa depan Papua Tengah,” tutup Junito. Penulis: Bim Editor: GF   25 Okt 2025, 04:15 WIT
FGD Bela Negara di Mimika: ASN Diminta Tingkatkan Pengabdian dan Profesionalitas Papuanewsonline.com, Mimika — Suasana serius namun penuh semangat terlihat di ruang pertemuan Hotel Grand Tembaga, Mimika, pada Jumat (24/10/2025). Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai perangkat daerah tampak antusias mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bertema “Bela Negara sebagai Wujud Pengabdian Profesi ASN” yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Mimika. Kegiatan ini digelar untuk memperkuat pemahaman para ASN tentang makna bela negara dalam konteks birokrasi modern, sekaligus mendorong mereka menjadi pelayan publik yang profesional, berintegritas, dan memiliki semangat nasionalisme tinggi. Dalam sambutannya, Kepala Kesbangpol Mimika, Yan Slamet Purba, menegaskan bahwa konsep bela negara harus dimaknai secara luas. Ia menyebutkan, bela negara bukan semata kewajiban TNI dan Polri, tetapi merupakan tanggung jawab setiap warga negara — termasuk ASN — yang mengabdi melalui tugas dan fungsinya. “Bela negara bukan berarti harus memanggul senjata. Bagi ASN, bela negara diwujudkan lewat disiplin, loyalitas, dan tanggung jawab dalam bekerja melayani masyarakat,” ujar Yan Slamet Purba. Ia menambahkan bahwa saat ini semangat nasionalisme dan kedisiplinan mulai mengalami penurunan di berbagai sektor. Karena itu, pemerintah pusat pun mengeluarkan kebijakan agar setiap instansi menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengucapkan Pancasila setiap pukul 10.00 waktu setempat sebagai bentuk pembiasaan nilai-nilai kebangsaan. Sementara itu, Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Mimika, Evert Lukas Hindom, yang hadir mewakili Bupati Mimika, mengingatkan bahwa ASN adalah ujung tombak pemerintahan dan harus menjadi teladan bagi masyarakat. Menurutnya, pengabdian ASN merupakan bagian dari bela negara yang sesungguhnya — menjaga kehormatan bangsa melalui pelayanan publik yang jujur, cepat, dan berkeadilan. “ASN harus memiliki jiwa dan sikap bela negara serta cinta tanah air, yang diwujudkan melalui pelaksanaan tugas secara profesional dan penuh tanggung jawab,” tegas Evert. Ia juga menyoroti pentingnya menjunjung tinggi kearifan lokal sebagai bagian dari wawasan nusantara. Dalam konteks Papua, katanya, hal itu berarti memahami karakter masyarakat, menghargai perbedaan budaya, dan memberikan pelayanan dengan pendekatan humanis. “Pelayanan publik yang berlandaskan Pancasila dan semangat bela negara akan melahirkan birokrasi yang berjiwa pengabdian. ASN bukan hanya pelaksana administrasi, tapi juga pejuang kemanusiaan,” ujarnya. FGD ini juga mengupas empat konsensus kebangsaan — Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika — sebagai nilai dasar yang wajib dijadikan pedoman dalam setiap aspek pekerjaan ASN. Peserta didorong untuk mengintegrasikan semangat bela negara ke dalam kebijakan, pelayanan publik, serta inovasi di bidang tugas masing-masing. Selain materi dari narasumber, kegiatan ini juga diisi dengan sesi diskusi interaktif. Para ASN saling bertukar pandangan tentang bagaimana nilai bela negara bisa diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari, seperti peningkatan pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, dan administrasi kependudukan. “Bela negara bukan hanya slogan. Ia harus hadir dalam sikap kerja, tanggung jawab moral, dan ketulusan dalam melayani masyarakat,” ujar salah satu peserta dari Dinas Sosial Mimika. FGD Bela Negara ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Mimika dalam mencetak ASN yang berkarakter kuat, profesional, dan berintegritas tinggi. Kegiatan ini diharapkan mampu membentuk pola pikir ASN agar senantiasa menempatkan kepentingan bangsa dan daerah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Sebagaimana disampaikan Evert Lukas Hindom dalam penutupannya, nilai-nilai Pancasila harus senantiasa menjadi pedoman kerja dan landasan moral bagi ASN dalam mengemban amanah publik. “Pancasila adalah roh pengabdian ASN. Dari situlah lahir etos kerja, semangat gotong royong, dan cinta tanah air yang sejati,” pungkasnya. Penulis: Bim Editor: GF   25 Okt 2025, 04:11 WIT
Stok Menipis, Harga Jeruk Limau di Pasar Sentral Timika Melonjak Tajam hingga Rp100 Ribu/Kg Papuanewsonline.com, Timika — Suasana Pasar Sentral Timika, Kabupaten Mimika, akhir pekan ini tampak sedikit berbeda. Para pedagang bumbu dapur sibuk melayani pembeli sambil mengeluh soal kenaikan harga yang mendadak. Harga jeruk limau atau yang biasa disebut jeruk ikan, melonjak tajam hingga mencapai Rp100 ribu per kilogram pada Jumat (24/10/2025). Padahal, harga jeruk limau sebelumnya hanya berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Tak hanya jeruk limau, jeruk nipis pun turut merangkak naik menjadi Rp60 ribu per kilogram. Kenaikan harga ini bukan tanpa sebab. Ida Suryani, salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Sentral Timika, menjelaskan bahwa stok jeruk limau yang biasanya dikirim dari Jayapura kini sangat terbatas. Menurutnya, pasokan yang menurun drastis membuat para pedagang kesulitan memenuhi permintaan pelanggan. “Harga jeruk ikan ini naik sampai Rp90 ribu bahkan Rp100 ribu per kilo. Kalau jeruk nipis, sekarang Rp60 ribu per kilo. Stok jeruk cina dari Jayapura terbatas sekali, jadi barangnya susah didapat,” tutur Ida kepada Papuanewsonline.com. Ia menambahkan, akibat harga yang melonjak, pembeli kini tak lagi membeli dalam jumlah banyak. “Dulu dengan Rp5 ribu bisa dapat beberapa ons, sekarang paling cuma dapat empat atau lima biji saja,” ujarnya sambil menunjukkan jeruk limau yang mulai menguning di lapaknya. Keterbatasan stok dari luar daerah makin diperparah dengan minimnya pasokan jeruk dari petani lokal di Timika. Menurut Ida, hampir tidak ada petani yang menanam jeruk limau secara massal di wilayah Mimika, sehingga ketergantungan pada pasokan antarprovinsi masih sangat tinggi. “Kalau di sini jarang yang tanam jeruk limau, paling ada di kebun rumah, tapi itu untuk kebutuhan sendiri, bukan dijual ke pasar,” jelasnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem distribusi bahan dapur di wilayah Papua Tengah masih sangat bergantung pada jalur pengiriman laut dan udara dari kota-kota besar seperti Jayapura, Nabire, atau Makassar. Begitu terjadi gangguan distribusi, harga bahan pokok bisa melonjak dalam waktu singkat. Meski jeruk limau mengalami kenaikan ekstrem, harga sejumlah bumbu dapur lainnya masih relatif stabil. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga cabai rawit tetap bertahan di kisaran Rp90 ribu per kilogram, tomat Rp30–35 ribu, serta bawang merah dan bawang putih masing-masing Rp60 ribu per kilogram. Namun, para pedagang tetap waswas. Mereka khawatir kenaikan harga jeruk limau bisa menjadi awal dari lonjakan harga bahan pokok lainnya, terutama jika pasokan antarwilayah terus terganggu. “Kalau kiriman dari luar makin seret, bukan cuma jeruk yang naik. Cabai dan bawang juga bisa ikut-ikutan mahal nanti,” ujar salah satu pedagang lain yang enggan disebut namanya. Kenaikan harga ini tentu menjadi perhatian banyak pihak, terutama para pembeli yang harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga. Sejumlah warga berharap pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dapat segera mencari solusi untuk menstabilkan harga, baik dengan memperlancar distribusi barang dari Jayapura maupun memberdayakan petani lokal. “Kalau bisa pemerintah bantu carikan jalan supaya harga normal lagi. Kasihan ibu-ibu di rumah, masak jadi susah kalau bahan-bahan mahal begini,” keluh seorang pembeli di area pasar. Pemerintah diharapkan dapat menginisiasi kerja sama dengan daerah penghasil jeruk limau, serta memberikan dukungan bagi petani lokal untuk mulai membudidayakan tanaman jeruk di wilayah Mimika, agar tidak terus bergantung pada pasokan luar daerah. Penulis: Bim Editor: GF   25 Okt 2025, 04:07 WIT
Sambut HUT Ke-79, Satpomau Lanud YKU Timika Gelar Operasi Gaktib Papuanewsonline.com, Timika — Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Polisi Militer Angkatan Udara (Pomau), Satuan Polisi Militer Angkatan Udara (Satpomau) Lanud Yohanis Kapiyau (YKU) Timika melaksanakan Operasi Penegakan dan Ketertiban (Opsgaktib) di pintu masuk Markas Komando Lanud YKU, Papua Tengah, Jumat (24/10/2025). Operasi ini dipimpin langsung oleh Kasiidik Satpom Lanud YKU, Letda Pom Sigit Sudiono, dan diikuti seluruh jajaran personel Satpomau dengan penuh kedisiplinan. Opsgaktib kali ini difokuskan pada pemeriksaan kelengkapan identitas personel, surat-surat kendaraan, serta kondisi dan kelayakan kendaraan dinas maupun pribadi. Tujuannya jelas: menegakkan disiplin dan memastikan seluruh prajurit TNI AU menjadi teladan dalam tertib berlalu lintas. Dansatpom Lanud Yohanis Kapiyau, Lettu Pom I Made Widhiyasa, S.Tr. Han., menjelaskan bahwa pelaksanaan operasi ini bukan hanya sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi momen refleksi bagi seluruh anggota Pomau untuk terus menegakkan nilai-nilai disiplin di lingkungan TNI Angkatan Udara. “Opsgaktib ini kami gelar bukan hanya untuk menyambut HUT ke-79 Pomau, tapi juga untuk menumbuhkan kembali semangat kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan berlalu lintas. Pemeriksaan meliputi kelengkapan surat kendaraan, SIM, KTA, hingga kondisi kendaraan itu sendiri,” ujar Lettu Pom I Made Widhiyasa. Menurutnya, Pomau memiliki peran strategis dalam memastikan setiap anggota TNI AU menjaga citra, kehormatan, dan profesionalitas militer. Disiplin bukan hanya soal kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga bentuk tanggung jawab dan penghormatan terhadap nilai-nilai yang dipegang oleh TNI. Selain untuk meningkatkan kedisiplinan internal, kegiatan Opsgaktib ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat umum di sekitar wilayah Timika. Melalui ketertiban yang dimulai dari lingkungan sendiri, Satpomau Lanud YKU ingin menunjukkan bahwa TNI AU bukan hanya kuat dalam operasi udara, tetapi juga menjadi panutan dalam berlalu lintas dan kehidupan bermasyarakat. “Kami ingin seluruh personel sadar bahwa tertib berlalu lintas bukan semata untuk menghindari sanksi, tetapi demi keselamatan diri sendiri dan orang lain. Disiplin di jalan adalah cerminan disiplin dalam tugas,” tegas Lettu Pom I Made. Operasi yang berlangsung selama beberapa jam ini berjalan dengan tertib dan lancar. Beberapa personel yang kedapatan belum lengkap dalam administrasi kendaraan diberikan teguran serta pembinaan langsung, agar segera melengkapi dokumen dan memperhatikan aturan berkendara. Perayaan HUT ke-79 Polisi Militer Angkatan Udara tahun ini mengusung semangat “Pomau Profesional, Modern, dan Humanis”, yang menjadi inspirasi bagi seluruh satuan Pomau di Indonesia, termasuk Lanud YKU Timika. Satpomau Lanud YKU menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan peran sebagai penjaga ketertiban, penegak hukum, dan pelindung kehormatan TNI AU. Dengan semangat kebersamaan dan profesionalitas, operasi ini menjadi wujud nyata dari komitmen Pomau dalam menegakkan disiplin dengan pendekatan tegas namun tetap humanis. “Kami ingin setiap anggota memahami bahwa disiplin adalah napas dari militer. Ketertiban yang kita tegakkan hari ini akan menjadi kebanggaan institusi dan contoh bagi masyarakat,” tutup Lettu Pom I Made. Penulis: Jid Editor: GF   25 Okt 2025, 02:32 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT