logo-website
Minggu, 05 Apr 2026,  WIT
Berita Pilihan Redaksi Homepage
Krayon Ajaib Pijar Mimika: Lomba Mewarnai Jadi Magnet Keceriaan Anak-Anak TK di Mimika Papuanewsonline.com, Timika – Keceriaan memadati halaman Mulia Mini Mall Gelael pada Minggu (23/11/2025), ketika Pijar Mimika kembali menggelar Lomba Mewarnai bagi anak-anak TK dari berbagai sekolah di Kabupaten Mimika. Sebanyak 80 peserta meramaikan kegiatan yang berlangsung penuh semangat dan kreativitas.Suasana semakin hidup ketika anak-anak mulai menorehkan warna pada kertas gambar mereka. Dengan ekspresi penuh antusias, para peserta tampak menikmati proses berkarya, sementara orang tua dan guru memberikan dukungan dari kejauhan.Ketua Pijar Mimika, Lalu Hiskam Hanadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini telah menjadi agenda yang selalu ditunggu-tunggu. Ia menegaskan bahwa Lomba Mewarnai merupakan bentuk komitmen untuk menghadirkan ruang edukasi yang mendorong kreativitas anak-anak di Mimika. "Ini telah menjadi kegiatan rutin yang selalu dinantikan, sebagai bentuk komitmen menghadirkan ruang edukasi dan kreativitas bagi anak-anak di Kabupaten Mimika," ujarnya.Kemeriahan acara semakin terasa dengan dukungan penuh dari pengelola Mulia Mini Mall. Kolaborasi berbagai pihak membuat kegiatan ini tidak hanya berlangsung lancar, tetapi juga memberikan pengalaman positif bagi seluruh peserta yang hadir.Setelah melalui proses penilaian, panitia mengumumkan para pemenang dari berbagai kategori. Ekspresi bangga terlihat dari wajah-wajah kecil yang menerima penghargaan atas karya mereka. Selain piala, para juara juga mendapatkan voucher belanja dan uang tunai sebagai bentuk apresiasi.Momen pengumuman pemenang menjadi puncak acara yang disambut sorak-sorai gembira. Tidak hanya para juara, seluruh peserta terlihat antusias dan merasa bangga dapat ikut ambil bagian dalam kegiatan ini.Dalam kesempatan itu, Lalu Hiskam juga menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa terus memberikan dampak positif bagi perkembangan anak-anak Mimika. "Pijar Mimika akan terus hadir memberi ruang kreativitas bagi mereka," ungkapnya.Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan berbagai pihak seperti Mulia Mini Mall, JAC, Gelael, KFC, Mace Beauty Bar, Indoprima, dan Toko Putri Salju menjadikan agenda tahunan ini semakin bermanfaat dan penuh warna.Melalui kegiatan seperti ini, Pijar Mimika ingin memastikan bahwa anak-anak memiliki wadah untuk mengembangkan imajinasi dan keberanian mereka berkarya. Antusiasme peserta menjadi bukti bahwa ruang kreativitas sangat dibutuhkan generasi muda di Mimika.  Penulis: JidEditor: GF 25 Nov 2025, 01:56 WIT
Lemasa Kepung Kantor Bupati Mimika: Pemerintah Dinilai Bersembunyi di Balik Isu Persatuan Papuanewsonline.com, Timika – Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika kembali menjadi pusat perhatian setelah Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa) menggelar demonstrasi pada Senin (24/11/2025). Aksi ini menandai akumulasi kekecewaan masyarakat adat Amungme terhadap pemerintah daerah yang dinilai tidak menunjukkan sikap tegas terkait pengakuan Lemasa.Massa aksi datang dengan tuntutan jelas: meminta Bupati Johannes Rettob memberikan pengakuan sah terhadap Lemasa sebagai lembaga adat yang mewakili masyarakat Amungme. Namun hingga kini, pemerintah daerah belum mengambil langkah konkret, yang memicu ketegangan antara lembaga adat dan pejabat pemerintah.Dalam demonstrasi tersebut, Direktur Lemasa, Manuel John Magal, mengungkapkan kekecewaannya karena pemerintah dianggap menutup pintu komunikasi. Ia menyebut bahwa selama ini tidak ada ruang dialog terbuka yang disediakan pemerintah, sehingga masyarakat memilih turun ke jalan untuk menyampaikan tuntutan mereka. “Jadi selama ini kami didiamkan, pemerintah tidak membuka ruang dialog, sehingga masyarakat datang aksi hari ini,” ujarnya.Di tengah desakan tersebut, Lemasa berharap agar Bupati bersikap bijaksana dalam menyikapi persoalan adat yang sudah berlangsung lama. Namun, harapan itu tampaknya menghadapi tantangan besar karena pemerintah masih bersandar pada alasan perlunya penyatuan semua unsur masyarakat Amungme sebelum mengambil keputusan.Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, menegaskan bahwa pemerintah menghargai keberadaan suku Amungme dan Kamoro serta lembaga adatnya. Namun ia menolak menerbitkan Surat Keputusan (SK) pengakuan Lemasa sebelum diadakan musyawarah adat yang menyatukan seluruh masyarakat Amungme. “SK tidak bisa dikeluarkan sebelum Musdat dengan kumpulkan semua anak Amungme. Amungme harus utuh, jangan ada perpecahan,” tegasnya.Bupati Johannes Rettob memberikan pernyataan yang sejalan dengan wakilnya. Ia menekankan bahwa pembentukan lembaga masyarakat hukum adat harus melalui proses kolektif yang melibatkan seluruh pihak. Namun dengan kondisi masyarakat Amungme yang saat ini belum sepenuhnya solid, langkah tersebut justru menempatkan masyarakat dalam posisi menunggu tanpa kepastian.Situasi ini membuat banyak peserta aksi menilai bahwa pemerintah sedang berupaya menunda pengakuan Lemasa dengan menggunakan isu persatuan sebagai alasan. Penundaan tersebut dianggap hanya memperkuat status quo dan menguntungkan pihak-pihak tertentu yang selama ini memiliki akses lebih dekat ke pemerintah daerah.Akibatnya, masyarakat adat Amungme kembali berhadapan dengan jalan buntu. Mereka menuntut pengakuan, sementara pemerintah menuntut penyatuan terlebih dahulu. Namun tanpa upaya nyata untuk membuka ruang dialog yang inklusif, jurang ketidakpastian akan semakin melebar.Hingga aksi berakhir, belum ada keputusan resmi dari pemerintah daerah. Masyarakat pun pulang dengan pertanyaan besar: apakah suara mereka benar-benar didengar, atau sekadar ditenangkan dengan janji yang belum tentu terwujud. Penulis: JidEditor: GF 25 Nov 2025, 01:54 WIT
Serapan APBD Mimika Seret: Teguran Bupati Picu Sorotan Publik soal Lemahnya Koordinasi Pemda Papuanewsonline.com, Timika – Serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mimika tahun 2025 menunjukkan kinerja yang jauh dari memuaskan. Hingga akhir November, realisasi keuangan baru menyentuh angka 50 persen. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas pemerintah daerah dalam menjalankan program dan menjawab kebutuhan masyarakat.Situasi tersebut mencuat dalam apel pagi di Kantor Pusat Pemerintahan pada Senin (24/11/2025), ketika Bupati Mimika, Johanes Rettob, menyampaikan teguran tegas kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Ia menyoroti lambannya penyerapan anggaran yang dinilai dapat menghambat berbagai kegiatan yang telah direncanakan sejak awal tahun.“Realisasi ini baru 50 persen, jadi masih ada 50 persen lagi yang harus kita kejar! Dana hibah jangan ditahan-tahan, segera disalurkan,” tegasnya di hadapan jajaran OPD. Instruksi tersebut menandai kegelisahan pemerintah daerah terhadap risiko gugurnya sejumlah program jika realisasi tidak dipercepat.Akan tetapi, teguran terbuka tersebut justru memperlihatkan adanya masalah yang lebih mendasar dalam birokrasi Mimika. Rendahnya penyerapan anggaran mengindikasikan bahwa perencanaan, koordinasi, serta pengawasan internal tidak berjalan optimal sepanjang tahun anggaran 2025. Banyak kalangan menilai bahwa peringatan keras tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan struktural yang sudah berulang.Di sisi lain, publik menilai bahwa lambannya realisasi bukan sekadar tanggung jawab OPD, tetapi juga mencerminkan lemahnya kendali dan arahan dari pucuk pimpinan daerah. Bupati semestinya tidak hanya memberikan teguran di akhir tahun, tetapi memastikan seluruh proses mulai dari perencanaan, penetapan program, hingga pelaksanaan berjalan sesuai target.Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi gagalnya sejumlah program yang bersumber dari APBD. Masyarakat yang selama ini menunggu realisasi kegiatan pembangunan—baik hibah, bantuan sosial, maupun layanan publik lainnya—berisiko menjadi pihak yang paling dirugikan oleh buruknya manajemen anggaran.Serapan yang macet juga dapat memicu ketidakpercayaan publik terhadap komitmen pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan di Mimika. Apalagi, persoalan keterlambatan anggaran bukanlah hal baru melainkan pola yang berulang dari tahun ke tahun tanpa solusi yang signifikan.Pada akhirnya, rendahnya kinerja penyerapan anggaran ini membuka kembali diskusi soal pentingnya reformasi birokrasi di Kabupaten Mimika. Tanpa langkah konkret untuk memperbaiki tata kelola dan memperkuat koordinasi antar-OPD, masalah serupa berpotensi terulang dan kembali menyulitkan masyarakat yang bergantung pada realisasi APBD. Penulis: JidEditor: GF 25 Nov 2025, 01:51 WIT
APBD Mimika Merosot Rp 1 Triliun: Prioritas Pemerintah atau Kebutuhan Rakyat? Papuanewsonline.com, Timika – Masyarakat Mimika dikejutkan oleh kabar bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2026 dipastikan merosot drastis. Penurunannya mencapai hampir Rp 1 triliun dari total APBD tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 6,3 triliun. Kondisi ini memicu rasa pesimistis publik terhadap kemampuan pemerintah daerah mempertahankan program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.Bupati Mimika Johannes Rettob menjelaskan bahwa penyebab utama penurunan anggaran berasal dari efisiensi pada Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Khusus, dan Dana Otonomi Khusus. Ia menegaskan bahwa situasi tersebut berdampak langsung terhadap komposisi anggaran daerah untuk tahun mendatang.“APBD Mimika 2026 turun karena terjadi efisiensi terkait Dana Bagi Hasil, DAK, dan Otsus,” ujar Bupati Rettob, merespons kekhawatiran publik mengenai arah pembangunan daerah di tengah pengetatan anggaran.Di tengah kondisi serba terbatas ini, Bupati Rettob menegaskan bahwa pemerintah daerah akan menjalankan program berdasarkan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, pendekatan yang digunakan bukan sekadar memenuhi keinginan pemerintah, tetapi merujuk pada aspirasi warga yang selama ini disampaikan dalam berbagai kesempatan.“Kita memakai pendekatan mendengar kebutuhan masyarakat, bukan hanya apa yang kita inginkan,” klaim Rettob. Namun, pernyataan ini mendapat sorotan publik yang mempertanyakan sejauh mana komitmen tersebut dapat diwujudkan dalam kondisi anggaran yang menyusut signifikan.Dalam penjelasannya, Rettob memastikan bahwa setiap program dalam APBD 2026 disusun berdasarkan skala prioritas dan tetap berpedoman pada visi-misi pemerintahannya. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan fokus pada program-program yang dianggap paling penting untuk pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.Meski demikian, kekhawatiran tetap mencuat dari berbagai kalangan. Dengan anggaran yang jauh lebih kecil, muncul dugaan bahwa program-program yang paling dibutuhkan masyarakat mungkin akan tersisih oleh proyek-proyek yang lebih menguntungkan secara politis. Publik menilai bahwa pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya ketimpangan dalam realisasi anggaran.Kondisi ini membuat masyarakat Mimika kini berada pada posisi menunggu, mengamati apakah janji prioritas rakyat benar-benar akan diwujudkan. Banyak pihak berharap agar pemerintah daerah tidak terjebak pada retorika, melainkan menjalankan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada kebutuhan warga.Bagi sebagian masyarakat, penurunan anggaran ini bukan hanya persoalan teknis fiskal, tetapi juga ujian bagi transparansi, kepekaan sosial, dan integritas pemerintah daerah dalam memimpin pembangunan. Waktu akan membuktikan, apakah janji Bupati dan jajaran mampu menjadi kenyataan atau justru menjadi kekecewaan baru bagi rakyat Mimika. Penulis: JidEditor: GF 25 Nov 2025, 01:47 WIT
Wagub Papua Buka Rakornas Gercin Indonesia, Tekankan Peran Ormas dalam Penguatan Kebangsaan Papuanewsonline.com, Jayapura - Wakil Gubernur Papua, Aryoko Alberto Rumaropen, resmi membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Gerakan Rakyat Cinta Indonesia (Gercin Indonesia) yang mempertemukan kepengurusan dari enam provinsi di Tanah Papua. Acara ini digelar di Aula Lukmen Lantai 9, Kantor Gubernur Papua, Dok II Jayapura, pada Jumat (21/11/25), dan menjadi momentum penting bagi konsolidasi ormas di Papua.Dalam pembukaannya, Wagub Aryoko menegaskan bahwa Gercin Indonesia memiliki peran strategis sebagai organisasi masyarakat yang ikut memperkuat semangat kebangsaan dan komitmen terhadap NKRI. Menurutnya, kehadiran ormas seperti Gercin dapat mengisi ruang sosial dan mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan di Tanah Papua.Ia menilai visi Gercin Indonesia sejalan dengan upaya pemerintah daerah memperkuat kebersamaan dan mendorong kontribusi masyarakat terhadap pembangunan daerah. Melalui rilis resminya, Wagub menyebut organisasi ini sebagai wadah penting untuk menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air sekaligus memperkuat integrasi sosial di Papua.Rakornas ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pertemuan internal organisasi, tetapi juga ruang untuk melahirkan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung pembangunan Papua yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pemerintah Provinsi Papua menilai forum ini relevan dengan arah Transformasi Papua Baru yang berfokus pada peningkatan SDM, penguatan ekonomi daerah, percepatan infrastruktur, dan tata kelola pemerintahan yang modern.Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat penting, termasuk Dr. Lenis Kogoya selaku Staf Khusus Menteri Pertahanan RI, perwakilan Kementerian Dalam Negeri RI, serta unsur Forkopimda. Pengurus DPN, DPD, dan DPC Gercin Indonesia dari seluruh wilayah Tanah Papua juga hadir memperkuat agenda besar organisasi tersebut.Dalam kesempatan itu, Wagub memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran Gercin Indonesia yang telah konsisten mendorong wawasan kebangsaan di berbagai lapisan masyarakat Papua. Ia menilai keberadaan ormas ini memberikan ruang bagi anak-anak Papua untuk berperan aktif dalam gerakan sosial dan kebangsaan.Wagub menegaskan bahwa Papua bukan hanya objek pembangunan, tetapi juga pelaku utama yang menentukan arah kemajuan Indonesia. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh peserta Rakornas untuk menjadikan forum ini sebagai pijakan memperkuat persatuan dalam membangun enam provinsi di Tanah Papua.Menutup sambutannya, Wagub mengajak seluruh elemen masyarakat merawat semangat persaudaraan demi masa depan yang damai dan sejahtera. Ia berharap Rakornas ini membawa manfaat yang nyata dan menjadi bagian dari langkah besar menuju Papua yang lebih maju dan harmonis.(GF) 24 Nov 2025, 17:30 WIT
Egois dan Tidak Komunikatif: Pemerintahan Johannes Rettob dan Emanuel Kemong Dihujani Kritik Papuanewsonline.com, Mimika - Pemerintahan Kabupaten Mimika yang dipimpin oleh Bupati Johanes Retob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong tengah menghadapi kritik pedas dari masyarakat. Beberapa isu yang menjadi sorotan termasuk janji kuota CPNS untuk anak Amungme dan Kamoro yang belum terealisasi, rencana pelantikan yang tidak jelas, dan kurangnya komunikasi dengan pemuda Mimika.Edoardus Rahawadan, seorang tokoh pemuda, menyatakan bahwa pemerintahan saat ini terlalu egois dan tidak komunikatif. "Pembangunan harus komunikatif, bukan egois. Tidak semua hal penting untuk pemerintah, namun komunikasi adalah hal yang sangat penting," katanya.Masyarakat Mimika juga mengkritik pemerintahan karena tidak merangkul semua pihak, termasuk pemuda dan lembaga masyarakat adat. "Pemuda Mimika mati suri karena pemerintah tidak punya daya upaya untuk membangkitkan semangat pemuda," kata Edo.Kritik juga dilontarkan terhadap pemerintahan karena tidak transparan dalam pengelolaan proyek dan anggaran. "Lembaga masyarakat adat Amungme dan Kamoro yang merupakan lembaga yang harusnya dibina pemerintah juga dibiarkan bermasalah dan pemerintah tidak berdaya untuk merangkul mereka," kata Edo.Edo juga menyarankan agar Bupati dan Wakil Bupati Mimika segera membangun komunikasi yang baik dengan semua pihak, termasuk tim pemenangan dan masyarakat. "Jangan melihat kami mengkritik lalu kemudian menganggap kami ini musuh. Kami hanya ingin pemerintahan yang baik dan transparan," katanya.Pemerintahan Mimika telah didesak untuk melakukan evaluasi dan koreksi terhadap kinerja mereka dan memperbaiki komunikasi dengan masyarakat. Apakah pemerintahan Johanes Retob dan Emanuel Kemong dapat menjawab tantangan ini? Penulis: Hendrik Editor: GF 24 Nov 2025, 17:23 WIT
Satgas Ops Damai Cartenz Bagikan Buku Bacaan Untuk Anak SD di Intan Jaya Papuanewsonline.com, Intan Jaya - Dalam rangka mendukung peningkatan minat baca dan pembangunan sumber daya manusia di masa depan, sebanyak 18 personel Satgas Operasi Damai Cartenz melaksanakan kegiatan mengajar dan pembagian buku bacaan kepada siswa-siswi di sekolah-sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas di wilayah Intan Jaya, pada Minggu (23/11/2025).Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIT ini diisi dengan sesi mengajar yang interaktif dan pemberian buku bacaan kepada anak-anak sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca anak-anak Papua, sekaligus mendorong tumbuhnya generasi muda yang cerdas dan berdaya saing di masa depan.Personel yang terlibat dalam kegiatan tersebut antara lain Bripda Ramadhan Dalif Makaminan dan Bripda Alex Logo dan 16 Personel lainya. Kehadiran mereka di tengah-tengah anak-anak memberikan nuansa hangat dan penuh semangat belajar, sekaligus mempererat hubungan baik antara aparat keamanan dan masyarakat setempat.Kepala Operasi Damai Cartenz menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pendekatan humanis yang menjadi prioritas utama dalam membangun kedekatan dan kepercayaan masyarakat Papua. “Kami percaya bahwa pendidikan dan literasi adalah fondasi utama untuk masa depan Papua yang lebih maju dan sejahtera. Melalui kegiatan ini, kami berharap anak-anak Papua termotivasi untuk membaca dan belajar lebih semangat,” ujar Kaops Damai Cartenz, Brigjen Pol Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H.Selain itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol Adarma Sinaga, S.I.K., M.Hum. juga mengapresiasi inisiatif personel yang terus aktif dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia melalui kegiatan sosial dan edukatif di lapangan. “Pendekatan ini adalah bagian dari strategi keberlanjutan dalam menjaga stabilitas dan pembangunan sosial di wilayah ini,” ungkapnya.Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa Operasi Damai Cartenz tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga mendukung upaya peningkatan kualitas pendidikan dan literasi masyarakat Papua, demi masa depan yang lebih cerah dan berdaya saing. PNO-12 24 Nov 2025, 14:25 WIT
Gelar Apel Kasatwil 2025, Polri: Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik Papuanewsonline.com, Jakarta - Polri akan menggelar Apel Kasatwil Tahun 2025 pada 24–26 November 2025 di Mako Pusat Latihan Korbrimob Polri, Cikeas, Bogor. Kegiatan ini akan diikuti sebanyak 607 peserta, terdiri dari pejabat utama Mabes Polri, para Kapolda, Karo Ops, hingga seluruh Kapolres dari berbagai wilayah Indonesia.Apel Kasatwil tahun ini mengusung tema “Transformasi Polri yang Profesional untuk Masyarakat”. Selama kegiatan berlangsung, peserta akan mendapatkan paparan dari berbagai narasumber strategis, baik internal maupun eksternal, di antaranya Menteri Hukum dan HAM, Panglima TNI, Kapolri, PJU Mabes Polri, Komisi Percepatan Reformasi Polri, serta sejumlah pakar dan ahli.Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, menjelaskan bahwa Apel Kasatwil merupakan momentum penting bagi jajaran kepolisian untuk memperkuat arah kebijakan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.“Apel Kasatwil Polri ini diselenggarakan sebagai forum strategis untuk merumuskan langkah konkret dalam memperkuat profesionalisme Polri dan memastikan sinergi dengan arah kebijakan nasional,” jelas Brigjen Trunoyudo, Minggu (23/11/25).Ia menegaskan bahwa melalui kegiatan ini, Polri diharapkan semakin siap menjalankan peran sebagai instrumen negara dalam menjaga stabilitas keamanan sekaligus menjadi mitra masyarakat dalam mendukung pembangunan nasional.“Dengan adanya Apel Kasatwil 2025 ini, Polri diharapkan dapat berperan optimal sebagai instrumen negara yang menjaga keamanan, sekaligus sebagai mitra masyarakat dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan,” lanjutnya.Selain itu, kegiatan ini juga akan dihadiri sejumlah perwakilan Atase Kepolisian dari berbagai negara sahabat. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan internasional terhadap komitmen Polri dalam memperkuat profesionalisme.“Acara ini juga akan dihadiri sejumlah perwakilan Atase Kepolisian dari berbagai negara sahabat,” tutup Brigjen Trunoyudo. PNO-12 24 Nov 2025, 14:15 WIT
Empat Hamba Tuhan Siap Dipulangkan ke Sorong Setelah Vonis Usai Papuanewsonline.com, Makassar – Setelah hampir delapan bulan terjebak dalam proses hukum yang panjang, empat hamba Tuhan—Penatua Abraham Goram Gaman, Penatua Piter Robaha, Nikson May, dan Maksi Sangkek—akhirnya akan dipulangkan ke Sorong, Papua Barat Daya. Keempatnya telah menyelesaikan vonis tujuh bulan penjara yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Makassar Kelas I A Khusus.Kabar rencana pemulangan ini disampaikan Tim Advokasi Keadilan untuk Rakyat Papua dari LP3BH. Yan Christian Warinussy, melalui keterangan tertulis yang diterima Minggu (23/11/2025), menyebut keputusan tersebut menjadi angin segar bagi keluarga, meski luka sosial dan psikologis akibat proses hukum panjang tidak mudah dilupakan.Keempat terdakwa dituduh melakukan tindak pidana makar sejak April 2025, sebuah pasal berat yang umumnya digunakan untuk tindakan yang mengarah pada penggulingan pemerintahan. Namun vonis hanya tujuh bulan memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian antara dakwaan dan putusan pengadilan.Yan Christian Warinussy menilai bahwa ironi tersebut membuka ruang diskusi tentang penggunaan pasal makar. Ia mempertanyakan bagaimana pasal berat bisa berakhir dengan hukuman singkat dan apa makna tuduhan tersebut jika hukumannya tidak mencerminkan bobot dakwaannya.Vonis tujuh bulan tersebut bahkan satu bulan lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Hal ini, menurut para pemerhati hukum, menambah daftar pertanyaan mengenai apakah pasal makar benar-benar diterapkan secara tepat atau justru menjadi instrumen penekan terhadap tokoh agama dan masyarakat Papua.LP3BH menyampaikan apresiasi atas langkah Kejaksaan Negeri Sorong yang telah menyiapkan proses pemindahan empat hamba Tuhan tersebut. Namun tim advokasi menegaskan bahwa pemulangan bukan akhir dari persoalan, karena proses hukum yang dialami para terdakwa tetap menyisakan catatan panjang untuk evaluasi.Tim advokasi berkomitmen mengawal perjalanan para hamba Tuhan sejak dari Makassar hingga tiba di Sorong. Langkah ini dilakukan demi memastikan keselamatan mereka dan sebagai pengingat bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara adil terhadap seluruh warga negara, termasuk masyarakat Papua.Di Sorong, rencana penyambutan empat hamba Tuhan diperkirakan akan mengundang perhatian publik. Tim advokasi menyerukan agar seluruh rangkaian penyambutan dilakukan secara damai, tertib, dan bermartabat sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang telah menjalani proses hukum tersebut.Sementara itu, Pemerintah Daerah melalui Sekretaris Daerah telah menggelar rapat koordinasi bersama berbagai pemangku kepentingan. Undangan rapat bertanggal 21 November 2025 tersebut memuat instruksi kepada Gubernur, Wakil Gubernur, dan unsur Forkopimda untuk mempersiapkan berbagai langkah guna menyambut kepulangan empat hamba Tuhan dari Makassar ke Sorong.Rapat koordinasi ini diharapkan memastikan seluruh tahapan pemulangan berlangsung aman, tertata, dan memberikan kepastian bagi keluarga yang telah menantikan kehadiran empat hamba Tuhan tersebut setelah berbulan-bulan menghadapi ketidakpastian.(GF) 24 Nov 2025, 02:13 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT