logo-website
Kamis, 23 Jul 2026,  WIT

Kejahatan Ekologi 57 Tahun: Grasberg Kaya, Papua Sekarat

300 Ribu Ton Limbah Per Hari Bunuh Sungai Ajkwa. 6000 Warga Kamoro Kehilangan Masa Depan.

Papuanewsonline.com - 22 Jul 2026, 21:15 WIT

Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal

Ilustrasi

Papuanewsonline.com, Mimika – Gunung itu dulu tempat roh nenek moyang Suku Amungme bersemayam. Namanya Ertsberg. 

Hari ini, Ertsberg sudah tidak ada. Yang tersisa hanya kawah raksasa sedalam 1,5 kilometer. Bekas gigitan mesin selama 57 tahun.

Di bawahnya, Sungai Ajkwa sekarat. Dari urat nadi selebar 200 meter, ia berubah jadi selokan lumpur selebar 5 meter. 

Ini kisah di balik kilau Grasberg. Tambang emas terbesar di dunia milik PT Freeport Indonesia. Kisah tentang kekayaan yang naik ke Jakarta, dan luka yang tertinggal di Papua.

Bom Waktu Bernama Tailing

Setiap hari, 230.000 hingga 300.000 ton tailing dibuang ke alam. Pasir sisa tambang yang sudah diperas emas dan tembaganya.

Sejak 1972, limbah itu dicekokkan ke Sungai Aghawagon-Otomona-Ajkwa melalui sistem riverine disposal. Muara akhirnya ditampung di ModADA, kawasan seluas 120 KM yang mengarah ke Laut Arafura. (Sumber: Data PTFI, KLHK)

Angka-angka ini bukan sekadar statistik.  

WALHI dan KLHK mencatat kadar tembaga di muara kini 0,5 mg/L. 40 kali lipat dari batas aman. pH air jatuh ke 3,5. Setara air aki. Total Suspended Solid melampaui batas berkali-kali.

Audit Parametrix menyebutnya jelas: tailing ini menghasilkan asam yang mematikan semua biota.

Dunia sudah memberi vonis lebih dulu. Tahun 2008, Dana Pensiun Norwegia mencoret Freeport dari investasinya senilai 870 juta dolar AS. Alasannya: kerusakan Grasberg tidak akan ditoleransi di negara manapun.

Saat Sungai Mati, Peradaban Ikut Mati

Bagi Kamoro dan Sempan, hidup bertumpu pada 3S: Sungai, Sampan, Sagu.

Kini ketiganya hilang. 

Sedimentasi setebal 7 meter menutup 23.000 hektar. 6000 warga di 23 kampung Agimuga, Jita, Mimika Timur Jauh tidak bisa lagi pakai perahu. Mau ke kebun harus lewat laut ganas.

Pohon sagu mati karena akarnya tercekik lumpur. Ikan, udang, kepiting, tambelo lenyap. Tangkapan warga anjlok 60%.

"Alam Papua hanya diposisikan sebagai objek monetisasi. Relasi sakral kami dengan tanah dirampas," tegas Direktur WALHI Papua, Boy.

Yosep Yopi Kilangin, tokoh Amungme, menyebut ini adalah utang 50 tahun yang belum dibayar. Penelitian UGM juga mencatat: hampir 1 miliar ton waste rock, Sungai Ajkwa tercemar, dan masyarakat adat terpinggirkan.

Divestasi 51% Tak Menyembuhkan

2018, Indonesia ambil alih 51,2% saham lewat Inalum. PTFI juga klaim sudah reklamasi, kasih dana 1% lewat LPMAK, tanam mangrove.

Tapi lukanya masih menganga.  

2023, emisi gas rumah kaca PTFI tembus 2,5 juta ton. Risiko longsor di Grasberg Block Cave naik 15-20%. Di Mimika, pasien ISPA naik 12% karena debu tambang. (Sumber: Laporan PTFI 2023, Dinkes Mimika)

Kini pemerintah wacanakan perpanjangan IUPK sampai cadangan habis.

WALHI menolak. "Ini hanya mengunci Papua dalam siklus perusakan baru. Mengabaikan keadilan bagi rakyat Papua."

Lalu Utang Ini Mau Dibayar Siapa?

Sejak 2006, KLHK sudah bilang kerusakan Grasberg "parah". 

Tapi 18 tahun kemudian, siapa yang mengeruk lumpur 7 meter di Ajkwa? Siapa yang menanam lagi 23.000 hektar hutan sagu? Siapa yang mengembalikan ikan ke sungai?

Pertanyaan itu menggantung, selagi pembahasan izin baru bergulir.

Karena bagi Amungme dan Kamoro, Grasberg bukan tambang. 

Ia ibu. Dan selama 57 tahun, ibu itu terus dilukai.

Hingga berita ini tayang, pihak PTFI belum memberikan tanggapan resmi terkait tudingan kerusakan lingkungan tersebut.

Penulis: Hendrik

Editor: OF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE