TPNPB Klaim Melakukan Penikaman Aparat Militer di Yahukimo
Insiden penikaman terhadap aparat militer di Dekai, Yahukimo, menambah daftar kekerasan di Papua, dengan TPNPB mengaku bertanggung jawab dan mengeluarkan ancaman terbuka terhadap pihak yang berada di wilayah konflik bersenjata
Papuanewsonline.com - 23 Mar 2026, 10:11 WIT
Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal
Papuanewsonline.com, Yahukimo - Insiden kekerasan kembali terjadi di wilayah Yahukimo, Papua Pegunungan, setelah seorang anggota yang disebut sebagai agen intelijen militer Indonesia menjadi korban penikaman di Dekai pada Sabtu, 21 Maret 2026 sekitar pukul 08.30 WIT.
Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Pemukiman, Jalur 1
Perempatan, dan mengakibatkan korban mengalami luka tusuk serius hingga berada
dalam kondisi kritis. Korban saat ini dilaporkan tengah menjalani perawatan
intensif.
Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)
melalui siaran persnya mengakui bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Pernyataan itu disampaikan oleh jajaran TPNPB Kodap XVI Yahukimo melalui
laporan resmi dari lapangan.
Dalam keterangannya, pihak TPNPB menyebut bahwa aksi
tersebut dilakukan berdasarkan perintah pimpinan mereka di wilayah Yahukimo.
Mereka juga menegaskan kesiapannya untuk bertanggung jawab atas tindakan
tersebut.
"Eksekusi terhadap seluruh agen intelijen militer
pemerintah Indonesia tersebut kami lakukan atas perintah Panglima TPNPB Kodap
XVI Yahukimo, Brigjend Elkius Kobak dan Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI
Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka sehingga kami sampaikan kepada aparat militer
Indonesia untuk tidak melakukan penyerangan, penangkapan dan penembakan
terhadap warga sipil di Yahukimo. Jika mau kejar silahkan datang ke markas
TPNPB kami siap bertanggung jawab."
Pernyataan tersebut juga disertai dengan imbauan keras
kepada pihak-pihak yang berada di wilayah konflik. TPNPB mengingatkan adanya
risiko tinggi bagi siapa pun yang tetap beraktivitas di daerah tersebut.
"Kami juga mengimbau kepada seluruh warga imigran yang
berprofesi sebagai tukang ojek, pendulang emas ilegal, pedagang kaki lima dan
sebagainya yang berada di wilayah konflik bersenjata di Yahukimo bahwa tidak
ada jaminan keamanan dan perlindungan terhadap anda di wilayah perang sehingga
anda segera keluar dari Yahukimo. Jika anda masih bertahan maka, kami cap anda
sebagai agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang wajib di eksekusi mati
karena menghiraukan ultimatum kami."
Insiden ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi
keamanan di Yahukimo yang kembali memanas. Warga sipil yang tinggal di sekitar
lokasi kejadian dilaporkan semakin waspada terhadap potensi kekerasan lanjutan.
Aparat keamanan diharapkan meningkatkan pengamanan serta
memastikan perlindungan bagi masyarakat yang berada di wilayah rawan konflik.
Situasi ini juga menjadi perhatian serius berbagai pihak terkait stabilitas
keamanan di Papua.
Peristiwa penikaman ini kembali menunjukkan kompleksitas
konflik di Papua yang belum sepenuhnya mereda. Upaya penanganan yang
komprehensif dinilai diperlukan untuk mencegah eskalasi kekerasan di masa
mendatang. (GF)