logo-website
Senin, 23 Mar 2026,  WIT

Penembakan di Puncak Jaya, Tenaga Kesehatan Militer Jadi Korban, Aksi OPM Dikecam

Serangan terhadap kendaraan yang membawa tenaga kesehatan militer di Distrik Nume, Puncak Jaya, menambah daftar panjang kekerasan terhadap aparat dan pekerja kemanusiaan.

Papuanewsonline.com - 22 Mar 2026, 20:13 WIT

Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal

Tenaga Kesehatan Militer yang diduga menjadi korban penembakan TPNPB OPM.

Papuanewsonline.com, Puncak Jaya - Insiden penembakan yang menargetkan kendaraan berisi aparat dan tenaga kesehatan militer terjadi di Distrik Nume, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, pada 21 Maret 2026 sekitar pukul 14.00 WIT. Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.


Kendaraan jenis Triton yang menjadi sasaran diketahui membawa seorang anggota yang disebut sebagai agen intelijen militer bersama tiga penumpang lainnya, termasuk tenaga kesehatan yang tengah menjalankan tugas pelayanan di wilayah konflik.

Serangan tersebut menuai kecaman luas karena tidak hanya menyasar aparat, tetapi juga tenaga kesehatan yang memiliki peran kemanusiaan dalam memberikan layanan kepada masyarakat di daerah terpencil dan rawan konflik.

Kelompok TPNPB melalui juru bicaranya, Sebby Sambom, mengakui adanya insiden tersebut dalam pernyataan resminya. "Proses penembakan ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut, namun kami telah menerima laporan bahwa mobil tersebut mengalami luka tembak," kata Sebby Sambom, Jubir TPNPB OPM, dalam siaran persnya.

Dalam pernyataan lanjutan, kelompok tersebut juga menyampaikan ancaman terhadap pihak-pihak yang berada di wilayah konflik. "Kami telah memperingatkan bahwa Jalan Trans Jayapura-Wamena akan menjadi wilayah operasi TPNPB, dan kami tidak akan bertanggung jawab atas keselamatan warga imigran Indonesia yang tetap berada di wilayah konflik," tambah Sambom.

Tindakan ini dinilai sebagai bentuk kekerasan yang tidak dapat dibenarkan, terutama karena turut membahayakan tenaga kesehatan yang seharusnya dilindungi dalam situasi konflik. Kehadiran tenaga medis di wilayah Papua selama ini justru bertujuan membantu masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.

Selain itu, serangan terhadap kendaraan sipil maupun tenaga pelayanan publik berpotensi memperburuk situasi keamanan dan meningkatkan rasa takut di tengah masyarakat yang tinggal di wilayah konflik.

Dalam keterangannya, TPNPB juga mengeluarkan imbauan agar sejumlah profesi, termasuk tenaga kesehatan, meninggalkan wilayah Papua. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran karena menunjukkan adanya ancaman berkelanjutan terhadap pekerja sipil.

"Kami membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk membantu warga sipil yang terjebak di wilayah konflik," kata Sambom.

Namun di sisi lain, pernyataan tersebut dinilai kontradiktif dengan tindakan kekerasan yang justru memperparah kondisi kemanusiaan di lapangan. Serangan terhadap tenaga kesehatan berpotensi menghambat akses layanan medis bagi masyarakat yang sangat membutuhkan.

Insiden ini kembali menegaskan pentingnya perlindungan terhadap tenaga kesehatan dan pekerja kemanusiaan di wilayah konflik. Aparat keamanan diharapkan meningkatkan pengamanan, sementara masyarakat diimbau tetap waspada terhadap situasi yang berkembang.

Peristiwa di Puncak Jaya ini menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap tenaga medis tidak hanya melanggar nilai kemanusiaan, tetapi juga berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat sipil yang bergantung pada layanan kesehatan di daerah terpencil.

 

Penulis: Hendrik

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE