logo-website
Rabu, 26 Agu 2026,  WIT

Diduga Kurang Setoran dan Upeti Kepada Para Elit, Basri Jadi Tumbal Peredaran Narkotika di Batam

Terlepas Dari Status Hukum, Sosok Basri Dikenal Publik Batam Sebagai Sosok Yang Baik

Papuanewsonline.com - 24 Agu 2026, 14:11 WIT

Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal

Basri Lewaimang

Papuanewsonline.com, Batam,-

Gemerlap lampu disko di THM Planet Batam kini telah padam, disegel garis polisi. Di balik pemberitaan tentang 40.000 pil ekstasi, ada kisah lain yang luput dari sorotan kamera yakni kisah tentang kemanusiaan, tentang seorang dermawan yang kini dijadikan tumbal.

Namanya Nimangela Basri Lewaimang. Bagi aparat di Jakarta, ia adalah tersangka. Namun bagi ribuan perantau  yang mengadu nasib di Batam, ia adalah air putih.

Kisah itu bermula dua puluh tahun silam. Saat duka menyelimuti sebuah keluarga di Batam, Basri muncul bukan sebagai pengusaha tempat hiburan, melainkan sebagai malaikat. Ia membawa pulang jenazah orang tua mereka ke Alor. Di keheningan sebuah kamar di Alor, ia menitipkan pesan yang diingat sampai hari ini: "Nak, perbanyak minum air putih, dan jadilah seperti air putih. Tidak berharga, tapi sangat berarti bagi kehidupan."

Sejak hari itu, pesan itu ia wujudkan. Kapal-kapal dari wilayah Timur Indonesia ke Batam yang dulu penuh ketidakpastian, ia ubah menjadi jembatan kehidupan. Ribuan perantau mendapat pekerjaan karena tangannya. Rumah-rumah ibadah berdiri karena bantuannya. Air mata kesusahan dihapus oleh kedermawanannya.

Lima tahun terakhir, orang-orang dekatnya bersaksi, Basri yang pernah bergelut di dunia malam itu telah insyaf. Ia memilih jalan sunyi, mengabdikan diri dalam pelayanan agama, jauh dari gemerlap Planet yang membesarkan namanya.

Namun kebaikan itu seakan tak berarti di hadapan operasi besar-besaran yang digelar Tim dari Jakarta.

Saksi di lokasi menyebut ada kejanggalan. Teriakan petugas yang menerobos masuk bukan mencari pemilik sesungguhnya, Yuwanki, yang kini disebut-sebut melenggang bebas ke Singapura, melainkan satu nama yang terus diteriakkan "Basri! Mana Basri?"

Ironi semakin memukul ketika kronologi penangkapan dibuka. Pada 10 Agustus 2026, saat laporan polisi diterbitkan, Basri tidak sedang bersembunyi. Ia tengah berada di Malaysia untuk pemeriksaan rutin kesehatan. Namun dalam sekejap, ia dicap sebagai buronan yang melarikan diri, DPO nomor DPO/134/VIII/2026/Dittipidnarkoba.

Pada 19 Agustus 2026, ia diamankan di Kuala Lumpur. Bukan ditangkap dalam pelarian dramatis, melainkan dengan kesadaran penuh sebagai warga negara yang taat hukum. Ia kooperatif, menyerahkan diri dan meminta diamankan ke KBRI Malaysia sebelum diterbangkan ke Jakarta pada 20 Agustus 2026.

Pertanyaan publik pun menggema Bagaimana mungkin sindikat sebesar Planet di Batam dengan peredaran yang disebut mencapai puluhan ribu butir setiap bulan  bisa beroperasi bertahun-tahun tanpa terendus? namun pelarian satu orang ke luar negeri begitu mudah dideteksi dalam hitungan hari?

Apakah ini murni penegakan hukum, atau sekadar rotasi bisnis hitam biasa?

Dugaan yang beredar kencang di Batam adalah Basri menjadi tumbal karena kurangnya upeti dan setoran kepada para elit. Ketika jatah macet, panggung harus dibersihkan, dan satu orang baik harus dikorbankan untuk mengamankan kepentingan yang lebih besar.

Di Jakarta, Basri mungkin hanya statistik penangkapan. Tapi di Timur Indonesia, ketika "air putih" itu dikurung di balik jeruji besi Bareskrim, ribuan orang ikut terancam. Ribuan keluarga yang bergantung pada lapangan pekerjaan yang ia ciptakan, kini dilanda kecemasan, terancam kehilangan harapan.

Negara kini menghadapi ujian moral yang sesungguhnya. Apakah akan benar-benar memberantas duri dalam daging hingga ke akar-akarnya, menyeret pemilik modal sesungguhnya, atau hanya sebatas membersihkan panggung untuk pemain baru dengan menumbalkan seorang dermawan?

Keadilan untuk Basri bukan hanya tentang pembebasan satu orang. Ini tentang menjaga secercah harapan bagi ribuan orang kecil yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang kebijakan yang tebang pilih.

Kata keluarga, Basri akan membongkar semua pihak yang terlibat dalam bisnis haram tersebut, karena Basri adalah orang suruhan, bukan otak dibalik peredaran Narkoba.

" Benar, semoga Bang Basri membongkar semuanya, karena Ia hanya orang suruhan bukan bandar dan pemilik tempat hiburan malam itu," ujar Kris keluarga Basri di Batam, Senin (24/8/2026).


Penulis: Suhardy

Editor.  : Of

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE