Ini Wajah Menu MBG di Kabupaten Mimika, Tidak Ada Nutrisi dan Miskin Kesehatan
Foto menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, viral dan menuai protes warga. Dari foto yang beredar, isi piring siswa dinilai jauh dari standar gizi seimbang.
Papuanewsonline.com - 26 Agu 2026, 15:03 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Mimika - Foto menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, viral dan menuai protes warga. Dari foto yang beredar, isi piring siswa dinilai jauh dari standar gizi seimbang.
Dalam foto yang diterima Media ini Senin 24 Agustus, terlihat tiga buah ompreng stainless dengan lima sekat. Isinya hanya nasi putih dalam porsi kecil, sepotong ayam kecap, dan sepotong kecil tempe goreng atau tahu. Satu sekat lainnya kosong.
Di belakang ompreng, terlihat kardus berisi pisang mentah yang diduga sebagai pencuci mulut. Tidak terlihat adanya sayuran, buah potong segar, maupun susu sebagai sumber kalsium.
Jika merujuk pada pedoman Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan dan standar Badan Gizi Nasional (BGN), menu MBG wajib mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, dan buah.
Kondisi di lapangan berbeda. Menu di Mimika ini hanya mengandalkan karbohidrat dari nasi, dan protein hewani dari ayam yang porsinya terbatas.
Tidak ada sumber serat dan vitamin dari sayur. Tempe goreng yang ada pun berukuran sangat kecil, sehingga asupan protein nabati juga tidak maksimal. Pisang yang disediakan pun masih terlihat mentah dan belum layak konsumsi.
Warga menilai menu ini tidak memenuhi standar gizi seimbang, terutama jika ditujukan untuk anak usia sekolah yang membutuhkan asupan nutrisi lebih untuk pertumbuhan. Menu yang minim protein hewani dan kurang sayur itu dianggap tidak sesuai dengan standar gizi yang seimbang, pun tidak ada sumber kalsium seperti susu.
Sorotan Program MBG di Papua
Keluhan soal menu minimalis ini bukan pertama kali terjadi di Tanah Papua.
Sebelumnya, menu MBG di SMPN 3 Kota Jayapura juga diprotes karena hanya berisi nasi goreng, dua irisan timun, dua tahu goreng kecil dan sepotong jeli yang dinilai terlalu sedikit.
Secara nasional, evaluasi terhadap program MBG juga terus dilakukan. Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri telah melarang penggunaan makanan kemasan pabrik atau ultra processed food (UPF) dalam menu MBG untuk memastikan peserta mendapatkan gizi yang tepat.
Di Mimika sendiri, pelaksanaan MBG masih belum merata. Data terbaru menyebutkan 11 dari 18 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sempat disuspend karena tidak memenuhi standar, dan cakupan program baru menjangkau 4 dari 18 distrik, yakni Mimika Baru, Wania, Mimika Timur, dan Kuala Kencana.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Satgas MBG Mimika terkait foto menu yang beredar tersebut.
Dilaporkan Papuanewsonline.com sebelumnya, Warga Keluhkan Menu MBG di Pasar Sentral III Mimika Dinilai Seperti Makanan Hewan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Pasar Sentral III, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, menuai keluhan dari warga penerima manfaat. Menu yang disalurkan dinilai tidak layak konsumsi dan tidak memenuhi standar gizi, terutama untuk kelompok balita.
Keluhan tersebut disampaikan warga di kawasan belakang Hotel Cartens, Kabupaten Mimika.
"Menu MBG di sini macam makanan hewan. Tidak ada gizinya. Anak bayi umur 0-5 tahun dikasih isi kacang," ungkap salah satu warga di Timika, Jumat (21/8/2026).
Warga menyebut, menu yang diberikan kepada anak usia 0-5 tahun berupa kacang goreng merupakan tindakan memalukan.
Sementara itu, dokumentasi yang diterima redaksi pada hari yang sama menunjukkan menu berupa nasi putih, ayam goreng berbumbu, dan tahu goreng yang disajikan dalam wadah nampan stainless.
Program MBG di wilayah Pasar Sentral III diketahui dilaksanakan oleh Yayasan Lintas di bawah koordinasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasar Sentral III.
Redaksi Papuanewsonline.com telah berupaya melakukan konfirmasi langsung kepada pihak SPPG Pasar Sentral III melalui petugas lapangan atas nama Ima, namun Ia menolak memberikan keterangan.
Ima selaku Petugas lapangan menolak memberikan keterangan substantif terkait komposisi menu dan standar gizi, dan mengarahkan awak media untuk melakukan konfirmasi resmi di kantor.
"Saya ini hanya petugas lapangan, Pak. Bukan hak saya bicara. Kalau mau jelas datang ke kantor, ketemu kepala SPPG kami," ujarnya.
Saat dimintai tanggapan terkait keluhan warga soal kelayakan menu, petugas tersebut kembali menegaskan agar konfirmasi dilakukan secara langsung ke pimpinan.
"Begini saja Pak, kalau memang Bapak mau datang kami tunggu sekarang. Karena kami ada kantor di sini. Kalau mau mempertanyakan segala halnya dengan real, Bapak datang ketemu dengan kepala SPPG di sini," lanjutnya.
Hingga berita ini dipublikasikan, Kepala SPPG Pasar Sentral III dan pihak Yayasan Lintas selaku pelaksana program MBG belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan tersebut.
Warga berharap ada evaluasi dan transparansi dari pemerintah daerah serta penanggung jawab program MBG di Kabupaten Mimika. Mengingat sasaran program adalah anak sekolah dan balita, warga meminta adanya pengawasan ketat terhadap kualitas, kandungan gizi, dan kesesuaian menu dengan kelompok usia penerima.
Redaksi masih membuka ruang hak jawab bagi pihak SPPG Pasar Sentral III, Yayasan Lintas, dan instansi terkait untuk memberikan klarifikasi resmi.
Penulis: Hendrik
Editor: OF