logo-website
Sabtu, 08 Agu 2026,  WIT
BERITA TAG Pendidikan Homepage
Wakapolri Resmikan Revitalisasi Masjid Panggilan Sujud di Sespim Lemdiklat Polri Papuanewsonline.com, Lembang – Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M., meresmikan revitalisasi Masjid Panggilan Sujud di Sespim Lemdiklat Polri dalam rangka Peringatan Hari Bhayangkara Ke-80 Tahun 2026. Revitalisasi ini memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pembentukan karakter, pengembangan ilmu, dan penguatan spiritual bagi peserta didik.Dalam sambutannya, Wakapolri menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia tidak dapat dibangun secara instan.“Proses dapat kita rancang, tetapi kualitas hasil tidak bisa direkayasa. Yang dapat kita kendalikan adalah kualitas hati, niat, dan ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya merupakan ketetapan Allah SWT.”Menurut Wakapolri, pendidikan kepolisian harus memadukan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Ia menekankan bahwa revitalisasi Masjid Panggilan Sujud bukan sekadar pembaruan fisik, melainkan menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, dan pembangunan peradaban.“Masjid pendidikan harus menjadi tempat lahirnya pemimpin Polri yang unggul secara akademik, kuat secara spiritual, berintegritas, dan mengabdi kepada masyarakat.”Wakapolri juga mengajak seluruh peserta didik Sespim menginternalisasikan semangat “Impossible is Nothing” dengan meneladani kegigihan seluruh personel yang mampu tampil optimal termasuk personel penyandang disabilitas dalam rangkaian Hari Bhayangkara Ke-80.Selain itu, ia menegaskan reformasi pendidikan Polri melalui penerapan meritokrasi, pengembangan kepemimpinan berbasis talent pool, penyempurnaan kurikulum, serta pembangunan Laboratorium Kepemimpinan Digital untuk mempersiapkan pemimpin Polri yang adaptif menghadapi tantangan masa depan.Peresmian revitalisasi masjid turut diisi kuliah umum oleh K.H. Dr. Aang Ridwan, M.Ag., dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia mengapresiasi komitmen Polri dalam memperkuat dimensi spiritual melalui revitalisasi rumah ibadah.“Nama Panggilan Sujud mengingatkan kita untuk selalu sadar waktu, sadar umur, dan sadar amal. Masjid ini diharapkan menjadi pusat silaturahmi, majelis ilmu, ruang diskusi, sekaligus tempat membentuk pribadi-pribadi yang berkualitas.”K.H. Aang Ridwan berharap Polri terus menjaga keutuhan NKRI, melanjutkan reformasi ke arah yang lebih baik, serta semakin dicintai masyarakat.Revitalisasi Masjid Panggilan Sujud menjadi salah satu rangkaian Peringatan Hari Bhayangkara Ke-80 yang menegaskan bahwa transformasi Polri tidak hanya diwujudkan melalui modernisasi organisasi, tetapi juga melalui penguatan karakter, spiritualitas, dan kepemimpinan yang berlandaskan integritas serta pengabdian kepada masyarakat. PNO-12 02 Jul 2026, 22:21 WIT
Raih Juara I MTQ Provinsi, Briptu Muhammad Ridha Siap Wakili Maluku ke Tingkat Nasional Papuanewsonline.com, Ambon - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh personel Polda Maluku. Di tengah tugasnya sebagai anggota Polri, Briptu Muhammad Ridha Man Arfa, Bamin Urmintu Subbagrenmin Itwasda Polda Maluku, berhasil meraih Juara I Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Tingkat Provinsi Maluku Tahun 2026 pada Cabang Seni Kaligrafi Golongan Hiasan Mushaf Putra.Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Polda Maluku, tetapi juga menjadi representasi peran Polri sebagai institusi yang mendorong pengembangan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, serta memiliki kemampuan di berbagai bidang, termasuk seni dan keagamaan.Briptu Ridha tampil mewakili Kontingen Kota Ambon dalam ajang MTQ Tingkat Provinsi Maluku yang mempertemukan para peserta terbaik dari kabupaten dan kota se-Maluku. Kompetisi berlangsung ketat dengan melibatkan peserta dari berbagai daerah yang menampilkan kemampuan terbaik dalam seni kaligrafi Al-Qur'an.Pada cabang yang diikuti Briptu Ridha, babak penyisihan dilaksanakan pada 24 Juni 2026 dan diikuti oleh sembilan peserta dari sebelas kabupaten/kota di Provinsi Maluku. Dari tahapan tersebut, hanya tiga peserta terbaik yang berhasil melaju ke babak final yang digelar pada 26 Juni 2026.Dalam babak final, para peserta diberikan waktu selama delapan jam, termasuk waktu istirahat, untuk menyelesaikan karya kaligrafi hiasan mushaf. Perlombaan dimulai pukul 08.30 hingga 16.30 WIT dengan penilaian yang menitikberatkan pada aspek estetika, ketepatan kaidah kaligrafi, kreativitas, dan kualitas artistik karya.Melalui hasil penilaian dewan hakim, Briptu Muhammad Ridha Man Arfa berhasil meraih nilai tertinggi dan ditetapkan sebagai Terbaik I Cabang Seni Kaligrafi Golongan Hiasan Mushaf Putra Tingkat Provinsi Maluku Tahun 2026.Atas prestasi tersebut, Briptu Ridha akan mewakili Provinsi Maluku pada ajang MTQ Tingkat Nasional yang akan diselenggarakan di Semarang, Jawa Tengah.Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol. Rositah Umasugi, S.I.K, menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas capaian yang diraih personel Polda Maluku tersebut."Prestasi yang diraih Briptu Muhammad Ridha merupakan kebanggaan bagi keluarga besar Polda Maluku. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa anggota Polri tidak hanya hadir sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, tetapi juga mampu berprestasi di bidang keagamaan dan seni budaya. Ini menjadi bukti bahwa pembinaan sumber daya manusia di lingkungan Polri berjalan secara seimbang, baik dalam aspek profesionalitas maupun penguatan karakter dan spiritualitas," ujar Kabid Humas.Menurutnya, keberhasilan Briptu Ridha juga menjadi inspirasi bagi generasi muda dan seluruh personel Polri untuk terus mengembangkan potensi diri serta berkontribusi positif bagi daerah dan bangsa."Kami berharap prestasi ini dapat memotivasi personel lainnya untuk terus berkarya dan mengharumkan nama institusi melalui berbagai bidang. Polda Maluku akan terus memberikan dukungan kepada Briptu Ridha dalam mempersiapkan diri menghadapi MTQ Nasional sehingga dapat membawa nama baik Maluku di tingkat nasional," tambahnya.Sementara itu, Briptu Muhammad Ridha Man Arfa mengaku bersyukur atas capaian yang berhasil diraihnya dan menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama proses persiapan hingga perlombaan."Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas amanah dan prestasi ini. Kemenangan ini bukan hanya untuk pribadi saya, tetapi juga untuk keluarga, Polda Maluku, Kota Ambon, dan seluruh masyarakat Maluku. Persaingan dalam MTQ tingkat provinsi sangat ketat karena seluruh peserta merupakan perwakilan terbaik dari daerah masing-masing," ungkap Ridha.Ia mengatakan akan memanfaatkan waktu yang ada untuk meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan diri secara maksimal menghadapi MTQ Nasional di Semarang."Insya Allah saya akan terus berlatih dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mewakili Provinsi Maluku di tingkat nasional. Saya berharap dapat memberikan hasil terbaik dan membawa nama Maluku semakin dikenal melalui prestasi di bidang seni kaligrafi Al-Qur'an," katanya.Prestasi Briptu Muhammad Ridha menjadi bukti bahwa anggota Polri mampu berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat, termasuk pengembangan seni dan syiar Islam. Keberhasilan ini sekaligus memperkuat komitmen Polri dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing untuk Indonesia yang lebih maju. PNO-12 01 Jul 2026, 18:52 WIT
Lewat Reses, Ardi S.T. Bawa Bantuan Pendidikan dan Pesan Pentingnya Keluarga Harmonis Papuanewsonline.com, Mimika - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua Tengah, Ardi, S.T., M.IST., melaksanakan kegiatan Reses II Tahun 2026 yang digabungkan dengan penyerahan bantuan Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) Tahap I Tahun 2026, serta menggelar sesi diskusi dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional. Kegiatan yang mengusung tema “Keharmonisan Keluarga Turut Membentuk Karakter Anak Penerus Bangsa” ini berlangsung di Hotel Serayu Timika pada Sabtu (27/6/2026), dan dihadiri oleh jajaran pengurus Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Mimika, warga konstituen, orang tua siswa, serta para pelajar penerima manfaat. Dalam kesempatan itu, Ardi menyalurkan beasiswa PIP kepada sekitar 60 siswa dari total kuota 63 orang yang direkomendasikan Fraksi PKS bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan. Ia menjelaskan seluruh proses administrasi dan aktivasi rekening di Bank BRI telah selesai dilakukan.  “Penerima cukup membawa sertifikat beasiswa dan Kartu Keluarga ke bank untuk mencairkan dana,” ujarnya. Bantuan ini diharapkan meringankan biaya sekolah, seperti pembelian seragam, perlengkapan belajar, dan kebutuhan pendidikan lainnya, mengingat tahun ajaran baru segera dimulai. Penyaluran serupa juga diagendakan kembali pada Desember mendatang. Selain pendidikan, Ardi menyampaikan komitmen mendukung akses kesehatan. Ia mengungkapkan tahun sebelumnya telah membantu warga kurang mampu mengaktifkan dan membayar iuran BPJS Kesehatan. Untuk tahun ini, pihaknya masih menunggu kebijakan pusat, namun tetap berupaya agar warga berhak mendapatkan layanan kesehatan secara cuma-cuma. Ia juga mengimbau masyarakat rutin memeriksa status kepesertaan agar tidak terhambat saat membutuhkan pelayanan medis. Talk show Harganas menekankan peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak. Ardi menegaskan keberhasilan generasi muda tidak hanya bergantung pada sekolah, melainkan juga pada pola asuh, keteladanan, dan keharmonisan di rumah.  “Anak belajar dari apa yang dilihat dan dirasakan setiap hari, sehingga lingkungan keluarga yang baik menjadi kunci menciptakan pribadi yang tangguh dan berakhlak mulia,” tegasnya. Penulis: Jid Editor: GF 28 Jun 2026, 10:07 WIT
Konfercab KE-III DPC GMNI Timika, Tegaskan Pentingnya Persatuan dalam Regenerasi Kepemimpinan Papuanewsonline.com, Mimika — Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Timika menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) III dengan mengusung tema "Melanjutkan Tongkat Estafet Kepemimpinan yang Progresif dan Revolusioner, Merawat Solidaritas, Membumikan Pancasila, dan Memenangkan Marhaen" di Mimika, Sabtu (27/6/2026).Ketua DPC GMNI Timika, Kristoforus Toffy, dalam sambutannya menegaskan bahwa sejak awal berdiri, GMNI merupakan organisasi kaderisasi yang berkomitmen mencetak kader-kader berkualitas."Sejak awal berdiri, GMNI adalah organisasi kaderisasi. Karena itu, di tengah berbagai tantangan zaman, kami tetap berkomitmen menjalankan proses pengkaderan agar lahir kader-kader yang memiliki semangat nasionalisme, intelektualitas, dan keberpihakan kepada rakyat," ujarnya.Ia mengatakan, Konferensi Cabang III merupakan momentum penting untuk melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi. Menurutnya, berbagai dinamika yang muncul dalam persidangan maupun proses pemilihan ketua cabang yang baru harus disikapi secara dewasa."Kita melaksanakan Musyawarah Cabang III. Apa pun dinamika yang akan terjadi dalam persidangan maupun proses pemilihan ketua yang baru, saya berharap kita tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Berbeda pendapat adalah hal yang wajar dalam organisasi. Kita boleh beradu gagasan dan argumentasi, tetapi jangan sampai perbedaan itu memecah persaudaraan kita sebagai keluarga besar GMNI," katanya.Kristoforus menegaskan bahwa persatuan menjadi modal utama bagi organisasi untuk terus berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat."Kita harus ingat bahwa ketika kita terpecah, kita akan menjadi lemah. Sebaliknya, ketika kita bersatu, kita akan semakin kuat dalam memperjuangkan cita-cita organisasi dan memberikan kontribusi terbaik bagi pembangunan Kabupaten Mimika," Tutupnya. Penulis: Bim Editor: GF 28 Jun 2026, 09:25 WIT
BRIDA Mimika Dorong Ekosistem Riset Terbuka dan Berbasis Data Papuanewsonline.com, Mimika – Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Mimika, Slamet Sutejo, menekankan pentingnya membangun ekosistem riset yang terbuka, kolaboratif, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan penguatan kapasitas riset dan advokasi yang melibatkan berbagai unsur masyarakat sipil, akademisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan lokal di Timika.Slamet mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai sejalan dengan kebutuhan daerah dalam memperkuat budaya riset, inovasi, dan advokasi yang didasarkan pada data serta fakta lapangan.Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah membuka banyak peluang dalam pengelolaan informasi dan pengetahuan. Namun demikian, pemanfaatan teknologi harus tetap diimbangi dengan verifikasi langsung di lapangan agar hasil kajian yang dihasilkan tetap akurat.Ia mengingatkan bahwa aktor-aktor lokal perlu mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi tanpa kehilangan kemampuan membaca realitas sosial yang berkembang di masyarakat.“Penggunaan AI dan teknologi informasi harus tetap didukung data nyata dari lapangan agar tidak menghasilkan kesimpulan yang meleset, bias, atau keliru,” kata Slamet dalam Workshop Penguatan Riset, Advokasi, dan Pengembangan Jejaring Aktor Lokal dalam Perlindungan Warga Sipil Papua yang diselenggarakan oleh Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Hotel Horison Diana Timika, Kamis (25/6/2026).Slamet menjelaskan, BRIDA Kabupaten Mimika saat ini tengah mendorong keterbukaan akses terhadap berbagai hasil penelitian, inovasi, dan kajian daerah agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat, mahasiswa, akademisi, organisasi lokal, maupun pemangku kepentingan lainnya.Menurut dia, selama ini berbagai hasil kajian yang dihasilkan pemerintah masih tersebar di sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), sehingga belum seluruhnya mudah diakses oleh publik. Karena itu, diperlukan sistem pengelolaan data riset yang lebih terintegrasi dan terbuka.Ia menilai keterbukaan informasi riset akan memperkuat kualitas pengambilan keputusan sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah dan masyarakat.Selain itu, Slamet mengajak perguruan tinggi, mahasiswa, organisasi masyarakat, hingga komunitas lokal untuk berperan aktif dalam membangun ekosistem riset daerah melalui berbagai hasil penelitian, skripsi, kajian organisasi, maupun riset berbasis komunitas.Menurutnya, hasil-hasil penelitian lokal memiliki nilai strategis sebagai sumber referensi yang dapat memperkaya pengetahuan dan memperkuat dasar penyusunan kebijakan pembangunan.“Hasil riset lokal dapat menjadi rujukan bersama, bukan untuk disalin, tetapi untuk memperkaya referensi dan memperkuat dasar penyusunan kebijakan,” katanya.Ia juga menegaskan bahwa kegiatan riset tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Yang terpenting adalah kemampuan memahami persoalan yang dihadapi masyarakat, mendengar aspirasi warga, mengolah data yang tersedia, serta menyesuaikannya dengan kondisi aktual di lapangan.Slamet menilai pembangunan budaya riset harus menjadi tanggung jawab bersama dan tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah ataupun OPD semata.Karena itu, BRIDA Mimika membuka ruang kolaborasi bagi seluruh pihak yang memiliki hasil kajian atau penelitian agar dapat dikoordinasikan dan dikelola secara lebih baik.Ia mengajak para peneliti, akademisi, mahasiswa, serta organisasi masyarakat yang memiliki hasil riset untuk berkoordinasi dengan BRIDA sehingga hasil kajian tersebut dapat terdokumentasi, diakses publik, dan dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan bersama.Lebih lanjut, Slamet menekankan bahwa riset dan inovasi daerah harus mampu menghasilkan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat dan tidak berhenti sebagai dokumen administratif semata.Menurutnya, keberhasilan pembangunan riset daerah diukur dari sejauh mana hasil penelitian dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat serta mendukung perumusan kebijakan yang lebih tepat sasaran.Di akhir penyampaiannya, ia berharap ekosistem riset yang sedang dibangun di Kabupaten Mimika dapat berkembang menjadi model kolaborasi yang bermanfaat tidak hanya bagi daerah tersebut, tetapi juga dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Tanah Papua.“Ekosistem riset di Mimika diharapkan dapat memberi manfaat bukan hanya bagi Kabupaten Mimika, tetapi juga dapat direplikasi oleh daerah lain di Papua,” pungkasnya. Penulis: Jid Editor: GF 27 Jun 2026, 03:31 WIT
Ketua Komisi I DPRK Mimika: Advokasi Warga Sipil Papua Harus Berbasis Data dan Kebijakan Papuanewsonline.com, Mimika - Ketua Komisi I DPRK Kabupaten Mimika, Alfian Akbar Balyanan, menegaskan bahwa advokasi perlindungan warga sipil Papua harus bergerak lebih maju. Menurutnya, advokasi tidak boleh hanya berhenti pada seruan moral, ekspresi keprihatinan, atau tekanan sesaat, tetapi harus diperkuat melalui data, riset, jejaring aktor lokal, komunikasi publik, dan dorongan kebijakan yang konkret.Pernyataan itu disampaikan Alfian dalam kegiatan Workshop Penguatan Riset Advokasi dan Pengembangan Jaringan Aktor Lokal dalam Perlindungan Warga Sipil Papua yang diselenggarakan oleh Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Horison Diana Hotel Timika, Kamis (25/6/2026).Dalam paparannya bertajuk “Advokasi dan Penguatan Demokrasi di Mimika”, Alfian mengapresiasi penyelenggaraan workshop tersebut. Ia menilai kegiatan ini memiliki pijakan yang kuat karena sejalan dengan mandat konstitusi, terutama kewajiban negara untuk melindungi warga, menghormati hak masyarakat adat, menjamin rasa aman, serta membuka ruang partisipasi warga dalam memperjuangkan haknya secara kolektif.“Saya mengapresiasi kegiatan workshop ini. Advokasi warga sipil tidak boleh berhenti sebagai keluhan. Ia harus naik kelas menjadi data, argumen, jejaring, dan keputusan kebijakan yang benar-benar melindungi masyarakat,” tegas Alfian.Alfian menekankan, advokasi yang efektif harus dibangun secara sistematis. Prosesnya dimulai dari pemetaan masalah, pengumpulan data lapangan, identifikasi aktor dan sasaran kebijakan, penyusunan pesan advokasi, pembentukan koalisi, strategi komunikasi publik, hingga pengawalan aspirasi ke ruang pengambilan keputusan.Menurutnya, tanpa data dan riset, advokasi mudah dipatahkan. Sebaliknya, dengan basis data yang kuat, aspirasi masyarakat akan lebih mudah diterima sebagai agenda kebijakan yang rasional, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.“Advokasi yang kuat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling jelas datanya, paling tepat sasarannya, dan paling konsisten mengawal perubahan kebijakan,” ujarnya.Alfian juga menilai perlindungan warga sipil Papua membutuhkan kerja kolaboratif antara masyarakat adat, pemuda, mahasiswa, jurnalis, organisasi masyarakat sipil, pemerintah daerah, dan DPRK. Kolaborasi tersebut penting agar setiap persoalan warga tidak berhenti di ruang keluhan publik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah kelembagaan yang konkret.“DPRK Mimika memiliki peran strategis sebagai jembatan antara aspirasi masyarakat dan kebijakan daerah. Melalui fungsi legislasi, pengawasan, dan komunikasi politik, DPRK harus memastikan suara warga dapat masuk ke dalam proses kebijakan secara bermartabat”, jelasnya.Dalam konteks Mimika Papua, Alfian mencontohkan pentingnya advokasi dalam penyelesaian persoalan lokal, termasuk isu tapal batas Mimika dan Dogiyai. Menurutnya, kasus tersebut menunjukkan bahwa aspirasi masyarakat harus dikelola melalui kanal advokasi yang tepat, mulai dari komunikasi dengan pemerintah daerah, DPRK, hingga kementerian terkait.“Papua tidak kekurangan suara. Yang harus diperkuat adalah kemampuan mengolah suara itu menjadi data, argumentasi, jejaring, dan kebijakan. Di situlah advokasi menemukan kekuatannya,” kata Alfian.Alfian berharap workshop yang diselenggarakan MPSI dapat memperkuat kapasitas aktor lokal Papua dalam melakukan advokasi berbasis riset. Ia menilai perlindungan warga sipil hanya akan berjalan efektif apabila masyarakat memiliki kemampuan membaca masalah, menyusun bukti, membangun koalisi, dan mendorong solusi melalui jalur kebijakan.“Perlindungan warga sipil Papua bukan hanya agenda kemanusiaan, tetapi juga agenda demokrasi dan konstitusi. Karena itu, advokasi harus dilakukan secara cerdas, terukur, dan berorientasi pada kebijakan yang melindungi masyarakat,” pungkasnya. Penulis: Jid Editor: GF 26 Jun 2026, 08:12 WIT
Yohanis Nussy: Papua Harus Jadi Produsen Pengetahuan untuk Kebijakan yang Melindungi Warga Papuanewsonline.com, Timika — Pegiat Advokasi Papua sekaligus penulis buku Transformasi Papua, Yohanis S. Nussy, menegaskan bahwa masa depan perlindungan warga sipil Papua harus dibangun dari kekuatan pengetahuan lokal. Menurutnya, Papua harus menjadi produsen data, penggerak advokasi, dan penentu arah kebijakan.Hal itu disampaikan Nussy dalam paparannya pada kegiatan Workshop Penguatan Riset Advokasi dan Pengembangan Jaringan Aktor Lokal dalam Perlindungan Warga Sipil Papua yang diselenggarakan oleh Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Horison Diana Hotel Timika, Kamis (25/6/2026).Dalam materi bertajuk “Membangun Kapasitas RAJA Lokal: Riset, Advokasi, Jejaring Aktor”, Nussy menekankan pentingnya membangun kekuatan aktor lokal Papua melalui tiga pilar utama, yakni riset, advokasi, dan jejaring aktor. Ketiganya, kata dia, harus menjadi fondasi perubahan kebijakan yang berbasis bukti dan berpihak pada keselamatan warga sipil.“Papua tidak boleh selamanya hanya menjadi objek riset dan objek kebijakan. Putra-putri Papua harus menjadi subjek utama pembangunan, produsen pengetahuan, dan pengawal kebijakan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat,” tegas Nussy.Menurut Nussy, tantangan Papua tidak bisa dijawab dengan pendekatan seragam dari luar. Papua memiliki kompleksitas geopolitik, sosial, budaya, dan geografis yang menuntut pendekatan spesifik lokal. Karena itu, pengetahuan yang lahir dari masyarakat Papua sendiri harus ditempatkan sebagai dasar dalam membaca masalah dan menyusun solusi.Ia menyebut, aktor lokal Papua harus memiliki kapasitas untuk mengubah data lapangan menjadi bukti, bukti menjadi narasi kebijakan, dan narasi kebijakan menjadi rekomendasi yang dapat diterima oleh pengambil keputusan. Dengan begitu, advokasi tidak berhenti sebagai suara protes, tetapi menjadi kerja strategis yang mampu memengaruhi kebijakan publik.“Data adalah senjata demokrasi. Bukan untuk menyerang, tetapi untuk memastikan kebijakan maupun kritik tidak dibangun di atas prasangka, asumsi, atau kepentingan sepihak,” ujarnya.Nussy menjelaskan bahwa riset advokasi harus dimulai dari identifikasi masalah yang nyata di masyarakat. Ia menekankan pentingnya riset kebijakan, riset partisipatif, dan bank data lokal sebagai fondasi advokasi yang kuat. Menurutnya, masyarakat akar rumput, tokoh adat, komunitas lokal, akademisi, jurnalis, dan organisasi sipil harus dilibatkan sebagai sumber utama pengetahuan.Ia juga menilai bahwa kerja advokasi Papua perlu meninggalkan pola reaktif. Aktor lokal harus mampu menyusun policy brief yang tajam, ringkas, berbasis data, serta menawarkan solusi konkret kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.“Keluhan warga harus naik kelas menjadi dokumen kebijakan. Aspirasi masyarakat harus diolah menjadi rekomendasi. Jika tidak, suara rakyat hanya akan terdengar sesaat, lalu hilang dalam hiruk-pikuk politik,” kata Nussy.Dalam paparannya, Nussy juga menyoroti pentingnya manajemen jejaring aktor. Menurutnya, perlindungan warga sipil Papua tidak mungkin dilakukan oleh satu kelompok saja. Dibutuhkan pemetaan aktor, pembangunan kepercayaan, dan kolaborasi antara masyarakat sipil, tokoh adat, gereja, akademisi, media, pemerintah daerah, dan lembaga kebijakan.Ia menekankan bahwa jejaring bukan sekadar kumpulan nama atau organisasi, tetapi ekosistem kerja yang harus dibangun dengan transparansi, konsistensi, dan tujuan bersama. Jejaring yang kuat, kata dia, akan membuat advokasi lebih tahan terhadap tekanan, fragmentasi, dan hambatan struktural.“Gerakan yang berjalan sendiri akan mudah dipatahkan. Tetapi gerakan yang dibangun dengan riset, jejaring, dan nilai bersama akan punya daya tahan panjang,” ucapnya.Nussy juga mengingatkan bahwa aktor lokal Papua menghadapi tantangan serius dalam ruang sipil, mulai dari penyempitan ruang demokrasi, ancaman keamanan fisik dan digital, hingga fragmentasi kelompok kepentingan. Karena itu, ia mendorong adanya mekanisme perlindungan mandiri bagi para pembela hak warga, termasuk perlindungan fisik, keamanan digital, dukungan hukum, dan sistem peringatan dini berbasis komunitas.“Perlindungan warga sipil tidak hanya berarti merespons setelah terjadi masalah, tetapi juga membangun daya tahan masyarakat agar mampu mendeteksi risiko sejak dini dan keamanan manusia harus menjadi prioritas utama dalam setiap kerja advokasi”, terangnya. Penulis: Jid Editor: GF 26 Jun 2026, 08:10 WIT
Tokoh Media Papua Nilai Literasi Digital dan Verifikasi Informasi Jadi Kunci Advokasi Berbasis Data Papuanewsonline.com, Mimika - Tokoh Media Papua yang juga Direktur Media Seputar Papua, Misbah Latuapo, menegaskan pentingnya literasi digital dan tanggung jawab dalam menyebarluaskan informasi di tengah derasnya arus informasi digital yang berkembang saat ini.Hal tersebut disampaikannya dalam Workshop Penguatan Riset, Advokasi, dan Pengembangan Jejaring Aktor Lokal dalam Perlindungan Warga Sipil Papua yang diselenggarakan oleh Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Hotel Horison Diana Timika, Kamis (25/6/2026).Menurut Misbah, perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mempercepat penyebaran informasi. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko beredarnya informasi yang tidak terverifikasi dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.“Di era digital saat ini, tanggung jawab menyampaikan informasi yang benar bukan hanya berada di tangan jurnalis profesional, tetapi juga seluruh masyarakat yang aktif menggunakan media sosial. Karena itu, budaya verifikasi harus menjadi kebiasaan bersama sebelum membagikan informasi kepada publik,” ujar Misbah.Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun meneruskan informasi, foto, video, atau narasi yang beredar di media sosial dan grup percakapan tanpa melakukan pengecekan fakta terlebih dahulu. "Penyebaran informasi yang tidak akurat dapat memicu konflik sosial, membentuk persepsi yang keliru, bahkan berpotensi menimbulkan persoalan hukum.Misbah juga menyoroti penggunaan teknologi kecerdasan buatan yang kini semakin luas dimanfaatkan masyarakat", tandasnya. Menurutnya, AI dapat membantu mempercepat akses informasi, tetapi hasil yang ditampilkan tidak selalu benar dan tetap membutuhkan proses verifikasi melalui sumber-sumber yang kredibel.“AI hanyalah alat bantu. Informasi yang dihasilkan tetap harus diuji, diperiksa sumbernya, dan dibandingkan dengan data lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai teknologi justru membuat kita malas melakukan pengecekan fakta,” katanya.Dalam paparannya, Misbah menjelaskan perbedaan mendasar antara jurnalis profesional dan jurnalis warga. Ia menuturkan, jurnalis profesional bekerja berdasarkan kode etik jurnalistik, proses verifikasi, dan mekanisme redaksi yang ketat."Citizens journalisme memiliki peran penting dalam mendokumentasikan peristiwa, namun sering kali belum melalui proses verifikasi yang memadai", tegasnya. Ia menilai peningkatan kapasitas masyarakat dalam memahami etika informasi menjadi kebutuhan penting, terutama bagi organisasi kepemudaan, komunitas masyarakat sipil, dan aktor lokal yang aktif melakukan advokasi berbagai isu publik di Papua.Lebih lanjut, Misbah menekankan bahwa media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang edukasi, advokasi, dan penyebaran informasi yang konstruktif, bukan sekadar untuk mengejar popularitas atau jumlah tayangan.“Setiap informasi yang kita unggah harus memiliki manfaat sosial. Pertanyaannya sederhana, apakah informasi itu membantu menyelesaikan masalah atau justru memperkeruh keadaan. Kesadaran ini penting agar media sosial menjadi instrumen pembangunan masyarakat,” ujarnya.Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan riset dalam produksi konten publik, termasuk film dokumenter. Menurutnya, dokumenter yang baik tidak cukup hanya menampilkan fakta visual, tetapi harus didukung data, narasumber yang kredibel, konteks persoalan, serta menawarkan perspektif solusi.Misbah menilai masih banyak organisasi kepemudaan dan kelompok masyarakat yang aktif mengangkat isu kebijakan publik, namun belum didukung data yang kuat dan saluran komunikasi yang efektif kepada para pengambil kebijakan. "Kedepan diharapkan kerja advokasi selalu dibangun di atas fondasi riset yang kredibel dan komunikasi publik yang bertanggung jawab", tuturnya. Misbah mengajak seluruh peserta untuk menjadikan informasi sebagai instrumen perubahan sosial yang positif. Ia juga mendorong kolaborasi antara media, lembaga riset, pemerintah daerah, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil guna memperkuat budaya riset dan advokasi berbasis data di Papua.“Perubahan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat harus dibangun melalui data yang valid, informasi yang akurat, dan kolaborasi yang kuat antaraktor lokal. Di sinilah pentingnya sinergi antara media, peneliti, dan masyarakat sipil untuk menghadirkan advokasi yang lebih efektif dan berdampak,” kata Misbah. Penulis: Jid Editor: GF 26 Jun 2026, 08:06 WIT
Guru SMAN 7 Mimika Sampaikan Keluhan, Minta Bupati Luruskan Penempatan Tendik sesuai Aturan Papuanewsonline.com, Timika – Sejumlah tenaga pendidik (tendik) honorer di lingkungan Kabupaten Mimika menyampaikan keberatan secara terbuka terkait draf Surat Keputusan penempatan tenaga kontrak yang disusun Dinas Pendidikan. Keluhan ini ditujukan langsung kepada Bupati Johannes Rettob agar dilakukan peninjauan ulang menyeluruh, mengingat proses yang dinilai menyimpang dari jalur birokrasi yang selama ini dijunjung tinggi oleh kepala daerah.Salah satu Guru, Norbertus Riki Lengitubun yang mengabdi di SMA Negeri 7 Mimika, mencontohkan adanya kejanggalan pada nomor urut 14 dalam daftar penempatan. (24/6/26) Menurutnya, nama yang tercantum bukanlah tenaga pengajar yang selama ini bertugas dan mengampu mata pelajaran di sekolah tersebut. Jika ditetapkan, penempatan ini dianggap sebagai cara yang tidak wajar untuk menggantikan posisi guru yang telah mengabdi selama bertahun-tahun.Ia bersama rekannya, Murlani Silaban, merasa menjadi korban dari praktik yang tidak sesuai aturan. Keluhan serupa juga dilaporkan terjadi di SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 6. Yang menjadi perhatian utama, guru yang terancam tersisihkan justru merupakan satu-satunya pengampu mata pelajaran tertentu di sekolahnya, sehingga perubahan ini dikhawatirkan akan mengganggu kelancaran proses belajar mengajar."Tolong berikan hak guru sesuai dengan pengabdiannya. Guru guru yang digantikan adalah guru mapel satu satunya di sekolah tersebut. Pak Bupati tolong tinjau berdasarkan kebutuhan sekolah bukan kepentingan dan titipan pejabat. Sedih saja semua sektor harus politik dan kepentingan. " Ujarnya. Penulis: Jid Editor: GF 24 Jun 2026, 17:21 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT