logo-website
Rabu, 01 Jul 2026,  WIT
Berita Pilihan Redaksi Homepage
Petugas Palang Puskesmas Atuka! Tuntut Transparansi Anggaran dan Pergantian Kepala Puskesmas Papuanewsonline.com, Timika —Suasana tegang menyelimuti Puskesmas Atuka, Distrik Mimika Tengah, pada Rabu (15/10/2025). Sejumlah petugas kesehatan melakukan aksi pemalangan kantor sebagai bentuk kekecewaan terhadap pimpinan mereka. Aksi ini menjadi sorotan publik karena menyinggung isu sensitif: transparansi anggaran dan ketimpangan kebijakan dalam pelayanan kesehatan. Para petugas menempelkan sejumlah poster dan karton bertuliskan tuntutan di dinding dan jendela puskesmas. Tertulis antara lain, “Kepala Puskesmas Harus Diganti,” dan “Kami Minta Penjelasan Kenapa Uang TPP Dipotong.” Tulisan-tulisan itu menjadi simbol kemarahan dan keputusasaan para tenaga medis yang merasa tidak dihargai. Para petugas mengaku kecewa dengan kebijakan pimpinan puskesmas yang dianggap tidak transparan dalam pengelolaan dana operasional dan Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP). Mereka menilai, tidak ada penjelasan resmi mengenai pemotongan tunjangan yang mereka alami, padahal seluruh staf tetap aktif melaksanakan tugas di lapangan. “Kami sudah bekerja sesuai tanggung jawab, tapi gaji dan tunjangan kami justru dipotong tanpa alasan yang jelas,” ujar salah satu petugas yang enggan disebutkan namanya. Selain itu, mereka mendesak agar semua dana operasional puskesmas diumumkan secara terbuka, sehingga setiap petugas mengetahui alokasi dan penggunaannya. Bagi mereka, transparansi adalah kunci untuk membangun kepercayaan dan meningkatkan kinerja layanan kesehatan di wilayah pedalaman. Isu lain yang turut disorot adalah keberadaan Sekretariat Puskesmas Atuka yang berada di Kota Timika, jauh dari lokasi pelayanan masyarakat. Para petugas menilai hal ini tidak efisien dan hanya memboroskan anggaran. “Sekretariat di kota tidak ada manfaatnya bagi pelayanan di kampung. Kami butuh fasilitas yang langsung mendukung masyarakat, bukan birokrasi di kota,” kata salah seorang petugas lainnya. Mereka juga meminta agar speedboat puskesmas selalu tersedia dan berada di lokasi kerja, karena transportasi air merupakan sarana utama untuk menjangkau warga di wilayah terpencil. Sering kali, pelayanan kesehatan terhambat karena speedboat tidak berada di tempat atau tidak berfungsi dengan baik. Sebagai puncak tuntutan, para petugas mendesak Bupati dan Wakil Bupati Mimika, serta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, untuk segera mengganti Kepala Puskesmas Atuka, Lia Tahitu. Mereka menilai, pergantian pimpinan adalah langkah paling realistis untuk mengembalikan kepercayaan dan memperbaiki sistem kerja yang dinilai sudah tidak sehat. “Kami tidak ingin konflik terus berlarut. Kami hanya ingin pimpinan yang bisa mendengarkan, jujur, dan mau melibatkan semua pihak, termasuk OAP,” tegas perwakilan petugas dalam aksi tersebut. Aksi ini juga menjadi refleksi dari tuntutan Orang Asli Papua (OAP) agar lebih dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan dan pengelolaan anggaran publik di sektor kesehatan. Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Puskesmas Atuka, Lia Tahitu, belum memberikan tanggapan resmi atas aksi pemalangan dan berbagai tuntutan tersebut. Tim Papua News Online masih berupaya menghubungi pihak terkait, termasuk Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, untuk mendapatkan klarifikasi dan penjelasan lebih lanjut. Sementara itu, suasana di lokasi pemalangan masih kondusif. Para petugas tetap berjaga di area puskesmas sambil menunggu respons dari pemerintah daerah dan dinas terkait. Penulis: Jidan Editor: GF   16 Okt 2025, 01:47 WIT
Menko Polkam Tegaskan AI Sebagai Instrumen Strategis Nasional: Dorong Aparatur Kuasai Teknologi Papuanewsonline.com, Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polkam) terus berinovasi menghadapi tantangan era digital. Kali ini, langkah nyata tersebut diwujudkan melalui kegiatan “Sosialisasi dan Pengenalan Artificial Intelligence (AI) bagi Aparatur Kemenko Polkam” yang digelar di kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Selasa (14/10/2025). Acara ini dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, didampingi Wakil Menteri Koordinator, Letjen TNI (Purn.) Lodewijk F. Paulus. Keduanya menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam memperkuat sistem tata kelola politik dan keamanan nasional. “Penguasaan teknologi Artificial Intelligence bukan sekadar kebutuhan teknis, tetapi sudah menjadi tanggung jawab strategis bangsa. Kita tidak boleh tertinggal dalam pemanfaatan AI untuk mendukung kebijakan publik yang cerdas dan responsif,” tegas Menko Polkam Djamari Chaniago dalam arahannya. Menko Polkam menjelaskan bahwa AI harus ditempatkan sebagai instrumen utama dalam memperkuat ketahanan informasi, koordinasi lintas sektor, dan analisis kebijakan strategis. Melalui pemanfaatan teknologi berbasis data ini, pemerintah diharapkan dapat mempercepat proses pengambilan keputusan dan meningkatkan kemampuan deteksi dini terhadap potensi gangguan politik maupun keamanan. “AI dapat membantu kita membaca pola ancaman lebih cepat, mengidentifikasi risiko secara akurat, dan merumuskan kebijakan yang lebih adaptif. Dengan begitu, kita dapat mencegah krisis sejak dini,” tambahnya. Wamenko Polkam Lodewijk F. Paulus turut menegaskan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam mendukung penerapan AI di lingkungan pemerintahan. Menurutnya, teknologi tidak akan bermanfaat optimal tanpa kapasitas SDM yang memahami prinsip etika, keamanan data, dan tata kelola digital. “Transformasi digital bukan sekadar soal perangkat lunak, tetapi soal kesiapan mindset aparatur. AI akan efektif jika digunakan oleh birokrat yang paham arah kebijakan dan tanggung jawab nasional,” ujar Lodewijk. Sosialisasi ini menghadirkan dua narasumber utama: Pengamat Teknologi Informasi Yono Reksoprodjo dan Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Wahyu Andrianto. Keduanya membahas potensi penerapan AI di bidang pemerintahan, mulai dari analisis big data, penguatan keamanan siber, hingga otomatisasi proses administrasi. Dalam pemaparannya, Yono menyoroti pentingnya membangun sistem AI yang transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan publik. Sementara Wahyu menjelaskan bagaimana integrasi AI dapat mempercepat komunikasi dan respon kebijakan antarinstansi, terutama dalam menghadapi isu strategis yang membutuhkan koordinasi cepat. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Sekretaris Kemenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri Mayjen TNI Heri Wiranto, Deputi Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri Dubes Mohammad K. Koba, Deputi Bidang Koordinasi Pertahanan Negara dan Kesatuan Bangsa Mayjen TNI Purwito Hadi Wardhono, serta para Staf Ahli dan pejabat eselon II. Kehadiran para pejabat tinggi ini menunjukkan dukungan penuh terhadap agenda transformasi digital di lingkungan Kemenko Polkam, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam mengadopsi teknologi modern untuk memperkuat sistem keamanan nasional yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman. Menutup kegiatan, Menko Polkam menyampaikan bahwa penguasaan AI adalah bagian dari upaya membangun pemerintahan yang cerdas, transparan, dan berorientasi pada solusi cepat berbasis data. “Ke depan, tantangan keamanan nasional tidak hanya datang dari aspek fisik, tetapi juga dari ruang digital. Karena itu, penguasaan AI harus menjadi bagian dari budaya kerja baru di Kemenko Polkam,” pungkas Djamari. Dengan terselenggaranya sosialisasi ini, Kemenko Polkam berharap seluruh aparatur mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan terus meningkatkan kapasitasnya dalam menghadapi dinamika politik, hukum, dan keamanan yang semakin kompleks di era digital. (GF)  16 Okt 2025, 01:39 WIT
Kemenko Polkam Dorong Transparansi Demokrasi Lewat Publikasi Indeks Demokrasi Indonesia 2024 Papuanewsonline.com, Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polkam) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sistem demokrasi nasional melalui keterbukaan informasi publik. Dalam upaya tersebut, Kemenko Polkam menggelar Rapat Koordinasi Penyusunan Publikasi Capaian Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Tahun 2024, yang diselenggarakan di Jakarta pada Selasa (14/10/2025). Rapat ini dipimpin langsung oleh Plh. Asisten Deputi Demokrasi dan Kepemiluan Kemenko Polkam, Themy Usman, dan dihadiri oleh berbagai perwakilan dari kementerian, lembaga, dan instansi terkait. Forum ini menjadi langkah penting dalam memfinalisasi dan mempublikasikan capaian Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) 2024, yang akan dituangkan dalam bentuk buku resmi. “Sebagai pengampu Indeks Demokrasi Indonesia, Kemenko Polkam memiliki tanggung jawab strategis dalam memastikan transparansi dan akuntabilitas capaian demokrasi nasional,” tegas Themy Usman saat membuka kegiatan tersebut. Menurut Themy, IDI 2024 tidak hanya menjadi alat ukur perkembangan demokrasi, tetapi juga bagian penting dari strategi pembangunan jangka panjang Indonesia. Ia menegaskan, publikasi IDI merupakan wujud nyata dari keterbukaan informasi publik yang mendukung salah satu indikator dalam Program Prioritas Nasional Ke-1, yakni Penguatan Ideologi Pancasila, Demokrasi, dan HAM. “Pembangunan demokrasi telah ditetapkan sebagai salah satu dari delapan misi besar dalam Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang RPJP 2025–2045. Artinya, IDI bukan sekadar angka, tapi arah bagi seluruh elemen bangsa dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia,” jelas Themy. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hasil pengukuran IDI 2024 akan dijadikan dokumen evaluasi penting untuk melihat capaian demokrasi nasional, termasuk efektivitas kebijakan publik dan dinamika kehidupan politik masyarakat di tingkat daerah maupun pusat. Dalam forum tersebut, sejumlah peserta rapat turut menyoroti pentingnya hasil IDI menjadi bahan evaluasi kebijakan pemerintah. Data yang dihasilkan tidak hanya merekam dinamika demokrasi secara nasional, tetapi juga menggambarkan variasi kualitas demokrasi di setiap provinsi. Kemenko Polkam berharap publikasi ini dapat menjadi rujukan akademis dan praktis bagi berbagai pihak—mulai dari pengambil kebijakan, lembaga riset, hingga masyarakat luas—untuk memahami kondisi nyata demokrasi di Indonesia. “Publikasi IDI ini akan menjadi dokumen referensi bagi banyak pihak. Dari sini, pemerintah bisa menyusun strategi perbaikan, sementara masyarakat dapat menilai sejauh mana hak-hak politik mereka terjamin,” lanjut Themy. Selain itu, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam penyusunan laporan ini menjadi bukti nyata sinergi antar lembaga dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang partisipatif. Menutup arahannya, Themy menegaskan bahwa pemerintah akan terus berupaya menjaga keterbukaan informasi publik sebagai pilar utama demokrasi yang sehat dan berkelanjutan. “Keterbukaan informasi bukan hanya bentuk tanggung jawab, tapi juga cara pemerintah membangun kepercayaan rakyat. Demokrasi tidak bisa tumbuh tanpa transparansi dan partisipasi masyarakat,” ujar Themy menegaskan. Melalui publikasi Indeks Demokrasi Indonesia 2024 ini, Kemenko Polkam berharap agar seluruh elemen bangsa dapat berpartisipasi aktif dalam memperkuat demokrasi yang inklusif, adil, dan berkeadaban. (GF) 16 Okt 2025, 01:37 WIT
Kondisi Puskesmas Atuka Kian Memprihatinkan, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan Segera Papuanewsonline.com, Mimika – Suasana di Puskesmas Atuka, Kabupaten Mimika, kini tampak jauh dari kata layak. Bangunan puskesmas yang menjadi satu-satunya fasilitas kesehatan di wilayah tersebut mengalami kerusakan parah. Atap bocor di berbagai ruangan, dinding retak, hingga fasilitas penunjang yang tidak lagi memadai, membuat pelayanan kesehatan menjadi terhambat. Keluhan datang dari tenaga medis yang setiap hari harus berjuang memberikan layanan di tengah kondisi sarana yang tidak mendukung. Air hujan yang masuk melalui atap bocor sering membasahi ruangan perawatan dan ruang tunggu pasien, sementara beberapa peralatan medis tak lagi bisa digunakan dengan optimal akibat lembab dan rusak. “Kami tidak bisa memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal dengan kondisi bangunan seperti ini,” ungkap Karel Mapupia, perawat Puskesmas Atuka, kepada Papua News Online. “Atap bocor, dinding retak, bahkan beberapa bagian plafon sudah hampir roboh. Kami khawatir ini membahayakan pasien maupun petugas.” Puskesmas Atuka selama ini menjadi tumpuan masyarakat dari berbagai kampung di wilayah sekitar. Namun, kondisi bangunan yang kian rusak membuat aktivitas pelayanan sering kali terganggu, terutama saat musim hujan. Petugas medis terpaksa harus memindahkan pasien dan peralatan setiap kali hujan deras mengguyur. Dalam beberapa kesempatan, kegiatan imunisasi dan pelayanan ibu hamil pun tertunda karena ruangan tak bisa digunakan. “Kami sering kesulitan saat melakukan tindakan medis, karena ruangan bocor dan air masuk ke mana-mana. Kadang listrik juga padam, jadi kami harus pakai senter untuk melayani pasien,” tambah salah satu bidan yang enggan disebutkan namanya. Kondisi ini memicu keprihatinan masyarakat Atuka. Mereka menilai bahwa pemerintah daerah kurang memperhatikan kebutuhan dasar kesehatan di wilayah terpencil seperti Atuka. Warga berharap agar Pemkab Mimika segera mengalokasikan anggaran renovasi dan memperbaiki seluruh fasilitas yang rusak. “Kami masyarakat Atuka hanya ingin tempat berobat yang layak. Jangan tunggu sampai bangunannya roboh baru diperbaiki,” ujar Yulianus Kobak, tokoh masyarakat Atuka. Selain perbaikan fisik, warga juga meminta agar pemerintah meningkatkan ketersediaan obat-obatan dan peralatan medis yang memadai. Menurut mereka, pelayanan kesehatan yang layak adalah hak setiap warga negara tanpa memandang lokasi tempat tinggal. Puskesmas Atuka menjadi contoh nyata ketimpangan layanan kesehatan antara wilayah kota dan pedalaman. Padahal, tenaga medis di sana telah bekerja keras untuk tetap melayani masyarakat dengan segala keterbatasan. Aktivis kesehatan lokal bahkan menilai bahwa kondisi seperti ini menunjukkan perlunya pengawasan anggaran kesehatan yang lebih ketat. Mereka menekankan bahwa pemerintah pusat maupun daerah harus memastikan pembangunan fasilitas kesehatan berjalan merata dan tidak hanya terfokus di wilayah perkotaan. “Kesehatan adalah kebutuhan dasar. Kalau puskesmas saja bocor dan tidak layak, bagaimana masyarakat bisa mendapatkan layanan yang baik?” ujar seorang aktivis dari komunitas kesehatan Mimika. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika terkait rencana renovasi Puskesmas Atuka. Namun masyarakat berharap agar pemerintah segera melakukan peninjauan lapangan dan mengambil langkah konkret. Warga Atuka percaya, dengan perhatian dan tindakan cepat dari pemerintah, pelayanan kesehatan dapat kembali berjalan dengan baik dan masyarakat bisa merasa aman serta nyaman saat berobat.     Penulis: Hendrik Editor: GF 16 Okt 2025, 01:34 WIT
Gelar Seminar, Polri: Perkuat Karakter Anggota Hadapi Geopolitik Internasional Papuanewsonline.com, Jakarta – Polri menyelenggarakan seminar bertajuk “Rekonstruksi Jati Diri Bangsa Merajut Nusantara untuk Mewujudkan Polri Sadar Berkarakter” untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) Polri yang unggul dan berkarakter. Kegiatan yang berlangsung di Jakarta Selatan ini, merupakan upaya strategis Polri untuk memperkuat rasa nasionalisme yang dijiwai jati diri bangsa di tengah dinamika tarik menarik geopolitik internasional.Asisten Kapolri Bidang SDM (As SDM Kapolri) Irjen Pol Anwar membuka sekaligus menjadi keynote speaker dalam seminar tersebut menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata upaya Polri dalam memberikan solusi untuk memperbaiki tubuh institusi yang pada akhirnya akan membentuk SDM Polri unggul. Lebih lanjut, seminar ini menjadi awal dari penyusunan kurikulum dan modul yang menekankan pentingnya membangun karakter personel Polri berdasarkan tiga pilar utama: spiritual, intelektual dan kultural, guna memperkuat jati diri Bangsa."Seminar ini menjadi bagian kecil dari langkah nyata dan sistematis Polri untuk memperbaiki diri dengan membangun SDM yang unggul, profesional dan berkarakter Bhayangkara Indonesia melalui pilar spiritual, intelektual dan kultural." Ujar As SDM, Irjen Anwar.Pentingnya penguatan karakter ini didukung oleh temuan riset yang dipaparkan oleh Dr. Junus Simangunsong, S.Si., M.T., selaku Ketua Tim Peneliti Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia. Dalam presentasinya mengenai “Penyampaian Hasil Riset Rekonstruksi Jati Diri Bangsa Merajut Nusantara untuk Mewujudkan Manusia Indonesia Seutuhnya,” Dr. Junus menyoroti signifikansi spiritualitas sebagai fondasi moral dan integritas anggota Polri. Hasil riset menunjukkan bahwa nilai koefisien Dimensi Spiritual memiliki skor terendah, yakni 4,28, dibandingkan intelektual (4,43) dan kultural (4,46). Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan kesadaran spiritual dan refleksi, sehingga strategi penguatan berjenjang sangat diperlukan."Hasil riset ini mendapatkan dukungan penuh dari Polri dan akan dijadikan dasar fundamental dalam penyusunan kurikulum pembinaan karakter Polri. Kurikulum ini dirancang untuk memperkuat jati diri Bhayangkara Indonesia dan dalam penguatan ketahanan nasional." Ujar Irjen Anwar.Salah satu narasumber Karobinkar SSDM Polri, Brigjen Pol Langgeng Purnomo, memaparkan materi “Kembali kepada Jati diri bangsa untuk mengelola tarik menarik geopolitik internasional melalui penguatan nasionalisme melalui pilar spiritual, intelektual dan kultural.” Sebagai seorang Praktisi Polri, ia menegaskan bahwa pembangunan SDM Polri berkarakter Bangsa Indonesia harus menguatkan jiwa nasionalisme melalui tiga pilar utama yang saling menopang. Brigjen Langgeng menjelaskan bahwa tarik menarik geopolitik internasional merupakan dinamika kompleks interaksi antarnegara di tingkat global, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti politik, ekonomi, keamanan dan budaya. Fenomena ini menciptakan persaingan dan pengaruh antarnegara yang dapat berupa kerja sama, persaingan bahkan konflik, dengan contoh nyata seperti globalisasi, perang dagang, pasar bebas dan polarisasi."Pelindung utama Bangsa Indonesia dalam mengelola tarik menarik geopolitik internasional adalah dengan cara menguatkan jiwa nasionalisme yg dijiwai jati diri bangsa untuk menguatkan karakter bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara." Ujar Langgeng.Sementara itu, dari kalangan akademisi, Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, Putri Proklamator, menyampaikan materi "Pancasila jalan lurus, sebagaimana pemikiran dari Bung Hatta. Polri didorong sebagai role model perekat bangsa." Beliau menegaskan peran strategis Polri sebagai panutan dan perekat bangsa. Menurutnya, Polri bukan hanya sekadar penegak hukum, tetapi juga adalah penjaga nilai-nilai moral dan persatuan bangsa.Prof. Dr. Anhar Gonggong, M.A. sebagai narasumber dari Sejarawan Nasional berbicara tentang sejarah kebangsaan dan akar kebhayangkaraan, menelusuri Peran Polri dalam Perjalanan Bangsa. Anhar menyinggung esensi pancasila, kejujuran melawan korupsi. Polisi harus menjadi salah satu unsur terpenting negara.Masukan konstruktif juga datang dari peserta tamu. Kushartono, yang bertindak sebagai penanggap, memberikan saran bahwa solusi mendasar terhadap berbagai persoalan bangsa bukanlah saling mengkritik atau menghujat, melainkan melalui introspeksi diri masing-masing. Ia bahkan menganjurkan "tobat nasional" dengan kembali kepada jati diri bangsa yang sejati.Di sesi penutup, Dr. Supardi Hamid, M.Si., Komisioner Kompolnas, menyampaikan materi “Penguatan Jati Diri Polri: Tantangan Institusional dan Agenda Strategis.” Beliau menekankan bahwa upaya penguatan karakter anggota Polri harus diiringi dengan tata kelola kelembagaan yang transparan dan berkeadilan, sebagai wujud reformasi SDM yang utuh.Seminar yang diikuti secara langsung oleh 250 anggota Polri dari Mabes Polri dan Polda jajaran se-Indonesia, juga dilaksanakan secara daring, berfokus pada internalisasi nilai-nilai spiritual, intelektual dan kultural dalam membentuk SDM Polri yang profesional, humanis, berkarakter kuat dan dipercaya publik. "Tujuan utama kegiatan seminar ini adalah meningkatkan pemahaman anggota tentang jati diri bangsa, menginternalisasi model “Sadar Berkarakter” dalam tugas sehari-hari, membangun komitmen kolektif dan pada akhirnya, mewujudkan Polri yang responsif, berkarakter kuat serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi." Tutup Anwar. PNO-12 15 Okt 2025, 20:41 WIT
Karyawan Puskesmas Atuka Protes Potongan Tunjangan, Tuntut Keadilan dan Transparansi Manajemen Papuanewsonline.com, Mimika — Ketegangan terasa di halaman Puskesmas Atuka, Kabupaten Mimika, ketika sejumlah tenaga kesehatan dan karyawan puskesmas menggelar aksi protes menuntut keadilan atas pemotongan tunjangan yang mereka nilai tidak transparan. Dalam aksi damai yang dilakukan di depan kantor puskesmas itu, para tenaga kesehatan membawa papan tuntutan bertuliskan aspirasi mereka dan menyerukan agar hak-hak mereka segera dikembalikan. Aksi tersebut mencerminkan kekecewaan mendalam para karyawan terhadap manajemen Puskesmas Atuka yang dianggap tidak memberikan penjelasan jelas terkait pemotongan tunjangan tanpa dasar yang kuat. “Kami merasa terpinggirkan dan tidak dihargai. Tunjangan kami dipotong tanpa alasan yang jelas, dan kami juga tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan program Puskesmas,” ujar Karel Mapupia, salah satu perawat Puskesmas Atuka, dengan nada kecewa. Karel bersama rekan-rekannya menilai, kebijakan pemotongan tunjangan tersebut sangat merugikan mereka yang selama ini bekerja keras di lapangan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, terutama di wilayah terpencil. Mereka menuntut agar pihak Kepala Puskesmas Atuka dan Pemerintah Kabupaten Mimika segera turun tangan untuk memberikan penjelasan serta mengembalikan tunjangan mereka seperti semula. Selain meminta pemulihan hak, para tenaga kesehatan juga menuntut dilakukannya investigasi menyeluruh terhadap pengelolaan dana tunjangan dan insentif tenaga kesehatan di Puskesmas Atuka. Mereka khawatir, ada maladministrasi atau penyalahgunaan wewenang yang menyebabkan hak mereka tidak tersalurkan secara penuh. “Kami tidak menolak kebijakan jika memang ada alasan yang kuat dan sesuai aturan. Tapi selama ini kami tidak pernah diberi penjelasan. Kami hanya ingin keadilan dan kejelasan,” tambah Karel. Para karyawan juga menyerukan agar pemerintah daerah memperkuat pengawasan terhadap pengelolaan dana kesehatan, baik yang bersumber dari APBD maupun program pusat. Menurut mereka, ketidakjelasan seperti ini bisa menurunkan semangat kerja dan berdampak pada kualitas pelayanan terhadap masyarakat. Protes yang dilakukan para tenaga kesehatan Puskesmas Atuka menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah tentang kesejahteraan tenaga medis yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan publik. Mereka menegaskan bahwa motivasi dan dedikasi tenaga kesehatan akan sangat bergantung pada kepastian hak-hak mereka. “Kami tidak hanya bekerja untuk gaji, tapi juga untuk pengabdian. Namun, ketika hak kami diabaikan, semangat kerja kami juga menurun,” ujar salah satu tenaga bidan yang enggan disebutkan namanya. Masyarakat sekitar juga turut memberikan dukungan moral terhadap aksi ini. Mereka berharap pemerintah segera menyelesaikan persoalan secara adil dan terbuka, agar pelayanan kesehatan di Puskesmas Atuka tetap berjalan optimal. Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen Puskesmas Atuka belum memberikan keterangan resmi terkait alasan pemotongan tunjangan tersebut. Namun, sejumlah pihak di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika disebut telah mengetahui persoalan ini dan tengah mengupayakan mediasi antara karyawan dan manajemen puskesmas. Pemerintah Kabupaten Mimika diharapkan segera menindaklanjuti keluhan ini agar tidak terjadi gejolak di lingkungan tenaga kesehatan lainnya. Transparansi dan komunikasi terbuka dianggap sebagai solusi utama untuk mengembalikan kepercayaan para petugas medis yang selama ini mengabdikan diri di wilayah pedalaman.     Penulis: Hendrik Editor: GF 15 Okt 2025, 20:44 WIT
Guru Tewas Dianiaya, Sekolah Dibakar: MPR for Papua Desak Aparat Usut Tuntas Kekerasan di Yahukimo Papuanewsonline.com, Yahukimo – Suasana duka menyelimuti Distrik Holuwon, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Seorang guru bernama Melani Wamea ditemukan tewas mengenaskan setelah diduga dianiaya oleh Orang Tak Dikenal (OTK) di lingkungan Sekolah Jhon D. Wilson pada Jumat (10/10/2025). Peristiwa tragis itu tidak hanya merenggut nyawa seorang pendidik, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat setempat, terlebih setelah gedung sekolah ikut dibakar pascakejadian. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk Papua (MPR for Papua), Yorrys Raweyai, mengecam keras tindakan brutal tersebut dan menegaskan bahwa kekerasan terhadap tenaga pendidik merupakan bentuk kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditoleransi. “Siapa pun pelakunya, kekerasan terhadap guru tidak bisa diterima atas alasan apa pun. Guru adalah pilar utama masa depan bangsa, bukan pihak yang harus menjadi korban kebrutalan,” tegas Yorrys dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (15/10/2025). Menurut Yorrys, kasus yang menimpa Melani Wamea bukanlah insiden tunggal. Ia menyoroti bahwa kekerasan terhadap tenaga pendidik di Tanah Papua telah terjadi berulang kali dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah guru sebelumnya menjadi korban serangan, baik mengalami luka berat maupun kehilangan nyawa. Selain itu, fasilitas pendidikan juga kerap menjadi sasaran amukan kelompok bersenjata. Salah satunya pembakaran SMP Kiwirok oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pada Senin (13/10/2025), yang mengakibatkan proses belajar-mengajar lumpuh total di wilayah tersebut. “Fenomena ini sudah terlalu sering terjadi. Kita tidak boleh membiarkannya menjadi hal yang dianggap biasa. Negara harus hadir melindungi mereka yang mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi Papua,” ujar Yorrys dengan nada tegas. MPR for Papua mendesak aparat keamanan untuk segera mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya. Yorrys meminta agar setiap langkah penyelidikan dilakukan secara profesional, transparan, dan berkeadilan. “Kami meminta tindakan tegas dan investigasi menyeluruh agar para pelaku kekerasan segera diproses sesuai hukum yang berlaku. Jangan sampai rasa takut membungkam semangat para guru yang masih bertugas di daerah rawan,” katanya. Lebih jauh, Yorrys menilai perlindungan terhadap tenaga pendidik harus menjadi prioritas utama pemerintah pusat dan daerah, termasuk dengan memperkuat sistem keamanan di sekolah-sekolah terpencil serta memastikan dukungan psikologis bagi guru dan siswa yang terdampak. Sementara itu, Sekretaris MPR for Papua, Filep Wamafma, menilai kekerasan yang menimpa Melani Wamea dan pembakaran sekolah di Yahukimo bukan sekadar masalah kriminal, melainkan isu kemanusiaan yang mengancam masa depan pendidikan di Papua. “Kekerasan terhadap guru dan hancurnya sekolah adalah tragedi kemanusiaan. Ini bukan hanya soal hukum, tapi juga menyangkut masa depan anak-anak Papua. Negara harus hadir memberikan jaminan rasa aman,” ujar Filep. Filep juga menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat, baik tokoh adat, agama, maupun organisasi kemasyarakatan, untuk turut berperan aktif menciptakan lingkungan yang damai dan mendukung keberlangsungan pendidikan. Kematian Melani Wamea menjadi pengingat keras bahwa perjuangan guru di Papua bukan hanya melawan keterbatasan fasilitas, tetapi juga mempertaruhkan nyawa demi mencerdaskan generasi muda. MPR for Papua menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proses hukum hingga tuntas, serta memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa depan. “Guru adalah cahaya peradaban. Jika mereka terus menjadi korban, maka gelaplah masa depan anak-anak Papua,” pungkas Yorrys.     Penulis: Hendrik Editor: GF 15 Okt 2025, 20:38 WIT
Atlet Garbha Presisi Polri Borong Medali di Ajang PON Beladiri 2025 Papuanewsonline.com, Kudus - Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Beladiri 2025, yang diselenggarakan di Kudus, Jawa Tengah, pada 11 hingga 26 Oktober 2025.Ajang nasional yang diikuti oleh 2.645 atlet dari 38 KONI Provinsi ini mempertandingkan 10 cabang olahraga beladiri, yaitu:1. Karate2. Tarung Derajat3. Ju-Jitsu4. Pencak Silat5. Taekwondo6. Gulat7. Judo8. Sambo9. Wushu 10. Shorinji KempoSelama perhelatan berlangsung, Data perolehan medali dari atlet Polri di cabang beladiri lainnya masih terus dihimpun, dan diharapkan kontribusi anggota Polri dapat semakin memperkuat posisi Indonesia di kancah olahraga nasional.Dari cabang-cabang tersebut, sejumlah atlet Polri turut berpartisipasi mewakili provinsi masing-masing, menampilkan kemampuan terbaik dan menjunjung tinggi sportivitas. Salah satu cabang yang menorehkan hasil gemilang adalah Taekwondo, di mana atlet Garbha Presisi Polri berhasil mengumpulkan 5 medali emas, 2 perak, dan 3 perunggu.Perolehan Medali Cabang Taekwondo oleh Atlet Polri:???? Medali Emas: 1. Briptu Rizky Anugrah Prasetyo – Polda Jawa Timur (Kelas O-87 kg Putra) 2. Bripda Adhetian Setya Putra – Polda Metro Jaya (Kelas U-87 kg Putra) 3. Bripda Mega Djuwita – Polda Riau (Kelas U-73 kg Putri) 4. Bripda Petrus Khrisna Putra – Polda Metro Jaya (Kelas U-54 kg Putra) 5. Bripda Shaleha Fitriana – Polda Jawa Tengah (Kelas U-62 kg Putri)???? Medali Perak: 1. Bripda Sekar Embun – Polda Bangka Belitung (Kelas U-67 kg Putri) 2. Briptu Siloam Begur – Polda Kalimantan Timur (Kelas U-54 kg Putra)???? Medali Perunggu:1. Briptu Johansen Visenzo – Polda Sulawesi Tengah (Poomsae Beregu Putra) 2. Bripda Yogy Aziz Sigiantoro – Polda Jawa Tengah (Kelas U-87 kg Putra) 3. Bripda Hanifah Safitri – Polda Riau (Kelas U-53 kg Putri)Kombes Pol Philemon Ginting, S.I.K., M.H. Kabag Binjas SSDM Polri selaku pengurus Komite Olahraga Polri mengungkapkan “Prestasi yang diraih para atlet Garbha Presisi Polri di ajang PON Beladiri 2025 ini merupakan wujud nyata dari semangat disiplin, dedikasi, dan jiwa pantang menyerah anggota Polri. Kami bangga karena mereka tidak hanya menunjukkan kemampuan dalam olahraga beladiri, tetapi juga memperlihatkan karakter kuat dan integritas tinggi yang menjadi jati diri seorang Bhayangkara. Ke depan, Polri melalui Komite Olahraga Polri (KOP) akan terus membina dan memfasilitasi para atlet untuk berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. Olahraga beladiri bukan sekadar kompetisi, tetapi bagian dari pembentukan mental dan fisik yang siap mendukung tugas pokok Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,”Eksistensi Komite Olahraga Polri (KOP) berperan penting dalam pembinaan, pengembangan, dan penyaluran bakat anggota Polri di bidang olahraga. KOP menjadi wadah resmi yang mengoordinasikan kegiatan olahraga di lingkungan Polri serta menjembatani sinergi antara pembinaan jasmani, pengembangan prestasi, dan peningkatan citra positif Polri di masyarakat.Melalui KOP, Polri, serta para pelatih dan pimpinan satuan di seluruh Indonesia, Polri terus berkomitmen mencetak atlet berprestasi yang mampu bersaing secara sportif, terhormat, dan berintegritas tinggi.Kegiatan PON Beladiri 2025 di Kudus menjadi momentum penting untuk mempererat semangat sportivitas, memperkokoh persaudaraan, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap bangsa. Polri akan terus berperan aktif membangun karakter personel yang tangguh, disiplin, dan berprestasi, sejalan dengan semangat Polri Presisi Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan. PNO-12 15 Okt 2025, 20:29 WIT
Organisasi Kemasyarakatan Dukung Program “Jaga Jakarta”, Siap Bersinergi dengan Polda Metro Jaya Papuanewsonline.com, Jakarta – Sejumlah organisasi masyarakat ormas menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap langkah Polda Metro Jaya yang menggelar Apel Siaga Kamtibmas bertema “Harmoni Organisasi Kemasyarakatan dalam Jaga Jakarta” di Lapangan Presisi Ditlantas Polda Metro Jaya, Rabu (15/10/2025).Kegiatan ini menjadi simbol kolaborasi antara Polri dan berbagai organisasi kemasyarakatan seperti GRIB, KOKAM, Timur Indonesia Bersatu, ANTARA, PPM, FORKABI, FBR, KBPP Polri, Kembang Latar, PBB, Bang Japar, PP, PS TTKDH, Satria Banten, BPPKB Banten, FKPPI, Pokdarkamtibmas, Senkom, Satgas Banten Kesti, FKPM, Komunitas, dan GMBI.Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Grip Jaya, Haji Zulfiqar, mengaku mengapresiasi inisiatif Kapolda Metro Jaya menggelar apel yang mempertemukan berbagai ormas dalam satu semangat kebersamaan.“Acara seperti ini sangat baik dan bermanfaat dalam mempererat hubungan antara kepolisian dan organisasi masyarakat,” ujar Haji Zulfiqar kepada wartawan di lokasi acara.Zulfiqar menilai pembinaan dan perlindungan dari pihak kepolisian penting agar ormas dapat terus berperan positif di tengah masyarakat.“Kalau Polri aktif membina dan mengayomi, kami siap turun ke masyarakat untuk memberikan edukasi dan mencegah warga agar tidak mudah terprovokasi isu-isu negatif,” tegasnya.tidak hanya itu, Komandan Wilayah Ormas Kebangkitan Jawara dan Pengacara (Bang Jafar), Iko Setiawan, juga menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polda Metro Jaya atas pelaksanaan Apel Siaga Kamtibmas.“Apel ini langkah positif untuk memperkuat hubungan antara Polri dan ormas di Jakarta. Ini bentuk nyata kebersamaan dalam menjaga keamanan,” kata Iko Setiawan.Bang Jafar, yang berada di bawah pimpinan Hj. Fahira Idris, S.E., M.A., disebut siap terus mendukung program Jaga Jakarta.“Kami siap berperan aktif menjaga kamtibmas. Dengan semangat kebersamaan, Bang Jafar akan bersinergi dengan Polda Metro Jaya untuk mewujudkan Jakarta yang aman, tertib, dan kondusif,” ujarnya.Iko menegaskan, seluruh anggota Bang Jafar siap berada di garda terdepan membantu kepolisian menjaga situasi tetap damai. PNO-12 15 Okt 2025, 20:19 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT