logo-website
Jumat, 07 Agu 2026,  WIT

Penggunaan Air KAI Turun 22,16 Persen, Teknologi Daur Ulang Diperkuat

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat penurunan penggunaan air sepanjang 2025. Total pemakaian air tercatat 716,30 megaliter, turun 203,93 megaliter atau 22,16 persen.

Papuanewsonline.com - 06 Agu 2026, 21:43 WIT

Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan

Dokumentasi

Papuanewsonline.com, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat penurunan penggunaan air sepanjang 2025. Total pemakaian air tercatat 716,30 megaliter, turun 203,93 megaliter atau 22,16 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 920,23 megaliter.


Penurunan tersebut setara dengan penghematan sekitar 203,93 juta liter air. Langkah efisiensi dilakukan sebagai bagian dari upaya KAI mengelola sumber daya secara lebih bertanggung jawab di tengah tekanan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan air.

Data Food and Agriculture Organization dalam AQUASTAT 2025 yang dipublikasikan UN-Water pada Januari 2026 menunjukkan ketersediaan air tawar terbarukan per kapita secara global telah mengalami penurunan 7 persen dalam satu dekade terakhir.

Kondisi serupa juga perlu diantisipasi di Indonesia. Berdasarkan analisis BMKG yang dirujuk Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum pada Dasarian II Juli 2026, sebanyak 89,97 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal.

Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026. Sementara itu, fenomena El Niño berpotensi berlangsung hingga awal 2027 sehingga pengelolaan sumber daya air menjadi semakin penting.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan efisiensi air merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pelayanan perkeretaapian.

“Air digunakan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, pekerja, kebersihan sarana, serta fasilitas operasional. Karena itu, setiap penurunan penggunaan air harus dicapai melalui pengukuran, pengendalian, dan teknologi yang tetap menjaga standar kebersihan serta kenyamanan pelayanan,” ujar Anne.

Penurunan penggunaan air terjadi pada seluruh sumber air yang dimanfaatkan KAI. Penggunaan air permukaan turun dari 114,41 megaliter pada 2024 menjadi 47,90 megaliter pada 2025.

Sementara itu, penggunaan air tanah berkurang dari 626,25 megaliter menjadi 570,80 megaliter. Adapun penggunaan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) turun dari 179,57 megaliter menjadi 97,60 megaliter.

Air tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti sanitasi, toilet, tempat wudu, kebutuhan pekerja dan pelanggan, hingga pencucian sarana perkeretaapian.

Untuk mendukung efisiensi air, KAI juga memanfaatkan teknologi Automatic Train Wash Plant atau ATWP pada LRT Jabodebek. Sistem tersebut memungkinkan proses pencucian sarana dilakukan secara otomatis dengan penggunaan air yang lebih efisien.

ATWP dilengkapi sistem pengolahan air atau water treatment system. Air bekas pencucian disaring untuk memisahkan berbagai material seperti tanah, pasir, oli, dan gemuk sebelum digunakan kembali dalam siklus pencucian berikutnya.

Pada tahap akhir, proses pembilasan menggunakan demineralized water untuk menjaga kualitas kebersihan sarana sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Pemanfaatan kembali air hasil pencucian tersebut membantu mengurangi kebutuhan air baru dalam kegiatan operasional. KAI juga melakukan pemantauan konsumsi air secara berkala di kantor pusat, unit operasional, hingga entitas anak perusahaan.

“Penurunan sebesar 203,93 juta liter menunjukkan besarnya manfaat yang dapat dihasilkan melalui pengendalian pada berbagai unit. KAI akan terus memperkuat pengukuran, kedisiplinan penggunaan, dan penerapan teknologi pengolahan air agar setiap liter dimanfaatkan secara bertanggung jawab,” kata Anne.

Selain memberikan manfaat bagi lingkungan, efisiensi penggunaan air juga berdampak terhadap operasional perusahaan. Berkurangnya penggunaan air PDAM dapat menekan biaya pemakaian, sedangkan berkurangnya penggunaan air tanah turut mengurangi kebutuhan listrik untuk pengoperasian pompa.

Ke depan, KAI akan terus mengevaluasi penggunaan air pada berbagai fasilitas pelayanan dan operasional, terutama di wilayah yang menghadapi risiko kekeringan dan keterbatasan ketersediaan air.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan sumber daya sekaligus memastikan pelayanan perkeretaapian tetap bersih, andal, dan efisien.


Sumber: PT Kereta Api Indonesia (Persero)

Editor: OF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE