logo-website
Sabtu, 25 Jul 2026,  WIT

Pemuda Amungsa Tantang Komisi III: Jangan Jadikan Tanah Amungsa Panggung Seremonial

Kemong Berharap Komisi III Jangan Pulang Dengan Tangan Hampa Dari Timika Tanpa Membawa Aspirasi Masyarakat Orang Asli Papua

Papuanewsonline.com - 25 Jul 2026, 00:41 WIT

Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan

Ketua APA Kabupaten Mimika, Hellois Kemong

Papuanewsonline.com, Timika - Kedatangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Komisi III di Tanah Amungsa, Bumi Kamoro disambut dengan pesan keras, bukan karpet merah. 

Aliansi Pemuda Amungsa (APA) Kabupaten Mimika menegaskan, kunjungan kerja wakil rakyat kali ini tidak boleh berhenti sebagai agenda formalitas yang miskin makna.

Ketua APA Kabupaten Mimika, Hellois Kemong, dalam pernyataan resminya, mengucapkan selamat datang namun langsung melayangkan kritik tajam terhadap pola lama kunjungan pejabat pusat ke Papua.

"Kami menyambut baik kunjungan kerja DPR RI Komisi III di Provinsi Papua Tengah, khususnya di Kabupaten Mimika. Kami berharap kehadiran DPR RI bukan hanya sebagai agenda seremonial, tetapi benar-benar menjadi momentum untuk mendengar, menerima, dan memperjuangkan aspirasi masyarakat," tegas Kemong di Timika, Jumat (24/7), Malam.

Pernyataan itu menjadi tamparan telak bagi DPR RI. Selama ini, menurut Kemong bahwa  berbagai persoalan krusial di Mimika hanya menjadi laporan di atas meja Jakarta, sementara yang merasakan dampak langsung adalah rakyat di bawah.

" Yang merasakan secara langsung berbagai persoalan dan dampaknya adalah rakyat, bukan pemerintah pusat dan Pemerintah daerah," Tegasnya.

Tuntutan Reses Terbuka di Eme Neme Yauware

Ia mengkritik keras terkait lokasi dan format pertemuan.

" Pemuda Amungsa menolak reses yang dilakukan secara tertutup di hotel atau ruang-ruang eksklusif yang steril dari suara rakyat," Sorotnya.

Sebagai representasi pemuda Amungme, Hellois Kemong menuntut agar kegiatan reses DPR RI Komisi III dilaksanakan secara terbuka di Gedung Eme Neme Yauware.

Dimana menurutnya Gedung Eme Neme Yauware sebagai simbol kebanggaan dan ruang publik milik rakyat Mimika.

Kemong berharap agar komisi III DPR RI membuka ruang seluas-luasnya agar Orang Asli Papua (OAP) bisa bicara langsung tanpa difilter.

"Sehingga seluruh masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP), dapat menyampaikan aspirasi, keluhan, dan harapan mereka secara langsung kepada para wakil rakyat," Ucapnya.

Lanjut Kemong Langkah ini dinilai sebagai ujian keberanian Komisi III. 

" Apakah mereka berani mendengar jeritan tentang keadilan, hak atas tanah adat, konflik sumber daya alam, hingga persoalan hukum yang timpang di Mimika, ataukah hanya datang untuk foto bersama?," ujar Kemong dengan nada kesal.

Ia mengatakan Keadilan dan Kesejahteraan, Bukan Janji Kosong di Kabupaten Mimika.

APA menegaskan, Tanah Amungsa telah terlalu lama menjadi lumbung kekayaan nasional namun rakyatnya masih berjuang untuk keadilan dan kesejahteraan.

"Kami percaya bahwa kehadiran DPR RI harus membawa manfaat nyata, mendengar suara rakyat, serta memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat Papua, khususnya di Kabupaten Mimika," tandas Kemong

Kata Kemong, Publik berharap kritikan tajam  ini  dibaca sebagai ultimatum, karena Rakyat Mimika tidak lagi butuh kunjungan seremonial. Yang dibutuhkan adalah keberpihakan politik yang konkret, bukan retorika Jakarta

" Jika Komisi III pulang tanpa membawa aspirasi OAP ke Senayan, maka kunjungan ini hanya akan menambah daftar panjang kekecewaan rakyat di Bumi Amungsa," Pungkasnya.

Penulis: Hendrik

Editor.  : Of

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE