logo-website
Sabtu, 09 Mei 2026,  WIT
BERITA TAG Politik Homepage
BADKO HMI Papua Dukung Penertiban Tambang Ilegal oleh Gubernur Papua Tengah Papuanewsonline.com, Papua Tengah - Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Tanah Papua melalui Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, dalam menertibkan aktivitas pertambangan ilegal yang marak terjadi di sejumlah wilayah Papua Tengah.Dukungan tersebut disampaikan Ketua Bidang Hukum dan HAM BADKO HMI Tanah Papua, Febri Setiawan Tansir, dalam pernyataan resminya yang diterima media, Rabu (7/5/2026). Menurutnya, penertiban tambang ilegal merupakan langkah penting untuk menyelamatkan lingkungan sekaligus melindungi hak-hak masyarakat adat di Papua.Febri menegaskan bahwa aktivitas pertambangan ilegal selama ini telah menimbulkan berbagai persoalan serius. Mulai dari kerusakan lingkungan, konflik sosial di tengah masyarakat, hingga dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga adat yang terdampak langsung.Selain itu, praktik tambang tanpa izin dinilai merugikan negara dari sisi penerimaan pendapatan. Aktivitas tersebut juga disebut membuka ruang terjadinya praktik korupsi dan keterlibatan pihak-pihak tertentu yang membekingi operasional tambang ilegal.“Kami mengapresiasi ketegasan Gubernur Meki Nawipa untuk menutup dan menindak seluruh tambang ilegal. Ini bukan hanya soal hukum, tapi soal keadilan ekologis dan masa depan generasi Papua,” tegasnya.Dalam pernyataannya, BADKO HMI Tanah Papua juga menyampaikan empat tuntutan utama yang dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah dan aparat penegak hukum dalam proses penertiban tambang ilegal.1. Penegakan Hukum Tanpa Tebang Pilih: Aparat harus menindak semua pihak, termasuk oknum aparat dan pemodal besar yang menjadi beking tambang ilegal.2. Pemulihan Lingkungan: Perusahaan dan pelaku tambang ilegal wajib bertanggung jawab atas reklamasi dan ganti rugi ekologis.3. Perlindungan Masyarakat Adat: Negara harus hadir menjamin hak ulayat dan keselamatan warga dari intimidasi serta dampak kesehatan akibat merkuri dan limbah tambang.4. Transparansi Izin Tambang: Pemprov Papua didorong membuka data perizinan tambang ke publik agar tidak ada celah bagi tambang bodong.Febri kembali menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya alam di Papua seharusnya dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat, bukan justru merusak lingkungan dan mengancam kehidupan warga adat yang bergantung pada alam.“Tambang dilakukan untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk merusak tanah Papua,” pungkasnya. (GF)  07 Mei 2026, 16:52 WIT
DPR Papua Tengah, Mimika dan Puncak Bentuk Tim Khusus Tangani Konflik Kwamki Narama Papuanewsonline.com, Timika — DPR Provinsi Papua Tengah bersama DPR Kabupaten Mimika dan DPR Kabupaten Puncak menyurati Gubernur Papua Tengah, Bupati Mimika, serta Bupati Puncak untuk penanganan konflik sosial di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika.Langkah itu diambil usai pertemuan bersama di Ruang Rapat Komisi I DPR Kabupaten Mimika, Rabu, 6 Mei 2026. Pertemuan tersebut menyepakati pembentukan Tim Penanganan Konflik Sosial Kwamki Narama Kabupaten Mimika yang diisi anggota DPR dari tiga lembaga legislatif.Anggota DPR Provinsi Papua Tengah, Yohanes Kemong, S.IP., mengatakan dasar hukum surat dan pembentukan tim mengacu pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial serta Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021 tentang Perubahan atas UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Hal itu disampaikan dalam rilis yang diterima Papuanewsonline.com via WhatsApp, Rabu, 7 Mei 2026.“Dengan dasar itu anggota DPR Provinsi dan Kabupaten yang bergabung dalam Tim Penanganan Konflik Sosial Kwamki Narama Kabupaten Mimika menyurati ke pemerintah baik kepada Pemerintah Provinsi kepada Gubernur maupun sampaikan kepada Pemerintah Kabupaten kepada Bupati Mimika dan Bupati Puncak,” kata Yohanes dalam rilisnya.Yohanes menegaskan Pasal 9 UU Nomor 7 Tahun 2012 menyatakan pemerintah daerah wajib meredam konflik. Karena itu, menurut dia, penanganan serius dari semua pihak diperlukan demi ketertiban dan keamanan masyarakat Kabupaten Mimika.Tim Penanganan Konflik Sosial ini dibentuk setelah konflik perang saudara di Kwamki Narama disebut berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Mei 2026. Sebelumnya Yohanes mengklaim konflik tersebut telah menelan 16 korban jiwa.Dalam suratnya, tim DPR meminta Gubernur Papua Tengah, Bupati Mimika, dan Bupati Puncak segera mengambil langkah konkret. Pelibatan Bupati Puncak dilakukan karena ada kaitan sosial-kekerabatan warga Kwamki Narama dengan wilayah Puncak, sehingga pendekatan penanganan harus lintas kabupaten.Hingga Rabu, 7 Mei 2026. Papuanewsonline.com belum memperoleh tanggapan resmi dari Gubernur Papua Tengah, Bupati Mimika, maupun Bupati Puncak terkait surat dan pembentukan tim DPR tersebut. Upaya konfirmasi telah dilakukan ke Bagian Humas Pemprov Papua Tengah, Protokol Setda Mimika, dan Humas Pemkab Puncak. Penulis: Hendrik Editor: GF 07 Mei 2026, 10:49 WIT
DPRD Mimika Siapkan Sertifikasi Gratis, Jalan Terbuka bagi Pencari Kerja Lokal Papuanewsonline.com, Mimika — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mimika mendorong program pelatihan sertifikasi gratis bagi pencari kerja lokal, khususnya Orang Asli Papua (OAP), melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Mimika dan Asosiasi Pencari Kerja Lokal Carstenz Mimika (APELCAMI). (6/5/26)Ketua Komisi III DPRD Mimika, Herman Ghafur, menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk mengatasi hambatan utama yang selama ini dihadapi masyarakat dalam mengakses dunia kerja, yakni tingginya biaya sertifikasi.“Selama ini masih banyak kontraktor yang menjadikan ketiadaan sertifikasi sebagai alasan untuk tidak menerima tenaga kerja lokal, dengan dalih kurangnya keterampilan yang dibuktikan melalui sertifikasi,” ujar Herman.Ia menjelaskan, biaya pelatihan sertifikasi yang umumnya dikelola lembaga swasta bisa mencapai sekitar Rp10 juta per peserta. Angka tersebut dinilai sangat memberatkan, terutama bagi masyarakat lokal yang ingin meningkatkan keterampilan kerja.Sebagai solusi, DPRD Mimika bersama pemerintah daerah menyepakati agar anggaran pelatihan tahun 2026 yang bersumber dari dana Otonomi Khusus (Otsus) difokuskan untuk membiayai sertifikasi secara penuh.“Harapannya, seluruh peserta bisa mengikuti pelatihan secara gratis tanpa pungutan biaya, karena sudah ditanggung pemerintah. Jadi bukan lagi subsidi, tetapi pembiayaan penuh,” jelasnya.Selain itu, DPRD juga mendorong keterlibatan lembaga asosiasi dalam pelaksanaan pelatihan agar lebih terstruktur dan tepat sasaran. Langkah ini diharapkan mampu memastikan akses pelatihan terbuka luas bagi pencari kerja lokal tanpa hambatan administratif maupun biaya.Terkait kebutuhan data tenaga kerja, DPRD Mimika menilai pentingnya penguatan koordinasi antar organisasi perangkat daerah (OPD). Herman menegaskan bahwa Dinas Tenaga Kerja pada dasarnya telah memiliki data tenaga kerja, namun masih perlu dioptimalkan melalui integrasi lintas instansi.“Dengan adanya sharing dan integrasi data antar instansi, validitas data tenaga kerja akan semakin baik. Jadi persoalan utama saat ini bukan pada ketersediaan data, tetapi pada optimalisasi koordinasi dan integrasi data yang sudah ada,” pungkasnya.Kebijakan ini diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang kerja bagi masyarakat lokal serta meningkatkan daya saing tenaga kerja di Kabupaten Mimika. Penulis: Bim Editor: GF 06 Mei 2026, 20:04 WIT
16 Warga Tewas dalam Konflik Kwamki Narama, Anggota DPRD Papua Tengah Desak Pemerintah Papuanewsonline.com, Timika — Konflik perang saudara di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, kembali disorot. Anggota DPRD Provinsi Papua Tengah, Yohanes Kemong, S.IP., menyebut konflik yang berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Mei 2026 itu telah menelan 16 korban jiwa.Dalam rilis resmi yang diterima Papuanewsonline.com, Senin, 5 Mei 2026, Yohanes merinci korban terdiri dari satu perempuan dan 14 laki-laki. Ia menegaskan Distrik Kwamki Narama merupakan tolak ukur pembangunan di Kabupaten Mimika. “Bila Distrik Kwamki Narama itu telah berjatuhan korban nyawa sebanyak 16 orang selama 8 bulan, maka kepemimpinan Bupati Mimika gagal dalam membangun Mimika,” tulis Yohanes dalam rilis yang diterima media papuanewsonline,com.Yohanes menilai delapan bulan tanpa penyelesaian adalah bentuk pembiaran. “Kalau Bupati Mimika sayang rakyat maka tidak sulit sekali untuk penyelesaian konflik. Namun kenyataannya terjadi pembiaran,” ujarnya. Ia mengaku kecewa sebagai wakil rakyat provinsi. “Saya sangat menyayangkan sikap Bupati Mimika yang mengabaikan konflik antarwarga di Distrik Kwamki Narama.”Karena itu, Yohanes mendesak Pemerintah Provinsi Papua Tengah turun tangan. “Oleh karena itu diminta kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Gubernur bersama Kapolda turun langsung di Timika untuk mendamaikan konflik antarwarga di Kwamki Narama Kabupaten Mimika yang sudah jalan 8 bulan, memakan korban 16 jiwa,” tegasnya.Menurut Yohanes, pihaknya sudah tidak bisa mengharapkan Bupati Mimika. “Terjadi pembiaran konflik tersebut, agar orang asli Papua baku bunuh sampai habis,” kata dia. Pernyataan ini ia sampaikan sebagai bentuk keprihatinan terhadap lambannya penanganan konflik horizontal di wilayah tersebut.Konflik di Kwamki Narama bukan kali pertama terjadi. Distrik yang berbatasan langsung dengan Kota Timika itu kerap menjadi titik rawan bentrokan antarwarga. Namun eskalasi sejak Oktober 2025 disebut Yohanes sebagai yang terlama dan paling banyak menelan korban dalam dua tahun terakhir.Yohanes menekankan urgensi kehadiran negara. Ia meminta Gubernur dan Kapolda Papua Tengah tidak menunggu laporan berjenjang. “Ini sudah darurat kemanusiaan. Negara harus hadir. Jangan sampai jatuh korban lagi,” katanya. Ia berharap mediasi dilakukan dengan melibatkan tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh pemangku kepentingan.Papuanewsonline.com belum memperoleh keterangan resmi dari Bupati Mimika dan Pemerintah Kabupaten Mimika terkait jumlah korban dan langkah penanganan konflik. Konfirmasi telah diupayakan kepada Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Mimika, Kepala Distrik Kwamki Narama, serta Humas Polres Mimika. Penulis: HendEditor: GF 06 Mei 2026, 15:40 WIT
DPR Papua Tengah Cari Solusi Persoalan Pesisir Mimika, Pengelolaan Tailing Disorot Papuanewsonline.com, Timika – Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua Tengah melakukan Rapat Dengar Pendapat bersama Pemerintah Kabupaten Mimika serta perwakilan masyarakat wilayah pesisir di Ruang Serbaguna Hotel Horison Diana Mimika, Selasa (5/5/2026). Acara ini dihadiri berbagai tokoh penting, di antar Wakil Ketua IV DPRPT John NR Gobai, Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol Jeremias Rontini, Bupati Mimika Johannes Rettob, Wakil Bupati Emanuel Kemong, Ketua DPRK Mimika, dan masyarakat pesisir mimika. Pertemuan ini menjadi ruang membahas empat is utama demi kesejahteran warga pesisir.Dalam pembahasan, Wakil Ketua IV DPRPT John NR Gobai menyoroti masalah akses tray kapal pelayaran ke Pelabuhan Sipu-sipu Distrik Jita yang sempat terhenti. Ia menyebut upaya mempertahankan jalur ini sudah dilakukan sejak 2023 dan menyebutnya sebagai kewajiban pemerintah untuk memenuhi kebutuhan rakyat. “Keputusan pemerintah sudah jelas, jalur ini harus dipertahankan agar warga bisa bepergian dengan biaya murah hanya Rp15.000,” katanya. Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan sisa pasir tambang atau tailing harus dijadikan peluang usaha yang dikuasai oleh warga lokal, dengan izin yang diprioritaskan bagi orang asli Papua agar hasilnya bermanfaat untuk daerah.Selain itu, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih juga menjadi perhatian. John meminta masyarakat melihat manfaatnya daripada mempersoalkan namanya, mengingat fasilitas yang disediakan akan sangat membantu para nelayan. Pembangunan Stasiun Pengisian BBM Nelayan di kawasan Pomako juga didesak segera diselesaikan, sedangkan pengelolaan Pelabuhan Pangkalan Pendaratan Ikan disepakati akan dibahas lebih lanjut antara pemerintah kabupaten dan provinsi agar pengelolaannya berjalan efektif.Bupati Mimika Johannes Rettob menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan pertemuan ini yang menjadi ruang dialog penting. Ia menegaskan bahwa penyelesaian berbagai permasalahan ini membut kerja sama semua pihak, baik pemerintah daerah, lembaga legislatif maupun perusahaan.“Kami berharap hasil pertemuan ini melahir rekomendasi yang nyata, sehingga semua permasalahan dapat diselesaikan dengan cepat dan bermanfaat bagi kesejahteran warga Mimika,” harapnya.  Penulis: Jid Editor: GF 06 Mei 2026, 13:44 WIT
ULMWP Umumkan Perombakan Kabinet Pemerintahan Sementara pada 1 Mei 2026 Papuanewsonline.com, Papua Barat — Presiden Sementara ULMWP, Benny Wenda, mengumumkan perombakan kabinet Pemerintahan Sementara ULMWP bertepatan dengan peringatan 1 Mei 2026. Pengumuman tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi yang dipublikasikan di situs ULMWP sebagai bagian dari refleksi atas sejarah integrasi Papua ke Indonesia pada 1963.Dalam pernyataannya, Benny Wenda menyebut tanggal 1 Mei sebagai hari berkabung bagi rakyat Papua Barat. Ia menilai momentum tersebut sebagai awal dari tragedi panjang yang menurutnya masih berlangsung hingga saat ini.“Tanggal 1 Mei akan selalu menjadi hari berkabung di Papua Barat. Hari ini kita memperingati 63 tahun Indonesia menginvasi tanah kita, awal dari tragedi yang masih kita alami hingga saat ini,” tulis Benny Wenda dalam pernyataan resminya.Ia juga menyinggung Perjanjian New York tahun 1962 yang melibatkan Indonesia, Belanda, dan Amerika Serikat. Menurutnya, rakyat Papua Barat seharusnya diberikan hak menentukan nasib sendiri melalui referendum kemerdekaan, namun hal itu tidak terjadi sebagaimana yang diharapkan kelompok mereka.Dalam pernyataan tersebut, Benny Wenda turut menyoroti berbagai situasi keamanan dan kemanusiaan di Papua. Ia mengklaim bahwa konflik dan operasi militer masih berlangsung hingga kini dan berdampak pada masyarakat sipil di sejumlah wilayah.“Lima belas warga Papua tak berdosa yang dibunuh bulan ini di Puncak adalah bukti bahwa perang Indonesia terhadap West Papua tidak pernah berhenti,” tulisnya.Meski demikian, Benny Wenda menyebut 1 Mei juga menjadi simbol perlawanan politik bagi ULMWP. Ia mengingatkan bahwa pada tanggal yang sama tahun 2021, ULMWP mendeklarasikan kabinet Pemerintahan Sementara sebagai simbol perjuangan politik mereka.“Hari ini, dari hari-hari lainnya, kita tidak akan tunduk pada pemerintahan kolonial Indonesia. Sebaliknya, ULMWP memulihkan kedaulatan kita yang dicuri dengan membangun kapasitas pemerintahan sementara kita,” ujarnya.Dalam kesempatan tersebut, Benny Wenda mengumumkan susunan baru kabinet Pemerintahan Sementara ULMWP yang terdiri dari berbagai kementerian dan perwakilan bidang strategis. Sejumlah nama diumumkan mengisi posisi kementerian, mulai dari urusan luar negeri, hukum, kesehatan, hingga lingkungan hidup dan urusan perempuan serta anak.Selain struktur sipil pemerintahan sementara, ULMWP juga mencantumkan susunan kepemimpinan Tentara Papua Barat dalam pengumuman tersebut. Nama Jenderal Goliath Tabuni kembali disebut sebagai Panglima Tertinggi bersama sejumlah petinggi lainnya dalam struktur militer organisasi.Benny Wenda menegaskan bahwa ULMWP terus berupaya memperkuat dukungan internasional terhadap perjuangan politik Papua Barat. Ia mengklaim organisasinya telah mendorong isu Papua masuk dalam perhatian komunitas internasional dan forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.“ULMWP telah mendorong Papua Barat ke dalam agenda internasional, memenangkan permintaan lebih dari 100 negara PBB untuk melakukan kunjungan Hak Asasi Manusia PBB,” tulisnya.Di akhir pernyataannya, Benny Wenda mengajak masyarakat Papua Barat untuk tetap menjaga persatuan dan terus mendukung perjuangan ULMWP menuju kemerdekaan yang mereka cita-citakan.“Kepada rakyat West Papua, saya meminta Anda terus menaruh kepercayaan Anda pada misi ULMWP: kemerdekaan akan segera tiba,” tutup Benny Wenda.Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Indonesia terkait isi pernyataan dan pengumuman perombakan kabinet Pemerintahan Sementara ULMWP tersebut. (GF) 05 Mei 2026, 13:23 WIT
Kolaborasi Pembangunan Mapolda DIY, Kapolri Instruksikan Beri Pelayanan Optimal Papuanewsonline.com, DIY - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menginstruksikan kepada seluruh jajaran Mapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk memberikan pelayanan yang optimal bagi seluruh masyarakat. Hal itu disampaikan saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Mapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (3/5/2026). "Dan ke depan kita harapkan Polda DIY betul-betul bisa memberikan pelayanan yang optimal terhadap Daerah Istimewa Yogyakarta yang kita kenal sebagai kota budaya, kota pariwisata, kota pendidikan," kata Sigit di Mapolda DIY, Minggu (3/5/2026). Pembangunan ini sendiri bertajuk 'Mbangun Bhayangkara Presisi, Hamemayu Hayuning Bawono'. Sigit mengapresiasi Pemprov DIY terkait seluruh dukungan terkait pembangunan Mapolda Yogyakarta. "Jadi ini adalah bentuk dukungan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan yang tentunya kita memahami bahwa ini adalah titipan amanah terkait dengan pembangunan ini sebagaimana tema dari pembangunan Mapolda yaitu Mbangun Bhayangkara Presisi, Hamemayu Hayuning Bawono," ujar Sigit. Sebagaimana artinya, Sigit meminta agar jajarannya bisa menjaga, memperbaiki dan menciptakan keindahan serta keharmonisan bermasyarakat yang tentunya ini sejalan dengan Tri Brata dan Catur Prasetya. "Dan juga kami juga mendapatkan amanah agar ke depan gedung Polda DIY ini dibangun dengan konsep smart city, tadi kita mendapatkan amanah dari Bapak Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono titipan dari masyarakat Yogya agar gedung ini tidak hanya berdiri sebagai gedung yang hanya fisiknya saja tapi juga bisa melaksanakan fungsinya untuk bisa tampil sebagai pelayanan kepolisian yang memiliki kemampuan data driven police hub, social listening and sentiment intelligence system, cyber security defense center serta decision intelligence and knowledge system," papar Sigit.Karenanya, Sigit menekankan, jajaran Polda DIY harus mendukung konsep dari Daerah Istimewa Yogyakarta. "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas dukungan dan kerjasama dari seluruh para pemangku jabatan, pemangku kepentingan dan juga harapan besar dari masyarakat Yogya terhadap kinerja Polri untuk betul-betul bisa profesional, dekat dan dicintai masyarakat," tutup Sigit. PNO-12 04 Mei 2026, 10:36 WIT
Deklarasi Barisan Merah Putih di Puncak Jaya Tegaskan Komitmen Jaga NKRI dan Persatuan Papua Papuanewsonline.com, Puncak Jaya – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Barisan Merah Putih Republik Indonesia (BMP RI) Kabupaten Puncak Jaya resmi mendeklarasikan keberadaan organisasinya dalam sebuah kegiatan yang digelar usai acara adat bakar batu di Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, Kamis (1/5/2026). Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 600 masyarakat dari berbagai wilayah setempat.Deklarasi berlangsung dalam suasana penuh semangat kebersamaan dan nuansa adat Papua. Acara ini menjadi simbol penghormatan terhadap budaya lokal sekaligus momentum untuk mempertegas komitmen menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Kegiatan diawali dengan prosesi adat bakar batu yang menjadi tradisi masyarakat Papua dalam mempererat hubungan sosial dan kebersamaan. Setelah itu, deklarasi organisasi dilakukan di hadapan masyarakat dan tokoh-tokoh adat yang hadir.Dalam keterangannya, DPC BMP RI Kabupaten Puncak Jaya menyebut deklarasi tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mengenang jasa delapan Pahlawan Nasional yang telah berjuang menjaga keutuhan NKRI, khususnya di tanah Papua.“Deklarasi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan yang telah berjuang demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia di tanah Papua,” demikian disampaikan dalam pernyataan organisasi.Melalui deklarasi tersebut, DPC BMP RI Kabupaten Puncak Jaya menegaskan bahwa organisasinya merupakan bagian dari elemen masyarakat yang terus melanjutkan semangat perjuangan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) dengan tetap setia menjaga keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.“DPC BMP RI Kabupaten Puncak Jaya merupakan bagian dari elemen masyarakat yang melanjutkan semangat perjuangan Pepera guna tetap setia dan teguh dalam menjaga keutuhan NKRI yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” bunyi deklarasi tersebut.Tidak hanya menekankan semangat nasionalisme, organisasi ini juga menyoroti pentingnya menjaga adat dan budaya Papua sebagai fondasi persatuan masyarakat. Menurut mereka, nilai-nilai budaya lokal harus terus dijaga agar menjadi perekat sosial di tengah keberagaman masyarakat Papua.Selain itu, DPC BMP RI secara tegas menyatakan penolakan terhadap segala bentuk tindakan yang dapat memicu konflik maupun perpecahan di tengah masyarakat. Organisasi tersebut menilai persatuan menjadi modal utama dalam menjaga stabilitas dan pembangunan daerah.“DPC BMP RI menolak segala bentuk perpecahan, provokasi, maupun tindakan yang bertentangan dengan nilai persatuan dan keutuhan bangsa,” tegas pernyataan itu.Dalam kesempatan yang sama, organisasi tersebut juga menyampaikan komitmennya untuk menjadi wadah aspirasi masyarakat. DPC BMP RI menyebut organisasinya lahir dari masyarakat dan akan terus berupaya menjadi jembatan penyampaian kepentingan publik secara konstruktif dan damai.Kegiatan deklarasi kemudian ditutup dengan penegasan semangat persatuan melalui semboyan yang disampaikan bersama-sama oleh peserta yang hadir. “Adat menyatukan kita, budaya menguatkan kita, dan NKRI membangkitkan kita. Satu hati, satu tanah air, satu Indonesia,” seru peserta deklarasi.Melalui kegiatan tersebut, DPC BMP RI Kabupaten Puncak Jaya berharap seluruh elemen masyarakat dapat terus menjaga kebersamaan, memperkuat persatuan, serta aktif mendukung keutuhan NKRI di tanah Papua. (GF) 02 Mei 2026, 18:04 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT