logo-website
Rabu, 05 Agu 2026,  WIT

Usai Tembak Mati 5 Pekerja, Botak Wanimbo Kirim Pesan Menohok Ke TNI dan Polri

Botak Wanimbo Mengaku Masih Berada di Daerah Operasi, Menunggu Militer Indonesia

Papuanewsonline.com - 05 Agu 2026, 00:23 WIT

Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal

Pimpinan TPNPB Kodap Tolikara, Botak Wanimbo

Papuanewsonline.com, Tolikara -

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim pasukannya masih bertahan di Distrik Kanggime, Kabupaten Tolikara, usai insiden penembakan terhadap 5 pekerja bangunan pada 2-3 Agustus 2026 lalu.

Klaim tersebut disampaikan dalam Siaran Pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB per Selasa, 4 Agustus 2026, yang diterima dari pimpinan lapangan Botak Wanimbo dan diteruskan oleh Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom.

Dalam rilis itu, TPNPB membantah narasi yang beredar di grup WhatsApp warga Tolikara yang menyebut pasukan mereka telah mundur dari Kanggime.

"Informasi yang beredar di grup WA yang menyatakan bahwa pasukan TPNPB telah meninggalkan wilayah Kanggime adalah informasi hoax atau tidak benar. Yang benar adalah kami masih berada di Kanggime untuk melakukan operasi," demikian kutipan laporan tersebut.

Selain mengklarifikasi posisi pasukannya, Botak Wanimbo juga melontarkan peringatan keras kepada pihak-pihak yang mereka curigai sebagai agen intelijen militer Indonesia. Menurut mereka, agen tersebut beroperasi dengan menyamar sebagai sopir taksi, tukang ojek, penjual kios, ASN, hingga tukang bangunan di sepanjang koridor Jalan Trans Papua Wamena - Tolikara.

TPNPB meminta seluruh aktivitas pembangunan jalan dan jembatan di wilayah operasinya dihentikan. Kelompok tersebut melontarkan ancaman eksekusi mati bagi pekerja yang tetap melanjutkan pembangunan.

TPNPB menyebut aksi penembakan 5 pekerja di Tolikara pekan ini sebagai bentuk peringatan, baik kepada pekerja pendatang untuk meninggalkan wilayah operasi mereka, maupun kepada Orang Asli Papua agar tidak bekerja sama dengan aparat dalam proyek pembangunan.

Di akhir rilis, TPNPB kembali menyuarakan tuntutan politiknya, yakni menolak pembangunan oleh pemerintah Indonesia dan mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menyelesaikan apa yang mereka sebut akar konflik Papua selama 64 tahun, termasuk tuntutan pengakuan terhadap deklarasi 1 Desember 1961. Mereka menyatakan konflik bersenjata akan terus berlanjut hingga PBB turun tangan.

Siaran pers tersebut mencantumkan nama-nama pimpinan Markas Pusat TPNPB-OPM sebagai penanggung jawab, yaitu Panglima Tinggi Jenderal Goliath Tabuni, Wakil Panglima Letjen Melkisedek Awom, Kasum Mayjen Terianus Satto, dan Komandan Operasi Umum Mayjen Lekagak Telenggen.

Hingga Selasa malam, 4 Agustus 2026, belum ada pernyataan resmi dari Kodam XVII/Cenderawasih, Polda Papua, maupun Satgas Damai Cartenz terkait situasi keamanan terkini di Kanggime dan ancaman terhadap pekerja Jalan Trans Papua.

Penulis: Hendrik

Editor.  : Of

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE