Pemuda Moi Bubarkan Pertemuan Pemda Sorong dan PT PAM
Pertemuan antara Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong dengan PT Papua Agri Mandiri di Aimas Hotel, Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (11/8/2026) berakhir ricuh. Pemuda Adat Suku Moi membubarkan paksa pertemuan tersebut.
Papuanewsonline.com - 12 Agu 2026, 08:21 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Sorong - Pertemuan antara Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong dengan PT Papua Agri Mandiri di Aimas Hotel, Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (11/8/2026) berakhir ricuh. Pemuda Adat Suku Moi membubarkan paksa pertemuan tersebut.
Aksi itu dipicu kekecewaan panjang atas penguasaan tanah adat oleh korporasi sawit di wilayah Moi.
"Kami datang karena tanah adat kami sudah dirampok puluhan tahun. Kami mewakili orang tua kami di kampung-kampung yang ditipu oleh perusahaan untuk menyelamatkan warisan leluhur yang dititipkan kepada kami," tegas salah satu orator aksi di lokasi.
Massa menilai masyarakat adat Moi selama ini menjadi korban perampokan Sumber Daya Alam dan eksploitasi manusia yang dilegalkan lewat izin-izin konsesi.
"Kami menegaskan dan mendesak kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong dan pejabat-pejabat Papua untuk tidak memberikan izin dalam bentuk apapun kepada semua korporasi yang mengancam peradaban dan identitas Masyarakat Adat Papua," ujarnya.
Berdasarkan data perizinan, PT Papua Agri Mandiri mengantongi konsesi perkebunan sawit seluas 27.166 hektar di Kabupaten Sorong. Perusahaan ini terafiliasi dengan grup sawit milik keluarga Fangiono. Laporan pemantauan hutan mencatat pada awal 2025 perusahaan ini telah membuka 679 hektar lahan, 634 hektar diantaranya adalah hutan primer.
Wilayah konsesi tersebut berada di jantung tanah ulayat Moi, yang sebelumnya juga berkonflik dengan perusahaan sejenis yang membuka hutan primer tanpa dialog dengan masyarakat adat Moi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemda Kabupaten Sorong maupun manajemen PT Papua Agri Mandiri terkait pembubaran pertemuan tersebut. Aksi pemuda adat berlangsung tanpa kekerasan fisik dan berakhir setelah massa memastikan pertemuan tidak dilanjutkan.
Situasi di sekitar Aimas Hotel dilaporkan kembali kondusif pasca aksi tersebut.
Penulis: Hendrik
Editor: OF