Pembangunan Mimika Tertampar Kenyataan: Pemerintah Mencari Tepuk Tangan, Warga Masih Berjuang
Poumako Jadi Pembanding Nyata Arah Pembangunan Timika.
Papuanewsonline.com - 21 Agu 2026, 13:34 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Mimika – Pembangunan Kabupaten Mimika hari ini seperti berdiri di depan cermin. Di satu sisi pemerintah terus bicara soal pertumbuhan, program strategis, dan keberhasilan. Di sisi lain, wajah masyarakat di wilayah pesisir seperti Poumako menampilkan kenyataan yang tidak bisa ditutupi seremoni, baliho, atau tepuk tangan.
Poumako bukan sekadar wilayah di ujung. Kawasan ini adalah salah satu pintu gerbang penting Mimika. Aktivitas pelabuhan, mobilitas warga, perdagangan, perikanan, hingga konektivitas antardaerah menjadikan Poumako memiliki posisi strategis bagi masa depan daerah.
Namun pertanyaannya sederhana: sejauh mana pembangunan benar-benar hadir di sana?
Diukur Dari Seremoni atau Kualitas Hidup?
Jika pembangunan diukur dari banyaknya kegiatan, jumlah seremoni, atau panjangnya daftar program, maka Mimika terlihat sedang berlari.
Tetapi jika pembangunan diukur dari kualitas jalan, akses transportasi, pelayanan dasar, lingkungan layak, kesempatan ekonomi, keamanan, dan kemampuan pemerintah menjawab kebutuhan warga, maka Poumako justru menjadi cermin yang memaksa pemerintah melihat kenyataan.
“Poumako menjadi pembanding real arah pembangunan Timika,” tulis Arifin Letsoin, Ketua Pemuda Muslim Mimika, dalam rilis tertulisnya pada media papuanewsonline,com, Kamis (21/8).
Prioritas Pembangunan Dipertanyakan
Di tengah besarnya kapasitas fiskal daerah dan besarnya harapan masyarakat, masih muncul pertanyaan soal prioritas. Apakah pembangunan benar-benar diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan, atau justru berputar di pusat-pusat aktivitas yang mudah dilihat dan dipublikasikan?
“Sebab masyarakat tidak membutuhkan pemerintah yang hanya pandai menjelaskan keberhasilan. Masyarakat membutuhkan pemerintah yang berani menyelesaikan persoalan,” tegas Arifin.
Ia menekankan, pembangunan tidak boleh berhenti di panggung. Tidak boleh hanya hidup dalam laporan, foto kegiatan, dan unggahan media sosial. Pembangunan harus bisa dirasakan warga yang setiap hari berhadapan langsung dengan keterbatasan.
“Ketika pemerintah sibuk mencari tepuk tangan, masyarakat justru sibuk mencari jawaban,” pungkasnya.
Penulis: Hendrik
Editor: OF