TPNPB Pimpinan Egianus Kogoya Mengaku Bertanggungjawab Atas Penembakan di Lokasi Festival Walesi
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM mengklaim bertanggung jawab penuh atas rangkaian penembakan dan penyerangan terhadap aparat militer Indonesia di sepanjang Jalan Trans Wamena, dan lokasi Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB)
Papuanewsonline.com - 08 Agu 2026, 20:01 WIT
Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal
Papuanewsonline.com, Wamena - Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM mengklaim bertanggung jawab penuh atas rangkaian penembakan dan penyerangan terhadap aparat militer Indonesia di sepanjang Jalan Trans Wamena, dan lokasi Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-34 di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada Sabtu (8/8/2026) sekitar pukul 12.45 WIT.
Klaim tersebut disampaikan Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, berdasarkan laporan lapangan yang disebutnya diterima langsung dari pasukan TPNPB Kodap III Ndugama Derakma Brigjen Egianus Kogoya.

" Benar, TPNPB bertanggungjawab dan penembakan itu dilakukan pasukan TPNPB Batalion 8 Albu dipimpin Ebarowak Gwijangge dibawa komando Kodap III Dugama Derakma," tegas Sebby Sambom.
Sebby mengaku penyerangan itu dilakukan atas perintah komandan operasi kodap III Ndugama Derakma Brigjen Egianus Kogoya.
Secara tegas Sebby mengatakan aksi tersebut sebagai bentuk penolakan tegas terhadap kemerdekaan Indonesia di atas Tanah Papua.
"Penyerangan terhadap aparat militer Indonesia dan baku tembak di Kampung Walesi hingga mengakibatkan terjadinya jatuh korban jiwa terhadap aparat militer Indonesia dan agen-agennya itu kami siap bertanggung jawab penuh," ujar Sebby.
Kata Sebby pihaknya belum bisa memastikan kondisi korban, apakah meninggal dunia atau tidak.
" Kami sudah ingatkan berkali kali kalau Wamena itu masuk wilayah operasi karena banyak pengerahan batalyon-batalyon militer Indonesia di wilayah tersebut," Terangnya.
Ancaman ke Pemerintah Pusat
Dalam siaran pers yang sama, komanda kodap III Dugama Derakma Brigjen Egianus Kogoya melayangkan ultimatum kepada Presiden Prabowo Subianto agar seluruh aktivitas pemerintahan Indonesia di Tanah Papua segera ditutup.
Ancaman yang disampaikan meliputi yakni
TPNPB siap tembak mati semua pihak yang dinilai mendukung pemerintah Indonesia.
Pasukan TPNPB akan melakukan eksekusi terhadap pemilik kios, tukang ojek, dan proyek-proyek pembangunan versi Indonesia di Papua.
TPNPB juga mengimbau warga Papua untuk tidak memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus, melainkan hanya memperingati 1 Desember 1961 yang mereka klaim sebagai hari kemerdekaan bangsa Papua.
Diketahui Dua warga sipil menjadi korban penembakan di pintu masuk utama lokasi Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-34 di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada hari ini Sabtu (8/8/2026) sekitar pukul 12.45 WIT.
Insiden terjadi saat korban hendak memasuki area festival yang sedang berlangsung pada hari kedua pelaksanaan.
Identitas dan Kondisi Korban
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun di lapangan, kedua korban adalah:
1. Laode Muhammad Ojo (43) - profesi tukang, mengalami luka tembak pada lutut kanan.
2. Salbia (50) - profesi wiraswasta, mengalami luka tembak pada paha kanan dan punggung tangan kanan.
Keduanya berada dalam satu kendaraan bersama seorang saksi mata bernama Yadin Fadilah (20) saat insiden terjadi.
Kedua korban saat ini telah mendapatkan penanganan medis di ruang tindakan Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Wamena.
Kondisi keduanya dilaporkan dalam keadaan sadar dan masih menjalani tindakan medis lanjutan.
Kronologi awal bermula ketika para korban dan saksi melintas di gerbang utama menuju lokasi FBLB di Walesi. Tanpa diduga, terdengar letusan senjata api yang kemudian mengenai kedua korban di dalam kendaraan.
Merespons insiden tersebut, aparat keamanan dari Kompi Brimob Wamena dan Polres Jayawijaya langsung melakukan pengejaran terhadap pelaku dan melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian.
Kegiatan Festival Budaya Lembah Baliem ke-34 untuk sementara dihentikan menyusul kejadian ini guna kepentingan pengamanan dan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Editor: OF