logo-website
Sabtu, 14 Feb 2026,  WIT

TPNPB Klaim Rampas Dua Senjata SS2 dan 50 Amunisi di Tembagapura

Siaran pers ke-IV Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menyebut perampasan senjata terjadi di Mile 50 Tembagapura pada 11 Februari 2026 dan disertai peringatan terbuka kepada aparat serta warga sipil untuk meninggalkan wilayah operasi.

Papuanewsonline.com - 13 Feb 2026, 23:49 WIT

Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal

Foto yang beredar memperlihatkan personel kelompok bersenjata di wilayah Papua sedang memegang senjata laras panjang di area pegunungan dan hutan sekitar Tembagapura.

Papuanewsonline.com, Mimika - Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB melalui Siaran Pers ke-IV per Jumat, 13 Februari 2026, melaporkan secara resmi perampasan dua unit senjata jenis SS2 beserta 50 butir amunisi di Mile 50 Tembagapura pada Rabu, 11 Februari 2026. Dalam keterangan tersebut disebutkan bahwa aksi itu juga menyebabkan satu aparat militer meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka.


Dalam pernyataan tersebut, disebutkan bahwa tindakan itu dilakukan atas perintah Panglima Tinggi, Jenderal Goliath Naaman Tabuni bersama Jenderal Titus Murib. Operasi di lapangan dipimpin Mayor Yeki Murib bersama pasukan TPNPB dari Pos Kali Kopi.

Mayor Yeki Murib juga melaporkan bahwa dua pucuk senjata SS2 bersama 50 butir amunisi yang dirampas telah menjadi milik TPNPB di bawah pimpinan Jenderal Goliath N Tabuni. Dalam siaran pers tersebut dinyatakan bahwa senjata tersebut akan digunakan dalam medan perang melawan aparat militer Indonesia dan bahwa wilayah perang telah dibuka di Tembagapura.

Dalam pernyataan yang sama, TPNPB meminta seluruh karyawan PT Freeport Indonesia untuk berhenti bekerja. Selain itu, disebutkan bahwa pasukan dari berbagai kodap telah berada di Tembagapura dan siap melakukan penyerangan lanjutan.

Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB juga menyampaikan imbauan agar seluruh aktivitas sipil dan pihak yang tidak terlibat sebagai aparat militer segera meninggalkan wilayah Tembagapura guna menghindari korban jiwa. Dalam siaran tersebut turut disebutkan permintaan penutupan tempat penjualan minuman keras, judi, dan praktik prostitusi yang dituduhkan dibuka oleh aparat militer Indonesia di wilayah tersebut.

Selain itu, imbauan juga ditujukan kepada warga imigran Indonesia yang berada di Tembagapura agar keluar dari wilayah operasi TPNPB. Dalam pernyataan tersebut disebutkan adanya laporan dari PIS TPNPB bahwa sebagian warga imigran Indonesia diduga terlibat sebagai agen intelijen militer pemerintah Indonesia di daerah konflik bersenjata di Tanah Papua.

Siaran pers ini ditandatangani oleh Sebby Sambom selaku juru bicara TPNPB-OPM, serta mencantumkan jajaran pimpinan Komando Markas Pusat Komando Nasional TPNPB-OPM, yakni Jenderal Goliath Tabuni sebagai Panglima Tinggi, Letnan Jenderal Melkisedek Awom sebagai Wakil Panglima, Mayor Jenderal Terianus Satto sebagai Kepala Staf Umum, dan Mayor Jenderal Lekagak Telenggen sebagai Komandan Operasi Umum.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari eskalasi informasi terkait situasi keamanan di Tembagapura dalam beberapa hari terakhir, menyusul rangkaian peristiwa bersenjata yang terjadi di wilayah tersebut. (GF)

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE