Papua Selatan Diguncang Dua Kejadian, Dari Penembakan Pesawat Smart Air hingga Bentrok TNI–Polri
Dalam waktu kurang dari 24 jam, provinsi termuda di Tanah Papua ini menghadapi ancaman bersenjata terhadap penerbangan sipil dan konflik internal antar oknum aparat keamanan, memunculkan kekhawatiran publik soal stabilitas dan soliditas pengamanan wilayah
Papuanewsonline.com - 13 Feb 2026, 12:37 WIT
Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal
Papuanewsonline.com, Papua Selatan - Papua Selatan kembali menjadi sorotan setelah dua peristiwa serius terjadi secara beruntun dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Penembakan terhadap pesawat sipil pada 11 Februari 2026 disusul bentrokan antar oknum aparat keamanan pada 12 Februari 2026 di Kota Kepi, Kabupaten Mappi.
Peristiwa pertama terjadi ketika pesawat perintis milik
Smart Air ditembaki saat hendak mendarat di wilayah Korowai pada Rabu, 11
Februari 2026. Insiden tersebut mengakibatkan dua awak pesawat, yakni pilot dan
kopilot, meninggal dunia. Serangan terhadap penerbangan sipil ini langsung
memicu perhatian luas mengingat peran vital pesawat perintis dalam mendukung
distribusi logistik, pelayanan kesehatan, serta mobilitas masyarakat di wilayah
pedalaman Papua Selatan.
Aparat menyebut dugaan pelaku merupakan kelompok bersenjata
yang oleh pemerintah diklasifikasikan sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata.
Insiden ini dipandang sebagai ancaman nyata terhadap keamanan sipil, khususnya
di daerah yang akses transportasinya sangat bergantung pada jalur udara.
Belum sepenuhnya pulih dari dampak tragedi tersebut, situasi
kembali memanas sehari kemudian. Pada Kamis, 12 Februari 2026, terjadi
bentrokan antara oknum anggota TNI dan oknum anggota Polri di Kota Kepi,
Kabupaten Mappi. Informasi awal menyebutkan insiden dipicu kesalahpahaman di
lapangan yang kemudian berkembang menjadi konflik fisik.
Pihak Kodam dan Polda menyatakan situasi telah dikendalikan
serta menegaskan bahwa kejadian tersebut melibatkan oknum, bukan konflik
institusional. Meski demikian, peristiwa itu sempat memicu ketegangan dan
menjadi perhatian masyarakat setempat.
Rangkaian dua peristiwa ini memunculkan evaluasi publik yang
lebih luas terhadap kondisi keamanan di Papua Selatan. Dalam situasi menghadapi
ancaman bersenjata, masyarakat berharap adanya konsolidasi penuh antar unsur
aparat untuk memastikan respons yang terpadu dan efektif.
Serangan terhadap pesawat sipil dinilai sebagai ancaman
serius yang membutuhkan fokus penanganan maksimal. Di tengah situasi sensitif
tersebut, bentrokan internal antar aparat dipandang sebagai kondisi yang riskan
dan berpotensi melemahkan konsentrasi pengamanan wilayah.
Papua Selatan dinilai membutuhkan penguatan disiplin, komunikasi, serta pengendalian komando yang lebih solid agar respons terhadap ancaman eksternal tidak terganggu oleh dinamika internal. Soliditas bukan hanya simbol kelembagaan, tetapi menjadi kebutuhan operasional dalam menjaga stabilitas dan rasa aman masyarakat. (GF)