logo-website
Sabtu, 14 Feb 2026,  WIT

Papua Selatan Diguncang Dua Kejadian, Dari Penembakan Pesawat Smart Air hingga Bentrok TNI–Polri

Dalam waktu kurang dari 24 jam, provinsi termuda di Tanah Papua ini menghadapi ancaman bersenjata terhadap penerbangan sipil dan konflik internal antar oknum aparat keamanan, memunculkan kekhawatiran publik soal stabilitas dan soliditas pengamanan wilayah

Papuanewsonline.com - 13 Feb 2026, 12:37 WIT

Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal

Foto bagian atas memperlihatkan proses evakuasi jenazah awak pesawat perintis Smart Air yang ditembak saat hendak mendarat di wilayah Korowai, Papua Selatan, Rabu (11/2/2026). Sementara foto berikutnya menunjukkan situasi bentrokan antar oknum TNI dan Polri di Kota Kepi, Kabupaten Mappi, Kamis (12/2/2026).

Papuanewsonline.com, Papua Selatan - Papua Selatan kembali menjadi sorotan setelah dua peristiwa serius terjadi secara beruntun dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Penembakan terhadap pesawat sipil pada 11 Februari 2026 disusul bentrokan antar oknum aparat keamanan pada 12 Februari 2026 di Kota Kepi, Kabupaten Mappi.


Peristiwa pertama terjadi ketika pesawat perintis milik Smart Air ditembaki saat hendak mendarat di wilayah Korowai pada Rabu, 11 Februari 2026. Insiden tersebut mengakibatkan dua awak pesawat, yakni pilot dan kopilot, meninggal dunia. Serangan terhadap penerbangan sipil ini langsung memicu perhatian luas mengingat peran vital pesawat perintis dalam mendukung distribusi logistik, pelayanan kesehatan, serta mobilitas masyarakat di wilayah pedalaman Papua Selatan.

Aparat menyebut dugaan pelaku merupakan kelompok bersenjata yang oleh pemerintah diklasifikasikan sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata. Insiden ini dipandang sebagai ancaman nyata terhadap keamanan sipil, khususnya di daerah yang akses transportasinya sangat bergantung pada jalur udara.

Belum sepenuhnya pulih dari dampak tragedi tersebut, situasi kembali memanas sehari kemudian. Pada Kamis, 12 Februari 2026, terjadi bentrokan antara oknum anggota TNI dan oknum anggota Polri di Kota Kepi, Kabupaten Mappi. Informasi awal menyebutkan insiden dipicu kesalahpahaman di lapangan yang kemudian berkembang menjadi konflik fisik.

Pihak Kodam dan Polda menyatakan situasi telah dikendalikan serta menegaskan bahwa kejadian tersebut melibatkan oknum, bukan konflik institusional. Meski demikian, peristiwa itu sempat memicu ketegangan dan menjadi perhatian masyarakat setempat.

Rangkaian dua peristiwa ini memunculkan evaluasi publik yang lebih luas terhadap kondisi keamanan di Papua Selatan. Dalam situasi menghadapi ancaman bersenjata, masyarakat berharap adanya konsolidasi penuh antar unsur aparat untuk memastikan respons yang terpadu dan efektif.

Serangan terhadap pesawat sipil dinilai sebagai ancaman serius yang membutuhkan fokus penanganan maksimal. Di tengah situasi sensitif tersebut, bentrokan internal antar aparat dipandang sebagai kondisi yang riskan dan berpotensi melemahkan konsentrasi pengamanan wilayah.

Papua Selatan dinilai membutuhkan penguatan disiplin, komunikasi, serta pengendalian komando yang lebih solid agar respons terhadap ancaman eksternal tidak terganggu oleh dinamika internal. Soliditas bukan hanya simbol kelembagaan, tetapi menjadi kebutuhan operasional dalam menjaga stabilitas dan rasa aman masyarakat. (GF)

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE