logo-website
Selasa, 28 Apr 2026,  WIT

Menuju Mimika Berkelanjutan, HMI Mimika Angkat Potensi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Persiapan Mimika menggelar seminar bertema “Mimika Pasca Tambang: Diversifikasi Ekonomi Berbasis Kemandirian Pangan, Ekonomi Lokal, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Keberlanjutan Lingkungan”

Papuanewsonline.com - 28 Apr 2026, 19:10 WIT

Papuanewsonline.com/ Pendidikan & Kesehatan

Tampak pelaksanaan seminar bertema “Mimika Pasca Tambang: Diversifikasi Ekonomi Berbasis Kemandirian Pangan, Ekonomi Lokal, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Keberlanjutan Lingkungan” pada (27/04/2026).

Papuanewsonline.com, Mimika — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Persiapan Mimika menggelar seminar bertema “Mimika Pasca Tambang: Diversifikasi Ekonomi Berbasis Kemandirian Pangan, Ekonomi Lokal, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Keberlanjutan Lingkungan” pada 27 April 2026.


Ketua Umum HMI Cabang Persiapan Mimika, Prayoga Romin Saputra, dalam sambutannya menyoroti dampak panjang aktivitas pertambangan terhadap masyarakat dan lingkungan di Mimika.

“Faktanya, tambang itu tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga mengubah ekosistem budaya. Bahkan, masyarakat harus bergeser dari tempat tinggalnya karena pembangunan, dan ini memicu konflik, baik horizontal maupun vertikal,” ujarnya.

Ia menilai bahwa kehadiran tambang belum sepenuhnya memberikan dampak signifikan bagi masyarakat, khususnya di lapisan bawah. “Pendapatan daerah memang banyak berasal dari tambang, tetapi hanya sebagian kecil masyarakat yang benar-benar merasakan manfaatnya,” katanya.

Menurut Prayoga, kondisi tersebut menjadi dasar bagi HMI untuk mendorong lahirnya gagasan “Mimika wajah baru” yang tidak lagi bergantung pada sektor pertambangan semata. Ia menyebut, potensi lain seperti pariwisata, ekonomi lokal, dan ekonomi kreatif perlu dikembangkan secara serius.

“Kami melihat banyak potensi yang bisa digali. Anak-anak muda Papua bisa menghasilkan karya kreatif, termasuk di bidang seni dan musik, yang berangkat dari budaya lokal,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan sejauh mana komitmen pemerintah dalam menyiapkan Mimika menghadapi masa depan tanpa ketergantungan pada tambang. “Sudah seberapa berani pemerintah mengatakan bahwa kita siap menghadapi Mimika tanpa tambang?” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas dalam mendorong diversifikasi ekonomi. Menurutnya, pembangunan ekonomi harus tumbuh dari bawah melalui penguatan ekonomi lokal dan kearifan masyarakat.

“Memang pertumbuhannya tidak akan sebesar tambang, tetapi ekonomi berbasis komunitas ini lebih berkelanjutan karena tumbuh dari masyarakat itu sendiri,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa gerakan ini bukan bentuk penolakan terhadap tambang, melainkan penolakan terhadap dampak negatif yang ditimbulkan. “Kita bukan menolak tambang, tetapi kita menolak kerusakan lingkungan, konflik, dan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat Papua,” tegasnya.

Prayoga berharap seminar ini dapat menjadi ruang diskusi terbuka untuk merumuskan langkah konkret dalam mengembangkan potensi non-tambang di Mimika.

“Forum ini diharapkan melahirkan narasi dan gagasan baru tentang Mimika yang tidak hanya dikenal sebagai daerah tambang, tetapi juga sebagai wilayah dengan kekuatan ekonomi lokal dan keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya.

 

Penulis: Bim

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE