Ketua Pemuda Kei Mimika Desak Polres Bentuk Tim Khusus Anti Begal Uang Rakyat
Soroti maraknya judi togel, dugaan jaringan "King", hingga proyek Jembatan Waa Banti senilai Rp11,88 miliar yang mangkrak, Pemuda Kei Mimika meminta aparat penegak hukum bergerak cepat mengusut dugaan kerugian masyarakat dan keuangan daerah
Papuanewsonline.com - 07 Jun 2026, 12:16 WIT
Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal
Papuanewsonline.com, Mimika – Ketua Komunitas Pemuda Kei Mimika, Edoardus Rahawadan, mendesak Polres Mimika untuk segera membentuk Tim Khusus Anti Begal Uang Rakyat guna menangani sejumlah persoalan yang dinilai merugikan masyarakat dan daerah.
Desakan tersebut disampaikan Edoardus dalam rilis pers yang
diterima media pada Jumat (6/6/2026). Menurutnya, terdapat tiga persoalan utama
yang harus menjadi perhatian serius aparat penegak hukum, yakni maraknya
praktik judi togel, dugaan keberadaan jaringan yang disebut "King",
serta mangkraknya proyek Jembatan Waa Banti senilai Rp11,88 miliar.
Edoardus menilai praktik perjudian togel di Mimika telah
berkembang secara masif dan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi
masyarakat kecil. Ia menyebut perputaran uang dari aktivitas ilegal tersebut
mencapai miliaran rupiah setiap bulan.
“Togel ini pembegalan ekonomi rakyat secara sistematis.
Bandar besarnya harus disikat, bukan cuma pengecer,” tegas Edoardus.
Selain persoalan togel, Pemuda Kei Mimika juga menyoroti
sosok yang disebut sebagai "King" yang diduga berada di balik
sejumlah proyek dan aktivitas ilegal di wilayah Mimika. Menurut Edoardus, pihak
yang dimaksud harus diungkap apabila memang terbukti terlibat dalam pelanggaran
hukum.
“Jangan ada yang kebal hukum. Kalau memang ada ‘King’ yang
main, harus dibuka ke publik dan diproses,” ujarnya.
Sorotan berikutnya diarahkan kepada proyek pembangunan
Jembatan Waa Banti yang menghubungkan Kampung Banti 1 dan Banti 2 menuju
Aruanop serta Opitawak. Proyek yang bersumber dari APBD Tahun 2023 dengan nilai
Rp11,88 miliar tersebut disebut hanya dikerjakan kurang dari 10 persen sebelum
akhirnya terbengkalai.
Menurut Edoardus, kondisi tersebut berdampak langsung
terhadap kehidupan masyarakat karena akses transportasi, pelayanan kesehatan,
dan pendidikan menjadi terganggu, terutama saat musim hujan.
“Ini bukan gagal, tapi dibegal. Uang negara Rp11,8 M keluar,
hasilnya besi karatan. Warga tetap sengsara. Ini korupsi terang-terangan,” kata
Edoardus.
Dalam rilis tersebut, Edoardus meminta agar Tim Khusus Anti
Begal Uang Rakyat nantinya diisi oleh personel terbaik dari satuan Reserse
Kriminal dan Tindak Pidana Korupsi. Ia berharap tim tersebut memiliki mandat
khusus untuk mengusut seluruh jaringan perjudian togel, membongkar pihak-pihak
yang disebut sebagai aktor utama, serta menuntaskan penyelidikan proyek
Jembatan Waa Banti.
Selain itu, ia juga mendesak aparat untuk memeriksa seluruh
pihak yang terlibat dalam proyek tersebut, mulai dari dinas terkait, pengawas
pekerjaan hingga kontraktor pelaksana, serta mengembalikan kerugian negara
apabila ditemukan pelanggaran hukum.
“Jangan cuma tangkap. Uangnya harus balik. Jembatannya harus
jadi. Kalau Polres serius, bentuk tim khusus sekarang. Kami siap kasih data,”
tegas Edoardus.
Menurutnya, aspirasi tersebut juga mendapat dukungan dari
sejumlah tokoh adat dan pemuda di wilayah Tembagapura yang menginginkan adanya
kepastian hukum terhadap berbagai persoalan yang selama ini menjadi perhatian
masyarakat. Hingga kini, bola panas desakan tersebut berada di tangan Polres
Mimika untuk menentukan langkah tindak lanjut yang akan diambil.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari
Polres Mimika terkait usulan pembentukan Tim Khusus Anti Begal Uang Rakyat
maupun sejumlah tudingan yang disampaikan dalam rilis pers tersebut.
Penulis: Hendrik
Editor: GF