Standar Jakarta Patah di Merauke: Guru Terpaksa Langgar Aturan Demi Anak Marind Sekolah
Indikator pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat terbukti gagal jika diterapkan di anak Marind pedalaman Merauke
Papuanewsonline.com - 03 Jun 2026, 13:24 WIT
Papuanewsonline.com/ Pendidikan & Kesehatan
Papuanewsonline.com, Merauke – Indikator pendidikan nasional yang seragam terbukti gagal membaca realitas anak Marind di pedalaman Merauke. Sekolah bertahan bukan karena aturan Jakarta, tapi karena diskresi guru, peran Gereja Katolik, dan prajurit TNI yang turun mengajar.
Hal itu diungkap Aulia Rahmi, Mahasiswa Doktoral Ilmu
Pendidikan UNY, dalam rilis tertulisnya Selasa (3/6/2026) pada media
Papuanewsonline,com. Menurutnya, pemerintah pusat kerap memukul rata pendidikan
dengan ukuran kota besar: jumlah guru, kehadiran siswa, capaian kurikulum.
"Ukuran itu patah di kampung-kampung Marind,"
tulis Aulia.
Masalah pendidikan di Merauke bukan sekadar gedung rusak
atau guru kurang. Sekolah harus bernegosiasi dengan rawa, jarak tempuh
berjam-jam, budaya berburu-meramu, hingga tradisi Sasi yang mengikat hidup
anak.
"Keberhasilan pendidikan tidak bisa diukur dari
kepatuhan administratif yang dibuat dari Jakarta," tegasnya.
Diskresi Guru Jadi Nyawa Sekolah
Di lapangan, justru para street-level bureaucrat seperti
guru yang menentukan hidup-matinya sekolah. Teori Michael Lipsky ini nyata di
Merauke.
Saat UU Sisdiknas menjamin pendidikan layak, fakta berkata
lain: anak harus jalan jauh, musim hujan melumpuhkan belajar, kurikulum tak
nyambung dengan kebutuhan hidup.
"Bagi keluarga Marind, keterampilan berburu, mengolah
sagu, dan memahami wilayah adat lebih penting untuk bertahan hidup," tulis
Aulia.
Jika dinilai pakai standar Jakarta, anak Marind langsung
dicap tidak peduli pendidikan. Padahal sistemnya yang tak cocok dengan denyut
nadi kampung.
Karena itu guru melakukan diskresi adaptif: longgarkan absen
saat anak ikut upacara adat, ajarkan matematika lewat alat berburu, kaitkan
pelajaran lingkungan dengan tradisi Sasi, pakai bahasa Malind Anim sebagai
jembatan literasi.
"Pendekatan ini tidak ada di juknis nasional, tapi
justru yang bikin sekolah relevan," katanya.
Gereja dan TNI Isi Kekosongan Negara
Guru tak sendiri. Gereja Katolik lewat YPPK sudah puluhan
tahun merawat sekolah sekaligus identitas budaya Marind. YPPK aktif
melestarikan bahasa daerah, nilai budaya lokal, dan pendidikan karakter.
Di garis lain, prajurit TNI perbatasan ikut mengajar saat
guru kosong dan merenovasi sekolah rusak.
"Pendidikan di Papua tidak bisa dipahami dengan
pendekatan sektoral yang kaku. Ini kerja bersama," tulis Aulia.
3 Tuntutan untuk Jakarta
Aulia mendesak pemerintah berhenti ukur Merauke pakai
meteran Jakarta. "Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana sistem
pendidikan mampu menjangkau anak adat tanpa memaksa mereka meninggalkan
identitas budayanya."
Ada 3 tuntutan konkret:
Lindungi diskresi guru – beri payung hukum untuk
penyesuaian pembelajaran lokal
Legitimasi kurikulum Marind – Sasi, bahasa Malind
Anim, nilai ekologis harus jadi sumber belajar sah
Perkuat kolaborasi – Pihak sekolah, Pemda, gereja,
TNI, komunitas adat harus satu meja
"Keadilan pendidikan tidak lahir dari keseragaman
aturan. Keadilan lahir dari kemampuan memahami perbedaan," tutup Aulia.
"Sebab yang terlihat sebagai penyimpangan dari standar
Jakarta, bisa jadi bentuk keberpihakan paling nyata terhadap anak-anak di batas
negeri."
Penulis: Hendrik
Editor: GF