logo-website
Rabu, 01 Apr 2026,  WIT

Kelangkaan LPG 12 Kg Guncang Timika, Harga Melonjak dan UMKM Tertekan

Pasokan gas LPG 12 kilogram di Timika mengalami kekosongan dalam sepekan terakhir, memicu lonjakan harga di tingkat pengecer serta menekan aktivitas rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada energi gas untuk operasional harian.

Papuanewsonline.com - 01 Apr 2026, 14:27 WIT

Papuanewsonline.com/ Ekonomi

Tabung gas LPG 12 kilogram tampak tersusun.

Papuanewsonline.com, Timika – Stok Gas LPG 12 kilogram di Timika, Papua Tengah, mengalami kekurangan signifikan dalam satu pekan terakhir, yang berdampak pada berbagai sektor usaha dan memicu kenaikan harga di tingkat pengecer. Situasi ini tidak hanya menyulitkan aktivitas rumah tangga masyarakat, tetapi juga mengganggu jalannya ekonomi harian daerah. (1/4/26)


Beberapa titik penjualan bahkan melaporkan bahwa barang tersebut hampir tidak tersedia sama sekali, dengan sejumlah warga mengaku harus berpindah-pindah lokasi pengecer tanpa mendapatkan hasil.

Kondisi ini mengindikasikan adanya gangguan serius pada rantai distribusi energi rumah tangga di wilayah tersebut.

Dampak paling parah dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada LPG sebagai sumber energi utama. Pengelola rumah makan dan warung makan di Timika kini terpaksa kembali menggunakan kompor berbahan bakar minyak tanah.

Selain meningkatkan biaya operasional, penggunaan bahan bakar konvensional ini juga dinilai kurang efisien dan memperlambat proses produksi makanan.

Hal ini menunjukkan bahwa krisis LPG tidak hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat, tetapi juga langsung memukul sektor ekonomi mikro yang menjadi tulang punggung perekonomian lokal.

Kelangkaan ini memunculkan pertanyaan besar terkait sistem distribusi LPG di daerah. Sejumlah agen penjualan mengaku sudah tidak menerima pasokan dari distributor selama satu minggu terakhir, bahkan ada yang mengalami kekosongan lebih lama.

Situasi ini memicu spekulasi adanya gangguan pada jalur distribusi atau pengurangan suplai dari hulu.

Isu kenaikan harga di tingkat distributor juga mulai beredar, yang mendorong pengecer untuk menaikkan harga lebih awal sebagai antisipasi.

Namun hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pihak distributor maupun otoritas terkait mengenai penyebab pasti terhambatnya pasokan.

Meskipun pemerintah melalui Pertamina menyatakan bahwa stok LPG nasional hingga Maret 2026 dalam kondisi aman dengan ketahanan 18–21 hari untuk jenis subsidi dan non-subsidi, persoalan utama terletak pada rantai distribusi ke wilayah Indonesia Timur seperti Papua.

Distribusi LPG ke daerah ini bergantung pada jalur laut dengan waktu tempuh panjang, yang rentan terhadap gangguan cuaca dan keterbatasan armada logistik.

Selain itu, biaya distribusi yang tinggi juga memengaruhi harga akhir di tingkat konsumen. Kenaikan harga LPG berpotensi mendorong inflasi daerah dan menekan daya beli masyarakat jika kondisi ini berlangsung lama.

 

Penulis: Jid

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE