Gerombolan TNI Paksa Umat Katolik di Puncak Papua Ucap Terima Kasi Ke Presiden Prabowo
Topeng pengabdian TNI kembali robek di Tanah Papua. Aksi memuakkan terjadi di Stasi Santa Sisilia Wuloni, Paroki Santo Petrus Ilaga, Dekanat Moni Kabupaten Puncak Papua Tengah, Minggu (9/8/2026).
Papuanewsonline.com - 11 Agu 2026, 07:46 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Ilaga - Topeng pengabdian TNI kembali robek di Tanah Papua. Aksi memuakkan terjadi di Stasi Santa Sisilia Wuloni, Paroki Santo Petrus Ilaga, Dekanat Moni Kabupaten Puncak Papua Tengah, Minggu (9/8/2026).
Umat Katolik di gereja terpencil itu mengaku dipaksa oleh sekelompok aparat TNI di Pos Wuloni untuk membuat video ucapan terima kasih kepada TNI-Polri dan Presiden Prabowo Subianto.
Bukan ketulusan, melainkan paksaan. Bukan bantuan, melainkan intimidasi berseragam.
Dalam video kesaksian yang diperoleh Media Papuanewsonline.com, pengurus gereja dengan suara bergetar membongkar skenario busuk tersebut. Dengan berat hati, di bawah tekanan dan todongan intimidasi, mereka disuruh tersenyum di depan kamera dan mengucapkan terima kasih.
"Dengan berat hati, hari ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak TNI-Polri dengan berat hati. Dalam situasi yang ditekan, diintimidasi," tegas pengurus gereja dalam video itu.
Ini adalah pemerkosaan terhadap nurani umat
Gereja yang seharusnya menjadi ruang suci dan aman, diubah menjadi studio propaganda murahan untuk pencitraan Presiden.
Ironi yang menjijikkan
Gereja yang mereka suruh mengucapkan terima kasih itu adalah gereja yang sama yang mereka hancurkan sendiri.
Pengurus gereja membongkar fakta, pada operasi militer 2021-2022, kompleks Gereja Stasi Wuloni dijadikan sasaran. Hasilnya atap seng gereja bolong-bolong diterjang peluru, kaca pecah, bahkan jubah suci pastor satu-satunya yang ada di gereja itu berlubang ditembus peluru aparat.
Sampai hari ini, kerusakan itu masih dibiarkan, menjadi saksi bisu kebrutalan negara.
"Tahun 2021 hingga 2022 pernah ada operasi militer bertempat di kompleks gereja ini. Melibatkan TNI dan Polri hingga mengakibatkan seng gedung gereja ini menjadi bolong," ungkapnya sambil menunjukkan atap dan jubah yang berlubang.
Setelah merusak rumah Tuhan, kini mereka datang dengan cat kaleng dan kamera, memaksa kami umat untuk berterima kasih kepada mereka dan Presiden.
Menanggapi situasi ini, Ketua Pemuda Katolik Komda Papua Tengah, Tino Mote, mengecam keras drama intimidatif ini. Ia menyebut cara-cara ini hanya menambah trauma mendalam umat Katolik di Dekanat Moni-Puncak yang sudah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang moncong senjata.
"Kami mendesak Presiden Prabowo Subianto agar segera memberi atensi serius atas peristiwa aparat memaksa umat memberikan ucapan 'terima kasih' karena mereka telah mengecat gedung gereja," kata Tino di Nabire, Senin (10/8).
Tino menuntut Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto berhenti bungkam dan memberikan klarifikasi secara terbuka kepada publik.
Fakta di Wuloni adalah bukti telanjang
Pendekatan keamanan di Papua tidak pernah berubah. Tetap represif, tetap intimidatif, dan kini ditambah dengan pemaksaan propaganda.
Umat Katolik di Wuloni tidak butuh video terima kasih palsu. Mereka butuh rasa aman untuk beribadah, bekerja, dan menyekolahkan anak tanpa diteror oleh mereka yang seharusnya melindungi.
Penulis: Hendrik
Editor: OF