"Kabupaten Lumpuh Total": Warga Nduga Ungkap Lampu Mati dan Birokrasi Macet
Seorang warga Kabupaten Nduga menyampaikan keluhan melalui pesan suara mengenai kondisi listrik yang disebut sering padam, birokrasi yang dinilai tidak berjalan, serta belum adanya kejelasan terkait sejumlah program pemerintahan dan ketenagakerjaan
Papuanewsonline.com - 29 Jun 2026, 18:51 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Nduga – Seorang warga Kabupaten Nduga bernama Itan Kwijangge menyampaikan berbagai keluhan mengenai kondisi daerahnya melalui rekaman pesan suara yang dikirim kepada media Papuanewsonline.com. Dalam rekaman tersebut, ia menggambarkan situasi Kabupaten Nduga sebagai daerah yang mengalami berbagai persoalan, mulai dari layanan listrik hingga birokrasi pemerintahan.
Salah satu persoalan yang menjadi sorotan ialah kondisi penerangan dan pasokan listrik yang disebut belum stabil. Menurut Itan, lampu jalan di sejumlah wilayah sudah lama tidak berfungsi sehingga masyarakat harus menghadapi keterbatasan penerangan dalam waktu yang cukup lama.
"Kadang sampai 1 bulan, 2 bulan lampu tidak menyala sama sekali," ujar Itan dalam rekaman suara via WhatsApp ke media Papuanewsonline.com. Ia juga menyebut pasokan listrik hanya menyala secara bergilir pada pukul 18.00 hingga 24.00 WIT.
Selain persoalan listrik, Itan menilai aktivitas pemerintahan di Kabupaten Nduga belum berjalan sebagaimana mestinya. Ia mengaku melihat sejumlah kantor pemerintahan dalam kondisi kurang terawat dan belum menunjukkan aktivitas pelayanan yang maksimal.
"Kantor sana... rumput naik. Macam kayak tidak ada orang, orang kasih tinggal rumah kosong," ungkap Itan. Ia juga mengaku sejak tahun 2017 belum melihat adanya perubahan yang signifikan di daerah tersebut.
Dalam rekamannya, Itan turut menyoroti belum adanya kejelasan mengenai peserta tes PGWI dan K2 tahun 2024. Menurutnya, hingga kini belum ada informasi lanjutan, sementara di sejumlah kabupaten lain proses penempatan kerja sudah mulai berjalan. Ia juga menyebut pelantikan kepala desa di Kabupaten Nduga belum terlaksana.
Dengan nada penuh kekecewaan, Itan menggambarkan kondisi daerahnya menggunakan perumpamaan. "Macam kayak orang kencing di pasir. Macam kayak angin masuk tapi asap keluarnya tidak ada," ujarnya. Ia menilai dana daerah tetap mengalir, namun hasil pembangunan belum dirasakan masyarakat.
Itan juga meminta para pejabat daerah lebih sering turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi masyarakat. "Orang sekolah gelarnya luar biasa, sungguh mati. Tapi mana turun di lapangnya tidak ada perkembangan ini," kata Itan. Menurutnya, masyarakat masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari jaringan komunikasi, listrik, hingga kondisi rumah yang belum memadai.
Di akhir rekaman, Itan berharap keluhan yang disampaikannya dapat menjadi perhatian pemerintah daerah. "Macam kayak saya rasa itu tidak ada orang tua tinggal kayak anak-anak saja di rumah begitu," katanya. Ia kemudian menutup pesannya dengan harapan agar pemerintah "sadar diri". "Kami yang tinggal di kabupaten juga itu macam kayak tidak ada orang sekolah begitu," tutupnya.
Penulis: Hendrik
Editor: GF