logo-website
Senin, 01 Jun 2026,  WIT

MUI Distrik Mimika Baru Gelar Talk Show Kepemudaan, Dorong Pemuda Jadi Agen Perubahan

MUI Distrik Mimika Baru menggelar Talk Show bersama organisasi kepemudaan di Timika dengan tema “Waktunya Pemuda Bicara: Mengokohkan Persaudaraan di Tengah Perbedaan”

Papuanewsonline.com - 31 Mei 2026, 09:06 WIT

Papuanewsonline.com/ Pendidikan & Kesehatan

Suasana Talk Show yang diselenggarakan MUI Distrik Mimika Baru dengan tema “Waktunya Pemuda Bicara: Mengokohkan Persaudaraan di Tengah Perbedaan”, pada Sabtu (30/5/2026).

Papuanewsonline.com, Mimika — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Distrik Mimika Baru menggelar Talk Show bersama organisasi kepemudaan di Timika dengan tema “Waktunya Pemuda Bicara: Mengokohkan Persaudaraan di Tengah Perbedaan”, (30/5/2026).


Dalam kegiatan tersebut, Habib Helmi bin Khalid Alkaff menegaskan bahwa pemuda memiliki peran penting sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Menurutnya, perubahan bukan berarti generasi sebelumnya gagal membangun daerah atau bangsa, melainkan setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda sehingga membutuhkan kontribusi baru dari generasi muda.

“Pemuda harus menjadi garda terdepan dalam berpikir, bekerja, dan menciptakan perubahan yang lebih baik. Namun, tantangan saat ini adalah masih banyak anak muda yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan media sosial tanpa memberikan manfaat yang nyata bagi diri maupun lingkungan,” ujarnya.

Habib Helmi menjelaskan bahwa perubahan tidak cukup hanya berangkat dari keinginan, tetapi harus didasari cita-cita yang kuat serta pemahaman terhadap realitas yang dihadapi. Ia mendorong generasi muda untuk memiliki mimpi besar, seperti menempuh pendidikan yang tinggi, menjadi pribadi yang bermanfaat, serta berkontribusi dalam pembangunan Timika.

Menurutnya, perbedaan pandangan dalam memaknai perubahan merupakan hal yang wajar dan justru menjadi kekuatan. Keberagaman cara berpikir dapat melahirkan gagasan-gagasan baru selama dibangun dengan niat yang baik dan ketulusan hati.

“Perubahan besar harus dimulai dari cara berpikir yang benar, sumber pengetahuan yang baik, dan tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, pemuda harus terus belajar dan memperluas wawasan, tidak hanya bergantung pada informasi singkat yang beredar di media sosial,” katanya.

Ia mengajak seluruh pemuda untuk memulai perubahan dari diri sendiri, lingkungan sekitar, dan daerahnya masing-masing. Dengan semangat belajar, kebersamaan, serta kepedulian sosial, pemuda diyakini mampu menghadirkan perubahan yang positif bagi masa depan.

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Mimika, Dr. Jeffery C. Hutagalung, menyoroti posisi strategis pemuda dalam pembangunan bangsa. Ia menyebut bahwa dalam berbagai pandangan filsafat, pemuda sering dipandang sebagai pembangun masa depan karena memiliki imajinasi, kecerdasan, dan semangat yang besar.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pemuda juga rentan terjebak dalam imajinasinya sendiri. Semangat yang tinggi untuk memulai sesuatu sering kali belum diimbangi dengan ketahanan dan konsistensi dalam mempertahankannya.

“Perkembangan peradaban dan modernisasi menghadirkan banyak peluang bagi generasi muda, tetapi juga membawa tantangan. Teknologi dan arus informasi yang begitu cepat dapat menjadi sarana pengembangan diri, namun juga dapat membuat pemuda kehilangan arah apabila tidak dibarengi dengan nilai, karakter, dan tujuan hidup yang jelas,” jelasnya.

Jeffery menekankan pentingnya melihat berbagai persoalan generasi muda berdasarkan data dan fakta, bukan sekadar asumsi. Ia menyebut sejumlah hasil penelitian menunjukkan adanya tantangan yang dihadapi generasi muda, seperti menurunnya tingkat religiositas dan spiritualitas, meningkatnya ketergantungan ekonomi terhadap orang tua, serta rendahnya tingkat kemandirian ekonomi pada sebagian kelompok usia muda.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan sumber daya manusia harus menjadi perhatian bersama. Penurunan kualitas karakter dan kesadaran sosial generasi muda dapat berdampak pada upaya menjaga dan meningkatkan kerukunan di tengah masyarakat.

Karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat pendidikan, pembinaan karakter, pengembangan kemandirian ekonomi, serta nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia juga berharap forum diskusi seperti ini tidak berhenti sebagai ruang bertukar gagasan semata, melainkan dapat menghasilkan rekomendasi yang dikaji lebih lanjut dan disampaikan kepada pihak terkait sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah.

“Saya selalu berpegang pada prinsip, ‘sepakat untuk tidak selalu bersepakat’. Dari perbedaan itulah lahir dialog, pembelajaran, dan gagasan-gagasan baru untuk membangun masyarakat yang lebih baik,” pungkasnya.

Talk show tersebut menjadi ruang dialog bagi generasi muda lintas organisasi untuk menyampaikan pandangan, memperkuat persaudaraan, serta membangun komitmen bersama dalam menjaga kerukunan dan mendorong kemajuan Kabupaten Mimika di tengah keberagaman masyarakatnya.

 

Penulis: Bim

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE