Ini Fakta Hukum Praperadilan Plt Bupati Mimika JR Akan Kandas Hari Rabu
Papuanewsonline.com - 07 Mar 2023, 14:22 WIT
Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal
Papuanewsonline.com, Jayapura- Upaya praperadilan dari Plt Bupati Mimika Johanes Rettob dan Silvi Herawaty sebagai pemohon terhadap Kejaksaan Tinggi Papua sudah dapat dipastikan kandas atau digugurkan pada hari Rabu (8/3/2023) besok.
Keyakinan gugurnya permohonan praperadilan ini, langsung disampaikan Aspidsus Kejati Papua, Sutrisno Margi Utomo, Selasa (7/3/2023).
Sutrisno membeberkan Bahwa Penyidik Kejaksaan Tinggi Papua pada hari Senin tanggal 27 Februari 2023, telah menyerahkan tanggungjawab tersangka Johannes Rettob, S.Sos.,M.M., dan tersangka Silvi Herawaty dan barang bukti perkaranya kepada Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Mimika (Pasal 8 ayat (3) huruf b KUHAP) selanjutnya Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Mimika pada hari Rabu tanggal 01 Maret 2023 telah melimpahkan perkara tersebut kepada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negari Kelas IA Jayapura, dengan demikian status perkara telah beralih dari penyidikan kepada penuntutan (proses persidangan) dan status saudara Johannes Rettob, S.Sos.,M.M., dan saudari Silvi Herawaty saat ini telah beralih dari tersangka menjadi terdakwa, maka berdasarkan ketentuan Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP, permintaan praperadilan ini gugur demi hukum.
“ Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP Dalam hal suatu perkara sudah mulai diperiksa oleh pengadilan negeri, sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan kepada praperadilan belum selesai, maka permintaan tersebut gugur,” Ucapnya.
Kata Sutrisno, Bahwa berdasarkan SEMA Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Mahkamah Agung Tahun 2021 sebagai Pedoman Pelaksaan Tugas bagi Pengadilan, Angka 3 menyatakan bahwa:
“Dalam perkara tindak pidana, sejak berkas perkara dilimpahkan dan diterima oleh pengadilan serta merta mengugurkan pemeriksaan praperadilan sebagaimana dimaksud pada Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP, karena sejak dilimpahkan perkara pokok ke pengadilan status tersangka beralih menjadi terdakwa, status penahanannya beralih menjadi wewenang hakim. Dalam hal praperdilan tetap memutus dan mengabulkan permohonan Pemohon, putusan tersebut tidak menghentikan pemeriksaan perkara pokok,” Pungkasnya.
Lanjut Dia Berdasarkan dasar-dasar hukum disebutkan maka permintaan praperadilan yang diajukan Pemohon gugur demi hukum.
Disinggung terkait Keberatan tehadap Penetapan Tersangka, Aspidsus mengatakan penetapan tersangka sudah sah sesuai Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Tinggi Papua (Sprindik Khusus) Nomor : Print-37/R.1/Fd.1/01/2023 tanggal 25 Januari 2023 a.n. Johannes Rettob, S.Sos.,M.M., dan Nomor : Print-35/R.1/Fd.1/01/2023 tanggal 25 Januari 2023 a.n. Silvi Herawaty serta Surat Penetapan Tersangka (Pidsus-18) Nomor : Tap-07/R.1/Fd.1/01/2023 tanggal 25 Januari.
Lanjut
Aspidsus menjelaskan, Bahwa penyidikan perkara ini dimulai sejak tanggal 24
Agustus 2022, berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Tinggi
Papua Nomor : Print-05/R.1/Fd.1/08/2022 tanggal 24 Agustus 2022 dan untuk itu
Penyidik telah menyampaikan SPDP kepada pelapor, terlapor, korban, Penuntut
Umum dan KPK, termasuk telah disampaikan kepada terlapor (saudara Johannes
Rettob, S.Sos.,M.M. dan saudari Silvi Herawaty) Nomor : B-05/R.1/Fd.1/08/2022
tanggal 25 Agustus 2022. Selanjutnya Penyidik melakukan penyidikan dengan mengumpulkan
alat bukti yang cukup sehingg sampai dengan tanggal 25 Januari 2023 telah
diperoleh alat bukti berupa :Keterangan saksi sebanyak 36 orang, Keterangan
ahli sebanyak 5 orang (Ahli Auditor Kerugian Negara, Ahli Keuangan Negara, Ahli
Fasilitasi Bea dan Cukai pada Dirjen Beacukai, Ahli Teknis Peraturan
Perundang-udangan Dirjen Bea dan Cukai,
dan Ahli LKPP),Barang bukti 157 dokumen, Alat bukti surat berupa :
Laporan
Hasil Audit Investigasi Penghitungan
Kerugian Keuangan Negara Kantor Akuntan Publik (KAP) Tarmizi Achmad
Nomor : 00176/2.0604/AP.7/09/0430/1/XI/2022
tanggal 11 November 2022 atas dugaan
tindak pidana korupsi “Pengadaan dan
Operasional Pesawat Terbang Cessna Grand Caravan C 208B EX dan Helicopter Airbus
H-125 pada Dinas Perhubungan Kabupaten Mimika Tahun Anggaran 2015 sampai dengan
Tahun 2022” yang menghitung
kerugian keuangan negara sebesar Rp.69.135.404.600,00 (enam puluh sembilan
miliar seratus tiga puluh lima juta empat ratus empat ribu enam ratus rupiah);
Hasil perhitungan dari BPKP Perwakilan Provinsi Papua Nomor : PE.11.03/LHP-323/PW26/3.2/2022 tanggal 08 Agustus 2022 yang menyatakan terdapat kewajiban PT. Asian One Air untuk membayar kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika sebesar Rp.21.848.875.000,00 (dua puluh satu miliar delapan ratus empat puluh delapan juta delapan ratus tujuh puluh lima ribu rupiah), yang hingga saat ini tidak dibayarkan.
“ Dari
serangkaian proses yang sudah disebutkan maka telah terpenuhi minimal 2 alat
bukti yang cukup sesuai ketentuan Pasal 184 ayat (1) KUHAP, sehingga Penyidik
menetapkan tersangka yaitu saudara Johannes Rettob, S.Sos.,M.M., berdasarkan
Surat Penetapan Tersangka (Pidsus-18) Nomor : Tap-07/R.1/Fd.1/01/2023 tanggal
25 Januari 2023 dan saudari Silvi Herawaty, berdasarkan Surat Penetapan
tersangka Nomor : Tap-06/R.1/Fd.1/01/2023 tanggal 25 Januari 2023, dengan
demikian penetapan tersangka telah sah menurut hukum. Adapun yang dipersoalkan
Penasehat Hukum terkait Surat Perintah Penyidikan Khusus yang diterbitkan
tertanggal 25 Januari 2023, tidak bisa berdiri sendiri melaikan tetap bersandar
pada Surat Perintah Penyidikan Umum Nomor : Print-05/R.1/Fd.1/08/2022 tanggal
24 Agustus 2022, dengan menambah beberapa orang Penyidik sehingga tetap sah
menurut hukum,” Jelasnya.
Lebih
lanjut mantan Kejari Mimika membeberkan, Berdasarkan uraian tersebut maka
keberatan Pemohon tidak dapat diterima dan harus ditolak.
“ Terhadap keberatan Pemohon yang menyatakan penetepan tersangka tanpa didasarkan adanya hasil Audit BPK RI sesuai SEMA Nomor 4 Tahun 2016, maka jawabnya simpel sja dimana Berdasarkan Penjelasan Pasal 32 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara “adalah kerugian negara yang sudah dapat dihitung jumlahnya berdasarkan hasil temuan instansi yang berwenang atau Akuntan Publik yang ditunjuk, kemudian dipertegas dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor : 31/PUU-X/2012 tanggal 23 Oktober 2012 pada pokoknya perhitungan kerugian keuangan negara dapat dilakukan oleh BPK, BPKP, Inspektorat, Penyidik atau badan yang mempunyai fungsi yang sama dengan itu dari masing-masing instansi pemerintah, bahkan dari pihak-pihak lain (termasuk dari perusahan) yang dapat menunjukan kebenaran materiil dalam penghitungan kerugian keuangan negara dan/ atau dapat membuktikan perkara yang sedang ditanganinya,’’ Pungkasnya.
Aspidsus merinci Bahwa penetapan tesangka dalam perkara ini telah didasarkan minimal 2 alat bukti yang sah termasuk adanya hasil audit dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Tarmizi Achmad Nomor : 00176/2.0604/AP.7/09/0430/1/XI/2022 tanggal 11 November 2022 dan juga berdasarkan Laporan BPKP Perwakilan Provinsi Papua Nomor : PE.11.03/LHP-323/PW26/3.2/2022 tanggal 08 Agustus 2022, yang didalamnya terdapat Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI Perwakilan Provinsi Papua Nomor : 06/ML/XIX.JYP/05/2022 tanggal 23 Mei 2022.
“ Bahwa adanya SEMA Nomor 4 Tahun 2016 pada Rumusan Kamar Pidana poin 6 yang menyatakan instansi yang berwenang menghitung kerugian negara adalah BPK, tidak harus diikuti dan dapat dikesampingkan, karena berdasarkan fakta persidangan Hakim dapat menilai sendiri adanya kerugian negara dan besarnya kerugian negara, hal ini membuka peluang bagi para Hakim mengesampingkan rumusan SEMA tersebut. Apalagi kedudukan SEMA berada dibawah ketentuan peraturan perudangan-undangan sebagai mana yang telah tersebut diatas dan juga dibawah putusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat final dan mengikat yang harus diikuti,” Bebernya.(Redaksi)