Dari Dana Desa ke Bangku Sekolah, Kampung Nawaripi Sekolahkan Dua Anak Suku Asli Kamoro
Pemerintah Kampung Nawaripi mengalihkan fokus pembangunan dari fisik ke sumber daya manusia dengan mengirim dua anak suku asli Kamoro menempuh pendidikan dasar di Kepulauan Kei
Papuanewsonline.com - 26 Jan 2026, 18:44 WIT
Papuanewsonline.com/ Pendidikan & Kesehatan
Papuanewsonline.com, Langgur — Di tengah masih terbatasnya akses pendidikan bagi anak-anak suku asli Papua, Kampung Nawaripi, Distrik Wania, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, menunjukkan langkah progresif melalui kebijakan pembangunan berbasis manusia. Pemerintah kampung ini kembali mengirim dua anak perempuan suku asli Kamoro untuk mengenyam pendidikan di luar daerah sebagai bentuk investasi jangka panjang bagi generasi penerus.
Kebijakan tersebut menegaskan bahwa dana desa tidak
semata-mata harus dialokasikan untuk pembangunan fisik. Dengan visi yang
berpihak pada masa depan anak-anak kampung, Pemerintah Kampung Nawaripi
memanfaatkan dana desa untuk membuka akses pendidikan yang lebih luas dan
berkualitas bagi anak-anak suku asli.
Pada Senin (26/1/2026), dua siswi asal Kampung Nawaripi,
Maria Gema Mepere (11), siswa kelas 5A, dan Ida Maria Saloma Mepere (9), siswa
kelas 1B, secara resmi diterima sebagai peserta didik di SD NK Mathias
Langgur/A, Kabupaten Maluku Tenggara. Sekolah tersebut berada di bawah naungan
Yayasan Asthi Dharma Langgur dan dikenal memiliki lingkungan pendidikan yang
inklusif.
Kehadiran kedua anak Kamoro ini disambut hangat oleh pihak sekolah, para guru, serta seluruh siswa. Momen penerimaan berlangsung penuh keakraban, mencerminkan semangat persaudaraan lintas daerah yang menjadi nilai utama dalam dunia pendidikan.

Dalam perkenalan di hadapan seluruh siswa, Kepala Sekolah SD
NK Mathias Langgur/A, Saverius Rahabav, menekankan pentingnya solidaritas dan
kebersamaan, seraya mengingatkan bahwa perbedaan asal daerah bukanlah
penghalang untuk saling menerima dan belajar bersama.
Langkah yang diambil Pemerintah Kampung Nawaripi ini tidak
hanya berdimensi administratif, tetapi juga sarat makna sosial. Pengiriman
anak-anak Kamoro ke luar daerah menjadi simbol perubahan paradigma pembangunan
desa, dari sekadar membangun infrastruktur menuju pembangunan manusia yang
berkelanjutan.
Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun, bersama jajaran
aparat kampung, dinilai berhasil menerjemahkan dana desa sebagai instrumen
keadilan sosial. Kebijakan ini memperlihatkan keberpihakan nyata kepada
anak-anak suku asli yang selama ini berada di pinggiran akses pendidikan formal
yang layak.
Melalui pendekatan ini, pendidikan ditempatkan sebagai
fondasi utama dalam memutus rantai ketertinggalan. Anak-anak Kamoro tidak hanya
diberikan kesempatan bersekolah, tetapi juga ruang untuk tumbuh, berinteraksi
lintas budaya, dan membangun kepercayaan diri sejak usia dini.
Apabila konsistensi kebijakan ini terus dijaga, Kampung Nawaripi berpeluang menjadi contoh nasional dalam pemanfaatan dana desa berbasis pendidikan dan pemberdayaan anak-anak suku asli Papua, sekaligus membuktikan bahwa pembangunan sejati dimulai dari manusia.(GF)