Mengerikan, Penularan HIV/AIDS Di Papua
Ini Yang Dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika
Papuanewsonline.com - 02 Nov 2022, 21:22 WIT
Papuanewsonline.com/ Pendidikan & Kesehatan
TIMIKA- Penyakit mengerikan HIV/AIDS di Papua sangat tinggi, sesuai data yang diperoleh Media ini, secara akumulatif di Papua, Jayapura menempati urutan pertama, Kabupaten Nabire dalam posisi kedua sedangkan Kabupaten Mimika berada dalam urutan ketiga.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Mimika, Reynold Ubra mengatakan, Setiap tahun kasus HIV/AIDS di Mimika mencapai 399
kasus hingga mencapai 400 kasus.
“ Secara akumulatif hampir 6000
sekian, untuk penularan terbesar 98 % dari kasus pertahun melalui hubungan seksual, atau melalui
transmisi seksual pada kelompok heterosseksual, kemudian penularan yang berikut
sekitar hampir 2% melalui penularan dari
ibu ke anak,’’ ujar Kadis Reynold saat ditemui diruang kerjanya, Rabu
(2/11/20220.
Ubra mengaku penyebaran AIDS di
Timika saat ini, bisa terkendali. “ kenapa terkendali? Karena Kita bisa lihat dari
jumlah positif hitireknya dalam 5-6 tahun terakhir bahkan 10 tahun terakhir,
yakni posisi kita tidak lebih dari 1,5%,’’ Jelasnya.
Lanjutnya, Hasil Riset Kesehatan
dasar kerjasama dinas Kesehatan mimika yaitu PT Freeport Indonesia, terfalensi
HIV ada di angka 1%.
Untuk Langkah antisipasi lajunya penularan
HIV/AIDS di Mimika, Kata Reynold Ubra, Saat ini pihaknya sedang konsentrasi untuk bagaimana menemukan penderita
HIV secepat mungkin untuk diobati.
“ Kami harus bisa membangun kerja
sama dengan kelompok-kelompok masyarakat yang konsen penanganan HIV, supaya bisa mendukung upaya test and
trip, jadi menyadarkan masyarakat untuk melakukan testing HIV, sehingga Ketika ditemukan,
kami mengambil Langkah pengobatan secepat mungkin,’’ tandas Ubra.
Kata Dia, Focus berikutnya kepada
Ibu hamil, melalui tes triple eliminasi
yaitu HIV, IMS dan Hepatitis.
“ Untuk regulasi penanganan HIV
di Mimika, sudah ada program yang dimiliki, sehingga kami fokus untuk percepatan eliminasi HIV di tahun 2030
yaitu dengan 90% kelompok resiko menerima pemeriksaan HIV kemudian 90% lagi dari yang
positif, minimal 90% harus diobati itu lah yang sebenarnya saat ini dikerjakan
di mimika,’’ Terangnya.
Reynold mengungkapkan, Kalau
angka 1% di Mimika sebenarnya tempat-tempat seperti lokalisasi tempat
prostitusi, di Bar dan tempat pijat plus-plus, merupakan tempat yang beresiko
terjadinya penularan.
“ Kelompok resiko yang
disebutkan, sampai saat ini diawasi secara ketat dengan melakukan pelayanan
secara rutin,’’ Ucapnya.
“ Untuk penderita HIV di Timika terbanyak
itu pada usia produktif 18 hingga 25 Tahun, sehingga ini ancaman, HIV masih menjadi ancaman buat kita apalagi di
Timika,” tegas Reynold.
Ia menyebutkan untuk langka
antisipasi, melalui program percepatan tes and trip pemeriksaan dan pengobatan, langka
ini dilakukan sebagai salah strategi untuk memutuskan penyebaran.
“ kalau kita lihat diusia
produktif 18-25 Tahun banyak yang terpapar HIV, maka sebenarnya kualitas hidup
untuk generasi berikutnya menjadi ancaman dengan akan meningkatkan angka penderita, sekaligus meningkatkan angka kematian, sehingga harapan kita bisa berkurang apalagi ada penularan 1%
lebih dari Ibu ke anak/bayi itu bisa mengurangi harapan hidup kita,’’ harap
Reynold.
Dikatakanya, Program penanggulangan HIV pada DINKES, Puskesmas maupun Postu tetap berjalan, dalam melakukan penyuluhan flu HIV, baik ke Masyarakat maupun ke remaja-remaja melalui program disekolah yang dilakukan oleh puskesmas.(Ridwan)