KAI Group Kelola Lima Jenis Teknologi Perkeretaapian, Dari Lokomotif Diesel Hingga Kereta Cepat
Keberagaman teknologi KAI Group menopang layanan jutaan penumpang dan distribusi logistik nasional secara aman.
Papuanewsonline.com - 23 Jul 2026, 17:13 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama ekosistem KAI Group terus mengembangkan berbagai teknologi perkeretaapian untuk mendukung layanan transportasi nasional. Hingga Semester I 2026, KAI Group mengoperasikan lima jenis teknologi, mulai dari lokomotif diesel, kereta rel listrik (KRL), kereta rel diesel dan listrik (KRDE/I), LRT berbasis sistem otomatis, hingga kereta cepat Whoosh yang mampu melaju dengan kecepatan operasional 350 kilometer per jam.
Keberagaman teknologi tersebut menjadi penopang layanan transportasi yang menjangkau jutaan masyarakat. Sepanjang enam bulan pertama 2026, KAI Group melayani 258.993.359 pelanggan atau meningkat 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain angkutan penumpang, KAI juga mengangkut 32,50 juta ton barang yang didominasi komoditas batu bara serta berbagai muatan logistik lainnya.
Per Juni 2026, armada yang dikelola KAI terdiri atas 551 lokomotif, 1.064 rangkaian KRL, 2.238 kereta penumpang, 8.907 gerbong barang, serta 96 unit KRDE/I. KAI juga mengoperasikan LRT Jabodebek, sementara layanan kereta cepat Whoosh berada di bawah pengelolaan PT Kereta Cepat Indonesia China yang merupakan bagian dari ekosistem KAI Group.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa setiap jenis teknologi memiliki karakteristik operasional yang berbeda sehingga membutuhkan sistem pengelolaan tersendiri. "Perbedaan teknologi tersebut dikelola melalui standar keselamatan, keandalan, kompetensi pekerja, dan disiplin operasi yang konsisten. Tujuannya sama, yaitu memastikan setiap perjalanan berlangsung aman, tepat waktu, andal, dan nyaman bagi pelanggan," ujarnya.
Teknologi lokomotif diesel masih menjadi tulang punggung layanan kereta api antarkota, lokal, wisata, dan angkutan barang. Pada Semester I 2026, layanan kereta jarak jauh dan lokal melayani 29,85 juta pelanggan, sedangkan angkutan barang mencapai 32,50 juta ton. Sementara itu, layanan KAI Wisata juga mengalami pertumbuhan signifikan dengan jumlah pelanggan mencapai 164.743 orang.
Di sektor transportasi perkotaan, KRL dan layanan commuter mencatat jumlah pengguna terbesar, yakni lebih dari 204 juta pelanggan selama Semester I 2026. Adapun LRT Jabodebek melayani lebih dari 16 juta penumpang atau meningkat 22,84 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Layanan KRDE/I juga terus mendukung konektivitas regional, termasuk kereta bandara dan rute Makassar–Parepare, sedangkan Whoosh melayani hampir tiga juta pelanggan dalam periode yang sama.
Untuk menjaga keandalan operasional, KAI didukung enam Balai Yasa yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra sebagai pusat perawatan berat sarana perkeretaapian. Perusahaan juga memiliki unit khusus yang menangani pemeliharaan mesin jalur rel serta jembatan baja. Di sisi sumber daya manusia, jumlah pekerja bersertifikasi terus meningkat, disertai pelatihan, sertifikasi, simulasi operasional, hingga pemanfaatan aplikasi Safety Railway Information (SRI) sebagai sistem pelaporan potensi bahaya.
Anne menegaskan bahwa seluruh inovasi teknologi yang diterapkan tetap berorientasi pada keselamatan perjalanan. "Dari lokomotif diesel hingga kereta cepat, teknologinya berbeda tetapi prinsip operasinya tetap sama. Keselamatan dijaga melalui pekerja yang kompeten, fasilitas perawatan yang memadai, disiplin terhadap prosedur, serta pengawasan yang berjalan selama 24 jam," tutupnya.
Penulis: Jid
Editor: OF