Belajar dari Papua Barat, APPOAP Desak Mimika Hadirkan Keberpihakan Nyata bagi Pengusaha OAP
Ribuan paket proyek bernilai triliunan rupiah dinilai menjadi peluang besar bagi Pemerintah Kabupaten Mimika untuk membangun pengusaha Orang Asli Papua yang kuat, mandiri, dan menjadi pelaku utama pembangunan di tanahnya sendiri
Papuanewsonline.com - 23 Jun 2026, 17:31 WIT
Papuanewsonline.com/ Ekonomi
Papuanewsonline.com, Mimika – Aliansi Peduli Pengusaha Orang Asli Papua (APPOAP) mendorong Pemerintah Kabupaten Mimika agar segera mengambil langkah konkret dalam memperkuat peran pengusaha Orang Asli Papua (OAP) dalam pembangunan daerah. Desakan tersebut disampaikan melalui siaran pers resmi APPOAP yang diterbitkan di Timika, Senin (22/6/2026).
Dalam pernyataannya, APPOAP memberikan apresiasi kepada
Pemerintah Provinsi Papua Barat yang dinilai berhasil menunjukkan komitmen
nyata terhadap pemberdayaan pengusaha asli Papua melalui pelibatan ratusan
kontraktor OAP dalam berbagai program pembangunan infrastruktur daerah.
Berdasarkan data yang disampaikan APPOAP, Pemerintah
Provinsi Papua Barat telah melakukan verifikasi terhadap 1.807 kontraktor Orang
Asli Papua. Dari jumlah tersebut, sebanyak 856 kontraktor telah mulai
dilibatkan dalam paket-paket pekerjaan pembangunan daerah. Kebijakan tersebut
dinilai sebagai bentuk keberpihakan yang terukur sekaligus menjadi contoh bagi
daerah lain di Tanah Papua.
APPOAP menilai Kabupaten Mimika memiliki potensi yang jauh
lebih besar untuk melahirkan pengusaha OAP yang tangguh dan berdaya saing.
Terlebih, Mimika merupakan daerah dengan kapasitas fiskal terbesar di Tanah
Papua yang didukung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bernilai
triliunan rupiah setiap tahunnya.
Di tengah dinamika politik pasca-Pilkada, APPOAP
berpandangan bahwa kepemimpinan Bupati Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel
Kemong memiliki peluang besar untuk meninggalkan warisan pembangunan yang tidak
hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga membangun fondasi ekonomi
masyarakat asli Papua melalui penguatan sektor usaha lokal.
Menurut APPOAP, data Badan Pengadaan Barang dan Jasa
Kabupaten Mimika menunjukkan bahwa hingga tahun anggaran 2026 terdapat sekitar
9.205 paket kegiatan yang telah masuk dalam Sistem Informasi Rencana Umum
Pengadaan (SiRUP) dengan nilai mencapai sekitar Rp2,3 triliun. Namun hingga
pertengahan tahun, baru sebagian kecil paket yang memasuki tahapan pengadaan.
Kondisi tersebut dinilai membuka ruang yang sangat besar
bagi pemerintah daerah untuk menerapkan kebijakan afirmatif yang berpihak
kepada pengusaha Orang Asli Papua. APPOAP menegaskan bahwa pembangunan tidak
boleh hanya dipahami sebagai pembangunan gedung, jalan, maupun infrastruktur
fisik semata, tetapi harus mampu menciptakan pelaku ekonomi lokal yang menjadi
tuan rumah di atas tanahnya sendiri.
Lebih lanjut, APPOAP mengingatkan bahwa semangat Otonomi
Khusus Papua lahir untuk menghadirkan perlindungan, keberpihakan, dan
pemberdayaan bagi Orang Asli Papua dalam seluruh sektor pembangunan, termasuk
sektor pengadaan barang dan jasa pemerintah yang selama ini menjadi salah satu
penggerak utama ekonomi daerah.
Sebagai langkah konkret, APPOAP mengusulkan enam program
strategis kepada Pemerintah Kabupaten Mimika. Di antaranya melakukan pendataan
dan verifikasi menyeluruh terhadap pengusaha OAP, menetapkan kebijakan afirmasi
dalam pengadaan proyek pemerintah, membentuk program penguatan pengusaha OAP,
mengalokasikan sebagian paket pekerjaan kepada kontraktor OAP sesuai ketentuan,
mewajibkan kemitraan antara perusahaan besar dengan pengusaha OAP, serta
menyusun regulasi daerah yang memberikan perlindungan dan pemberdayaan bagi
pelaku usaha asli Papua.
APPOAP meyakini bahwa dengan dukungan APBD yang besar,
Mimika memiliki kemampuan untuk melahirkan ribuan pengusaha Orang Asli Papua
yang mandiri dan kompetitif. Organisasi tersebut mengajak pemerintah daerah,
DPRK Mimika, lembaga adat, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, serta
seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun sistem ekonomi yang
memberikan ruang dan kesempatan yang adil bagi masyarakat asli Papua.
Menutup pernyataannya, APPOAP menegaskan pentingnya
perubahan paradigma pembangunan di Tanah Papua. Organisasi tersebut
menyampaikan bahwa, "Sudah saatnya Orang Asli Papua tidak hanya menjadi
penonton dalam pembangunan, tetapi menjadi pelaku utama pembangunan di atas
tanahnya sendiri." (GF)