Bahlil: Panas Bumi Kunci Kedaulatan Energi, Potensi Raksasa Baru 11,6 Persen Dimanfaatkan
Bahlil memaparkan bahwa total potensi panas bumi Indonesia mencapai 23.202,77 MW, namun kapasitas yang telah dimanfaatkan baru sekitar 2.776,39 MW atau setara 11,6 persen dari keseluruhan potensi. Sebanyak 88,4 persen cadangan masih tersimpan.
Papuanewsonline.com - 20 Agu 2026, 09:25 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Jakarta — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pengembangan energi panas bumi menjadi tulang punggung utama untuk mewujudkan swasembada energi nasional sekaligus mendorong hilirisasi. Hal tersebut disampaikan saat membuka Konvensi dan Pameran Panas Bumi Internasional Indonesia ke-12 di Jakarta Convention Center, Rabu (19/8/2026).
Indonesia kini menempati peringkat kedua dunia dalam kapasitas pembangkit panas bumi terpasang.
Bahlil memaparkan bahwa total potensi panas bumi Indonesia mencapai 23.202,77 MW, namun kapasitas yang telah dimanfaatkan baru sekitar 2.776,39 MW atau setara 11,6 persen dari keseluruhan potensi. Sebanyak 88,4 persen cadangan masih tersimpan dan belum digali.
Potensi terbesar tersebar di Sumatera, Jawa, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara, sementara Kalimantan, Bali, Maluku, dan Papua juga memiliki kekayaan alam yang belum tergarap.
Pemerintah menetapkan visi menjadikan Indonesia produsen energi panas bumi terbesar dunia pada tahun 2030.
Pada tahun ini, dikembangkan dua wilayah eksplorasi dan empat wilayah kerja panas bumi dengan total potensi sekitar 131 MW serta tambahan kapasitas 185 MW dan nilai investasi sekitar 1,16 miliar dolar AS.
Pemerintah juga menyederhanakan regulasi guna mempermudah dan mempercepat investasi di sektor energi terbarukan ini.
Pengembangan tidak hanya ditujukan untuk pembangkit listrik. Konsep baru yang disebut Beyond Geothermal juga meliputi pemanfaatan panas bumi untuk mengekstraksi mineral bernilai tinggi, seperti di Proyek Dieng yang diproyeksikan menghasilkan 2.190 ton litium dan 8.000 ton silika per tahun.
Di Kamojang dan Lahendong, panas bumi juga telah dimanfaatkan untuk membantu pengeringan kopi dan pengolahan gula rakyat secara ramah lingkungan.
Penulis: Jid
Editor: OF