logo-website
Selasa, 12 Mei 2026,  WIT

Aliansi Mahasiswa Papua Demo KemHAM, Desak Natalius Pigai Tangani Kasus Kekerasan di Dogiyai

Ratusan massa aliansi mahasiswa Papua yang tergabung dalam Front Anti-Militerisme dan Investasi menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

Papuanewsonline.com - 12 Mei 2026, 08:38 WIT

Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Front Anti-Militerisme dan Investasi saat menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Senin (11/5/2026).

Papuanewsonline.com, Jakarta – Ratusan massa aliansi mahasiswa Papua yang tergabung dalam Front Anti-Militerisme dan Investasi menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Senin (11/5/2026). Sejak pukul 10.00 WIB, mereka berorasi lantang mendesak Menteri HAM, Natalius Pigai, untuk menemui mereka secara langsung.


Aksi ini dipicu kekhawatiran atas kasus kekerasan bersenjata di Moanemani, Dogiyai, akhir Maret lalu yang merenggut lima nyawa, serta rentetan peristiwa serupa yang belum mendapatkan penyelesaian jelas.

Suasana sempat memanas saat sejumlah peserta berusaha mendorong dan merobohkan pagar pembatas gedung. Massa membawa poster aspirasi, menari, dan memutar musik adat sambil terus memanggil nama menteri.

“Natalius Pigai harus keluar dan mendengarkan kami. Kami menuntut keadilan, sama seperti dia yang dulu juga berjuang,” tegas wakil koordinator aksi, Laban Jingga.

Mereka juga menyoroti pernyataan Pigai yang mengaku paham persoalan HAM sejak kecil, dan menagih janji tindakan nyata yang telah diucapkannya.


Menanggapi ketegangan, koordinator lapangan Oktowimelek Gobay segera mengendalikan massa dan meminta mundur demi ketertiban. Mereka sepakat memberi batas waktu hingga pukul 12.00 WIB untuk menunggu jawaban resmi.

Data Komnas HAM Papua mencatat, sepanjang awal 2026 telah terjadi empat insiden kekerasan besar yang menewaskan 14 orang, menyiksa 13 warga, serta memaksa puluhan warga mengungsi. Kasus tersebut meliputi insiden di Boven Digoel, Maybrat, Tambrauw, hingga Dogiyai.

“Kami berharap aksi damai ini menjadi perhatian serius. Terima kasih kepada aparat dan semua pihak yang menjaga ketertiban agar tidak ada korban tambahan. Semoga tuntutan kami didengar, pelaku kekerasan diproses hukum, dan masyarakat Papua akhirnya bisa hidup damai, aman, serta dihargai hak-haknya,” ujar Gobay mewakili aspirasi massa.

 

Penulis: Jid

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE